Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Trio Macan
Sebuah taksi daring berhenti tepat di depan butik mewah bernuansa emas dan putih di kawasan Jakarta Selatan. Pintu mobil terbuka, dan tiga perempuan melangkah keluar dengan ritme yang sengaja diperlambat, terutama Laila yang memimpin di depan, berjalan lambat-lambat seolah setiap jengkal langkahnya berharga satu juta rupiah.
Begitu mereka mendorong pintu kaca butik yang berdentang pelan, aroma wewangian melati dan melodi musik klasik langsung menyambut mereka. Di tengah ruangan, Ayah Laila sedang berdiri tegak, wajahnya sudah berkerut menahan amarah yang sudah ditumpuk sejak dua jam lalu.
"Laila! Akhirnya kamu-" Kalimat Ayah terputus saat melihat Tasya dan Keira mengekor di belakang Laila dengan ekspresi wajah yang tak kalah datar dan judes.
"Sore Om," sapa Tasya dan Keira kompak, dengan nada suara yang sengaja dibuat seformal dan sedingin mungkin.
Sebelum Ayah sempat mengomel soal keterlambatan dan rombongan yang dibawa Laila, tirai ruang ganti di sudut butik tersingkap. Arjuna melangkah keluar.
Jantung Laila sempat berhenti berdetak selama satu persekian detik. Laki-laki itu sudah menanggalkan seragam dinasnya. Kini, ia mengenakan setelan jas pernikahan resmi TNI AU, Pakaian Dinas Upacara (PDU) berwarna biru tua yang sangat pas memeluk tubuh tegap dan pundaknya yang lebar. Kancing-kancing emasnya berkilau di bawah lampu butik, dan tanda pangkatnya berjejer rapi. Ketampanannya naik berkali-kali lipat, memberikan aura gagah yang sulit dibantah.
Namun, begitu mata Arjuna menangkap sosok Laila dan kedua sahabatnya, ekspresi gagah itu langsung meleleh, digantikan oleh senyuman tengil super menyebalkan andalannya.
"Wah, wah... Tuan Putri akhirnya datang juga," goda Arjuna, berjalan mendekat dengan tangan yang sengaja dimasukkan ke saku celana jasnya. "Bawa pasukan pengawal ya sekarang? Mau fitting baju atau mau demo buruh, Dek?"
Laila langsung memasang wajah judes kuadrat, melipat tangan di dada. "Enggak usah banyak bicara. Mana bajunya? Biar cepat selesai," ketusnya.
"Tante Merry! Ini calon pengantinnya sudah datang, siap dieksekusi!" seru Arjuna ke arah dalam butik tanpa memedulikan tatapan tajam Laila.
Tante Merry keluar membawa sebuah gaun pengantin brokat putih gading yang sangat anggun. Gaun yang sebelumnya dipilih Arjuna lewat foto. Laila dipaksa masuk ke ruang ganti, ditemani oleh Tasya dan Keira yang sudah siap melancarkan aksi sabotase mental.
Sepuluh menit kemudian, tirai ruang ganti dibuka kembali. Laila keluar dengan gaun tersebut. Gaun itu sebenarnya melekat sempurna di tubuh indahnya, yang menonjolkan lekuk pinggangnya yang kecil dan membuat kulit putihnya terlihat semakin bersinar. Laila terlihat luar biasa cantik, sampai Ayah Laila langsung tersenyum bangga dengan mata berkaca-kaca.
Arjuna yang sedang berdiri di dekat manekin sempat tertegun selama beberapa detik. Matanya tidak berkedip menatap Laila. Namun, sebelum Arjuna sempat mengeluarkan gombalan mautnya, Tasya langsung maju mengambil posisi di depan Laila, memotong pandangan Arjuna.
"Duh, Tante Merry... ini potongannya kok agak aneh ya?" Tasya memutar tubuh Laila dengan kasar, mengerutkan keningnya sedalam mungkin. "Lihat deh bagian pundaknya. Ini bikin Laila kelihatan kayak pemain rugby. Lebar banget. Enggak estetik."
Tante Merry tersentak. "Lho, Mbak, itu model sabrina shoulders, memang begitu-"
"Terus ini warnanya," potong Keira tidak kalah cepat. Ia maju, meraba kain brokat di lengan Laila dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat. "Putih gadingnya kok agak butek ya? Malah kelihatan kayak kain sprei hotel yang belum dicuci seminggu. Kulit Laila yang cerah jadi kelihatan kusam tahu, Tante. Aduh, siapa sih yang milih model begini? Enggak punya selera banget."
Laila yang berdiri di tengah-tengah kedua sahabatnya hanya diam, memasang wajah jutek paling maksimal sambil menatap Arjuna dengan pandangan memprovokasi, seolah ingin berkata, 'Lihat kan? Pilihan kamu jelek banget.'
Ayah Laila mulai kelihatan panik dan kesal mendengar kritik bertubi-tubi dari sahabat anaknya. "Eh, Tasya, Keira, tapi menurut Om ini sudah bagus-"
"Enggak bisa gitu, Om," potong Tasya tegas, meniru gaya bicara defensif Laila. "Pernikahan ini kan sekali seumur hidup ya. Jadi penampilannya harus sempurna. Desain jasnya Arjuna yang biru tua itu juga menurut saya terlalu kaku. Kayak mau upacara 17 Agustus, bukan mau nikah."
