NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Sarapan Bersama

Pagi itu, untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah Arga, Nadira terbangun tanpa merasa seperti seorang tamu.

Meski masih ada rasa asing yang sulit dijelaskan, perlahan ia mulai memahami bahwa tempat ini bukan sekadar rumah besar milik seorang pria yang menikah dengannya karena keadaan.

Tempat ini sekarang menjadi tempat mereka memulai kehidupan baru. Walaupun kehidupan itu masih terasa seperti sesuatu yang belum sepenuhnya nyata.

Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan kecil dan merapikan barang-barangnya yang masih belum tertata sempurna, Nadira turun menuju lantai bawah. Ia berniat mencari sesuatu untuk dilakukan, sebab duduk diam di rumah sebesar itu membuatnya merasa sedikit canggung.

Namun langkahnya berhenti ketika melewati area dapur. Arga berdiri di sana.

Bukan dengan laptop, bukan dengan dokumen perusahaan, dan bukan dengan ekspresi serius seperti biasanya. Pria itu sedang membuka lemari dapur sambil memperhatikan beberapa bahan makanan yang tersusun rapi.

Nadira terdiam beberapa detik. "Kamu bisa masak?"

Pertanyaan Nadira membuat Arga menoleh. Ia tampak sedikit terkejut melihat Nadira berdiri di sana. "Sedikit."

Nadira berjalan mendekat. "Sedikit versi kamu itu seperti apa?"

Arga kembali melihat bahan makanan di hadapannya. "Yang penting bisa dimakan."

Jawaban itu membuat Nadira tertawa kecil. "Jawaban paling aman."

"Aku memang nggak sering memasak."

"Terus biasanya makan apa?"

"Ada yang menyiapkan."

Nadira mengangguk pelan. Tentu saja.

Rumah sebesar ini pasti memiliki banyak orang yang membantu mengurus kebutuhan sehari-hari.

"Tapi hari ini kamu mau masak?"

Arga mengangguk. "Aku pikir sarapan di luar atau memanggil orang terus-menerus bukan sesuatu yang perlu dilakukan setiap hari."

Nadira sedikit terdiam. Ada sisi sederhana dari Arga yang baru ia lihat. Pria itu bukan tidak mampu melakukan sesuatu sendiri. Hanya saja, karena kehidupannya, ia terbiasa memiliki banyak bantuan di sekitarnya.

"Aku bantu."

Ucapan spontan Nadira membuat Arga menatapnya. "Kamu bisa?"

Nadira langsung memasang wajah tidak percaya. "Kenapa ekspresimu seperti meragukanku?"

"Aku hanya bertanya."

"Kedengarannya seperti meragukan."

Arga tidak membantah.

Nadira menyilangkan tangan di depan dada. "Aku bisa masak beberapa hal."

"Beberapa?"

"Iya."

"Seberapa banyak?"

Nadira berpikir sebentar. "Jangan menguji kemampuan orang di pagi hari."

Arga akhirnya tersenyum kecil. "Baik."

Mereka pun mulai menyiapkan sarapan bersama. Awalnya terasa sedikit kaku.

Arga terlalu rapi dalam segala hal. Ia memotong bahan makanan dengan ukuran yang hampir sama, menata semuanya dengan teratur, bahkan meletakkan alat masak kembali ke tempatnya setelah digunakan.

Sementara Nadira jauh lebih santai. Ia bisa membuka beberapa wadah sekaligus, meninggalkan sendok di dekat kompor, dan baru merapikannya setelah selesai.

Arga memperhatikan hal itu beberapa kali. "Kamu selalu seperti itu?"

Nadira menoleh. "Seperti apa?"

"Membuat dapur terlihat seperti sedang digunakan banyak orang."

Nadira langsung melihat keadaan sekitar. Kemudian ia menyadari beberapa bahan makanan memang sudah berpindah tempat. "Oh." Ia tertawa kecil. "Maaf."

Arga menggeleng. "Tidak apa-apa."

"Kamu terganggu?"

"Tidak."

Nadira menatapnya curiga. "Kamu yakin?"

Arga mengangguk. "Aku hanya belum terbiasa."

Kalimat itu membuat Nadira berhenti sebentar. Karena ternyata bukan hanya dirinya yang sedang beradaptasi. Arga juga. Mereka sama-sama memasuki sesuatu yang baru.

"Kamu tahu?" ujar Nadira sambil melanjutkan memotong sayuran.

"Apa?"

"Lucu."

"Apa yang lucu?"

"Kita menikah, tinggal di rumah yang sama, tapi masih sama-sama belajar kebiasaan kecil masing-masing."

Arga diam sebentar lalu mengangguk.

"Memang seharusnya begitu."

Nadira menoleh.

"Orang yang tinggal bersama tetap membutuhkan waktu untuk mengenal satu sama lain, “ ucap Arga.  Jawaban itu terdengar sederhana. Tapi entah kenapa, Nadira merasa kalimat itu cukup menenangkan.

Tidak ada tuntutan bahwa mereka harus langsung menjadi pasangan sempurna. Tidak ada kewajiban untuk langsung memahami semuanya. Mereka hanya perlu memberi waktu.

Beberapa menit kemudian, aroma masakan mulai memenuhi dapur. Nadira berdiri di depan kompor sementara Arga membantu menyiapkan piring.

