NovelToon NovelToon
Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.

​"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"

​"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"

​Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.

​Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara Di Balik Layar

​Malam itu, di bawah temaram lampu kubikel kantor yang mulai sepi, Naomy kembali memulai perjalanannya di Arena of Fate. Jari-jarinya yang sudah beberapa bulan tidak menyentuh tombol virtual di layar awalnya terasa sedikit kaku. Namun, memori otot tidak pernah berbohong. Hanya butuh satu pertandingan pemanasan bagi akun @Nao_mii untuk kembali menemukan ritme permainannya yang mematikan.

​Setelah memenangkan pertandingan pertama dengan hasil yang cukup memuaskan, Naomy memutuskan untuk masuk ke mode antrean solo (solo queue) sekali lagi sebelum pulang ke kosannya. Saat itulah takdir mempertemukannya dengan sebuah akun berpenampilan sederhana namun memiliki statistik kemenangan yang sangat impresif.

​Nama penggunanya cukup unik dan acak: @Rrrrarrkyyy.

​Di dalam permainan, @Rrrrarrkyyy menggunakan karakter pelindung (tank/initiator) yang bertugas membuka pertempuran dan melindungi lini belakang. Sebagai pengguna penembak jitu (marksman) yang tipis dan mudah mati, Naomy biasanya selalu merasa cemas jika bermain tanpa teman yang dikenal. Namun, malam itu, pemain asing ini menunjukkan kelas yang berbeda.

​Setiap kali karakter Naomy terdesak oleh sergapan musuh, karakter milik @Rrrrarrkyyy selalu datang di waktu yang tepat. Ia memasang tameng besi virtualnya, menahan semua kerusakan dari lawan, dan memberikan ruang yang sangat aman bagi Naomy untuk menembaki musuh dari belakang hingga mereka rata dengan tanah. Kerja sama mereka di pertandingan itu sangat mulus, seolah-olah mereka sudah bermain bersama selama bertahun-tahun.

​Layar ponsel Naomy berkedip menampilkan tulisan emas yang megah: VICTORY.

​Kembali ke lobi, sebuah notifikasi merah muncul di pojok kanan atas layar Naomy.

​[Rrrrarrkyyy mengirimkan permintaan pertemanan.]

​Tanpa ragu, Naomy menekan tombol setuju. Detik berikutnya, sebuah pesan masuk di kotak obrolan game.

​@Rrrrarrkyyy: Refleks lo bagus juga buat ukuran marksman solo. Mabar lagi?

​Naomy tersenyum tipis di depan layar ponselnya. Rasa suntuk akibat revisi desain logo dari supervisornya mendadak menguap begitu saja.

​@Nao_mii: Boleh. Tapi gue agak karatan ya, baru main lagi setelah absen beberapa bulan.

​@Rrrrarrkyyy: Gak masalah. Gue yang pasang badan, lo tinggal tembak dari belakang aja.

​Malam itu, mereka bermain hingga tiga pertandingan lagi, dan semuanya berakhir dengan kemenangan beruntun. Kombinasi permainan mereka sangat solid. Yang membuat Naomy merasa sangat nyaman adalah cara bermain @Rrrrarrkyyy yang tenang. Ia tidak pernah memaki atau menyalahkan rekan tim lain yang bermain buruk—sesuatu yang sangat jarang ditemui di komunitas game online yang sering kali beracun.

​Sejak malam itu, rutinitas baru Naomy terbentuk. Setiap kali ia merasa penat dengan tumpukan revisi di Apex Creative, ia akan menyempatkan diri untuk membuka game pada malam hari. Dan hampir selalu, akun @Rrrrarrkyyy sudah berada di daftar teman yang sedang aktif, siap mengirimkan undangan untuk bermain bersama.

​Hubungan mereka tidak lagi terbatas pada tombol "Mulai Game". Mereka mulai asyik berbalas pesan di fitur obrolan privat. Obrolan mereka awalnya hanya seputar strategi permainan, namun perlahan bergeser membahas keseharian, meski tetap menjaga batasan privasi masing-masing dengan ketat.

