ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Sore itu udara terasa agak lembap, dan angin kencang tiba-tiba berhembus menggoyangkan daun-daun pohon besar di halaman depan kediaman Gyantara. Adelia sedang duduk di tepi tempat tidur, mencoba melipat baju dengan tenang, namun tiba-tiba dadanya terasa seperti ditindih batu besar yang berat. Napasnya memendek, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik saluran napasnya pelan tapi pasti.
Ia tahu persis apa ini. Asma yang dideritanya sejak kecil—penyakit yang selalu muncul saat ia lelah berlebihan, cemas, atau menghirup udara yang tidak bersih. Ia meraba saku tas kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana, lalu wajahnya seketika memucat. Tabung obat penenang serangan asma itu kosong. Ia lupa mengisinya kembali setelah kemarin hampir kambuh karena terlalu cemas.
Panik mulai menyelimuti hatinya. Ia merangkak perlahan menuju meja samping tempat tidur, mengambil ponsel dengan tangan gemetar hebat, lalu mengetik pesan singkat di grup obrolan yang hanya berisi dia, Julian, dan Tama. Jari-jarinya sulit bergerak lincah karena sesak napas yang semakin parah.
"Obatku habis... dadaku sangat sesak. Aku takut sekali..."
Baru pesan itu terkirim, Adelia sudah tak sanggup lagi duduk tegak. Ia terjatuh berlutut di lantai, memeluk dadanya erat, berusaha sekuat tenaga menarik napas yang terasa seperti jarum yang menusuk. Suara napasnya berbunyi ngik-ngik pelan, matanya membelalak ketakutan, dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Rasanya seperti tenggelam perlahan di tengah laut yang dalam, sementara tak ada satu pun orang yang tahu kesakitannya di rumah asing ini.
Sementara itu, di ruang kerja lantai dua yang hanya berjarak beberapa pintu dari kamar mereka, Gyantara sedang duduk berdiskusi dengan Rama tentang rencana bisnis bulan depan. Namun tiba-tiba dada kirinya terasa ngilu tajam, seolah ada sesuatu yang menarik hatinya menjauh. Ia mengerutkan kening, memegang dadanya sebentar, lalu menatap ke arah pintu kamar.
"Ada apa, Tuan?" tanya Rama cemas melihat perubahan wajah majikannya.
"Entah mengapa," jawab Gyantara pelan, suaranya terdengar bingung. "Hatiku terasa tidak tenang. Seolah ada sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Adelin. Aku harus melihatnya sebentar."
Tanpa menunggu jawaban Rama, Gyantara berjalan cepat menuju kamar. Saat ia mendorong pintu terbuka, darah di tubuhnya seketika membeku. Ia melihat istrinya tergeletak di lantai, tubuhnya meringkuk kesakitan, wajahnya pucat pasi, dan bibirnya mulai membiru.
"Adelin!!" teriaknya panik berlari menghampiri. Ia segera mengangkat tubuh Adelia ke dalam pelukannya. "Sayang, lihat aku! Tarik napas pelan! Ada apa denganmu?!"
Adelia mencoba menatapnya, tapi pandangannya mulai kabur. Ia hanya bisa menggeleng lemah, air matanya mengalir deras membasahi lengan Gyantara. Ia ingin bilang soal obat, tapi napasnya tak cukup untuk mengucapkan satu kata pun.
Rama yang menyusul di belakang langsung berteriak memanggil pelayan dan memerintahkan sopir menyiapkan mobil ke rumah sakit. Gyantara semakin panik—selama lima tahun ia menjalin hubungan dengan Adelin, belum pernah sekalipun ia melihat wanita itu sakit seberat ini, apalagi menderita sesak napas seperti ini. Ia sama sekali tidak tahu istrinya punya riwayat penyakit kronis seperti ini.
"Kenapa aku tidak pernah tahu soal ini?!" teriaknya pada diri sendiri sambil memeluk Adelia erat-erat, berusaha menyalurkan kekuatan. "Tahan ya sayang, sebentar lagi kita ke rumah sakit!"
Belum sempat mereka bergerak menuju pintu, terdengar suara mobil melaju kencang lalu berhenti mendadak di halaman. Tak lama kemudian pintu depan terbuka paksa, dan dua sosok pemuda berlari secepat kilat menaiki tangga. Itu Julian dan Tama.
