Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : Jejak Amarah dan Jeritan Sumpah
Malam makin merambat tua, tetapi kegelapan Desa Karang Tumpuk terasa membeku. Setelah pintu gubuk Mbok Sumi tertutup rapat, ratap tangis dan jeritan Seruni menggetarkan dedaunan pohon pisang di sekeliling tempat itu. Rasa panas di dadanya meluap-luap, seolah-olah darahnya diganti dengan lelehan tembaga cair.
"Sari... gulungan... gulungan selanjutnya..." rintih Seruni. Air matanya kini bercampur dengan lelehan darah kental yang keluar dari sudut matanya. "Siapa... siapa lagi yang masih tersisa?"
Sari, yang seluruh pakaiannya sudah ternoda getah hitam dan lendir berbau empedu dari tubuh bibinya, membuka kembali kotak jati itu dengan tangan gemetar. Ia meraba-raba daun lontar di dalam kegelapan malam, menyisihkan gulungan-gulungan milik korban yang sudah mati membusuk bertahun-tahun lalu.
Akhirnya, jemarinya berhenti pada satu lontar yang benang morinya berwarna merah pudar.
"Ini... ini nama Kang Marno, Nyai," kata Sari dengan suara bergetar. "Pande besi di hulu sungai."
Mata Seruni yang kusam dan bersisik mendelik lebar. Memori puluhan tahun lalu mendadak berputar kembali di kepalanya bagai bayangan jahat. Marno—pande besi berbadan tegap yang dulu menolak cinta Seruni. Marno yang lebih memilih menikahi gadis desa biasa yang sederhana ketimbang menerima pinangan Seruni yang penuh kesombongan.
Karena rasa sakit hati dan iri melihat kebahagiaan rumah tangga Marno, Seruni mengirimkan racun petunduk tingkat tinggi. Dalam semalam, tangan kanan Marno yang perkasa membusuk dan memendek, melumpuhkan mata pencahariannya sebagai pande besi. Tak berhenti di situ, istri Marno dibuat gila hingga menceburkan diri ke sumur tua.
"Ke... ke hulu sungai..." desis Seruni. Daging di paha dan betisnya kini mulai terkelupas, meninggalkan bekas merah kehitaman yang dipenuhi ulat-ulat kecil. "Seret aku... ke rumah Marno..."
"Tapi Nyai, jarak ke hulu sungai itu jauh! Jalanannya mendaki dan penuh batu tajam!" tangis Sari pecah. "Tubuhmu bisa hancur di jalan!"
"Seret aku, Sari! Atau aku akan memakan Jantungku sendiri di sini!" raung Seruni dengan suara yang bukan lagi suara manusia—melainkan gabungan dari puluhan suara gaib yang bergema dari dalam tenggorokannya.
Dengan sisa-sisa tenaga dan deraian air mata, Sari mengikatkan kain jarik tua ke pinggang Seruni, lalu menarik ujung kain itu seperti memegang kendali kuda. Seruni merangkak menelungkup di atas tanah, menyeret perut dan dadanya sendiri.
Setiap kali batu tajam menggores kulitnya yang berkerak, Seruni menjerit pilu. Darah hitam amis berjejak di sepanjang jalan setapak menuju hulu sungai. Di belakang mereka, bayangan-bayangan hitam yang mengekor semakin bertambah banyak. Mereka tidak menyerang, hanya berjalan diam dalam barisan rapi—menjadi saksi bisu atas penebusan dosa yang meremukkan tulang.
Angin gunung merengkuh tubuh Sari yang dingin berpeluh. Setelah hampir satu jam berjalan meraba kegelapan, bau jelaga dan besi terbakar mulai tercium. Di kaki bukit dekat aliran sungai yang deras, berdiri sebuah bengkel besi tua yang sepi.
Cahaya merah dari bara api yang hampir padam menyemburat dari balik celah dinding papan. Dari dalam, terdengar dentang pukulan martil yang berat dan perlahan.
Tung... tung... tung...
Suara itu konstan, berat, dan penuh duka.
"Kang Marno..." panggil Sari lirih di depan pagar bambu yang lapuk. "Kang Marno... tolong..."
Dentang martil mendadak berhenti. Pintu bengkel tua itu berderit terbuka. Dari balik kegelapan, muncul sosok lelaki tua berbadan bungkuk. Lengan kanannya melengkung cacat dan mengecil bagai ranting kayu kering, sementara wajahnya penuh jelaga dan garis-garis kepahitan hidup.
Mata Marno yang tajam menatap dua sosok di atas tanah. Begitu mencium bau empedu pecah yang sangat khas, rahang Marno memeras keras. Ujung martil besi di tangan kirinya menjejak bumi dengan dentang menyengat.
"Nyai Seruni..." suara Marno terdengar bagai gemuruh batu meluncur dari tebing. "Dukun terkutuk dari Karang Tumpuk."
Seruni merangkak mendekat, air matanya membasahi debu jelaga di depan pintu bengkel. Ia menangkupkan kedua tangannya yang kini sudah tak berbingkai kuku—kuku-kukunya telah lepas sepanjang jalan.
"Marno... Marno, maafkan aku..." rintih Seruni, suaranya terputus-putus oleh batuk darah. "Aku yang membusukkan tanganmu... aku yang mengirim racun petunduk pada istri dan keluargamu... ampunkan aku, Marno! Cabut sumpahmu... biarkan aku mati...!"
