NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Bekas yang Sama

Pagi datang bersama kicau burung peliharaan Andreas di belakang rumah.

Belvina mengerjap pelan. Tubuhnya terasa hangat dan nyaman, terlalu nyaman untuk ukuran tidur di tempat asing.

Ia menggeliat kecil, lalu membeku.

Ada sesuatu yang keras dan hangat di bawah pipinya. Dadanya naik turun teratur.

Dengan gerakan kaku, Belvina mendongak sedikit. Ia nyaris menjerit dalam hati.

Kini ia sadar sepenuhnya, kepalanya sedang bersandar di dada Alden. Bukan hanya itu. Tangannya memeluk pinggang pria itu. Salah satu kakinya bahkan menimpa pahanya dengan santai, seolah semalaman ia memeluk guling pribadi.

Belvina langsung mengangkat kepala cepat.

Kesalahannya tak bisa disembunyikan saat melihat sepasang mata gelap tengah menatapnya tenang.

Alden sudah bangun. Senyuman samar muncul di bibirnya.

“Nyenyak?” tanyanya santai.

Semburat hangat langsung naik ke pipi Belvina.

“Aku—ini—kenapa aku bisa—”

“Kurasa,” potong Alden malas, “semalam ada seseorang yang mencari kehangatan.”

“Bohong!” bantah Belvina buru-buru mengangkat kaki dari tubuh Alden, lalu berusaha turun dari ranjang.

Namun pagi ini rupanya nasib masih menyimpan dendam padanya. Kakinya tersangkut selimut.

“Ah—!”

Tubuhnya oleng ke depan.

Alden refleks meraih tangannya untuk menahan. Sayangnya, tarikan itu terlalu kuat.

Bukannya selamat, Belvina justru jatuh kembali ke atas ranjang, tepat menimpa tubuh Alden. Dan--

Bibir mereka bertemu.

Waktu terasa berhenti.

Belvina kehilangan kemampuan bergerak.

Alden juga diam sepersekian detik, namun hanya sesaat. Pria itu perlahan menggerakkan bibirnya, mengecap perlahan seolah menikmati kelembutan tak terduga itu.

Belvina yang masih syok justru semakin kaku. Ciuman itu mengejutkan dalam cara yang menyenangkan.

Jantungnya berdebar makin kacau.

Saat tangan Alden yang semula menahan pinggangnya mulai bergerak perlahan di punggung, napas Belvina langsung buyar.

Kesadarannya kembali seketika.

Belvina mendorong dada pria itu keras-keras lalu bangkit.

“Kau mesum!” serunya dengan wajah merah padam.

Alden ikut bangun setengah duduk. “Aku?”

“Iya! Kau menciumku!”

“Kau yang lebih dulu jatuh dan menciumku.”

“Itu karena kau bikin aku jatuh menimpamu!”

“Aku tadi berusaha menolongmu.” Alden mengangkat alis. “Kalau tidak kutarik tanganmu, kau pasti nyungsep seperti kemarin.”

Belvina terdiam sesaat.

“Tapi... tapi kau memanfaatkannya!”

Alden menahan senyum. “Memanfaatkan?”

“Iya!" sambar Belvina. "Dengan menciumku!”

Pria itu memandangnya lama, lalu berkata santai,

“Tapi kau menikmatinya.”

“Mana ada!”

Belvina nyaris meledak karena malu dan kesal. “Aku cuma terkejut dan otakku masih loading!”

“Masih loading...” Alden mencondongkan badan sedikit. “Atau terlalu menikmati sampai lupa cara bergerak?”

“Kau mesum!”

Belvina meraih bantal lalu melemparkannya ke arah pria itu sebelum bergegas turun dari ranjang.

“Awas jatuh lagi,” kata Alden santai.

Belvina mendelik tajam, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.

BRAK!

Pintu tertutup keras.

Alden menyentuh bibirnya sendiri dengan gerakan lambat. Ingatan beberapa detik lalu masih terasa jelas.