Mereka baru saja sampai di kampus saat pesan Adelia masuk. Tanpa pikir panjang, Tama langsung memutar arah mobilnya, menancap gas sekuat tenaga menuju kediaman Gyantara. Selama perjalanan mereka berdoa tanpa henti, dan tanpa sadar tangan mereka terus meraba tas masing-masing—kebiasaan yang sudah bertahun-tahun mereka lakukan: selalu menyimpan cadangan obat asma Adelia di dalam tas maupun bagasi mobil, siap digunakan kapan saja gadis itu butuh.
Tiba di ambang pintu kamar, melihat Adelia yang tergolek lemah di pelukan Gyantara, Tama langsung bergerak cepat. Ia tanpa ragu merebut pelukan Adelia dari lengan Gyantara, memindahkan tubuh gadis itu ke dalam dekapannya sendiri.
Gerakan itu begitu tiba-tiba dan mendesak hingga membuat Gyantara terpental mundur selangkah dengan mata terbelalak tak percaya.
"Hei—!" protes Gyantara kaget.
"Sekali lagi nanti!" potong Tama singkat, tangannya sibuk merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan tabung obat berwarna biru, lalu segera menyemprotkannya ke mulut Adelia dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. "Tarik napas dalam, Del. Ini obatnya. Tenang saja, kami sudah di sini."
Julian berdiri di samping mereka, mengusap keringat di dahi Adelia dengan wajah pucat namun lega. "Kamu bodoh ya! Kenapa tidak bilang kalau obat habis lebih cepat? Kami hampir mati ketakutan!"
Selang beberapa menit, obat itu mulai bekerja. Napas Adelia perlahan teratur kembali, warna biru di bibirnya memudar, dan tubuhnya yang kaku mulai melunak. Ia menatap kedua sahabatnya dengan mata berair, lalu tersenyum lemah.
"Terima kasih..." bisiknya pelan.
Suasana hening sejenak. Gyantara dan Rama masih berdiri terpaku di tempat, menatap pemandangan di depan mereka dengan bingung luar biasa.
"Maaf ya Tuan," kata Tama akhirnya, menyadari tindakannya tadi agak berlebihan. Ia menyerahkan kembali Adelia perlahan ke pelukan Gyantara. "Kami sudah biasa mengurusnya sejak SMP. Begitu melihat dia sesak, tangan kami langsung bergerak sendiri. Maaf tadi merebutnya dengan kasar."
Gyantara masih menatap mereka bergantian, lalu menatap Adelia yang kini bersandar lemas di dadanya. "Kalian... kalian sudah tahu penyakit ini sejak lama?"
"Ya," jawab Julian jujur. "Asma yang cukup parah. Kami selalu bawa obat cadangan ke mana pun kami pergi, karena dia sering lupa atau takut membawa obat ke tempat ramai."
"Dan satu hal lagi," tambah Tama sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedikit canggung. "Kalau sedang serangan kambuh, dia paling tidak suka dipeluk terlalu erat atau diangkat tiba-tiba. Itu malah bikin dia makin sesak. Dia lebih suka duduk atau berbaring tegak."
Gyantara terdiam lama. Ia merasa begitu bodoh dan tidak mengenal istrinya sama sekali. Ia yang mengira sudah tahu segalanya tentang Adelin, ternyata tidak tahu hal mendasar seperti penyakit yang dideritanya sejak kecil. Dan melihat betapa sigap, betapa hafalnya kedua pemuda ini menangani Adelia—bahkan lebih tahu dari dirinya sendiri—kecurigaan di hatinya semakin kuat menumpuk menjadi gunung.
Namun di tengah kepanikan yang mencekam itu, ada hal yang membuat Rama menahan tawa. Ia berbisik pelan pada Gyantara: "Tuan, lihat saja. Tadi Tuan seperti sedang memeluk patung yang mereka ambil paksa. Seolah-olah Tuan adalah orang asing yang tidak berhak memegangnya."
Gyantara tersenyum tipis meski masih cemas. "Mereka melindunginya seperti adik kandung sendiri. Aku iri sekaligus lega melihatnya."
Adelia yang mendengar percakapan itu tersipu malu. Ia memeluk lengan Gyantara erat, lalu menatap Julian dan Tama yang masih berdiri waspada di dekat pintu.
"Terima kasih sudah datang secepat kilat," ucapnya lembut. "Kalian memang sahabat terbaikku."
Malam itu, meski hati masih terasa nyeri dan sesak, Adelia tidak lagi merasa sendirian di rumah asing ini. Ia punya suami yang mulai mencintainya walau bingung, sahabat yang selalu siap mati demi dirinya, dan rahasia besar yang perlahan mulai terkuak satu per satu.