Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Pulang
Mobil hitam itu masuk perlahan. Ophelia berhenti di tengah halaman, napasnya tersengal, matanya menatap tajam ke arah mobil. Ketika pintu terbuka, dan Bleiz keluar, Ophelia hampir pingsan karena lega.
Tapi lalu dia melihatnya. Bleiz berdiri di sana, tanpa jas hitam yang biasanya selalu dia pakai, dan rambutnya sedikit panjang dan tidak rapi.
Di keningnya, ada belasan jahitan yang sudah mengering, membentuk garis merah yang mencolok di kulitnya.
Dan ketika dia berjalan, Ophelia melihatnya, kaki kirinya sedikit pincang. Hampir tidak terlihat, tapi Ophelia tahu. Dia tahu karena dia selalu memperhatikan.
Dan Bleiz berjalan melewatinya tanpa berkata apa-apa. Tanpa menatapnya. Tanpa senyum. Tanpa ejekan. Dia berjalan lurus ke pintu kastil, melewati Ophelia seolah dia tidak ada di sana.
Ophelia terdiam beberapa detik, terpaku di tempatnya. Lalu kemarahan dan kekhawatiran mulai menguasainya.
"Bleiz!" teriaknya, berlari mengejar pria itu.
Bleiz tidak berhenti. Dia terus berjalan, kakinya menyeret sedikit, dan Ophelia melihat dia menahan rasa sakit di setiap langkahnya.
"Bleiz, berhenti! Aku bicara padamu!" Ophelia mengejarnya masuk ke dalam kastil.
Tapi Bleiz tidak menoleh. Dia berbelok ke lorong yang jarang dilalui, menuju tangga yang turun ke lantai bawah, bukan ke lantai dua tempat kamarnya berada. Ophelia tahu ada ruangan di sana, ruang kerja pribadi Bleiz yang tidak pernah dia masuki.
"Bleiz!" Ophelia mengejarnya menuruni tangga batu yang gelap. "Berhenti, kau dengar? Aku tidak suka diabaikan!"
Di ruang kerja bawah tanah yang redup, Bleiz akhirnya berhenti. Dia berbalik, dan Ophelia hampir mundur melihat tatapannya.
Matanya gelap, lelah, dan lebih dingin dari biasanya.
"Pergi, Ophelia," katanya, suaranya dalam dan serak. "Ini bukan tempatmu."
"Apa yang terjadi padamu?" Ophelia mendekat, tidak peduli dengan peringatan di matanya. "Keningmu ... kakimu ... kau terluka. Sudah setengah bulan, Bleiz! Kau bilang tiga hari, tapi kau pergi selama setengah bulan! Aku ..." Dia berhenti, menyadari dia hampir mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya.
Bleiz menatapnya lama, lalu tersenyum miring. Senyum yang sama yang biasa dia berikan.
"Kau khawatir?" tanyanya, nadanya setengah mengejek. "Bukankah kau bilang kau suka aku pergi? Bukankah kau berharap aku pergi cukup lama?"
Ophelia terpaku. Kata-katanya sendiri kembali padanya. ‘Ya, pergilah. Aku suka kau pergi karena merasa bebas di sini tanpa pengawasanmu. Kuharap cukup lama.’ Itulah yang dia katakan dulu.
Dia menunduk, rasa bersalah menggerogoti perasaannya. "Aku ... aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ..."
"Kau hanya membenciku," potong Bleiz, berbalik dan berjalan ke meja kerjanya. Dia mengambil sebotol wiski dan menuangkannya ke gelas, lalu meneguknya dalam satu tegukan. "Aku tahu, Ophelia. Kau tidak perlu mengingatkanku."
Ophelia menatap pria itu. Bleiz duduk di kursinya, bersandar dengan mata terpejam, gelas wiski di tangannya.
Luka di keningnya terlihat lebih mengerikan di bawah lampu ruangan itu. Dan Ophelia melihat kelemahan di wajah Bleiz. Pria yang selalu tampak kuat, tak terkalahkan, sekarang terlihat seperti manusia normal pada umumnya.
"Apa yang terjadi?" Ophelia mendekat, suaranya lebih lembut sekarang. Dia berdiri di samping meja, menatap Bleiz dengan tatapan khawatir yang tidak bisa dia sembunyikan. "Setengah bulan, Bleiz. Kau tidak memberi kabar. Aku ..."
Dia berhenti.
Bleiz membuka matanya. "Kau apa?" tanyanya, suaranya masih serak.
"Aku khawatir," bisik Ophelia, akhirnya mengaku. "Aku tahu seharusnya aku tidak peduli. Aku tahu aku membencimu karena kau selalu memaksaku. Tapi setiap malam, aku tidak bisa tidur memikirkan kau di suatu tempat, mungkin terluka, mungkin ..." Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
JANGAN LUPA KOMEN N LIKE KALO MAU CRAZY UP HARI INI…