Tanpa sadar, mereka bergerak cukup selaras.

Ketika Nadira membutuhkan sesuatu, Arga langsung mengambilkannya. Ketika Arga hampir lupa mematikan api kecil, Nadira mengingatkannya.

Hal-hal kecil justru dari semakin membuat ruang  rasa nyaman mulai tumbuh. Setelah semuanya selesai, mereka membawa makanan ke meja makan.

Nadira memperhatikan hasil masakan mereka. "Untuk pertama kali, lumayan."

Arga mencicipi sedikit. "Lumayan."

Nadira langsung menatapnya. "Kamu bahkan tidak bisa memberi pujian yang lebih baik?"

Arga menahan senyum. "Aku bilang lumayan."

"Itu terdengar seperti penilaian restoran."

"Maksudnya?"

"Seharusnya bilang enak."

Arga menatapnya beberapa detik lalu berkata dengan tenang. "Enak."

"Kamu kalau dipaksa baru bisa ya."

"Aku tidak dipaksa."

"Iya, iya."

Untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka, pagi itu terasa seperti pagi pasangan biasa. Bukan dua orang yang terikat kontrak. Bukan dua orang yang hanya menjalankan kewajiban. Hanya Arga dan Nadira.

Dua orang yang perlahan mulai menemukan ritme mereka sendiri. Dan mungkin, tanpa mereka sadari, hal-hal sederhana seperti memasak bersama adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Tidak ada hidangan mewah seperti yang biasanya tersaji di rumah besar itu. Tidak ada susunan makanan yang terlalu sempurna seperti saat acara pernikahan kemarin. Pagi itu, meja makan hanya dipenuhi masakan yang dibuat oleh dua orang yang masih belajar memahami kebiasaan satu sama lain.

Di atas meja terdapat nasi goreng sederhana dengan potongan telur, ayam suwir, dan sayuran yang masih terlihat segar. Di sampingnya ada semangkuk sup hangat dengan aroma kaldu yang lembut, serta beberapa potong buah yang sudah dipotong rapi. Secangkir teh hangat milik Nadira dan kopi hitam milik Arga menjadi pelengkap di sisi masing-masing.

Bagi orang lain, mungkin itu hanya sarapan biasa. Bagi mereka, ada sesuatu yang berbeda.

Nadira mengambil suapan pertama dengan sedikit ragu. Ia memperhatikan ekspresi Arga yang sedang mencicipi makanannya.

"Coba masakan yang lain. Gimana rasanya?" tanyanya penasaran.

Arga mengunyah perlahan sebelum menjawab. "Enak."

Nadira menyipitkan matanya. "Serius?"

Arga menatapnya. "Iya."

"Kamu tidak bilang cuma karena aku yang masak, kan?"

"Tidak."

Nadira akhirnya tersenyum kecil sambil kembali melihat piringnya. "Syukurlah. Aku sempat takut kamu tipe orang yang terlalu kritis soal makanan."

"Aku memang memperhatikan."

"Nah."

"Tapi bukan berarti harus selalu mengkritik."

Nadira mengangkat alis kecil.

"Beneran, ini sarapannya buat aku tambah semangat." Arga hanya menatap Nadira dengan senyum manis, lalu kembali menikmati sarapannya.

Beberapa saat mereka makan dalam diam. Namun berbeda dengan malam sebelumnya, keheningan kali ini tidak terasa kaku. Ada rasa nyaman yang mulai muncul, meskipun keduanya masih sama-sama berhati-hati.

"Mama waktu aku masih kecil sering bilang. Katanya, ada banyak orang yang menghabiskan waktu untuk menyiapkan sesuatu yang kita makan. Jadi jangan terbiasa menganggapnya hal kecil."

Nadira terdiam sejenak. Tidak menyangka akan mendengar cerita sederhana seperti itu dari Arga.

"Berarti ibumu orang yang cukup berpengaruh buat kamu?"

Arga mengangguk pelan. "Iya."

“Mama kamu meninggal karena apa? Sejak kamu umur berapa?."

Kalimat itu membuat Arga diam beberapa detik. Sementara Nadira baru menyadari bahwa ia mungkin terlalu jujur mengatakannya.

Untungnya, Arga tidak terlihat keberatan. Sebaliknya, pria itu hanya kembali mengambil gelas kopinya dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat.

"Saat itu aku berumur 10 tahun. Mama meninggal karena sakit, kurang lebih sakit paru-paru." Tatapan Arga menerawang, mengulas balik kejadian itu di benaknya. “Ya, seperti itu.”

Nadira refleks meraih tangan Arga, menggenggamnya hangat.

“Aku paham rasanya gimana.”

Mereka saling menatap, hanyut suasana yang penuh kasih. Tanpa disadari Arga mengucap, “Aku sayang kamu, Nad.”

Untuk pertama kalinya, meja makan yang biasanya hanya menjadi tempat Arga menyelesaikan sarapan sebelum berangkat kerja terasa sedikit berbeda.

Ada suara tawa kecil. Ada percakapan ringan. Ada dua orang yang perlahan mulai mengisi ruang kosong di rumah itu.

Mungkin mereka belum saling mengenal sepenuhnya. Tapi setidaknya, pagi itu menjadi langkah kecil pertama untuk menciptakan sebuah kebiasaan baru.

Sarapan bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!