NovelToon NovelToon
Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Status: tamat
Genre:Single Mom / Dokter / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.

Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.

Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Di Bali, sore itu terasa begitu tenang dan indah.

Langit perlahan berubah jingga keemasan. Angin laut berembus lembut membawa aroma asin yang menenangkan, sementara suara ombak terdengar bersahutan dari bibir pantai yang letaknya tidak jauh dari toko bunga kecil milik Sahira.

Di depan toko, beberapa lampu gantung kecil mulai menyala pelan menambah suasana hangat menjelang malam. Saga duduk di kursi kayu panjang dekat teras toko sambil memperhatikan pemandangan di depannya dalam diam.

Sesekali angin menerpa rambutnya yang sedikit berantakan.

Di sampingnya, Revano duduk santai sambil meminum kopi dingin. Sesekali pria itu menertawakan tingkah Sahir yang sedang bermain pasir bersama Ririn di tepi pantai. Tawa kecil bocah itu terdengar jelas sampai ke arah toko.

“Ayah lihat!” Sahir mengangkat ember kecil berisi pasir dengan wajah penuh kebanggaan.

“Aku bikin gunung!”

Saga langsung tersenyum hangat. “Iya, pintar banget, jagoan ayah.”

Bocah itu tertawa senang mendengar pujian tersebut lalu kembali sibuk bermain bersama Ririn yang membantu membentuk pasir menjadi istana kecil.

Melihat pemandangan itu, Revano melirik Saga sekilas.

“Nggak nyangka akhirnya lo sampai di titik ini.”

Saga menatap laut di depannya beberapa detik sebelum tersenyum tipis.

“Gue juga nggak nyangka.”

Tatapannya perlahan beralih ke arah dalam toko bunga. Di sana Sahira terlihat sibuk menata bunga bersama Lina dan Rani.

Wanita itu mengenakan dress sederhana berwarna krem dengan rambut panjang yang diikat asal. Tangannya bergerak telaten menyusun bunga-bunga segar ke dalam vas dan keranjang pesanan pelanggan. Sesekali Sahira tertawa kecil saat Lina dan Rani menggodanya. Dan senyum itu membuat Saga terpaku beberapa saat. Sudah lama sekali ia tidak melihat Sahira tersenyum setenang itu.

Bahkan, kedua karyawannya pun menyadari perubahan tersebut. Rani yang sedang memotong batang bunga melirik Sahira diam-diam lalu berbisik pelan pada Lina,

“Mbak Sahira kelihatan lebih bahagia ya sekarang.”

Lina ikut tersenyum kecil sambil mengangguk. “Iya…”

Tatapannya jatuh pada Sahira yang sedang merangkai bunga mawar putih dan tulip dengan begitu hati-hati. Bunga yang dulu selalu disimpan wanita itu sendiri dan tidak pernah dijual. Kini jemari Sahira merangkainya sambil tersenyum kecil tanpa sadar. Dan hal kecil itu tidak luput dari perhatian Saga. Pria itu memperhatikan setiap gerakan Sahira dari kejauhan dengan tatapan lembut. Seolah takut kehilangan momen sederhana tersebut.

Sementara matahari perlahan tenggelam di ufuk laut, suasana di sekitar mereka terasa seperti rumah yang sesungguhnya. Angin sore berembus pelan menerpa teras toko bunga kecil itu.

Suara ombak terdengar samar bercampur dengan tawa Sahir yang masih sibuk bermain pasir bersama Ririn di tepi pantai.

Sementara di dalam toko, Sahira masih merangkai bunga mawar putih dan tulip dengan senyum kecil yang sesekali muncul tanpa sadar.

Saga memperhatikan pemandangan itu cukup lama hingga tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat tipis.

Lamunannya buyar saat Revano tiba-tiba bersuara.

“Jadi…”

Saga menoleh pelan.

Revano menatap pria itu beberapa detik sebelum melanjutkan, “Apa rencana lo ke depan?”

Kening Saga sedikit berkerut. “Maksud lo?”

Revano menghela napas kecil lalu melirik ke arah Sahir yang sedang tertawa riang. “Untuk Sahir.” Tatapannya kemudian berpindah pada Sahira di dalam toko.

“Dan untuk Sahira.”

Suasana mendadak berubah sedikit lebih serius. Saga terdiam cukup lama. Pandangan pria itu kembali jatuh pada anak dan perempuan yang paling ia cintai itu.

Jujur dia sendiri belum benar-benar memikirkan semuanya dengan tenang. Sejak tahu Sahir adalah anaknya, kepalanya dipenuhi banyak hal sekaligus.

