NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:242.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Tempat yang Dulu Kupilih

Lalu kedua tangannya mendorong dada Alden kuat.

“Alden!”

Ia mundur satu langkah, napas kacau. Punggung tangannya terangkat refleks, mengusap bibir sendiri.

Mata Alden mengikuti gerakan tangannya. Entah kenapa, ia tidak menyukainya. Ia kembali maju.

Namun kali ini Belvina sudah siap.

Saat Alden hendak menciumnya lagi, tumit sepatu Belvina menghantam punggung kaki pria itu keras.

“Belvina—” geram Alden.

Belvina merapikan rambutnya, masih bernapas cepat.

“Jangan sembarangan menyentuhku.”

Alden menahan sakit, lalu sudut bibirnya malah terangkat.

“Kenapa?” tanyanya rendah. “Takut jatuh cinta lebih dalam?”

Belvina menatap datar.

“Narsis.”

Ia berjalan melewatinya.

“Dan lain kali, aku incar tulang keringmu.”

Alden tidak tahu apakah ia ingin menaklukkan wanita itu… atau benar-benar memilikinya.

Belvina berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi.

Tangannya baru menyentuh gagang saat suara Alden terdengar dari belakang.

“Berhenti.”

Belvina membuka pintu.

“Kau bukan orang yang bisa memberi perintah setelah mencium orang lalu mengeluh karena diinjak.”

Pintu tertutup.

Alden berdiri sendiri di kamar.

Ditinggalkan tepat setelah mencoba mengambil kendali, adalah hal yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.

 

Belvina turun dengan wajah tenang, meski dalam hati masih menggerutu.

"Brengsek. Dia mengambil ciuman pertamaku."

Fransisca langsung bangkit.

“Sudah selesai?”

Belvina mengambil cangkir teh.

“Belum. Putra Bunda sedang belajar ditolak.”

Alena tersedak.

Arsen melirik ke arah tangga, kini benar-benar tertarik.

“Kakak yakin mau cerai sama Kak Alden? Bukannya dulu sampai nekat bunuh diri karena ditolak?”

Belvina menyesap teh tanpa tergesa.

“Itu dulu.” Ia menatap Arsen datar. “Bukan sekarang.”

Fransisca ikut bicara, lebih pelan.

“Alden… menyakitimu?”

“Nggak, Bun.” Belvina menggeleng ringan. “Hanya saja, mungkin kami perlu waktu berdua sebelum memutuskan apa pun.”

Andreas akhirnya angkat suara.

“Jangan mengambil keputusan saat emosi.”

Andreas memutar bibir cangkir dengan ibu jarinya.

“Pernikahan bukan permainan. Ayah berharap kalian bisa menjaganya sampai akhir.”

Fransisca menimpali dengan mata sendu.

“Kami juga sudah berjanji pada orang tuamu sebelum mereka pergi… akan menjagamu seumur hidup kami.”

Tangannya menyentuh punggung tangan Belvina.

“Dan Bunda masih percaya… tidak ada wanita yang lebih cocok mendampingi Alden selain kamu.”

Suara langkah kaki terdengar dari tangga.

Alden turun dengan wajah datar.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari cangkir tehnya, Andreas berkata,

“Sudah selesai jadi anak kecil?”

Alden berhenti.

“Dia istriku.”

Andreas mengangkat wajahnya.

“Kalau harus kau paksa, berarti belum tentu.”

Mata Alden sempat beralih ke Belvina sesaat.

“Ini hanya salah paham, Yah.”

Arsen menyandarkan tubuh ke sofa.

“Atau jangan-jangan Kakak bikin masalah sama Kak Seraphina sampai Kak Belvina muak?”

Sorot Alden langsung tajam.

“Aku tahu batasku.”

***

Malam datang lebih cepat dari biasanya.

Di kamar mandi, Belvina menatap pantulan dirinya di cermin.

Jarinya menyentuh bibirnya sendiri sebentar.

“Menyebalkan.”

Dari sekian hal yang ia bayangkan setelah bereinkarnasi… dicium Alden bukan salah satunya.

Dan yang paling menyebalkan, ia masih bisa mengingat rasanya.

Belvina keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut.

Kamar itu kosong. Alden belum kembali.

Ia berdiri beberapa detik, memandangi ranjang besar di tengah ruangan. Ingatan asing bergerak pelan di kepalanya.