Arjuna yang sedari tadi hanya diam memperhatikan aksi trio macan itu, perlahan berjalan mendekat. Ia tidak kelihatan kesal sama sekali. Sifat santainya justru semakin terlihat dominan. Ia berdiri tepat di depan Laila, menatap Laila, Tasya, dan Keira bergantian dengan senyuman yang makin melebar.
"Wah, ulasan dari para kritikus fashion tajam banget ya," ujar Arjuna sambil terkekeh pelan. Ia melirik Tasya. "Mbak Tasya bilang pundaknya mirip pemain rugby? Bagus dong, berarti kalau nanti pas resepsi ada yang mau merebut Laila dari saya, Laila bisa langsung melakukan tackle militer."
Tasya langsung melotot, tidak menyangka komentarnya akan dibalas dengan lelucon olahraga.
Arjuna kemudian beralih menatap Keira. "Lalu Mbak Keira bilang warnanya kayak sprei hotel butek? Nah, ini justru bagian dari strategi penyamaran taktis, Mbak. Biar kalau Laila lagi mode judes begini, orang-orang di gedung enggak akan berani mendekat karena dikira dia lagi menyamar jadi manekin butik yang sedang marah."
"Arjuna!" bentak Laila, mukanya memerah karena kesal melihat kedua sahabatnya langsung mati kutu dalam dua kalimat saja. "Bisa serius enggak sih?! Sahabat-sahabat gue itu lagi ngasih saran yang bener! Gaun pilihan kamu ini emang jelek, gatal, dan bikin gue sesak!"
Arjuna selangkah lebih maju, membuat jarak di antara mereka berdua terkikis. Ia mengabaikan Tasya dan Keira yang mulai bersiap memasang badan lagi. Arjuna menatap mata bulat Laila yang sedang menyala galak dengan tatapan yang mendadak melembut, persis seperti tatapannya di teras rumah dua malam lalu.
"Dek Laila," panggil Arjuna dengan suara rendah yang hanya bisa didengar mereka berdua dan kedua sahabatnya yang berada sangat dekat. "Kainnya gatal karena Tante Merry belum memasang furing pelapis bagian dalamnya. Itu sengaja biar kita bisa nyesuaiin ukurannya dulu hari ini. Dan soal jelek atau enggak..."
Arjuna menjeda kalimatnya, matanya menelusuri seluruh penampilan Laila dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan binar kekaguman yang tulus tanpa dibuat-buat.
"Di mata Mas, kamu mau pakai gaun sprei butek ini, atau mau pakai kaos oblong yang belum dicuci sekalipun, tetap saja kamu perempuan paling cantik yang bakal berdiri di samping Mas di pedang pora nanti. Jadi, kalau tujuan pasukan kamu ke sini cuma buat bikin Mas kesal dan membatalkan semuanya... maaf ya, tingkat kesabaran kaptenmu ini sudah dilatih di medan latihan yang jauh lebih ekstrem dari sekadar kejudesan kalian bertiga."
Butik mewah itu mendadak sunyi untuk kedua kalinya hari itu. Tasya dan Keira langsung terdiam, saling berpandangan dengan mata melebar. Niat awal mereka untuk menjadi tameng dan membuat Arjuna emosi justru berbalik menjadi tontonan drama romantis militer yang bikin mereka baper brutal di tempat.
Laila membeku di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, menghantam dadanya dengan keras. Kata-kata Arjuna, meskipun dibalut dengan ketengilan khasnya, selalu berhasil meruntuhkan kewarasannya untuk tetap membenci laki-laki ini. Sifat judesnya mendadak lumpuh total.
"Duh..." bisik Keira pelan di belakang Laila, menyenggol lengan Tasya. "Kok... kok gue malah yang baper ya, Sya? Si Arjuna kenapa keren banget sih pas ngomong gitu?"
"Iya, gila... taktik kita gagal total. Pertahanannya setingkat tank baja," balas Tasya berbisik dengan wajah pasrah.
Arjuna kembali tersenyum tengil, melihat kemenangan mutlaknya atas trio macan hari itu. Ia menoleh ke arah pemilik butik. "Tante Merry, tolong dicatat ya ukurannya. Gaunnya sudah sempurna di badan calon istri saya. Tinggal dipasang pelapisnya biar Tuan Putri kita ini enggak alasan gatal-gatal lagi minggu depan."
"Siap, Mas Arjuna!" jawab Tante Merry dengan wajah berseri-seri.
Laila yang akhirnya berhasil menguasai diri langsung berbalik badan dengan cepat, menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus ke arah cermin ruang ganti. Ia menghentakkan kakinya kesal.
"Terserah lo aja deh! Capek gue ngomong sama orang aneh kayak lo!" ketus Laila dengan volume keras, mencoba mengembalikan citra judesnya yang sudah hancur lebur di depan sahabat-sahabatnya.
Saat Laila berjalan kembali masuk ke ruang ganti untuk melepas gaunnya, Tasya dan Keira langsung menyusul masuk dengan wajah penuh kekalahan yang menggemaskan. Sementara di luar, Arjuna kembali duduk di sofa beludru, melipat kakinya dengan santai sambil bersiul kecil.
...Bersambung... ...