NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. penolakan yang Sia - Sia

Keesokan harinya, fajar baru saja menyingsing, meninggalkan semburat jingga di langit kampung yang masih berkabut. Kinanti sudah terbangun sejak buta. Matanya sedikit sembab akibat semalaman memikirkan obrolan kedua orang tuanya yang tidak sengaja dia dengar. Sambil menarik napas panjang untuk menguatkan hati, dia melangkah mendekati ibunya.

"Ibu, hari ini biar Kinan saja yang pergi ke rumah Bu Romlah untuk mencuci. Ibu di rumah saja sambil beristirahat. Lagian Bapak hari ini kan sedang libur bekerja. Kinan siap-siap dulu ya, Bu, biar tidak terlambat nanti," ucap Kinanti, memaksakan seulas senyum di bibirnya agar kecamuk di dadanya tidak kentara.

Ibu Helnawati yang sedang merapikan tempat tidur menoleh, tatapannya sendu. "Baiklah, Nak. Kalau begitu Ibu akan menyiapkan sarapan untukmu dan Bapak dulu."

"Tidak usah, Bu. Kinan sudah menyiapkan sarapannya di meja makan," potong Kinanti cepat. Sebelum ibunya sempat bertanya lebih jauh, gadis itu bergegas melangkah pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap.

Setelah mematut diri di depan cermin tua dan memastikan penampilannya rapi, Kinanti keluar dari kamar. Namun, langkahnya mendadak kaku saat melihat bapak dan ibunya sudah duduk berdampingan di meja makan. Suasana mendadak hening, menyisakan ketegangan yang merayap di udara.

"Kinan, duduklah dulu. Ada yang Bapak dan Ibu ingin bicarakan kepadamu," suara Bapak Adriani memecah keheningan. Beliau menatap putri tunggalnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa kamu masih ingat dengan anaknya Juragan Ramli?"

Jantung Kinanti bertalu hebat. Dia meremas ujung bajunya di bawah meja, berusaha bersikap sewajar mungkin. "Ya, Pak, Kinan ingat. Ada apa dengan anak Juragan Ramli?" ucap Kinanti, berpura-pura tidak tahu apa-apa soal rencana besar yang tengah mengintai masa mudanya.

Bapak Adriani berdeham, menatap lurus ke dalam manik mata putrinya. "Juragan Ramli ingin menjodohkanmu dengan Mas Baskara, anaknya."

Bagai dihantam ombak besar, meski sudah tahu, mendengar kata-kata itu keluar langsung dari mulut sang ayah tetap saja membuat dada Kinanti sesak. Dia menggeleng pelan, menolak pasrah pada takdir.

"Tapi, Pak... Kinan tidak ingin menikah dulu. Kinan juga masih sangat muda," pinta Kinanti dengan suara yang mulai bergetar. "Kinan masih ingin bekerja keras mencari uang sambil menabung untuk berkuliah. Dan... dan yang Kinan tahu, anak Juragan Ramli itu sudah pernah menikah dan sudah mempunyai anak. Kinan masih belum siap untuk menikah dan menjadi ibu di usia sekarang, Pak," lanjutnya, menatap kedua orang tuanya dengan pandangan memohon.

"Ibu dan Bapak sudah menyetujui perjodohan ini, Kinanti!" Tiba-tiba suara Ibu Helnawati meninggi, terdengar sangat tegas dan tak terbantah.

Kinanti terkesiap. Setetes air mata lolos begitu saja melewati pipinya. "Bu... apa ini? Kinan tidak ingin menikah," bisiknya lirik, menahan tangis yang siap meledak di dada.

Wajah Ibu Helnawati melunak, namun sorot matanya tetap mengeras. "Ini semua demi kebaikanmu sendiri, Nak. Siapa tahu setelah kamu menikah dengan keluarga mereka, hidupmu akan jauh lebih nyaman dan terjamin daripada hari ini. Ibu dan Bapak hanya ingin melihat kamu bahagia, tidak perlu hidup melarat seperti kami."

