SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)
Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.
Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.
Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.
Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Antara Kawan dan Bangkai
Tatapan mata Tian Xue semakin dingin. Hawa membunuh yang sangat pekat merembes keluar dari pori-pori kulitnya, membekukan udara di sekeliling area Hutan Purba.
Ao Yun terus merayap mundur di atas tanah yang berlumpur darah. Tubuhnya gemetar hebat, dan raut wajahnya dipenuhi kengerian mutlak. Luka dalam akibat ledakan energi Lu Shi sebelumnya membuat seluruh persendian fisiknya lumpuh, membuatnya tak sanggup lagi untuk sekadar berdiri dan berlari.
"Am-ampuni aku... Tolong jangan bunuh aku!" jerit Ao Yun dengan suara parau yang tersendat.
Dengan jari-jemari yang gemetaran, Ao Yun buru-buru mencopot Kantong Semesta di pinggangnya lalu mengacungkannya tinggi-tinggi ke udara.
"Kau... kau mau apa?! Harta? Kristal naga? Artefak?! Aku berikan semuanya padamu! Ambil semuanya, asal biarkan aku hidup!"
Di atas dahan pohon tak jauh dari sana, Lu Shi berdiri mengamati pemandangan tersebut. Sepasang mata indahnya menyipit tajam, memperhatikan setiap gestur dan perubahan aura pada tubuh pemuda di bawahnya.
'Apa dia ini benar-benar si lelaki bodoh yang kukenal... atau dia sosok lain?' batin Lu Shi risau.
Langkah kaki Tian Xue perlahan mendekat.
KREK... KREK...
Suara ranting kering dan dedaunan busuk yang terinjak oleh telapak kakinya berbunyi nyaring di tengah keheningan. Bagi Ao Yun, setiap derak langkah itu terdengar bagaikan ketukan lonceng kematian yang kian mendekat.
"Ja-jangan mendekat!" teriak Ao Yun histeris, peluh dingin mengucur deras membasahi zirahnya. "Bila kau membunuhku... Klan Ao tidak akan pernah melepaskanmu! Mereka akan memburumu sampai ke ujung dunia!"
Tian Xue sama sekali tidak memedulikan ancaman kosong tersebut. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, bagaikan algojo pencabut nyawa yang tidak memiliki emosi.
Saat jarak di antara mereka tersisa dua langkah, sisik-sisik naga berwarna hitam pekat kembali merayap cepat menyelimuti lengan kanan Tian Xue. Jemarinya meruncing, mengeras menjadi Cakar Naga Purba yang memancarkan pendar dingin mematikan.
"Bagi diriku... hanya ada dua jenis kesempatan untuk orang-orang yang telah melihat rahasia garis darahku," ucap Tian Xue dingin. Suaranya pelan, namun sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya.
Ia berhenti melangkah tepat di hadapan Ao Yun.
"Pertama... dia adalah temanku."
Tian Xue sengaja menggantung kalimatnya. Keheningan yang tercipta seketika membuat bulu kuduk Ao Yun berdiri tegak.
"Ke-kedua... apa...?" bisik Ao Yun dengan bibir yang memucat kaku.
"Kedua..." Tian Xue menunduk, menatap lurus ke dalam pupil mata musuhnya. "...dia harus lenyap sepenuhnya dari dunia ini."
DEG!
Wajah Ao Yun seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat. Ketakutan yang teramat sangat mencekik tenggorokannya.
"Ka-kalau begitu... aku akan jadi temanmu! Aku berjanji akan menjadi kawanmu! Ampuni aku...!" raung Ao Yun memohon dengan sangat iba.
Tian Xue hanya menyunggingkan sebuah seringai tipis yang teramat kejam.
"Kawan?" desis Tian Xue datar. "Kau pikir... kau layak?"
SRAAAAKKKKKKKKK!
Tanpa basa-basi atau memberi ruang bernapas sedikit pun, Cakar Naga Purba milik Tian Xue meluncur secepat kilat, menghujam lurus menembus dada kiri Ao Yun dan meremukkan inti garis darahnya secara mutlak!
"Aaarrrrkkkkkkk... ka-kau..."
Mata Ao Yun membelalak lebar. Mulutnya memuntahkan darah segar sebelum akhirnya tubuhnya terkulai kaku di atas tanah. Kehidupan di dalam matanya padam seketika.
Lu Shi yang menyaksikan pembantaian dingin itu dari atas dahan mendadak menahan napas.
Kejam. Sangat brutal dan tanpa ampun.
Tiba-tiba, Tian Xue memutar kepalanya perlahan, mengarahkan tatapan mata keemasannya lurus ke arah Lu Shi yang berada di atas dahan.
Tatapan yang begitu dingin, hampa, dan sarat akan hawa membunuh itu seketika membuat bulu kuduk Lu Shi berdiri tegak.
