Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Ucapan itu membuat Beri spontan mengernyit.
Namun Dira malah terkekeh kecil, lalu menutup sebagian wajahnya karena malu pada pengakuannya sendiri. "Mencintai dalam diam juga nggak buruk, kan?" katanya sambil nyengir malu-malu. "Setidaknya aku masih bisa melihat dia bahagia."
Beri benar-benar dibuat kehabisan kata-kata. Ia memandang Dira cukup lama, berusaha mencari tanda bahwa perempuan itu sedang bercanda. Namun tidak ada. Dira mengucapkannya dengan sangat serius. "Kamu ini memang aneh," gumam Beri sambil menggeleng pelan. "Orang lain kerja keras supaya bisa hidup nyaman, menikah, membangun keluarga. Kamu bekerja siang malam, mengumpulkan harta, membangun perusahaan besar... tapi ujung-ujungnya malah berniat hidup jomblo."
Dira tertawa pelan mendengar protes itu. "Ya sama seperti Kakak."
"Hah?"
"Iya. Kakak juga, kan? Sudah mapan, tampan, baik, pintar, tapi tetap sendirian."
Beri menghela napas panjang sambil tersenyum tipis. "Aku beda."
"Apa bedanya?"
"Aku bukan berniat jomblo."
"Lalu?"
"Aku hanya...".Beri berhenti sejenak. Tatapannya tanpa sadar jatuh tepat ke wajah Dira yang sedang menunggu jawabannya dengan polos. "...hanya saja gadis yang kusukai bodoh." Kalimat itu meluncur begitu saja.
Dira langsung membelalakkan mata. "Hah?" Wajahnya dipenuhi rasa penasaran. "Bodoh?"
"Iya."
"Bodoh bagaimana?"
Beri terkekeh pelan, tetapi ada kepahitan yang tersimpan di balik tawanya. "Dia pintar dalam satu bidang. Pintar membaca peluang. Pintar mengambil keputusan. Bahkan bisa membaca isi hati lawan negosiasi. Tapi..." Ia menggeleng pelan. "...untuk urusan yang satu itu, dia benar-benar bodoh."
Dira masih belum mengerti. "Memangnya dia kenapa?"
"Dia tidak sadar kalau ada seseorang yang sudah lama menyukainya."
Dira mengangguk pelan. "Oalah... Kasihan juga ya."
"Iya."
"Berarti memang bodoh."
Beri hampir tertawa mendengar komentar polos itu.
"Kalau aku jadi perempuan itu, pasti langsung peka."
"Oh ya?"
"Iya, dong."
"Kalau ada laki-laki kasih kode terus, masa nggak sadar."
Beri hanya bisa tersenyum getir. "Masalahnya..." batinnya. "Aku sudah memberi begitu banyak kode. Tapi perempuan yang duduk di depanku ini... justru orang yang paling tidak menyadarinya."
Sementara Dira masih sibuk menebak-nebak siapa gadis yang dimaksud Beri, sama sekali tidak terpikir bahwa jawaban dari teka-teki itu... sedang duduk tepat di kursi yang ia tempati.
Dira masih memikirkan ucapan Beri tentang gadis yang disukainya. Rasa penasarannya justru semakin besar. Selama ini ia mengenal Beri sebagai laki-laki yang tenang, rasional, dan hampir tidak pernah membicarakan kehidupan pribadinya. Karena itu, mengetahui bahwa ternyata ada seseorang yang diam-diam mengisi hati sahabat sekaligus mentornya membuat Dira ikut bersemangat. Wajahnya berbinar seperti anak kecil yang baru menemukan teka-teki menarik. Ia memajukan tubuhnya di atas sofa sambil menatap Beri dengan penuh antusias. "Kak..." panggilnya pelan..
"Hm?"
"Gimana kalau aku yang kasih tahu perempuan itu?"
Beri mengangkat sebelah alisnya. "Maksudmu?"
"Iya, aku yang ngomong sama dia.".Dira tersenyum lebar, seolah baru saja menemukan ide yang sangat cemerlang. "Biar dia nggak terlalu bodoh. Biar dia tahu ada laki-laki sebaik Kakak yang menyukainya. Siapa tahu selama ini dia memang nggak sadar. Kalau sudah tahu, mungkin dia juga suka. Lalu kalian jadian. Terus menikah. Happy ending, deh!"
