SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 – Kesaksian Sofia
Dr. Sofia masih duduk di tepi kapsul.
Napasnya mulai teratur.
Lyra memeriksa kondisi matanya dengan alat pemindai.
"Tekanan darah normal."
"Kesadaran juga baik."
Mira mengamati hasil pemeriksaan dari ESS Horizon.
"Secara medis, dia stabil."
Sofia memandang Lyra.
"Kau seorang dokter?"
Lyra tersenyum kecil.
"Ahli biologi."
"Dokter kami ada di kapal."
Sofia mengangguk pelan.
"Senang mengetahui ilmu pengetahuan masih berkembang."
Kapten Idris melangkah mendekat.
"Kami punya banyak pertanyaan."
Sofia menatapnya.
"Aku juga."
"Mulailah."
"Kenapa Pos Observasi Tujuh ditinggalkan?"
Sofia menggeleng.
"Kami tidak pernah meninggalkannya."
"Kami memilih tidur."
Kael mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena kami tidak punya pilihan lain."
Di ESS Horizon, Leo mulai merekam seluruh percakapan.
"Setiap kata jangan sampai hilang," katanya kepada Rina.
Rina mengangguk.
"Sudah direkam."
Sofia berdiri perlahan.
Kakinya sedikit gemetar.
Reza bersiap menopang jika diperlukan.
"Aku baik-baik saja."
Ia memandang deretan kapsul.
"Mereka adalah teman-temanku."
"Kami semua sepakat memasuki hibernasi."
Lyra bertanya,
"Apa yang memaksa kalian melakukan itu?"
Sofia terdiam beberapa saat.
"Sinyal."
Ruangan kembali sunyi.
"Sinyal itu terus berubah."
"Awalnya hanya berupa pola radio."
"Kemudian mulai memengaruhi pikiran manusia."
Kael teringat laporan yang mereka temukan di ruang arsip.
"Apakah kalian mendengar suara?"
Sofia mengangguk.
"Ya."
"Setiap hari."
"Suara seperti apa?" tanya Lyra.
"Bukan kata-kata."
"Bukan bahasa."
"Hanya..."
Sofia tampak kesulitan menjelaskan.
"...keinginan."
"Keinginan?"
"Semakin lama kami mendengarnya..."
"...semakin kuat dorongan untuk mencari sumbernya."
Leo yang mendengarkan dari kapal langsung menoleh kepada Rina.
"Itu menjelaskan kenapa semua ekspedisi terus menuju Asterion."
Kapten Idris menyilangkan tangan.
"Lalu kenapa kalian tidak menghancurkan Pos Observasi?"
Sofia tersenyum pahit.
"Kami mencoba."
Semua terdiam.
"Kami mematikan antena."
"Gagal."
"Kami menghancurkan pusat komunikasi."
"Gagal."
"Kami bahkan memutus seluruh sumber energi."
"Gagal."
Kael mengerutkan dahi.
"Bagaimana bisa?"
"Sinyal itu tidak membutuhkan alat komunikasi."
Kalimat itu membuat Lyra membeku.
"Apakah sinyal itu berasal dari makhluk hidup?" tanya Lyra.
Sofia menggeleng.
"Aku tidak tahu."
"Kami tidak pernah berhasil menemukan sumbernya."
"Kami hanya berhasil mengetahui arahnya."
"Galaksi Asterion."
Tiba-tiba Owen menghubungi Kapten Idris.
"Kapten."
"Ada apa?"
"Aku baru saja menemukan log akses sistem."
"Isinya?"
"Sejak kita tiba..."
"...ada seseorang yang mengakses sistem ESS Horizon."
Semua langsung menoleh.
"Dari mana?"
"Dari Pos Observasi Tujuh."
Reza langsung memegang senjatanya.
"Sistem apa yang diakses?"
"Hanya arsip personel."
"Dan..."
Owen berhenti sejenak.
"Data identitas seluruh kru."
Kael menatap Sofia.
"Kalian?"
Sofia tampak bingung.
"Bukan."
"Kami bahkan tidak punya akses ke sistem seperti itu."
Robot kecil yang sejak tadi diam tiba-tiba bergerak lagi.
Ia berjalan menuju ujung ruangan.
Di sana terdapat sebuah pintu lain.
Namun kali ini pintu itu sudah terbuka.
Seolah-olah...
ada seseorang yang membukanya dari dalam.
Reza mengangkat tangannya memberi isyarat agar semua berhenti.
"Ada gerakan."
Kael memperhatikan lorong gelap di balik pintu.
"AURA."
"Apakah ada tanda kehidupan?"
"Hasil pemindaian..."
AI berhenti beberapa detik.
"...menemukan satu objek biologis."
Semua menahan napas.
"Jarak tiga puluh meter."
"Bergerak perlahan menuju posisi kalian."
Reza mengarahkan senjata ke lorong.
Sofia justru tampak terkejut.
"Itu tidak mungkin..."
"Apa maksudmu?" tanya Kael.
Sofia menatap lorong itu tanpa berkedip.
"Seluruh penghuni Pos Observasi ada di ruangan ini."
"Kalau begitu..."
"...siapa yang sedang berjalan ke arah kita?"
Langkah kaki pelan mulai terdengar dari balik lorong.
Tok...
Tok...
Tok...
Suaranya semakin dekat.
Namun belum ada siapa pun yang terlihat.