Setiap kali mereka terpaksa menginap di rumah ini, mereka tidur satu kamar. Namun tidak pernah benar-benar bersama.

Alden selalu mengambil selimut sendiri. Bantal sendiri. Lalu tidur di sofa sudut ruangan tanpa banyak bicara.

Sedangkan Belvina lama… selalu pura-pura belum tidur. Menunggu. Berharap pria itu berubah pikiran dan naik ke ranjang.

Kadang memakai piyama yang lebih tipis. Kadang sengaja membuka percakapan. Kadang mencari alasan mendekat.

Tidak pernah berhasil.

Belvina mengembuskan napas pendek.

“Bodoh sekali.”

Entah pada dirinya sekarang yang mewarisi semua ingatan itu… atau pada wanita sebelumnya yang rela menghabiskan harga diri demi sedikit perhatian.

Ia berjalan ke lemari.

Mengambil satu selimut tipis, lalu bantal dari ranjang utama. Semuanya dibawanya ke sofa. Dirapikan tenang. Tanpa ragu. Tanpa emosi.

Malam ini, ia bahkan tak perlu menunggu Alden menjauh. Ia yang menyiapkan jaraknya.

Setelah itu Belvina naik ke ranjang, menarik selimut hingga dada, lalu memejamkan mata.

Di kamar ini… ia tidak berharap apa pun.

 

Di ruang kerja, Andreas duduk di balik meja besar.

Alden berdiri dekat jendela, tangan di saku celana.

“Belvina sampai nekat bunuh diri agar bisa menikah denganmu.”

Suara Andreas tenang. Justru itu yang membuatnya berat.

“Dia menempel padamu seperti bayangan.”

Ia memutar kepala kee arah Alden.

“Apa yang kau lakukan… sampai wanita seperti itu memilih pergi?”

Jawabannya tak langsung ia dapatkan.

Karena Alden sendiri tidak punya jawaban pasti. Ia mengingat beberapa minggu terakhir. Tatapan Belvina. Nada bicaranya. Cara ia menjauh.

Lalu satu malam muncul di kepalanya.

Ballroom.

Belvina berdebat dengan Seraphina karena cemburu. Ia meninggalkannya. Belvina mengejarnya.

Terjatuh.

Dan setelah itu, semuanya berubah.

Alden mengerutkan dahi tipis. Seolah wanita yang bangun setelah kejadian itu… bukan orang yang sama.

Andreas membaca wajah putranya.

“Kau bahkan tidak tahu kesalahanmu sendiri.”

Alden menatap ayahnya.

“Aku tidak melakukan apa pun.”

Andreas mendecak tipis.

“Itulah masalahmu.”

Andreas menatap putranya cukup lama sebelum bicara lagi.

“Kadang seseorang pergi bukan karena apa yang kita lakukan.”

Ia memberi jeda.

“Tapi karena apa yang terus-menerus tidak kita lakukan.”

Alden tak segera merespons.

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan.

Andreas menyandarkan tubuh.

“Perlakukan Belvina lebih baik.”

Nada suaranya datar, namun justru karena itu terasa berat.

“Buat dia merasa dicintai.”

Sorot matanya turun sebentar ke meja.

“Anak itu sudah tidak punya siapa-siapa selain keluarga ini.”

Garis rahang Alden mengunci. Ia tak suka mendengar fakta itu. Karena berarti selama ini Belvina bertahan dalam kesepian yang ia biarkan.

Andreas melanjutkan.

“Dan satu hal lagi.”

Alden mengangkat pandangan.

“Soal Seraphina.”

Ekspresi Alden nyaris tak bergerak.

“Dia teman. Rekan bisnis.” Ia berhenti sejenak. “Dan saat semua orang menjauh ketika perusahaan hampir jatuh… dia yang datang membantu.”

Ingatan itu jelas. Investor mundur. Rumor beredar. Andreas di rumah sakit.

Lalu Seraphina datang, menenangkan pasar, meyakinkan investor kembali, dan berdiri di sisi mereka ketika banyak orang menghilang.

Karena itu Alden menghormatinya.

Andreas mengarahkan pandangan penuh ke putranya.

“Kita memang tak melupakan orang yang tidak meninggalkan kita saat krisis.”

Ia mengangguk kecil.

