NovelToon NovelToon
Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Pernikahan Kilat / CEO / Tamat
Popularitas:4.4M
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."

​Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.

​"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."

​Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.

​Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.

​"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"

​Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Kembali ke Realita

​​"Jadi gosip itu benar? Dokter Ziva melubangi leher orang pakai pena mahal suami di pesta gala?"

​Ziva mendengus geli, lalu menyeruput es kopi miliknya yang tinggal setengah. Dia melirik pria jangkung dengan jas putih bersih yang berjalan di sampingnya. 

Itu Dokter Rayn, spesialis jantung yang dikenal sebagai 'Malaikat Rumah Sakit' karena senyumnya yang tidak pernah luntur, kebalikan total dari Ziva yang sering dijuluki 'Ratu Es'.

​"Berita menyebar cepat sekali, Rayn. Padahal aku berharap tidak ada yang tahu," jawab Ziva santai sambil menendang kerikil di jalan setapak taman rumah sakit.

​"Siapa yang tidak tahu? Grup WhatsApp rumah sakit meledak pagi ini. Video kamu menusuk leher Pak Broto itu viral di kalangan perawat. Mereka bilang kamu keren, kayak agen rahasia yang nyamar jadi istri CEO," Rayn tertawa renyah. Tawanya hangat, membuat beberapa pasien yang duduk di bangku taman ikut tersenyum melihatnya.

​Ziva menggelengkan kepala. "Itu bukan keren, itu nekat. Kalau penanya meleset satu mili saja, aku sudah dipenjara sekarang karena kasus pembunuhan berencana. Lagipula, pesta itu membosankan. Isinya cuma orang-orang kaya yang sibuk pamer harta dan saling menjatuhkan. Aku lebih suka bau obat pel di lorong IGD daripada bau parfum mahal yang bikin pusing."

​"Itulah Ziva yang aku kenal," kata Rayn lembut. Dia menatap Ziva dengan sorot mata kagum yang tulus. "Kamu memang tidak cocok jadi pajangan pesta. Tanganmu itu diciptakan untuk memegang pisau bedah, bukan gelas sampanye."

​Ziva tersenyum tipis. Rayn adalah satu dari sedikit orang di rumah sakit ini yang bisa diajak bicara santai tanpa rasa takut. Mereka sering berbagi jadwal operasi darurat, membuat chemistry kerja mereka sangat solid.

​"Terima kasih, Rayn. Setidaknya ada satu orang waras yang mengerti aku," ucap Ziva.

​Mereka berhenti di bawah pohon besar yang daunnya mulai menguning. Angin sore bertiup cukup kencang, menggugurkan beberapa ranting kering.

​"Eh, tunggu," Rayn tiba-tiba menahan langkah Ziva.

​Ziva berhenti, mengangkat alis bingung. "Kenapa? Ada pasien darurat?"

​"Bukan," Rayn tersenyum geli. Dia melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka. Tangan kanannya terulur perlahan menuju wajah Ziva. "Jangan bergerak. Ada ranting kecil nyangkut di rambutmu. Nanti dikira kamu habis gelut sama kucing."

​Ziva tertawa kecil. "Oh, silakan. Ambil saja."

​Ziva berdiri diam, membiarkan Rayn membersihkan rambutnya. Jari-jari Rayn bergerak hati-hati, menyentuh ujung rambut Ziva dengan gerakan yang sangat lembut, seolah sedang menangani jantung pasien yang rapuh. Dari jarak dekat, tatapan Rayn terlihat begitu fokus dan... hangat.

​Namun, dari sudut pandang yang berbeda, adegan itu terlihat jauh lebih intim daripada sekadar mengambil ranting.

​Di seberang jalan raya, sebuah limosin hitam mewah berhenti di lampu merah. Kaca jendela belakangnya gelap pekat, menyembunyikan penumpangnya dari dunia luar. Namun dari dalam, penumpang itu bisa melihat segalanya dengan jelas.

​Elzian Drystan duduk kaku di kursi belakang mobilnya.

​Matanya yang tajam terpaku pada pemandangan di taman rumah sakit itu. Dia melihat Ziva—istrinya yang semalam dia klaim sebagai miliknya—sedang berdiri berhadapan dengan seorang pria berjas putih. Pria itu tinggi, tampan, dan tersenyum sangat manis pada Ziva.

​Dan Ziva... Ziva tersenyum balik. Senyum yang lepas. Senyum yang tidak pernah Ziva tunjukkan pada Elzian.

​Rahang Elzian mengeras seketika saat melihat tangan pria itu terulur menyentuh kepala Ziva. Jari-jari pria itu menyisir rambut istrinya.

​Apa yang dia lakukan? batin Elzian berteriak.

​Tangan Elzian mencengkeram pegangan pintu mobil dengan kekuatan penuh. Buku-buku jarinya memutih, urat-urat di punggung tangannya menonjol menahan amarah yang tiba-tiba meledak di dadanya. Ada rasa panas yang menjalar cepat, membakar akal sehatnya.

​Kenapa pria itu menyentuhnya? Kenapa Ziva membiarkannya? Kenapa mereka terlihat begitu serasi?

​"Pak Elzian? Lampu sudah hijau. Kita jalan ke lobi untuk jemput Ibu?" tanya sopir yang melihat Elzian diam saja lewat kaca spion tengah.

​Elzian tidak menjawab. Matanya masih terkunci pada adegan di taman itu. Pria itu kini tertawa, dan Ziva ikut tertawa. Mereka terlihat bahagia. Tanpa beban. Tanpa pura-pura.