Bapak Adriani mengulurkan tangan, menggenggam jemari Kinanti yang terasa sedingin es. "Bapak yakin, anak Juragan Ramli adalah pria yang bertanggung jawab. Dia pasti bisa membantumu mengejar impian-impianmu yang tertunda, Nak."

Rasa kecewa dan sesak yang bergemuruh di dada Kinanti akhirnya tak mampu lagi dia bendung. Dia menarik tangannya dari genggaman sang ayah, lalu bangkit berdiri dengan tubuh gemetar.

"Pak, Bu... apa harus dengan cara menikah Kinan bisa mengejar impian Kinan? Kinan tidak ingin menikah untuk saat ini! Yang Kinan pikirkan selama ini hanya ingin bekerja dan membuat kalian bahagia dengan keringat Kinan sendiri!" seru Kinanti, berbalik dan melangkah cepat menuju pintu keluar.

Sebelum jemari Kinanti menyentuh gagang pintu, suara tegas Ibu Helnawati kembali menggelegar, menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu.

"Kalau kamu memang ingin melihat kami bahagia, menikahlah dengan anak Juragan Ramli!"

Kata-kata itu bagai belati yang menusuk tepat di jantung Kinanti. Gadis itu terdiam sesaat, tubuhnya menegang, menolak untuk berbalik. Dengan sisa kekuatan yang ada, dia membuka pintu dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya dengan langkah seribu, membawa hancurnya sekeping harapan yang dia miliki.

Di sepanjang jalan setapak menuju rumah Bu Romlah, air mata Kinanti tumpah tanpa bisa dicegah. Dunianya serasa runtuh dalam sekejap mata.

Kenapa harus begini? Apa aku harus menikah muda hanya agar bisa mengejar impianku? Kenapa juga Ibu dan Bapak harus langsung menerima perjodohan itu tanpa memikirkan perasaanku? Umurku masih sembilan belas tahun... aku tidak ingin menikah di usiaku yang masih sedini ini. Lagipula, perbedaan usia kami terlampau sangat jauh! aku harus menikah dengan pria sedewasa itu? batin Kinanti menjerit pilu.

Lututnya mendadak lemas. Kinanti tak sanggup lagi melangkah. Dia terduduk di pinggir jalan yang sepi, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut, menangis sesenggukan meratapi nasibnya yang malang.

Di tengah isak tangisnya yang membelah keheningan pagi, Kinanti sama sekali tidak menyadari bahwa ada sebuah mobil mewah berwarna hitam yang sejak tadi berjalan pelan, lalu berhenti tepat beberapa meter di sampingnya. Di dalam mobil itu, sepasang mata elang yang tajam tengah memperhatikannya dengan saksama.

Baskara Dirgantara menatap gadis yang sedang duduk meringkuk di pinggir jalan itu dari balik kaca mobil. Ada rasa penasaran sekaligus ketertarikan yang aneh merayap di dadanya. Pria itu menghela napas, memutuskan untuk keluar dari mobil. Langkah kakinya yang mantap berderap mendekati sosok Kinanti.

"Kinanti," panggil pria itu dengan suara berat dan berwibawa.

Mendengar suara asing yang menggelegar di dekatnya, Kinanti tersentak. Dia menoleh dengan wajah yang sudah basah oleh air mata, lalu buru-buru bangkit dari duduknya saat mengenali siapa pria bertubuh tegap di hadapannya.

"Om..." ucap Kinanti terbata-bata, reflek memanggilnya dengan sebutan yang menunjukkan jarak usia mereka.

Baskara mengernyitkan alisnya, tampak bingung sekaligus tidak nyaman melihat tingkah laku gadis di depannya yang menangis tersedu-sedu. "Kenapa kamu menangis di pinggir jalan seperti ini?"

Kinanti menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap langsung mata tajam pria mapan itu. "Om... bisakah saya berbicara dengan Anda sebentar?"

