NovelToon NovelToon
Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:809
Nilai: 5
Nama Author: Roditya

Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.

Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.

Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.

Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?

Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 — Bencana di Lembah Timur

"Suara apa itu?!" jerit Jaka panik. Salah satu pengikut Ayla. Tangannya gemetar memegang gagang kapak, matanya liar memandangi semak-semak yang bergoyang hebat di balik lereng bukit.

"Tenang! Jangan panik!" teriak Luka keras, mencoba menenangkan kawan-kawannya sambil mencabut busur panah dari bahunya.

Yana melangkah makin kedepan, matanya menatap tajam ke arah vegetasi yang tumbang di batas bukit. "Bukan cuma satu. Ada dua beruang hitam dewasa. Pembabatan pohon yang kalian lakukan meruntuhkan pintu gua hibernasi mereka."

Ayla mundur dua langkah dengan wajah pucat pasi. "Tapi ini sudah awal musim dingin, Harusnya mereka sudah tidur nyenyak."

"Tanah yang kalian cangkul tepat berada di atas atap sarang mereka!" potong Paman Bimo murka sambil menarik tombaknya. "Bumi bergetar dan es runtuh menimpa kepala mereka! Binatang yang terbangun dari hibernasi adalah binatang paling ganas di Hutan Hitam!"

ROAAARRR!

Dua ekor beruang hitam raksasa menerobos semak-semak lebat dengan kecepatan yang mengerikan.

Bulu tebal mereka dipenuhi pecahan es, dan mata merah mereka menyala penuh dengan amarah.

Beruang pertama yang berukuran lebih besar langsung menerjang ke arah kelompok pemuda yang membabat pohon.

"Awas!" teriak Aron melompat ke depan bersama para pemburu senior. "Bentuk barisan! Lindungi sisi kiri!"

Situasi mendadak menjadi kacau balau.

Teriakan panik, dentingan senjata, dan deru napas binatang liar bercampur aduk di tengah salju yang mulai ternoda tanah cokelat.

"Luka! Tolong aku!" jerit Ayla ketakutan saat beruang kedua—yang bergerak lebih lincah—mengalihkan sasarannya langsung ke arah tempat Ayla berdiri terpaku.

Luka menoleh dengan kaget.

Posisi Ayla sangat terbuka, sementara beruang besar itu hanya berjarak sepuluh langkah dari Ayla.

Kebetulan. Di dekat Ayla, Yana sedang bersiap melepaskan anak panah ke arah mata beruang pertama untuk membantu ayahnya.

"Yana! Awas!" bentak Luka tiba-tiba.

Tanpa berpikir panjang, Luka berlari kencang dan mendorong bahu Yana dengan keras ke arah depan untuk menarik Ayla mundur ke balik punggungnya.

Dorongan mendadak dan kuat dari samping itu membuat keseimbangan Yana buyar sepenuhnya.

Tubuh gadis itu terdorong tepat ke jalur tebasan cakar beruang kedua yang sedang mengayun.

SREK!

Cakar beruang yang tajam bagai belati besi itu akhirnya berhasil menyayat lengan kiri Yana dengan sangat dalam.

Kain mantel serigalanya robek, dan darah segar berwarna merah pekat seketika menyemprot menutupi salju putih di bawahnya.

"Yana!" teriak Aron terperanjat dari kejauhan, matanya membelalak melihat putrinya berdarah.

Yana meringis, menahan sakit yang luar biasa.

Cengkeraman cakar itu hampir menembus daging lengannya sampai ke tulang. Namun, Yana tidak menjerit. Dengan gigi yang terkatuk rapat, ia menggulingkan tubuhnya ke samping, menghindar dari pijakan kaki beruang yang hendak menginjak dadanya.

"Jaka! Rian! Bantu aku di sini!" teriak Paman Dirga, salah satu pemburu terkuat di suku serigala, ia melompat tanpa ragu ke atas punggung beruang kedua demi mengalihkan perhatian binatang itu dari Yana yang terluka.

