"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Disana, angin bertiup lumayan kencang, daun-daun gugur. Muncul riak kecil di permukaan air danau yang berwarna biru. Semua orang menikmati, termasuk Ilona dan Elang.
"Kenapa putus, bukannya baru tunangan?" Kabar putusnya Elang, membuat Ilona terkejut. "Maaf, aku gak bermaksud ikut campur." Ia buru-buru meralat kalimatnya, takut Elang tak nyaman.
Elang menunduk, kakinya memainkan kerikil di tanah. "Mungkin gak jodoh."
Ilona tersenyum simpul. Ia fikir hanya kisah cinta seorang disabilitas sepertinya saja yang tidak berjalan lancar, ternyata seseorang yang tampak sempurna dalam segala hal, juga mendapatkan masalah dalam percintaan.
"Nyari minum yuk, haus," ajak Elang.
Keduanya lalu berkeliling mencari jajanan di sekitar sana. Ada banyak pilihan, membuat bingung.
"Aw!" Ilona kaget saat seorang anak kecil laki-laki yang sedang berlarian menabraknya. Tubuhnya oleng ke belakang, hampir terjatuh, namun untungnya ada lengan Elang sigap menahan pinggangnya.
Satu kaki Ilona sudah terangkat ke atas, jantungnya terasa merosot ke perut. Untuk beberapa detik, ia dan Elang sama-sama diam, saling tatap.
"Kamu gak papa?" Elang membantu Ilona kembali berdiri.
Ilona menggeleng, ia cuma kaget saja. "Ma, makasih." Ia merapikan rok agar menutupi kakinya.
Elang menatap anak kecil yang hampir membuat Ilona jatuh, geleng-geleng karena anak itu pergi begitu saja. "Apa Ibunya gak pernah ngajarin buat minta maaf?" gerutunya.
"Sudahlah, dia masih anak-anak."
"Tapi dia sudah membuat orang hampir celaka."
"Baru hampir, belum celaka. Orang yang bikin aku celaka sampai kehilangan kaki saja, tidak pernah minta maaf."
Deg
Dada Elang seperti dihantam palu gada, wajahnya pias. "Ma, maaf." Suaranya lirih dan bergetar.
Ilona terkekeh. "Kenapa kamu yang minta maaf?"
"Hah!" Elang panik, sadar telah keceplosan. Semoga saja Ilona tidak curiga.
"Terima kasih ya, udah nolongin aku. Kalau gak kamu tolong, udah pasti aku terjerembab ke tanah. " Ilona membuang nafas berat. Matanya tiba-tiba menangkap sesuatu yang membuatnya menelan ludah. "Mau es cendol gak?"
Elang mengedarkan pandangan mencari es yang dimaksud Ilona.
"Aku traktir," ujar Ilona.
Dua cup es cendol, dan 2 bungkus siomay. Mereka menikmati makanan tersebut di dalam mobil.
"Terlalu manis gak sih?" Elang membuka tutup cup es cendol, menambahkan sedikit air mineral ke dalam sana. Ia memang termasuk orang yang tidak suka manis.
"Masa sih? Menurutku pas." Ilona menyedot es cendolnya.
"Apa mungkin karena aku minumnya sambil ngeliatin kamu ya."
"Maksudnya?" Ilona menoleh.
"Jadi kemanisan." Elang terkekeh pelan.
"Mentang-mentang sekarang jomblo," cibir Ilona. "Eh, jomblo gak sih? Jangan-jangan, udah punya yang baru, makanya sama yang kemarin putus."
Elang hanya tersenyum menanggapi itu. Ia membuka foam siomaynya, mulai mencicipi.
"Lon," panggilnya ragu-ragu, suaranya sedikit tercekat.
"Iya," Ilona menoleh.
"E...kalau...orang yang menabrak kamu minta maaf, apa kamu akan memaafkan?"
Ilona terdiam beberapa detik, ekspresi wajahnya berubah sendu. Meski kejadian itu sudah sangat lama, ia selalu sedih saat membahasnya. "Menurut kamu?"
"Hah!" Elang gelagapan.
"Menurut kamu, apa dia pantas dimaafkan?"
Elang membeku, wajahnya pias.
"Sudah 8 tahun lebih. Rasanya mustahil ia akan datang untuk meminta maaf. Tapi...kalau di memang datang.."
Elang menelan ludah susah payah, tangannya memegang kuat garpu plastik, menunggu kelanjutan ucapan Ilona.
Ilona menggeleng. "Aku gak bisa maafin dia." Ia tertunduk dalam. "Yang ia lakukan padaku, terlalu jahat. Aku bisa saja meninggal di tempat waktu itu jika saja tak datang orang-orang yang lalu membawaku ke rumah sakit. Dia...terlalu jahat. Aku gak bisa jadi ibu peri untuk orang yang tak punya hati nurani."
