Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Tanpa memedulikan larangan siapa pun, Kenzo langsung merangsek masuk ke dalam ruang UGD dengan tatapan mata kosong dan langkah gontai.
Di dalam ruangan yang mendadak hening itu, ia melihat seorang perawat sedang bergerak perlahan menarik kain putih, menutup seluruh tubuh istrinya hingga ke batas kepala.
Kenzo berjalan mendekat, menepis tangan perawat itu dengan lembut namun tegas.
Ia membuka kembali kain putih yang menutupi wajah pucat Liana.
Wajah cantik yang beberapa jam lalu masih merona malu di pelukannya, kini terasa begitu dingin.
"Bohong..." bisik Kenzo, suaranya bergetar hebat menahan tangis yang pecah di dalam dada.
Kenzo menggenggam tangan Liana yang kaku, membawanya ke pipinya.
"Kamu pembohong, Liana!! Bukankah kamu sudah berjanji di mobil kemarin, bahwa sampai kapan pun cintamu hanya untuk aku? Kamu bahkan belum sempat menepati janjimu..."
Air mata Kenzo menetes, jatuh di atas pipi dingin Liana.
"Kamu juga belum mengatakan 'aku mencintaimu, Kenzo'... Kenapa kamu pergi secepat ini?" raung Kenzo lirih, dadanya sesak luar biasa.
"Semuanya meninggalkan aku... Kedua orang tuaku, kakakku, dan sekarang kamu..."
Kenzo menatap wajah Liana dengan tatapan putus asa yang teramat dalam.
Sisi monster dan pimpinan gengnya lenyap, hanya menyisakan seorang pria yang kehilangan arah hidupnya.
"Kalau kamu pergi, untuk apa aku bertahan? Lebih baik aku pergi ikut denganmu, Sayang..."
Kenzo mendekatkan wajahnya, lalu mencium kening Liana dengan ciuman perpisahan yang begitu panjang dan sarat akan kepedihan.
Ia mengambil pisau bedah dan akan mengakhiri hidupnya.
Tit...
Tit...
Tiba-tiba, sebuah keajaiban memecah keheningan ruang UGD yang muram.
Suara monitor yang tadinya mati, mendadak berbunyi kembali, memunculkan grafik detak jantung yang lemah namun pasti.
Bersamaan dengan bunyi itu, bibir Liana yang membiru bergerak sedikit.
Dengan kelopak mata yang perlahan terbuka dengan sangat berat, ia menatap Kenzo yang berada di atasnya.
"A-aku... m-mencintaimu... k-kenzo..." bisik Liana dengan suara yang teramat lirih, hampir menyerupai hembusan angin, sebelum akhirnya matanya kembali terpejam untuk beristirahat.
Dokter Sinta dan para perawat yang melihat hal itu seketika terperangah.
Sinta langsung merangsek maju, memeriksa denyut nadi di leher Liana dan memeriksa pupil matanya dengan cepat.
"Dia bangun... Dia bangun kembali, Kenzo! Ini keajaiban, detak jantungnya kembali!" seru Dokter Sinta histeris dengan air mata haru yang menetes di pipinya.
Kenzo tertegun di tempatnya. Beban berat yang menghimpit dadanya seolah terangkat seketika.
Mendengar pernyataan cinta pertama dari istrinya dan melihat wanita itu kembali bernapas, Kenzo membuang pisau bedahnya dan tertawa kecil—sebuah tawa lega yang bercampur dengan sisa air mata kebahagiaan yang mengalir di pipinya.
Kesadarannya sebagai dokter perlahan kembali, ia tahu Liana sekarang butuh penanganan pasca-kritis yang steril.
Mario yang siaga di belakang langsung maju, menepuk pundak ketuanya dengan senyuman lebar.
Demi memberikan ruang bagi Dokter Sinta untuk melakukan observasi lanjutan yang menyeluruh, Mario kembali membawa Kenzo keluar dari ruang tindakan dengan merangkul pundaknya.
Begitu pintu UGD kembali tertutup, William dan Bunga yang menunggu di luar dengan cemas langsung menghambur maju.
