Di dunia di mana status ditentukan oleh kekuatan roh bela diri, Lin Xiao dianggap sebagai sampah tak berguna karena hanya memiliki roh berupa sebuah makam kuno yang hancur.
Dikhianati oleh klannya sendiri, dirundung habis-habisan oleh sepupunya, dan secara terbuka dihina oleh tunangannya yang sombong, Lin Xiao mencapai titik terendah.
Namun, di saat kematian mendekat, rahasia makam itu bangkit. Alih-alih sebuah sampah, makam itu ternyata adalah Makam Para Raja, gudang tersembunyi yang menyimpan sisa-sisa jiwa, ingatan, dan teknik tak terkalahkan dari ratusan kaisar dan raja bela diri kuno yang pernah mendominasi dunia.
Didorong oleh dendam membara, Lin Xiao berlatih secara diam-diam menggunakan warisan terlarang tersebut.
Dari pemuda yang diremehkan, dia tumbuh menjadi sosok dingin yang kejam terhadap musuh, siap menghadapi seluruh klan dan sekte demi melindungi ayahnya yang lemah, serta mendaki puncak kekuatan bela diri sebagai Pewaris Makam Para Raja yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Lin Xiao menoleh ke arah tetua tersebut namun tangannya tetap mencengkeram leher Lin Bao yang sudah mulai lemas.
"Lin Xiao, lepaskan tanganmu dari petugas balai." perintah Tetua Lin Mo saat dia tiba di depan meja pendaftaran.
"Aturan klan melarang pertarungan sesama anggota di dalam area balai tugas."
Bruk.
Lin Xiao melepaskan cengkeramannya dan membiarkan tubuh Lin Bao jatuh membentur lantai kayu dengan keras.
Pemuda persegi itu terbatuk-batuk hebat sambil memegangi lehernya yang kini memiliki cetakan tangan berwarna kemerahan.
"Tetua Mo, tolong hukum dia!" adu Lin Bao dengan suara serak sambil merangkak menjauh dari Lin Xiao.
"Dia menyerangku karena aku menolak hasil misinya yang berupa rumput palsu!"
Tetua Lin Mo mengerutkan keningnya dan menatap Lin Xiao dengan tatapan menilai.
Dia juga terkejut melihat Lin Xiao memiliki tenaga sebesar itu, namun dia memilih untuk fokus pada inti permasalahan.
"Rumput palsu?" tanya Tetua Lin Mo sambil menunduk melihat tanaman yang berserakan di lantai.
Srak.
Tetua Lin Mo membungkuk dan mengambil satu batang Rumput Tulang Besi yang tergeletak di dekat sepatunya.
Pria paruh baya itu memutar-mutar rumput tersebut, lalu menyalurkan sedikit energi spiritualnya ke dalam serat daunnya.
Cahaya logam yang sangat murni langsung memantul dari permukaan daun rumput itu.
"Siapa yang mengatakan ini rumput palsu?" tanya Tetua Lin Mo dengan nada suara yang mendadak menjadi sangat dingin.
Dia menatap tajam ke arah Lin Bao yang masih berlutut di lantai.
"Ini adalah Rumput Tulang Besi berusia sepuluh tahun dengan kualitas yang nyaris sempurna."
"Kau menyebut barang berharga ini sebagai rumput batu yang diwarnai?" bentak Tetua Lin Mo dengan penuh amarah.
"Apakah kau benar-benar buta, atau kau sengaja ingin menyabotase murid klanmu sendiri?"
Wajah Lin Bao langsung sepucat mayat mendengar amarah dari instruktur bela diri tersebut.
"S-sepertinya saya salah lihat, Tetua Mo. M-maafkan mata saya yang buta ini." gagap Lin Bao tidak berani membantah lagi.
"Pungut semua rumput itu, bersihkan, dan proses misi Lin Xiao sekarang juga!" perintah Tetua Lin Mo tanpa kompromi.
"Jika kau berani mempersulitnya lagi, aku sendiri yang akan mencambuk punggungmu di alun-alun."