Bibir wanita itu lembut. Dan entah kenapa... sangat menyenangkan.

Bibirnya melengkung puas.

“Pagi yang bagus,” gumamnya rendah.

 

Di balik pintu kamar mandi, Belvina bersandar lemas sambil menutup wajahnya yang masih panas.

“Memalukan sekali...” gumamnya lirih.

"Kenapa aku bisa seceroboh itu? Dan yang lebih parah... kenapa semalam aku tidur seranjang dengan dia? Bukankah seharusnya aku tidur di sofa?"

Belvina mengusap wajahnya kasar, berusaha mengusir kekacauan di kepalanya.

"Sial!"

Namun saat berdiri di depan cermin, matanya justru jatuh pada bibirnya sendiri. Ingatan beberapa menit lalu kembali berputar jelas.

Sensasi lembut dan hangat itu masih tertinggal jelas di kepalanya.

Belvina menepuk kedua pipinya cepat.

“Tidak. Tidak. Ini nggak benar.”

Ia melihat bayangannya sendiri dengan serius.

“Belvina, sadar. Kau cuma pemeran antagonis. Alden nanti akan bersama pemeran utama. Tugasmu cuma menjaga hati, lalu bercerai dari es balok itu.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi...” Wajahnya berubah rumit. “Sekarang dia nggak kayak es balok lagi.”

Belvina membelalakkan mata sendiri.

“Argh! Apa yang kupikirkan?!”

Kesal, ia buru-buru melepas bajunya untuk mandi. Namun keningnya langsung berkerut saat melihat pantulan tubuhnya di cermin.

Ada beberapa bercak samar di leher, pundak, hingga dekat tulang selangka.

Belvina mendekat.

“Kenapa banyak bercak di tubuhku?”

Lalu potongan mimpi semalam muncul di kepalanya.

Ia bermimpi dicumbu Alden. Sentuhan di punggung, bibir hangat di leher, napas berat di dekat telinganya.

Tubuh Belvina menegang.

“Jangan-jangan...” Ia menelan ludah. “Semalam itu... bukan mimpi?”

Perlahan, kepalanya menoleh ke arah pintu kamar mandi.

Rahangnya mengeras.

“Alden... awas saja kau.”

Belvina keluar dari kamar mandi dengan langkah cepat. Rambutnya masih basah, wajahnya penuh amarah.

Alden yang sedang memilih dasi di lemari hanya melirik sekilas, seolah tak ada masalah.

“Kenapa tandukmu keluar lagi?”

Belvina berhenti di depannya lalu menyingkap sedikit kerah bajunya.

“Jelaskan ini.”

Mata Alden turun ke leher putih yang memperlihatkan bercak samar.

“Dan ini. Sama ini.”.Belvina menunjuk pundaknya, kemudian tulang selangkanya.

Alden melihat semuanya dengan tenang sekali. Terlalu tenang.

“Mungkin kau alergi.”

Belvina membelalakkan mata. “Alergi?”

“Bisa jadi.” Alden mengangkat bahu. “Kulit sensitif.”

"Kau pikir aku anak kecil? Kalau alergi pasti ada gatal, sesak napas, atau gejala lain!” sergah Belvina. “Ini pasti ulahmu, 'kan?”

Alden menatapnya beberapa detik, lalu menjawab tanpa beban,

“Memangnya kenapa kalau iya?”

Belvina ternganga.

“Kau... benar-benar kamu?!”

“Iya.” Jawaban Alden ringan seolah itu hal biasa.

Pipi Belvina berubah semerah tomat matang.

“Kau tak boleh menyentuhku sembarangan!”

Alden menyandarkan tubuh ke lemari sambil melipat tangan.

“Bukannya dulu kau begitu gigih ingin kusentuh?”

“Itu dulu!” potong Belvina cepat. “Sekarang aku nggak mau lagi. Jadi jangan pernah sentuh aku tanpa izin.”