“Aku nggak tahu…” jawab Saga pelan akhirnya.

Revano mengangkat alis tipis.

“Tapi satu hal yang pasti,” lanjut Saga sambil menatap Sahir lekat-lekat, “aku nggak mau kehilangan mereka lagi.”

Suara pria itu terdengar rendah namun penuh ketegasan. Revano memperhatikannya beberapa detik sebelum tersenyum kecil.

“Itu aja belum cukup.”

Saga menoleh, Revano menyandarkan tubuhnya ke kursi lalu berkata pelan, “Lo harus siap.”

“Siap buat apa?”

“Jadi ayah.”

Saga langsung terdiam.

Revano tersenyum tipis sambil melihat Sahir dari kejauhan.

“Selama ini Sahira yang ngelakuin semuanya sendiri.”

Tatapannya perlahan berubah serius.

“Dia kerja pagi sampai malam. Begadang kalau Sahir sakit. Nahan takut sendirian waktu anaknya kejang. Belum lagi harus ngadepin ibu tiri sama adik tirinya.”

Rahang Saga perlahan menegang mendengar itu.

“Aku tahu aku telat…” ucapnya lirih penuh penyesalan.

Revano mengangguk kecil. “Iya, lo telat banget.”

Saga tertunduk pelan. Beberapa detik kemudian, Revano kembali berbicara,

“Tapi setidaknya sekarang lo datang.”

Tatapan pria itu lurus pada Saga.

“Dan kalau lo serius mau balik ke hidup mereka…”

Revano tersenyum tipis kecil. “Jangan cuma jadi ayah buat Sahir.”

Saga mengernyit samar.

“Maksud lo?”

Revano melirik ke arah Sahira yang sedang tertawa kecil bersama kedua karyawannya. “Jadi rumah buat Sahira juga.”

Ucapan itu langsung membuat Saga terdiam.

Angin sore kembali berembus pelan. Sementara dari kejauhan, Sahira yang tidak sadar sedang diperhatikan justru terlihat jauh lebih hidup dibanding sebelumnya.

Saga sadar banyak hal yang sudah di lewati selama ini. Kini dia juga ingin kembali menjadi tempat pulang bagi perempuan yang selama ini diam-diam masih sangat ia cintai.

1
Cesar Manuel Ris Costa
wanita
Cesar Manuel Ris Costa
tenang
Jamayah Tambi
Tq Athur.Ceritanya bagus.Teruskan berkarya
Aisyah Alfatih: terima kasih kakak 💞
total 1 replies
Jamayah Tambi
Lain kali jgn bg tumpang.Order jet taxsi online.Grab,uber kan banyak
Jamayah Tambi
Mesti gedok nak ganggu rumah tangga orang.Ada bau2 pelakor yg tercium di hidung ku
Ita Mei Lestari
/Sob//Cry/
Jamayah Tambi
Om Mario tak ada isteri ke.Duda terlajak.Ramai jer doktor dan peraeat yg suka kat Dr Mario.Mario ini kat nama watak dalam games .
Jamayah Tambi
Apa kau nak buat
мєσωzα
ceritanya cukup seru, konfliknya jg gak muter-muter 👍🏻
Jamayah Tambi
Utu la masalahnya.Asal ada masalah cari Alkohol.
Jamayah Tambi
Orang tak jangan paksa
Jamayah Tambi
Bodo punya sepupu
Jamayah Tambi
Tak ada CCTV ke
Jamayah Tambi
Kenapa Sahira tak lapor polisi saja .Toko bunganya habis berantakan kerana ulah pereman
Jamayah Tambi
Macam satu je toko bunga kat Bali tu.Suruh Rani cari ke toko bunga lain.Pulak/Sob//Sob//Sob/
Jamayah Tambi
Adakah berjaya Clara menyingkirkan Sahira.
Jamayah Tambi
Aldi jau nsk tolong Clara buat apa.Dia itu licik.Dia terlslu obsesi pada Saga.Aldi ,Saga itu darah daging kamu sendiri.Kalau kamu khinsti dia hubungan keluarga akan hancur terutama ayah kamu
Jamayah Tambi
Kalau punya hati dan petasaan jangan bantu.Beritau Saga niat jahat Clara
Jamayah Tambi
Nikahi Sahira dan mulai hidup baru bersama isteri dan anak mu
Adiba Azahra
Halo kak author izin promosiin novelku yang berjudul satu imam dua makmum yuk mampir Man teman 🙏😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!