Semakin panjang Dira berbicara, semakin lebar pula senyumnya. Ia bahkan sudah membayangkan dirinya menjadi mak comblang yang berhasil mempersatukan dua orang. Di benaknya, tidak ada alasan perempuan mana pun menolak Beri. Menurutnya, Beri adalah paket lengkap. Tampan, mapan, cerdas, penyabar, dan selalu bisa diandalkan.
Namun di seberangnya, Beri justru memijat pelipis. Ia benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menangis. Perempuan yang ingin menjadi mak comblangnya... Justru adalah perempuan yang selama ini memenuhi seluruh isi hatinya. Rasanya campur aduk, perempuan yang ingin kita tuku ingin menjadi Mak comblang untuk dirinya sendiri.
Dira kembali mendesak. "Gimana? Boleh, ya? Aku jago, lho, jadi penengah. Nanti aku cari waktu yang pas. Terus aku bilang baik-baik ke dia. Kak Beri itu orangnya baik banget. Sayang kalau dilewatkan. Siapa tahu dia langsung sadar. Terus..."
"Nggak mau." Jawaban Beri memotong semua khayalan Dira.
Dira berkedip. "Hah?"
"Nggak mau."
"Kenapa?"
"Ya... nggak mau aja."
Dira mengerutkan dahi. "Loh, kok gitu? Kan niatku baik. Aku cuma mau bantu. Bisa jadi selama ini dia memang benar-benar nggak sadar. Bukannya kalau dijelasin malah bagus?"
Beri menggeleng pelan. "Nggak. Tetap nggak mau."
Dira menghela napas panjang. "Kakak keras kepala, ya."
"Mungkin."
"Padahal kalau didiemin terus, dia bisa diambil orang."
"Ya sudah. Kalau memang itu risikonya." Jawaban Beri terdengar begitu tenang, tetapi ada kepedihan yang tidak mampu ia sembunyikan.
Dira masih belum menyerah. "Minimal kasih tahu aku siapa orangnya. Nanti aku lihat dulu. Kalau dia baik, aku bantu. Kalau dia jahat, baru aku larang Kakak."
Beri terkekeh pelan. "Kamu ini..."
"Kenapa?"
"Ribut."
Dira langsung cemberut. "Ih, aku serius. Aku pengin Kakak bahagia."
Mendengar kalimat itu, senyum Beri perlahan memudar. "Aku juga ingin bahagia, Dir," batinnya lirih. "Masalahnya... kebahagiaanku adalah kamu." Namun kalimat itu hanya bergema di dalam hati. Tak pernah keluar menjadi suara.
Beri akhirnya menggeleng sekali lagi, kali ini disertai senyum tipis yang menyembunyikan begitu banyak perasaan. "Nggak usah. Biarkan saja seperti ini. Kalau memang suatu hari dia sadar....biar itu bukan karena ada orang lain yang memberitahunya."
Dira mengangguk pelan, meski masih merasa keputusan itu aneh. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa alasan Beri menolak bantuannya sangat sederhana. Karena gadis yang ingin "dibujuk" oleh Dira... adalah Dira sendiri.
"Andai kakak mau memberitahuku. Atau kalau kakak berubah pikiran, butuh aku ikut campur, katakan. Aku siap membantu Kakak!" ungkap Dira.
"Engak Dir, kamu nggak akan pernah bisa membantuku karena kamu juga sudah menetapkan pilihan sampai akhir hanya Adrian." bisik Beri pada dirinya sendiri.
***
Sejak hari ketika ia memberanikan diri mencurahkan isi hatinya untuk pertama kali, ada satu kebiasaan baru yang perlahan menjadi bagian dari keseharian Dira. Jika dulu setiap masalah ia simpan sendiri, kini setiap kali sesuatu terjadi yang berkaitan dengan Adrian, entah itu pertemuan singkat, rapat, pesan singkat, atau bahkan hanya tatapan mata yang membuat jantungnya berdebar, orang pertama yang ingin ia temui selalu Beri.
Rasanya seperti sudah menjadi rutinitas. Seusai bertemu Adrian, mobil Dira hampir selalu berbelok menuju kantor Beri. Kadang ia datang membawa dua gelas kopi, kadang membawa camilan, kadang datang dengan wajah berbinar karena bahagia, dan tak jarang pula datang dengan wajah kusut karena kebingungan.
Beri yang awalnya menganggap itu hanya sesekali, lama-kelamaan sampai hafal pola tersebut. Ia sampai mengeluh dalam hati, siapa coba yang nggak akan nyesak kalau perempuan yang ditaksir ternyata malah curhat pada kita tentang lelaki lain.