Melihat senyum di wajah Mario dan binar kehidupan di mata Kenzo, mereka berdua spontan memeluk Kenzo dengan erat, menangis bersama meluapkan seluruh rasa syukur karena sang ibu ketua Black Cobra berhasil lolos dari maut.
Setelah ketegangan yang nyaris merenggut napas mereka berlalu, pintu UGD kembali terbuka.
Dokter Sinta keluar dengan wajah yang tampak lelah namun gurat kecemasan di wajahnya sudah jauh berkurang.
Di saat yang bersamaan, beberapa perawat keluar mendorong brankar, memindahkan Liana yang masih memejamkan mata dengan tenang menuju ruang perawatan intensif yang lebih steril dan nyaman.
Kenzo langsung melangkah maju, menghadang Dokter Sinta dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Bagaimana keadaannya, Sinta?" tanya Kenzo, suara baritonnya masih terdengar serak.
Dokter Sinta menghela napas panjang, menatap Kenzo dengan pandangan serius sebagai sesama rekan medis.
"Liana sudah melewati masa kritisnya, Kenzo. Tapi, luka fisik akibat hantaman benda tumpul dan tendangan itu membuat tubuhnya mengalami trauma berat. Dan yang paling krusial... kandungannya sangat lemah saat ini."
Dokter Sinta memegang pundak Kenzo, memberikan penekanan pada kalimat selanjutnya.
"Jaringan rahimnya mengalami kontraksi hebat akibat syok. Jadi, selama tiga bulan ke depan, ia harus menjalani total bed rest. Dia tidak boleh turun dari kasur sama sekali, bahkan untuk sekadar ke kamar mandi. Semua aktivitas harus dilakukan di atas tempat tidur demi mempertahankan bayinya. Kamu sebagai dokter kandungan pasti tahu betul risiko besar apa yang mengancam jika dia banyak bergerak."
Kenzo tertegun sejenak. Sebagai dokter spesialis kandungan, ia tentu sangat paham bahwa tiga bulan ke depan adalah masa-masa hidup dan mati bagi janin di dalam rahim Liana.
Ancaman keguguran masih mengintai jika istrinya kelelahan atau mengalami stres.
Kenzo menganggukkan kepalanya dengan tegas, gurat protektif kembali memenuhi matanya.
"Aku paham, Sinta. Aku sendiri yang akan mengawasi dan merawatnya 24 jam penuh. Terima kasih, Sinta."
Dokter Sinta tersenyum tipis dan menepuk lengan Kenzo sebelum berbalik pergi.
"Susul istrimu dan temani dia di ruang rawat. Liana wanita yang sangat tangguh, Kenzo. Dia berjuang sekuat tenaga untuk kembali demi kamu dan anak kalian."
Dengan langkah yang jauh lebih ringan namun dipenuhi tekad yang bulat, Kenzo berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar rawat Liana.
Sisi pimpinan gengnya kini diredam sepenuhnya, digantikan oleh sosok suami dan ayah yang siap melakukan apa saja demi melindungi sisa dunianya yang berharga.
Sebelum melangkah masuk ke dalam ruang perawatan intensif tempat Liana dipindahkan, Kenzo menghentikan langkahnya di koridor yang sepi.
Ia berbalik, menatap tiga orang kepercayaan yang selalu berdiri di belakangnya.
Aura dingin dan otoriter khas seorang pimpinan tertinggi Black Cobra kembali menguar dari tubuhnya.
"Mario, Bunga, Willy. Sini," panggil Kenzo dengan suara bariton yang ditekan rendah, namun penuh penekanan.
Ketiganya langsung mendekat dan berdiri tegap menanti instruksi.
"Hancurkan markas kita yang tadi," perintah Kenzo mutlak tanpa ekspresi.
Mendengar perintah ekstrem tersebut, ketiga bawahan kepercayaannya terkejut. Willy bahkan refleks menyahut spontan, "Tapi, Bos... markas itu sejarah kita—"
"Kita bangun yang baru di tempat lain," potong Kenzo cepat, tatapan matanya menembus langsung ke netra mereka.
"Aku tidak mau istriku trauma jika harus melihat tempat itu lagi. Dan selama pembangunan markas yang baru berjalan, kalian semua pindahkan seluruh aset penting dan tinggallah di mansion utamaku. Pintu mansionku terbuka untuk kalian."