“Tapi entah kenapa… Ayah tak pernah merasa wanita itu baik.”

Kali ini, Alden tidak langsung membela. Karena di sudut pikirannya paling dalam… ia pernah merasakan hal yang sama.

Dan itu justru yang paling mengganggunya.

Alden hanya berdiri. Tidak menjawab. Ia keluar dari ruang kerja dengan langkah tenang.

Namun isi kepalanya tidak.

Saat membuka pintu kamar, langkahnya berhenti.

Di sofa sudah ada selimut dan bantal tersusun rapi, tanpa kehangatan. Seperti batas yang sudah diputuskan tanpa perlu dibicarakan.

Dulu ia sendiri yang memilih tidur di sana. Malam ini, tempat itu terasa seperti hukuman.

Belvina berbaring di ranjang membelakanginya. Seolah kedatangannya sudah dihitung sejak awal.

Dan tidak penting.

Untuk alasan yang tak ia sukai... pemandangan itu menimbulkan tekanan aneh di dadanya.

Alden melangkah mendekati ranjang.

Belvina baru saja hampir terlelap ketika kasur di sisi sebelahnya turun perlahan.

Matanya langsung terbuka.

 

...✨“Kadang seseorang pergi bukan karena disakiti, tapi karena terlalu lama tidak dipedulikan.”...

...“Dulu ia sendiri yang memilih sofa itu. Malam ini, tempat yang sama terasa seperti hukuman.”...

...“Ia baru sadar nilai seseorang… saat orang itu berhenti menunggu.”✨...

.

To be continued

1
Kyky ANi
bahaya nih,,Serap,, udah mulai rencana jahat,,
Kyky ANi
Alden sudah tidak percaya lagi sama kamu Seraphina,,
Kyky ANi
Alden menganggu aza sih kamu,
Kyky ANi
Seraphina punya rencana jahat nih ke Belvina,, semoga Belvina selamat dari rencana jahat siSerap,,,
Liana Simon
Ceritanya menarik Thor
Bela Viona
ada beberapa kisah hidup yg tidak pantas mendapatkan kesempatan ke2.dan ada juga yg pantas di berikan kesempatan ke 2. itu semua tergantung dgn usaha dan pembuktian. tidak mudah mendapat kn maaf dan pengampunan, selama org itu tetap sabar dan berusaha keras serta berusaha memperbaiki serta tdk mengulangi hal yg sama. maka kesempatan itu pasti ada.
Bela Viona
posisi HB yg baik untuk ibu hamil itu miring & wanita di atas 😁.
klo perempuan di bawah yg ad sesak, dan terlalu terguncang buat kandungan 😁
Bela Viona
jgn salah kn hormon ibu hamil 😁, aku hamil anak ke 2 juga gtu, asli kandungan ku usia 1-4 bln. aku benci bgt lht suami.
di sentuh tangan aj gak suka. smpe suami frustasi di kira udh gak cinta.
usia kehamilan 5 bln malah aku nempel trs sama suami. tiap mlm mau ny HB trs. smpe suami kewalahan 🤣. horman ibu hamil itu unik² dan bukan di sengaja ya.
Kadek Sri
akhirnya tamat juga
Bela Viona
makan tuh 🤣
Anitha
Akhirnya kisah Belvina dan Alden happy ending...

terimakasih juga kak Nana....
Anitha
selama nikah bertahun² Alden hanya dua kali merasakan surga dunia bersama Belvina🤣
Yunita Sophi
bintang lima untuk penyemangat mu thor..
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Yunita Sophi
makasih jg thor... salam sehat penuh semangat dan sukses slalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama, Kak.🤗🙏🙏
total 1 replies
Oma Gavin
akhirnya happy ending untuk belvina dan alden
Uthie
Terimakasih juga sudah membuat cerita yg bagus, sehingga sy cukup bertahan mengikuti sampai Ending nya 👍👍👍
sukses selalu disetiap karya-karya nya ❤️❤️❤️❤️
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
Atmita Gajiwi
/Rose//Rose//Determined//Determined//Determined/
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ari Peny
mkch ceritanya👍👍👍semangat berkarya
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama, Kak🤗🙏🙏
total 1 replies
Kyky ANi
bagus Alden,, kamu harus tegas dengan Seraphina ini
Kyky ANi
ya ampun,, semua ikut saat Belvina USG,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!