NovelToon NovelToon
PENDEKAR NAGA SAKTI

PENDEKAR NAGA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:762
Nilai: 5
Nama Author: Adih Supriadi

Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 35

PENDEKAR TAPAK MAUT

Langit siang mendung. Angin berhembus kencang.

_DUAK!_

Pintu balai desa ditendang hingga copot. Debu berterbangan.

Masuklah seorang lelaki tinggi besar. Jubah hitam, wajah penuh bekas luka. Di kakinya ada tapak berwarna merah darah.

Itulah *Pendekar Tapak Maut*.

Di belakangnya, 3 mayat anak buahnya tergeletak. Baru saja dia robohkan dengan satu jurus. Mudah. Terlalu mudah.

Pak Kisno, kepala Desa, gemetar. Keringat dingin membasahi bajunya.

"K-Kau... kau siapa?!" suaranya bergetar.

Pendekar Tapak Maut tertawa. Suaranya berat, menggema.

"Aku datang mencari anjing yang berani menggagalkan rampokanku 3 hari lalu. Aku mencari Pendekar Johan!! "

Pak Kisno menunduk. "Saya... saya tidak tahu..."

"Hah!" Tapak Maut melangkah maju. "Jangan bohong! Dia pasti suruhanmu!"

"Saya adalah PENDEKAR TAPAK MAUT penguasa Desa ini."

Tiba-tiba _sret!_

2 orang pendekar desa langsung menyerang dari samping. Pedang mengarah ke leher Tapak Maut.

Tapak Maut hanya menggeser badan. _Wus!_

Serangan lewat. Dia menghindar santai, lalu tertawa keras.

"Ha ha ha! Begitu saja? Kesaktian kalian masih jauh dibawahku!"

Dengan satu tendangan, kedua pendekar itu terpental. Tulang rusuk patah. Mereka mengerang di tanah.

Pak Kisno semakin pucat. Seluruh warga yang mengintip dari jauh langsung lari tunggang langgang.

Tapak Maut menatap Pak Kisno. Matanya dingin.

"Di mana Pendekar Johan? Kalau tidak bicara... desa ini akan jadi lautan darah. Sama seperti yang kulakukan dengan murid-muridku terhadap Desa sebelah minggu lalu yaitu Merampok dan Menculik wanita. Tidak ada yang bisa menghentikanku."

Keheningan. Yang terdengar cuma suara napas Pak Kisno yang ketakutan.

Semua mata tertuju ke ujung jalan.

Debu mengepul.

Muncul sesosok lelaki bertubuh sedang. Baju coklat lusuh, ikat kepala hitam, dan di pinggangnya terselip sebilah golok tua.

Wajahnya tenang. Matanya tajam.

Itu Pendekar Johan.

"Akhirnya kau datang juga," geram Tapak Maut. Tapak kakinya menghentak tanah. _Duk!_

Tanah retak.

Warga yang tadinya bersembunyi, kini mengintip dari balik jendela dan pagar. Bisik-bisik terdengar.

"Itu Pendekar Johan..."

"Bisakah dia menang?"

Pak Kisno berbisik gemetar: "Hati-hati Johan... dia... dia membunuh 3 orang tadi dengan sekali serang..."

Johan tidak menjawab. Dia hanya mencabut goloknya perlahan. _Sring!_

*PERTARUNGAN DIMULAI*

Tapak Maut melesat duluan. _Buk!_

Tendangan mautnya menghantam udara, meninggalkan jejak merah.

Johan menangkis dengan gagang golok. _Trang!_

Getarannya membuat genteng rumah di dekatnya rontok.

"Kecepatanmu lumayan," kata Johan datar.

Tapak Maut menyeringai. "Tapi tenagaku 10 kali lipat!"

_Wusss!_ Tapak Maut berputar. Tendangan berantai menghantam.

Johan menghindar sambil melompat ke atap balai desa. Atap jebol karena tendangan Tapak Maut yang meleset.

Warga menjerit kaget.

Johan turun lagi. Kali ini dia yang menyerang.

Goloknya berkelebat. _Sret sret sret!_

Tiga tebasan cepat. Tapak Maut menangkis dengan lengan yang sudah dilatih jadi sekeras baja. _Duk duk duk!_

"Kau bukan lawan biasa," Tapak Maut mendesis. "Pantas berani ganggu anak buahku."

"Aku cuma tidak suka orang menculik wanita dan merampok," jawab Johan. "Kembalikan mereka. Atau kau akan mati di sini."

Tapak Maut tertawa marah. Dia menghentakkan kedua kaki. _BUAR!_

Gelombang tenaga memancar. Debu dan genting beterbangan.

Johan terpental mundur 3 langkah, tapi tetap berdiri tegak.

Warga menahan napas.

"Tapak Maut itu iblis..."

"Tapi Johan... dia tidak gentar sama sekali..."

Tapak Maut maju lagi. Kali ini jurus pamungkasnya: "Tapak Neraka"

Tapaknya menyala merah. Hentakan ke tanah membuat tanah terbelah.

Johan menatapnya. Lalu merendahkan badan.

"Kalau begitu... ini juga jurus pamungkas ku."

Golok diangkat tinggi. Aura biru tipis menyelimuti bilahnya.