Mario yang paham betul betapa Kenzo sangat memprioritaskan keselamatan psikologis Liana yang sedang hamil langsung menganggukkan kepalanya dengan tegas.
"Siap, Bos. Perintah dilaksanakan. Segera kami ratakan tempat itu setelah ini."
Kenzo menghela napas pendek, lalu melirik ke arah luar jendela rumah sakit yang menampilkan pekatnya sore.
"Untuk mereka... untuk geng Red Skull dan Kania, jangan kalian usik dulu untuk saat ini. Biarkan mereka merasa di atas angin."
Kenzo mengepalkan tangannya sejenak sebelum melanjutkan,
"Aku akan fokus sepenuhnya ke Liana sampai dia pulih total dan melewati masa kritis tiga bulannya. Setelah istri dan anakku aman... baru aku sendiri yang akan turun langsung menuju ke Roy untuk membalas setiap tetes darah yang keluar hari ini."
William, Bunga, dan Mario saling berpandangan, lalu menunduk patuh.
Mereka tahu, ketenangan Kenzo saat ini hanyalah ketenangan sebelum badai besar yang sesungguhnya akan meluluhlantakkan musuh-musuh mereka kelak.
Setelah memastikan instruksinya dipahami dengan jelas, Kenzo berbalik, membuka pintu ruang rawat dengan sangat perlahan, dan melangkah masuk untuk menemui Liana yang sedang terbaring lemah di atas ranjang pesakitan.
Kenzo melangkah mendekati ranjang rumah sakit dengan gerakan seminim mungkin agar tidak menimbulkan suara.
Netra tajamnya melembut, menatap Liana yang sedang tertidur pulas.
Wajah istrinya masih tampak pucat, kontras dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya, membantu paru-parunya bekerja.
Dengan perlahan, Kenzo duduk di kursi samping brankar.
Ia meraih jemari mungil Liana yang bebas dari jarum infus, lalu membawa punggung tangan istrinya itu ke bibirnya.
Kenzo mencium punggung tangan Liana dengan sangat lama dan penuh perasaan, menyalurkan seluruh rasa syukur yang tak bendung.
Setelah itu, pandangan Kenzo turun ke arah perut Liana yang masih rata di balik selimut rumah sakit.
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu mengecup perut Liana dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian.
"Terima kasih, Jagoan. Kamu sudah bertahan di sana bersama Mama," bisik Kenzo dengan suara baritonnya yang teramat lirih, hampir berupa hembusan napas di atas permukaan selimut.
"Uughhh...."
Sebuah lenguhan pelan tiba-tiba keluar dari bibir Liana.
Kelopak matanya bergerak gelisah, dan keningnya tampak berkerut, seolah-olah mimpi buruk dari kejadian di markas tadi kembali menghantui tidurnya yang belum stabil.
Melihat respons tersebut, Kenzo dengan sigap bergerak.
Ia mengelus lembut rambut Liana, memberikan sentuhan hangat yang menenangkan untuk mengusir rasa takut sang istri.
"Sssshh... Sayang, ini aku. Kamu aman di sini. Tidurlah lagi," bisik Kenzo lembut di dekat telinga Liana, sambil terus mengusap kening istrinya dengan ibu jari.
Mendengar suara familier suaminya dan merasakan usapan lembut di kepalanya, kerutan di kening Liana perlahan sirna.
Napasnya kembali teratur, dan ia pun kembali tenggelam ke dalam tidur pulasnya yang damai. Kenzo tidak beranjak sedikit pun, tetap menggenggam tangan Liana dengan erat, siap menjadi pelindung terdepan bagi sisa hidupnya.
tp ttap makasih kak buat cerita ny ,, meski singkat Dan tdk bertele2 ,, tp suka ma alur ny ,, dtggu next ceritany yx kak ,,
sehat2 selalu kak ,,
semoga kenzoo cepat sampai dan menyelamatkan Liana ,,
mario juga kyaknya gx kalah keren koq ,,
liana sampai kehilangan kehormatannya sangat dijaganya, hancur hidup liana yg memperkosa tidak bertanggungjawab langsung kabur aja🤣🤣🤭
sumpah kak Lo bikin deg degan