Alden mengangkat satu alis.

“Tidak ada undang-undangnya suami dilarang menyentuh istrinya sendiri.”

“Kita cuma suami istri di atas kertas.”

“Kalau begitu...”

Alden mendorong tubuhnya dari lemari dan melangkah mendekat.

“Kita buat jadi suami istri sungguhan.”

“Jangan harap!”

Belvina mundur satu langkah. “Awas kalau kau sentuh aku lagi.”

Detik berikutnya—

Alden menangkap pinggangnya dan membawa Belvina masuk ke dalam pelukannya.

Tubuh wanita itu menabrak dada bidang pria itu.

"Alden!"

“Aku sudah menyentuhmu,” bisik Alden rendah di dekat telinganya. “Kau mau apa?”

“Kau—lepas!”

Belvina berusaha melepaskan diri, tetapi lengan pria itu terlalu kuat.

Alden menunduk sedikit, napasnya menyapu sisi wajah Belvina.

“Kau tahu...” suaranya rendah dan menggetarkan, “semalam kau menggeliat dan mendesah begitu manja.”

Belvina ingin lenyap dari muka bumi saat itu juga.

“Dasar mesum! Bohong!”

“Benarkah?”

Sebelum Belvina sempat membalas, kecupan lembut mendarat di lehernya.

Belvina terpaku di tempat.

Lalu satu lagi di pundaknya. Dan satu lagi di dekat garis rahangnya.

Tubuh Belvina meremang tanpa izin. Sentuhan itu sama seperti yang terasa samar dalam mimpinya semalam.

Alden memang melakukannya.

Napas Belvina mulai kacau.

 

...✨"Dia menolak disentuh, tapi tubuhnya justru mengingat setiap sentuhan itu."✨...

.

To be continued

1
Eva Novianti
hahahahahaja lucuuuu
anonim
Seraphina berulah, Alden mengambil langkah cepat dengan pemutusan seluruh kerja sama yang masih berjalan.

Semua proyek yang belum berjalan juga dihentikan.

Seraphina sudah terlalu lama menikmati hasil kelicikannya. Kini tinggal menunggu kehancurannya.

Sifat jahat Seraphina meronta tak mau kalah.

Semoga perbuatan nekatnya mau mencelakakan Belvina yang sedang mengandung tidak terlaksana.
anonim
Belvina lebih baik tidak usah keluar rumah sebelum Alden menemukan bukti-bukti kuat kejahatan Seraphina di perusahaan keluarga Alden.

Seraphina tidak sadar kalau perbuatannya pasti segera diketahui Alden.
anonim
Alden mendapatkan laporan dari Dimas tentang sepak terjang Seraphina yang menjadi pahlawan perusahaannya.

Kepala keuangan di perusahaannya terlibat kerja sama dengan Seraphina dengan membocorkan situasi internal perusahaan. Menjual data perusahaan kepada Seraphina.

Licik sekali Seraphina. Bertahun-tahun Alden baru mengetahui perbuatan jahat Seraphina. Bertahun-tahun pula Alden merasa berhutang budi pada Seraphina.

Menjadikan Seraphina sebagai pahlawan penyelamat perusahaan.

Sekarang tinggal penyesalan yang sangat terlambat Alden sadari. Istrinya banyak terluka karena dirinya lebih membela Seraphina.
anonim
Orang suruhan Seraphina ini apa tidak punya istri dan anak. Mau-maunya menerima pekerjaan mencelakakan Ibu hamil.

Orang-orang yang mengawasi Belvina mestinya siaga tidak jauh dari Belvina berada.
anonim
Seraphina penjahat terselubung, melakukan kejahatan dengan membayar seseorang.

Alden sudah memilih Balvina, Seraphina tidak terima.

