"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."
Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.
Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.
Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.
Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...
Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.
Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Sebuah Janji
Genggaman tangan Arsen terasa hangat.
Berbeda dengan ekspresi pria itu yang tetap datar, telapak tangannya justru memberi rasa tenang yang aneh bagi Ayla.
"Ayo."
Suara rendah itu kembali terdengar.
Ayla mengangguk pelan.
Dengan langkah yang masih terasa berat, ia berjalan berdampingan bersama Arsen memasuki aula utama.
Seketika seluruh ruangan berdiri.
Puluhan pasang mata memandang ke arah mereka.
Lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit memantulkan cahaya ke seluruh sudut ruangan, membuat dekorasi bunga putih tampak semakin anggun.
Suasana yang semula dipenuhi bisik-bisik perlahan berubah hening.
Ayla menundukkan pandangan.
Ia belum terbiasa menjadi pusat perhatian sebanyak ini.
Sesekali ia mendengar suara kamera yang terus memotret.
Klik.
Klik.
Klik.
Entah mengapa, setiap bunyi itu membuat dadanya semakin berdebar.
"Tenang."
Arsen mengucapkannya nyaris tanpa menggerakkan bibir.
"Aku di sini."
Kalimat sederhana itu membuat Ayla menoleh sekilas.
Pria itu masih menatap lurus ke depan.
Tidak ada senyum.
Tidak ada tatapan lembut.
Namun untuk pertama kalinya, Ayla merasa bahwa ucapan Arsen bukan sekadar formalitas.
Mereka berhenti tepat di depan meja akad.
Penghulu mulai membuka prosesi dengan doa.
Suasana menjadi semakin khidmat.
Ayla menangkupkan kedua tangannya di atas pangkuan.
Diam-diam ia memejamkan mata.
"Ya Tuhan... jika ini memang jalan terbaik untukku, kuatkan aku menjalaninya."
Ia tidak meminta kehidupan yang mewah.
Tidak pula menginginkan suami yang sempurna.
Satu-satunya harapan Ayla hanyalah menjalani rumah tangga yang dipenuhi rasa saling menghargai.
Tak lama kemudian, penghulu mempersilakan Arsen duduk untuk mengucapkan ijab kabul.
Ruangan kembali sunyi.
Semua orang menahan napas.
Arsen merapikan posisi duduknya.
Tatapan matanya lurus ke depan.
Tidak terlihat sedikit pun keraguan di wajahnya.
Dengan suara mantap, ia mengucapkan kalimat akad secara perlahan namun jelas.
Setiap kata terdengar tegas.
Tanpa terbata.
Tanpa mengulang.
Hingga kalimat terakhir terucap, ruangan seolah berhenti bernapas selama beberapa detik.
"Sah."
Suara para saksi terdengar hampir bersamaan.
"Sah."
Disusul lantunan takbir dan ucapan syukur dari para tamu yang memenuhi ruangan.
Ayla menutup mulutnya pelan.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Kini semuanya benar-benar telah berubah.
Dalam hitungan menit, statusnya berganti.
Bukan lagi hanya Ayla.
Melainkan Ayla Mahendra.
Istri dari Arsen Mahendra.
Seorang panitia menghampiri sambil membawa kotak kecil berlapis beludru.
"Cincin pernikahannya, Tuan."
Arsen mengambil kotak itu.
Ia membuka tutupnya, lalu mengeluarkan sebuah cincin sederhana berwarna putih keperakan.
Tidak berlebihan.
Namun tampak begitu elegan.
"Ayla."
Pelan, pria itu mengulurkan tangannya.
Ayla ikut mengangkat tangan kirinya.
Jari-jarinya sedikit gemetar.
Arsen memperhatikannya sesaat.
"Masih gugup?"
Ayla tersenyum tipis.
"Sedikit."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arsen menggenggam jemari Ayla agar tidak terlalu bergetar.
Gerakannya begitu singkat.
Namun cukup membuat Ayla terdiam.
Perlahan, cincin itu melingkar sempurna di jari manisnya.
Tepuk tangan para tamu kembali memenuhi ruangan.
Kini giliran Ayla memasangkan cincin pada jari Arsen.
Saat jemarinya menyentuh tangan pria itu, ia kembali menyadari satu hal.
Tangan Arsen dipenuhi bekas luka-luka tipis yang nyaris tak terlihat.
Bukan luka baru.
Melainkan bekas lama.
Seolah pria itu pernah melewati sesuatu yang berat.
Namun sebelum Ayla sempat bertanya, Arsen sudah menarik kembali tangannya.
Tatapannya kembali datar.
Seakan tidak terjadi apa-apa.
Prosesi ditutup dengan doa bersama.
Setelah itu, penghulu tersenyum hangat kepada mereka.
"Mulai hari ini, kalian bukan lagi dua orang yang berjalan sendiri. Rumah tangga tidak dibangun oleh cinta saja, tetapi juga kesabaran, kepercayaan, dan saling menjaga."
Ayla menganggukkan kepala pelan.
Sementara Arsen hanya menjawab singkat.
"Insyaallah."
Namun tepat ketika keduanya hendak berdiri menerima ucapan selamat dari para tamu...
Ponsel Arsen yang berada di dalam saku jasnya bergetar pelan.
Layar ponsel itu menyala sesaat.
Hanya satu nama yang muncul.
"Ibu."
Tatapan Arsen berubah dalam sekejap.
Untuk pertama kalinya...
Ekspresi tenang di wajahnya retak, memperlihatkan secercah kecemasan yang selama ini berhasil ia sembunyikan.
Ayla melihat perubahan itu.
Dan tanpa ia sadari...
Itulah awal dari rahasia besar yang perlahan akan menyeret mereka ke dalam kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Bersambung...