​@Rrrrarrkyyy: Kerja di industri kreatif emang se-melelahkan itu ya? tanya cowok itu suatu malam setelah Naomy mengeluh lelah karena drafnya ditolak klien lagi.

​@Nao_mii: Banget. Kadang pengen jadi batu aja rasanya. Klien maunya aneh-aneh. Lo sendiri kerja di bidang apa?

​@Rrrrarrkyyy: Gue? Cuma buruh korporat biasa di perusahaan swasta. Monoton banget.

​Naomy terkekeh membaca jawaban itu. Ia merasa senasib dengan teman virtualnya ini—sama-sama pekerja kantoran yang mencari pelarian di sela-sela tekanan hidup.

​Suatu hari, saat mereka sedang berada di lobi permainan bersiap untuk pertandingan penting di mode peringkat tinggi, @Rrrrarrkyyy mengirimkan sebuah pesan yang membuat jantung Naomy berdetak sedikit lebih cepat.

​@Rrrrarrkyyy: Ketik pesan pas main agak repot. Pake voice note di game aja, mau? Biar komunikasi kita lebih cepat pas war.

​Naomy sempat ragu sejenak. Mendengar suara asli seseorang terasa seperti melangkah selangkah lebih dekat ke dunia nyata. Namun, demi kemenangan tim, ia akhirnya menyetujuinya.

​"Tes, tes. Kedengaran gak?"

​Sebuah rekaman suara pendek berdurasi tiga detik masuk ke ruang obrolan. Naomy menekan tombol putar. Suara yang keluar dari pelantang suara ponselnya terdengar sangat berat, bersih, berwibawa, namun memiliki nada yang santai. Itu adalah tipe suara pria dewasa yang sangat tenang—bukan tipe suara anak sekolahan atau remaja tanggung.

​Naomy menekan tombol mikrofon di ponselnya, membalas dengan ragu-ragu. "Iya, kedengaran kok. Suara gue jelas juga, kan?"

​"Jelas banget. Oke, Lunaria, bersiap di area tengah. Musuh mulai bergerak," balas suara bariton itu lagi melalui pesan suara berikutnya.

​Ada sensasi aneh yang menggelitik dada Naomy mendengar suara itu langsung di telinganya. Sepanjang permainan, suara berat milik @Rrrrarrkyyy menuntun jalannya pertempuran dengan instruksi yang tenang namun tegas. Naomy merasa sangat terlindungi, baik secara virtual di dalam game maupun secara psikologis.

​Meskipun mereka sudah mulai bertukar pesan suara dan mabar hampir setiap malam, ada satu kesepakatan tidak tertulis di antara mereka: mereka tidak ingin terburu-buru mengungkap identitas asli masing-masing. Mereka tidak pernah menanyakan nama asli, akun Instagram, nomor WhatsApp, atau bahkan bertukar foto wajah. Bagi mereka berdua, anonimitas ini adalah sebuah kemewahan. Di dunia di mana semua orang dituntut untuk memamerkan identitasnya di media sosial, hubungan tanpa wajah ini terasa seperti tempat perlindungan yang murni.

​"Gue suka kayak gini," ucap Naomy dalam salah satu pesan suaranya sebelum tidur. "Kita gak perlu pura-pura jadi orang lain karena kita bahkan gak saling kenal di dunia nyata."

​Di seberang sana, di dalam sebuah apartemen mewah di kawasan elit Jakarta, seorang pria muda berwajah tegas dengan garis rahang yang kokoh tersenyum tipis mendengar pesan suara dari Naomy. Pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi kerja berbahan kulit premium, menatap layar ponselnya yang menampilkan profil akun @Nao_mii.

​"Sama," bisik pria itu dengan suara baritonnya yang khas. "Gue juga suka kayak gini."

​Pria itu adalah Raka. Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa gadis pemanah handal yang setiap malam menemaninya melupakan beban sebagai pimpinan perusahaan adalah salah satu staf desainer baru di kantornya sendiri.

1
dinda.glow
haloo izin mampir ya... saling mampir yuk
bsjelfjbrndsabdvr
nyimak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!