Jelas Alden akan marah kalau Belvina sampai kenapa-napa. Apalagi karena ulah Seraphina.
SediaKala
Bukannya ponselnya di tinggal d rumah ya?🤏
anonim
Alden benar-benar marah kepada Seraphina yang telah mencoba menghancurkan rumah tangganya.

Kalimat-kalimat selanjutnya yang terucap dari Alden membuat Seraphina terdiam. Seperti tak percaya.

Seraphina telah meninggalkan ruangan Alden.

Dimas takut Seraphina berbuat nekat.

Alden pun berpikiran sama. Bahkan takut kalau Belvina yang akan jadi sasaran.
anonim
Seraphina datang ke gedung Astera Group memenuhi panggilan dari Alden.

Seraphina sudah berada diruang kerja Alden.

Alden tanpa basa basi bicara soal kejadian di klub malam. Tentang foto-foto mereka berdua kepada Belvina.

Seraphina pura-pura terkejut mendengarnya. Dan berkata tidak tahu soal itu.

Tapi tak lama kemudian, pura-pura terkejut itu menjadi benar-benar terkejut.

Masih pura-pura tidak mengerti dengan rekaman yang sudah Alden lihat.

Seraphina mau mengelak apa lagi. Alden mempunyai bukti rekaman.
anonim
Seraphina menghancurkan gelas wine yang isinya sudah tandas dia teguk dengan emosi tinggi

Kata-kata Belvina terus terngiang di telinganya.

Seraphina menahan amarah.

Seraphina menghubungi seseorang, dengan ponselnya.

Dia menyuruh orang tersebut menjatuhkan Belvina. Tidak peduli dengan Belvina yang diawasi cukup ketat oleh Alden.
anonim
Belvina tidak mau membantu Alden lepasin baju.

Kalau Belvina sudah mode datar, Alden merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Alden baik. Maunya, Belvina terus terang bicara apa yang menjadikan kesal terhadap dirinya. Biar dia tahu kesalahannya.

Omongan Seraphina yang bikin Belvina kesal, ditanyakan pada Alden.

Belvina setelah mendengar penjelasan dari Alden, mestinya sadar kalau omongan Seraphina itu supaya Belvina terpancing kemarahannya.

Kemarahan Ibu hamil bisa membahayakan bayi dalam kandung. Itu yang dikehendaki Seraphina.
beybi T.Halim
setelah mood yg up & down baca cerita ini akhirnya kelar juga,happy ending buat semuanya,semangat buat penulisnya,sehat2 sll💝
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Keren juga Belvina dalam menghadapi Seraphina yang dengan sengaja bicara tentang perlakuan Alden yang sudah berlalu.

Sayangnya Belvina tak terpengaruh dengan Seraphina. Tidak terpancing untuk marah.

Kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Belvina membuat Seraphina tak berkutik.

Kebanggaannya diperlakukan istimewa oleh Alden, tak ditanggapi Belvina sesuai harapannya.

Belvina tak bisa diremehkan. Pasti akan mekawan dengan cara yang elegan. Seperti saat ini.

Tidak perlu marah pakai teriak-teriak.
anonim
Seraphina sengaja mengikuti Belvina kah ?

Belvina mesti hati-hati kalau dekat Seraphina. Mesti waspada terhadap gerak-gerik Seraphina. Jangan sampai membahayakan kehamilannya.
Nurlaila Hidayah
gmna Lo mau tahu sama istri Lo aja cuek lbih perhatian sama cwek lain, mka'a aneh kan sama istri sndri, kerasa kan skrg keadaan'a di balik, emg enak, sangka thor
RusNa ANtox DEwi
baguss
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bakulgeblek
keren2... bakal saya lahap habis ini karya2mu...
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bakulgeblek
home sweet home...
Bakulgeblek
nha... senyum2 besoknya pasti ini pak COD koplak...
Bakulgeblek
titik terendah harga diri laki2 di depan istri, sekaligus puncak kelaki2an utk menahan dan hanya melepas kepada istri...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!