Naluri bertarung sang gadis rubah terpicu secara otomatis. Tubuhnya menegang siaga, dan jemarinya mencengkeram erat gagang Pedang Sembilan Nyawa.
"Kau mau apa, Bodoh?!" seru Lu Shi dengan nada sedikit bergetar, berusaha menyembunyikan rasa takutnya. "Kau... mau membungkamku juga, hah?!"
Melihat kepanikan dan raut siaga dari gadis barbar di atas dahan itu, sudut bibir Tian Xue perlahan terangkat.
"HAHAHAHAHA!"
Tawa terbahak-bahak seketika meledak dari mulut Tian Xue, bergema nyaring memecah ketegangan di seluruh penjuru Hutan Purba.
Aura membunuh yang pekat dan menakutkan di sekeliling tubuhnya menguap perlahan. Sisik-sisik naga hitam di lengannya menyusut cepat, menyisa kulit mulusnya seperti semula.
"Hahaha... Kenapa wajahmu jadi pucat begitu, Lu Shi?" puji Tian Xue seraya menggelengkan kepala, kembali ke kepribadiannya yang biasa.
Lu Shi mengembuskan napas panjang yang sangat lega. Ia menyapu peluh tipis di pelipisnya seraya menggerutu kekesalan.
"Dasar lelaki bodoh! Aku kira jiwamu baru saja dirasuki oleh iblis penghuni Hutan Purba!" umpat Lu Shi kasar.
Dengan gerakan luwes, Lu Shi melompat turun dari dahan pohon, mendarat mulus beberapa langkah di depan Tian Xue. Sepasang matanya menatap pemuda itu dari atas ke bawah dengan penuh keheranan.
"Tapi... bagaimana bisa kau membantai tiga anggota klan murni di tingkatan yang sama denganmu semudah itu?" tanya Lu Shi penasaran.
Tian Xue menyunggingkan senyum tipis seraya mengibaskan tangannya santai.
"Mungkin aku cuma beruntung... karena mereka bertiga memang sudah sangat ingin mati."
"Haaaaah?!" Lu Shi melotot, sama sekali tidak percaya pada alasan konyol tersebut.
Di dalam benaknya, Lu Shi mulai menarik kesimpulan sendiri. Tian Xue mungkin secara resmi berada di Garis Darah Tingkat 4, tetapi daya tempur nyata serta kemurnian Naga Purba di dalam tubuhnya jelas jauh melampaui batas tingkatan tersebut—bahkan mungkin sudah menyamai praktisi Tingkat 5!
"Ya sudah, terserah kau saja," ujar Lu Shi mengibaskan tangan, menatap ke arah tiga jasad anggota Klan Ao yang bergelimpangan. "Lalu bagaimana dengan barang-barang mereka?"
Tian Xue berbalik, melangkah mendekati jasad Ao Feng, Ao Lin, dan Ao Yun satu per satu. Tanpa rasa ragu, ia memetik Kantong Semesta di pinggang ketiga mayat tersebut lalu memindai isinya.
Hasil jarahan dari tiga generasi muda klan murni itu ternyata sangat melimpah.
Total dari ketiga kantong tersebut berisikan 30 buah kristal naga peringkat tinggi, 100 buah kristal naga peringkat rendah, belasan botol pil spiritual peringkat tinggi, serta sebuah kitab artefak teknik bertarung milik Klan Ao.
"Wah... anak-anak kaya ini benar-benar membawa banyak harta!" seru Lu Shi seraya mendekatkan wajahnya saat Tian Xue mengeluarkan barang-barang tersebut.
Tian Xue tersenyum tipis. "Tidak mengherankan. Mereka adalah generasi muda dari Klan Ao yang menguasai perdagangan benua."
Tanpa pikir panjang, Tian Xue menyisihkan 30 kristal naga peringkat tinggi dan 100 kristal rendah untuk kebutuhan kultivasinya sendiri, lalu melemparkan sisa kantong berisikan pil-pil penyembuh mahal dan kitab artefak klan tersebut lurus ke arah Lu Shi.
Bagi Tian Xue, pil dan artefak klan murni tidak terlalu berguna baginya. Namun bagi Lu Shi, barang-barang tersebut adalah harta karun berharga.
Tangan Lu Shi melesat cepat menangkap kantong itu. Sepasang mata indahnya seketika berbinar terang dipenuhi kegembiraan.
"Ini... semua sisa harta ini untukku?!" seru Lu Shi penuh antusias.
"Tentu saja," jawab Tian Xue singkat.
"Waaaaah! Bagus sekali!" Lu Shi memeluk kantong itu dengan wajah riang, membayangkan tumpukan makanan lezat di kota nanti. "Dengan pil dan barang-barang mahal ini, aku bisa membeli daging panggang apa pun yang kusukai sepuasnya nanti! Hahaha!"
Melihat tingkah polos dan gembira gadis barbar itu, Tian Xue hanya bisa menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis, menatap ke arah vegetasi Hutan Purba yang kian dalam.