Keduanya loncat bersamaan dan mengadu pukulan sakti.

WUUSSS.... DHUUUAARRRRR!!!!

Debu masih beterbangan.

_Hening._

Lalu perlahan... sesosok tubuh terhempas ke tanah. _Buk!_

Itu Pendekar Johan.

Bajunya robek, tubuhnya menghitam. Ujung bibirnya mengeluarkan darah hitam.

Tapak Tapak MAUT tepat menghantam dadanya dengan jurus "Tapak Neraka".

Warga langsung menutup mulut. Ada yang menangis pelan.

"Tidak... Pendekar Johan..."

Johan mencoba membuka mata. Bibirnya bergerak. "Lari... selamatkan... desa..."

Lalu kepalanya terkulai. Gugur.

Pak Kisno jatuh terduduk. "Johan... maafkan aku..."

Tapak Maut berdiri di atas mayat Johan. Dia mengibaskan jubahnya, lalu tertawa puas.

"Ha ha ha! Katanya pendekar hebat! Ternyata lemah!"

Dia menoleh ke para anak buahnya yang masih hidup.

"Tangkap istri kepala desa itu!"

2 orang anak buah langsung berlari dan menyeret Bu Lastri, istri Pak Kisno yang sedang bersembunyi di dapur. Pak Kisno meronta tapi ditahan 3 tombak di lehernya.

"LEPAS!" teriak Pak Kisno.

Tapak Maut mendekat. Bu Lastri yang ketakutan.

"Tenang Bu. Kau akan jadi jaminanku."

Lalu dia berdiri di tengah alun-alun. Suaranya menggelegar ke seluruh desa.

"DENGARKAN! Mulai hari ini!"

"Semua pajak! Padi, uang, emas, apapun yang kalian punya... serahkan padaku!"

"Hewan ternak, ayam, kambing, sapi... semuanya untukku!"

"Kalian punya waktu *3 HARI*!"

Dia menunjuk Bu Lastri.

"Kalau lewat 3 hari dan aku belum dapat semuanya... perempuan ini akan GUGUR seperti Johan tadi!"

_Hening._

Anak-anak menangis. Para bapak menunduk putus asa.

Tapak Maut lalu menendang mayat Johan ke pinggir.

"Buang bangkai itu. Dan ingat... jangan main-main denganku."

Dia pergi meninggalkan desa dengan tawa, menyeret 2 karung hasil rampokan dan membawa Bu Lastri sebagai sandera.

***

Sore itu angin bertiup pelan. Terlalu pelan untuk desa yang baru saja berduka.

Satu per satu liang kubur telah selesai.

Pendekar Johan dikubur di bawah pohon beringin.

Di sebelahnya 3 korban lain yang tewas karena keganasan Tapak Maut.

Tidak ada tangis keras. Hanya isak tertahan dan doa lirih.

Setelah pemakaman, warga berbondong-bondong ke rumah Pak Kisno.

Balai desa terlalu kecil. Terlalu banyak wajah ketakutan yang berkumpul malam ini.

Lampu teplok redup. Suasana berat.

"Kita mau bagaimana Pak?" tanya seorang bapak, suaranya bergetar.

"3 hari... 3 hari lagi Bu Lastri akan dibunuh... dan semua ternak kita akan habis..."

Pak Kisno duduk di tengah. Wajahnya tua 10 tahun dalam sehari. Matanya merah.

"Pasrah... aku pasrah," katanya pelan. "Tapi aku tidak menyerah."

Warga saling pandang.

Pak Kisno menarik napas. "Beberapa hari lalu... aku dengar kabar dari pedagang yang lewat."

"Pasukan Kencana dan Pasukan Rinjani baru saja menang besar melawan Pasukan Khan."ucap Pak Kisno.

"Berkah dari langit," gumam Bu Yati.

"Mereka sekarang dalam perjalanan pulang. Lewat jalur selatan. Lewat hutan jati dekat sungai kita."ucap Pak Kisno.

Pak Wawan, sesepuh desa, langsung berdiri. "Maksud Bapak?"

"Kita cegat mereka," kata Pak Kisno tegas. "Kita minta pertolongan. Kalau prajurit Kencana yang turun... Tapak Maut itu bukan apa-apa."

Ada hening sejenak. Lalu satu demi satu warga mengangguk.

"Setuju, Pak."

"Bawa kami juga."

"Tidak! Terlalu berbahaya," Pak Kisno menggeleng. "Cukup aku dan Pak Wawan. Kalau kami tidak kembali dalam 3 hari... kalian selamatkan diri masing-masing."

Malam itu juga, setelah sholat Magrib.

Pak Kisno dan Pak Wawan berpamitan. Membawa bekal seadanya, obor, dan surat dari warga yang bertanda tangan darah.

"Jaga desa," pesan Pak Kisno sebelum melangkah keluar.

"Semoga kita bertemu lagi... dengan membawa harapan."

Pintu tertutup.

Dua bayangan berjalan meninggalkan desa di bawah langit sore yang mulai gelap. Tujuan mereka: mencegat rombongan Pasukan Kencana.

Di kejauhan, suara burung hantu terdengar.

Waktu terus berjalan. Sisa 2 hari 18 jam sebelum ancaman Tapak Maut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!