Baskara diam sejenak, hanya bisa pasrah dan menahan rasa kesalnya mendengar panggilan 'Om' yang keluar dari bibir ranum gadis itu. "Baiklah, ikuti saya. Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanyanya dengan suara tegas khas seorang pria yang terbiasa memberi perintah.

Mereka bergeser sedikit ke area yang lebih teduh di bawah pohon. Kinanti meremas kedua tangannya yang gemetar. "Sebelumnya... saya ingin meminta maaf terlebih dahulu, Om," ucap Kinanti, akhirnya memberanikan diri menatap mata Baskara meskipun suaranya sedikit bergetar karena takut. "Saya... saya tidak bisa menikah dengan Anda. Saya menolak perjodohan ini."

Mendengar penolakan yang begitu berani dan langsung, raut wajah Baskara seketika berubah mengeras. Dia melipat kedua tangannya di dada, memancarkan aura intimidasi yang kuat. "Apa alasanmu menolak perjodohan ini?" tanya Baskara dingin.

"Saya belum siap untuk menikah, Om. Saya masih terlalu muda, dan saya masih belum yakin untuk membangun sebuah rumah tangga," jawab Kinanti jujur, berharap pria di hadapannya ini memiliki belas kasihan untuk membatalkan rencana gila sang ayah.

Baskara tidak langsung menjawab. Sepasang matanya meneliti wajah Kinanti yang polos tanpa riasan, namun menyiratkan kecantikan alami yang begitu memikat di bawah sinar matahari pagi. Cantik, puji Baskara dalam hati, mengagumi ketegasan di balik kerapuhan gadis desa di depannya ini.

Namun, ego dan harga dirinya sebagai pria terpandang tidak membiarkan dirinya ditolak begitu saja. Baskara kembali bersuara dengan nada yang lebih dingin dan mutlak. "Saya tidak menerima penolakanmu, Kinanti. Saya akan tetap menikahimu secepat mungkin."

"Tapi, Om—"

"Pikirkan orang tuamu, dan belajarlah mulai hari ini untuk menyukaiku," potong Baskara dengan kalimat yang menusuk telak. Dia maju selangkah, membuat Kinanti terkesiap mundur. "Jangan pernah kamu membahas tentang penolakan ini lagi di depan saya atau orang tuamu. Saya akan bertanggung jawab penuh atas seluruh keperluan dan masa depanmu setelah kita menikah nanti. Dan satu hal lagi... kamu tidak perlu lagi menjadi buruh cuci rendahan di kampung ini."

Suara tegas Baskara mengunci mati semua bantahan yang ingin Kinanti layangkan. "Kalau memang kamu ingin melihat kedua orang tuamu bahagia dan lepas dari penderitaan, turutilah apa yang mereka inginkan," lanjut Baskara, memberikan kalimat skakmat.

Kinanti kehabisan kata-kata. Air matanya kembali meluncur deras. Sadar bahwa dia tidak akan pernah menang melawan kekuasaan pria di hadapannya, Kinanti akhirnya hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, pasrah pada takdir yang mencekik lehernya.

"Baiklah... kalau itu yang Om inginkan. Mau tidak mau... saya harus menerimanya," bisik Kinanti dengan suara parau yang menyedihkan. Tanpa menunggu jawaban dari Baskara, gadis itu membalikkan badannya begitu saja dan melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan sang calon suami di tepi jalan.

Baskara membeku di tempatnya. Pria yang terbiasa dipuja dan dipatuhi itu terkejut bukan main atas sikap acuh dan dingin yang baru saja Kinanti tunjukkan padanya. Baru kali ini dalam hidupnya, seorang Baskara Dirgantara diabaikan dan ditolak secara terang-terangan oleh seorang gadis desa yang sederhana.

Baskara menatap punggung Kinanti yang menjauh dengan senyum tipis yang sarat akan arti misterius. Sambil berjalan kembali menuju mobilnya, dia membatin, Menarik. Kita lihat seberapa lama kamu bisa mempertahankan dinding es itu setelah menjadi istriku, Kinanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!