Clek
Elang terkesiap saat garpu yang terus ia tekan, patah.
"Astaga, bocor gak?" Ilona panik, pasalnya foam makanan tersebut gampang sekali pecah jika kena tekanan.
Elang mengangkat siomaynya, memeriksa celana. Untung dilapisin keresek, jadi rembesan bumbu siomay jatuh ke keresek plastik.
Ilona tertawa cekikikan. "Terlalu kuat tenaganya, Pak."
Elang terseyum kecut.
"Kamu...tahu gak, ciri-ciri orang yang menabrak kamu?"
Ilona membuang nafas berat, menyandarkan punggung ke kursi. "Aku tidak tahu, tapi... aku percaya pada kesaksian saksi di awal. Dia bilang yang menabrak mobil sport warna merah. Meski selanjutnya kesaksiannya berubah, aku tetap percaya yang diawal. Aku juga sempat melihat sebelum akhirnya hilang kesadaran. Mobil itu berwarna merah. Yang menabrakku orang kaya, tapi sayangnya, ia miskin hati nurani."
Sekali lagi, Elang tertampar oleh perkataan Ilona.
...----------------...
Kerjasama bisnis, membuat hubungan Ilona dan Elang semakin dekat. Banyak hal harus mereka bahas, salah satunya barang-barang apa saja yang harus dibeli untuk kebutuhan toko nantinya. Mereka semakin intens berkirim pesan di WA ataupun telepon.
Hampir setiap hari, Ilona berada di ruko. Barang-barang yang ia beli secara online maupun offline, mulai berdatangan. Siang ini, rak untuk menyimpan bunga, serta etalase dan meja kasir datang. Ia mengambil gambar barang-barang itu, mengirimkan pada Elang. Kesibukannya saat ini, membuat ia lelah, tapi juga bahagia dan bersemangat.
Minggu pagi, Ilona dan Elang berjualan buket di taman sekaligus membagikan brosur. Minggu depan, grand opening toko bunga mereka, ada diskon 30 persen selama 3 hari.
"Ada diskon loh, kapan lagi waktu yang tepat buat beliin pacar bunga." Elang membagikan brosur pada beberapa pemuda yang sedang berolahraga raga.
"Silakan Kakak." Ilona membagikan brosur pada sepasang muda. "Gak hanya sedia bunga segar, bisa juga menerima pesanan buket bunga artifisial, buket snack, uang, dan apapun requestannya."
"Buket rokok bisa gak, Mbak?" Si cewek tersenyum kecut, melirik pacar di sampingnya yang merupakan pecandu berat nikotin.
"Apa sih, Yank." Cowok yang merasa tersindir itu mengusap tengkuk.
"Nantilah Mbak, kalau pacar saya ini ulang tahun, saya pesen buket rokok. Otaknya kan isinya cuma rokok." Ia lanjut lari, disusul pacarnya.
Ilona menunduk, diam-diam menahan tawa. Ada aja seninya orang pacaran. Tapi pertengkaran-pertengkaran kecil, kadang malah membuat kisah percintaan terasa makin berwarna, karena biasanya kalau habis bertengkar, akan makin romantis.
"Kalau kamu sukanya apa?"
Ilona menoleh mendengar suara Elang.
"Kamu kalau dikasih buket, maunya apa?" tanya Elang.
"Uang!" Ilona melotot, sesaat kemudian tertawa cekikikan. "Eh, udah habis saja brosur kamu." Ia memperhatikan tangan Elang.
"Iyalah, orang dibagikan, kalau di kantongin terus ya gak bakal habis." Ia melihat ke langit yang sedikit gelap. "Mendung, pulang yuk!"
"Tapi belum habis brosurnya." Ilona menunjukan brosur di tangannya.
"Biarinlah. Kita gencerin promo di sosial media aja, kayaknya bakalan lebih ngefek ke penjualan."
Ilona mengangguk, lalu berjalan beriringan dengan Elang. Gerimis tiba-tiba datang, keduanya mempercepat langkah menuju mobil. Orang-orang di taman semburat, sibuk mencari tempat berteduh.
Hujan makin deras, sementara parkiran mobil masih lumayan jauh.
"Pegangan aku!" Elang mengangkat tubuh Ilona, membawanya berlari. Ia takut Ilona tak bisa berlari dengan kaki prostetiknya. Beberapa kaki prostetik memang bisa dipakai lari, tapi milik Ilona, ia tak yakin. Jalan saja, terlihat kaku.
Mau tak mau, karena takut jatuh, kedua lengan Ilona berpegangan pada ke leher Elang. Matanya menatap wajah Elang yang jaraknya lumayan dekat. Ia bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. Hidung yang mancung, rahang tegas, dan blbir yang...Merasakan jantungnya berdebar kencang, buru-buru ia mengalihkan pandangan. Elang memang tampan, tapi ia tak boleh jatuh cinta. Ia sangat tahu diri.