Marno menatap perempuan di bawah kakinya tanpa rasa kasihan sedikit pun. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, hanya ada kebencian mendalam yang telah membatu selama puluhan tahun.
"Mati?" Marno terkehuh pahit. Ia melangkah maju, memperlihatkan lengannya yang cacat dan mengerut di bawah sinar rembulan. "Kau minta izin padaku untuk mati, Seruni? Setelah kau merenggut nyawa istriku? Setelah kau membuat tanganku cacat dan membiarkan aku hidup seperti bangkai bernapas selama tiga puluh tahun?!"
"Ampun, Marno... ampun! Panas... dadaku panas seperti disiram tembaga mendidih!" jerit Seruni sambil memukul-mukul dadanya sendiri hingga kulitnya terkelupas.
Marno berlutut, menggenggam segenggam abu jelaga panas dari tungku besi di dekatnya. Tanpa ragu, Marno menyiramkan abu panas itu tepat ke atas punggung Seruni yang penuh borok.
"Arrrrggghhhh! Ampun!" Seruni menjerit sejadi-jadinya, meliuk-liuk di atas tanah bagai cacing yang tersiram garam.
Sari menjerit ketakutan dan hendak menolong bibinya, namun Marno mengangkat tangan kirinya, menunjuk tegas pada Sari. "Jangan ikut campur, Bocah! Biarkan dukun ini merasakan satu persen dari rasa terbakar yang aku rasakan setiap malam saat merindukan istriku!"
Marno menatap mata Seruni yang merah membara. "Kau dengar baik-baik, Seruni. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Aku tidak akan pernah mencabut rasa benci ini. Jika jiwamu tertahan di dunia ini karena dosa-dosamu padaku, maka terikatlah kau di raga busuk itu sampai hari kiamat!"
"Tidak... jangan, Marno! Jangan kunci aku dalam raga ini!" tangis Seruni melengking, memohon-mohon hingga kepalanya terantuk-antuk pada batu asahan di dekatnya.
"Pergi dari rumahku!" bentak Marno keras. "Bawa bangkai bernapasmu ini keluar dari tanahku sebelum aku meremukkan tengkorakmu dengan martil besi ini!"
Brak!
Marno membanting pintu bengkelnya. Suara dentang martil kembali terdengar—Tung... tung... tung...—lebih keras dan lebih penuh dendam dari sebelumnya.
Seruni tergeletak kaku di atas tanah, melolong menatap langit malam yang kelam. Kata-kata Marno telah mengunci salah satu rantai ghaib yang mengikat nyawanya. Penolakan maaf dari sang korban membuat racun di dalam tubuhnya bereaksi dua kali lebih ganas.
Sari menangis histeris. Ia berlutut di samping bibinya, mencoba menyapu abu panas dari punggung Seruni. "Nyai... bagaimana ini, Nyai? Dia tidak mau memaafkanmu... bagaimana kau bisa pergi?"
"T-masih... masih ada..." bisik Seruni gagap. Bibirnya kini sudah menghitam sepenuhnya dan mengeluarkan bau busuk yang kian pekat. "Kotak... lontar ketiga..."
Dengan jari-jari yang gemetar dan bersimbah darah, Sari meraba kembali isi kotak jati. Hanya tersisa satu lontar terakhir yang diikat kain mori putih yang sudah kusam.
Sari membaca nama yang tertera di sana di bawah temaram sinar rembulan: Nyi Pertiwi.
Jantung Sari seakan berhenti berdetak. "N-Nyi Pertiwi? Nyai Pertiwi sang penari gending yang tinggal di tepi hutan utara?"
Seruni mengangguk pelan dengan gerakan yang teramat patah. "Perempuan... yang paling aku irikan... wajahnya yang cantik... suaranya yang merdu... aku buat suaranya bisu dan wajahnya rusak dengan minyak racun petunduk..."
"Nyai... Nyi Pertiwi sudah lama tidak pernah terlihat oleh warga desa. Katanya dia tinggal menyendiri di tengah hutan larangan..." Sari gemetar membayangkan hutan utara yang terkenal angker dan dihuni banyak makluk ghaib.
"Bawa... bawa aku ke sana..." racau Seruni, dadanya kembang kempis dengan sangat kasar. "Itu... itu harapan terakhirku... sebelum jantungku benar-benar menjadi sarang ulat..."
Sari memandangi wajah bibinya. Daging di sekitar pipi Seruni kini sudah menyusut parah, memperlihatkan bentuk tulang rahangnya. Mata Seruni tidak lagi mampu berkedip karena kulit kelopak matanya telah mengeras dan pecah-pecah. Ini bukan lagi seorang manusia, melainkan sesosok mayat yang dipaksa bernapas oleh dosa-dosanya sendiri.
Sari menyapu air matanya. Dengan sisa keberanian yang ada, ia kembali memapah dan menyeret raga Seruni. Langkah kaki mereka kini mengarah ke utara, menuju kegelapan hutan larangan yang pekat dan berangin dingin.
Di balik pepohonan rindang di kejauhan, suara alunan gending Jawa terdengar samar-samar melayang di udara malam—sebuah nada melankolis dan penuh duka yang seolah telah menanti kedatangan sang dukun dengki untuk menagih janji terakhirnya.