​Dunia Ziva di sana terlihat cerah. Berbeda dengan dunia Elzian yang gelap dan penuh intrik.

​Rasa sesak menghimpit dada Elzian. Rasa cemburu yang asing dan menyakitkan.

​"Jangan," suara Elzian terdengar serak dan dingin. "Jangan ke lobi."

​"Lho? Jadi kita tidak menjemput Ibu Ziva?" tanya sopir bingung.

​"Putar balik. Kita pulang," perintah Elzian tajam. Dia memalingkan wajahnya dari jendela, tidak sanggup melihat lebih lama lagi. 

Dia menarik napas panjang, berusaha meredakan gemuruh di dadanya, tapi gagal. Bayangan tangan pria lain di rambut Ziva terus berputar di otaknya seperti kaset rusak.

​"Tapi Pak, Nyonya Ziva..."

​"Jalan!" bentak Elzian keras. "Aku bilang jalan! Aku mual melihatnya."

​Sopir itu tersentak kaget, langsung menginjak gas dan memutar kemudi. Limosin hitam itu melaju kencang meninggalkan area rumah sakit, membawa pergi sang CEO yang sedang terbakar api cemburu.

​Satu jam kemudian.

​Mansion Drystan terasa seperti rumah hantu. Para pelayan berjalan jinjit, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Atmosfer di dalam rumah begitu berat dan mencekam, seolah oksigen di sana telah disedot habis.

​Sumber ketegangan itu berasal dari ruang tengah.

​Elzian duduk di kursi rodanya, menghadap ke jendela besar yang menampilkan langit mendung. Dia tidak menyalakan lampu, membiarkan ruangan itu remang-remang. 

Dia diam mematung, tapi aura di sekelilingnya bergejolak seperti badai yang siap menghancurkan apa saja.

​Ponselnya tergeletak di meja di sampingnya. Layarnya gelap. Dia tidak menelepon Ziva. Dia tidak mengirim pesan. Dia hanya menunggu.

​Saat pintu depan terbuka dan suara langkah kaki Ziva terdengar masuk, Elzian tidak menoleh.

​"Elzian? Kenapa gelap sekali?" tanya Ziva sambil meraba saklar lampu. "Tadi aku tunggu di lobi, sopirmu tidak datang-datang. Aku terpaksa naik taksi daring."

​Lampu menyala. Cahaya terang membanjiri ruangan.

​Ziva melihat Elzian. Pria itu perlahan memutar kursi rodanya.

​Wajah Elzian datar, tanpa ekspresi. Tapi matanya... mata itu gelap, dingin, dan menatap Ziva dengan sorot menuduh yang membuat Ziva terpaku di tempat. 

Tidak ada sambutan hangat, tidak ada pertanyaan "bagaimana harimu?".

​Hanya ada keheningan yang mematikan dan tatapan seorang predator yang merasa miliknya telah diganggu.

​"Elzian?" panggil Ziva ragu, merasakan perubahan drastis pada suaminya. "Kau sakit?"

​Elzian tidak menjawab. Dia hanya menatap rambut Ziva—tempat di mana tangan dokter lain tadi bersarang—dengan tatapan yang bisa membekukan neraka. Badai baru saja dimulai.

1
74 Jameela
Ziva trllu acuh gk peka dg keberadaan sang suami...asyik ngobrol ngalor ngidul dg satria..betul"gk menghargai perasaan suami...ingt Ziva..bnyk wanita diluar hidupmu yg ingin jg sprti mu dipuja sm suami
Sayekti 0519
makasih author.....
Tamirah
Dia memanggil Ziva istri ku karena dia tahu istri nya bukan wanita biasa tapi wanita luar biasa.
Tamirah
Sikap tegas dan lugas yg ditunjukkan Ziva pada suaminya adalah salah satu senjata agar dia tidak diremehkan suaminya yg sedingin kulkas empat pintu dan sekejam bos mafia.
Tamirah
Berapa banyak wanita wanita yg sdh dibawa keluarga nya untuk jodoh putra nya yg cacat palsu. Dan yg akhirnya ketemu dgn wanita yang jadi istri nya dan bisa membongkar rahasia suaminya pura pura cacat.
Penasaran Thor kenapa pura pura cacat permanen.
Savana Liora: lanjut baca ga biar nemu jawabnya. udah tamat kok ini
total 1 replies
Koce Rumwarin
ceritanya bgus, aktor cewek tidak cengen😄😄😍👍
J Ticoalu
Keren pake banget 👍👍
Maa Yanti Maa Yanti
kereeen cemburuu abang El 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
besok kalo anak mereka nanya gimana kok bisa ada adek, tinggal jawab dr hasil main dokter dokteran wkwk 🤣
Modish Line
😂😂😂😂😂
Hwa8iesa
Beneran tamat ya thor??? 🥺🥺 minimal sampe tim futsal nya udah besarlah thor, pleaseee 🥺🙏
Shen shandian luo
kalau di dalami..alurnya gak masuk akal sama sekali
Novi Erwina
ini diaaaaa novel yg aku cari- cari.. love u Thor.. 🥰😘😘
Widintul Husnah
dokter sih...pkek acara panas"an sih...
Bambang Hartono
good
Bambang Hartono
good
fitri_ajalah 🌹
bravo ziva
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
berisiiik wkwk ziva belum hamil ya karena emang belum buat 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
orang normal juga mikir bude, masa iya orangtua ngehibahin rumah buat sodara nya kalo ada anak ya buat anak lah, coba bude pikir mungkin ga bude ngehibahin aset bude ke sodara bude pasti ke adrian anak bude kan? 😌
Modish Line
😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!