Lin Bao segera merangkak memunguti semua rumput itu dengan tangan gemetar.
Dia meletakkannya kembali ke atas meja dan mulai mencatat penyelesaian misi di dalam buku besar balai tugas.
"M-misi tingkat menengah telah diselesaikan." ucap Lin Bao dengan suara bergetar sambil menyerahkan sebuah token kayu kecil kepada Lin Xiao.
"Ini adalah token bukti penyelesaian misi milikmu."
Lin Xiao mengambil token itu dan menyimpannya ke dalam bajunya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Dia menatap Lin Bao dengan tatapan merendahkan sebelum menoleh ke arah Tetua Lin Mo.
"Terima kasih atas keadilan Anda, Tetua Mo." ucap Lin Xiao sambil menangkupkan kedua tangannya dengan hormat.
"Klan ini masih memiliki harapan karena ada tetua yang menjunjung tinggi kebenaran seperti Anda."
Tetua Lin Mo mengangguk pelan menerima pujian tersebut, matanya terus menyelidiki perubahan drastis pada diri pemuda ini.
'Dia menyembunyikan auranya dengan sangat rapat, tapi tubuh fisiknya jelas bukan milik orang biasa.' batin Tetua Lin Mo.
"Kau telah menyelesaikan kewajiban misimu, Lin Xiao." ucap Tetua Lin Mo.
"Sekarang pulanglah dan jangan membuat keributan lagi di sini."
"Saya akan segera pergi, Tetua." jawab Lin Xiao dengan tenang.
"Tapi sebelum itu, ada satu hal lagi yang harus saya urus di meja ini."
Lin Xiao memutar tubuhnya dan menatap lurus ke arah Lin Bao yang sedang menundukkan kepala.
Brak.
Lin Xiao menepuk meja dengan keras hingga membuat petugas itu tersentak kaget.
"Ambil buku pendaftaran turnamen klan bulan depan." perintah Lin Xiao dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan.
Para murid yang sedari tadi menonton kembali menahan napas mereka mendengar permintaan tersebut.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Lin Bao dengan wajah bingung.
"Pendaftaran turnamen hanya untuk murid yang minimal berada di tahap Pembentukan Dasar tingkat satu."
"Tulis saja namaku di sana." jawab Lin Xiao tanpa repot-repot menjelaskan kekuatannya.
"Lin Xiao, turnamen klan bukanlah tempat untuk bermain." tegur Tetua Lin Mo yang juga ikut terkejut.
"Di atas arena, cedera parah atau bahkan kematian bisa terjadi secara tidak sengaja."
"Saya sangat memahami risikonya, Tetua Mo." balas Lin Xiao sambil tersenyum penuh arti.
"Saya hanya ingin mengukur seberapa jauh kemampuan bertahan hidup saya dibandingkan dengan para jenius klan."
Melihat keteguhan di mata pemuda itu, Tetua Lin Mo akhirnya menghela napas panjang.
"Tulis namanya, Lin Bao." perintah sang tetua memberikan izin secara langsung.
Lin Bao tidak berani membantah lagi dan dengan cepat menuliskan nama Lin Xiao di dalam gulungan pendaftaran turnamen.
Setelah namanya tercatat, Lin Xiao berbalik dan berjalan keluar dari balai tugas dengan langkah mantap.
Kerumunan murid secara otomatis membelah jalan untuknya, tidak ada lagi yang berani menertawakan atau mencibirnya secara terang-terangan.
Hari ini, mereka menyaksikan sebuah anomali yang akan segera mengguncang seluruh hierarki Klan Lin.
'Klan ini akan menjadi sangat menarik bulan depan.' batin Tetua Lin Mo sambil tersenyum tipis menatap punggung Lin Xiao yang menjauh.
Di sisi lain kota, sebuah pertemuan rahasia tengah dipersiapkan oleh faksi Kepala Tetua untuk mencabut hak asuh Lin Tianhai besok pagi.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa singa yang mereka kira telah mati, kini telah membuka matanya dan siap untuk mencabik-cabik leher mereka.