Paman Dirga menancapkan tombak pendeknya berkali-kali ke leher beruang itu. Beruang raksasa itu meraung kesakitan, membanting tubuhnya ke belakang dengan sangat keras hingga menghantam sebuah pohon cemara tua.

BRUK!

Suara tulang yang remuk terdengar jelas.

Paman Dirga yang berada di bawah himpitan tubuh beruang raksasa itu memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Beruang itu roboh menindih paman Dirga, ia meregang nyawa seketika, namun sayang, tubuh Paman Dirga juga ikut tidak bergerak lagi di bawah tumpukan daging tebal tersebut.

"Paman Dirga!" jerit para pemburu senior penuh duka.

Di sisi lain, beruang pertama bertarung membabi buta.

Tebasan cakarnya menghantam Rian hingga terlempar menabrak batu tebal dengan tulang rusuknya patah.

Pemuda lain yang bernama Jaka juga tersungkur dengan paha robek parah sebelum akhirnya Aron dan Paman Bimo berhasil menancapkan tiga tombak secara bersamaan tepat di jantung beruang tersebut.

Bless!

Beruang kedua akhirnya tumbang.

Keheningan mendadak menguasai Lembah Timur yang sekarang hanya diselingi suara erangan kesakitan dari para korban dan deru angin utara yang semakin menusuk.

Aron berlari, bergegas menepi ke arah Yana.

Wajah Kepala Suku itu dipenuhi amarah yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Ia melepaskan kain pengikatnya dan membalut lengan Yana yang masih mengucurkan darah segar.

"Kamu tidak apa-apa, Yana?!" tanya Aron dengan suara gemetar menahan emosi.

"Darahnya banyak, tapi tulangnya tidak patah, Ayah," jawab Yana pelan, suaranya tetap tenang meski wajahnya pucat pasi menahan perih. Matanya melirik dingin ke arah Luka yang sedang merangkul Ayla di dekat semak.

Paman Bimo berjalan mendekati tubuh Paman Dirga.

Setelah memeriksa urat nadinya, Paman Bimo mengepalkan tangan kuat-kuat dan menatap para pemuda dengan mata memerah.

"Dirga tewas..." kata Paman Bimo dengan suara tercekat. "Salah satu pemburu terkuat suku kita mati lagi... Rian dan Jaka cacat parah! Semua ini gara-gara kebodohan kalian!"

Aron berdiri diam. Tapi Aura membunuh sudah meluap dari tubuh pria tegap itu saat ia berjalan mendekati Luka dan Ayla.

Luka memucat, tetapi ia tetap merentangkan tangannya di depan Ayla. "Kepala Suku... ini musibah! Kami tidak tahu kalau ada beruang di..."

BUK!

Satu pukulan mentah dari tangan Aron menghantam rahang Luka hingga pemuda itu tersungkur menabrak tanah bersalju dengan bibir yang pecah.

"Tutup mulutmu!" bentak Aron. "Kamu mendorong putriku ke depan cakar beruang demi menyelamatkan wanita asing ini?! Kamu membiarkan pemburu terbaik suku kita mati demi mimpi konyol kalian?!"

Ayla gemetaran hebat, air matanya menetes meratapi rasa takut yang mendalam. "M-maafkan aku... aku tidak bermaksud..."

"Cukup!" pangkas Aron penuh kepastian tanpa memberi ruang untuk negosiasi lagi. "Kalian membangkang perintah suku, merusak persediaan daging, dan menyebabkan kematian warga! Aku tidak akan menunggu musim dingin berakhir!"

Aron menunjuk wajah Ayla dengan mata berapi-api.

"Mulai detik ini, Ayla diusir dari Suku Serigala! Bawa barang-barangmu dan angkat kaki dari tanah kami sebelum matahari terbenam!"

Kata-kata Aron menggema keras di seluruh celah lembah. Ayla membelalak tak percaya, sementara Luka yang tersungkur di tanah menatap Aron dengan raut wajah penuh ketidakpercayaan .

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!