Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Keesokan harinya saat menjelang siang, Qin Lu yang masih berada di istana Pangeran Duan, meminta kepala pelayan untuk mengantarnya ke dapur istana.
''Nona Qin, apa yang ingin anda lakukan di dapur istana?'' tanya kepala pelayan sembari berjalan beriringan dengan Qin Lu untuk menuju dapur.
Qin Lu tersenyum. ''Apa pangeran suka minum teh?'' tanya Qin Lu.
Kepala pelayan menganggukkan kepalanya.
''Aku akan membuatkan Pangeran teh herbal, siapa tahu beliau suka'' tukas Qin Lu.
Kedatangan Qin Lu bersama kepala pelayan di dapur istana, membuat para koki yang berada di sana langsung memberi hormat, lebih tepatnya hanya kepada kepala pelayan saja, karna mereka tidak ada yang mengenal siapa wanita yang datang bersama kepala pelayan.
''Kepala pelayan, apa Pangeran meminta buatkan sesuatu?'' tanya salah satu koki di sana, pasalnya waktu sarapan pagi sudah selesai satu jam yang lalu.
''Tidak'' timpal kepala pelayan.
''Em, Paman, bolehkah saya meminjam dapurnya sebentar, saya ingin membuatkan teh herbal untuk Pangeran Duan'' sela Qin Lu.
Pria yang di panggil Paman atau koki itu langsung menatap Qin Lu.
''Maaf, anda siapa?'' tanya koki itu.
''Beliau Nona Qin Lu, adik kandung pengawal Qin Yu'' tukas kepala pelayan.
Koki itu seketika langsung memberi salam hormat pada Qin Lu dengan sopan.
''Maaf Nona Qin, saya tidak tahu kalau anda adik Pengawal Qin'' ujar koki itu.
Di istana Pangeran Duan, jabatan kedua Pengawal pribadi Pangeran sangat tinggi, bahkan kepala pelayan masih berada di bawahnya, jadi para koki dan bawahan istana lainnya selalu bersikap hormat dan sopan pada kedua pengawal Pangeran Duan.
''Ah Paman, tidak perlu bersikap sopan seperti itu, santai saja'' balas Qin Lu.
''Terimakasih Nona, oh ya, maaf Nona tadi anda bilang apa?, saya sedikit tidak mendengarnya'' tanya koki itu.
''Saya mau meminjam dapurnya sebentar boleh?, saya ingin membuatkan teh herbal untuk Pangeran Duan''
Koki itu seketika langsung melirik ke arah kepala pelayan, pasalnya Pangeran tidak menerima makanan atau minuman yang di buat selain oleh koki dapur istan, karna mereka sudah menjadi pilihan Pangeran sejak dulu.
''Em,, tapi,,,''
''Silahkan Nona, anda bisa memakai dapur ini sesuka anda'' potong kepala pelayan, membuat koki itu kaget.
''Terimakasih Paman'' ucap Qin Lu, dan bergegas pergi ke arah tempat penyimpanan bahan bahan makanan, lalu mulai menyiapkan bahan bahan yang akan dia pakai.
Sedangkan koki itu masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh kepala pelayan.
''Tuan, kenapa anda membiarkan Nona Qin membuatkan teh untuk Pangeran?'' tanya koki itu masih tak percaya.
Kepala pelayan itu menatap ke arah Qin Lu sembari tersenyum.
''Pangeran sendiri yang memberi izin'' ucapnya.
Koki itu semakin terkejut mendengarnya. ''Benarkah?!''
''Hem, mungkin kamu tidak tahu, Nona Qin satu satunya wanita yang bebas berkeliaran di istana Pangeran, bahkan semalam Pangeran memberikan kamar keduanya untuk Nona Qin menginap di sini''
''Apa!!'' pekiknya.
''Paman, ada apa?!, kenapa berteriak?'' seru Qin Lu dari depan tungku.
''Ah, tidak ada apa apa Nona'' sahut Koki itu sembari tersenyum canggung.
Kepala pelayan terkekeh melihat keterkejutan koki itu, sebenarnya tidak ada bedanya dengan dirinya, kemarin pagi saat Nona Qin tiba di istana, dirinya juga terkejut karna Pangeran memerintahkan dirinya untuk menemani Nona Qin berkeliling istana, padahal sejak Pangeran tinggal di istananya sendiri setelah menikah dengan Permaisuri, Pangeran belum pernah sekalipun mengizinkan para istrinya ataupun pelayan wanita keluar masuk ke istananya dengan bebas, semuanya memiliki jam jam tertentu.
Usai teh herbal yang di buatnya jadi, Qin Lu segara membawanya ke ruang baca, Qin Lu tidak hanya membuat teh herbal saja, dia juga membuat beberapa potong kue dari bunga osmanthus.
''Kakak'' sapa Qin Lu saat melihat sang Kakak hendak masuk ke dalam ruang baca milik Pangeran Duan.
''Lu Lu, apa yang kamu bawa?'' tanya Qin Yu menatap gelas minuman dan kue di atas nampan yang di bawa Qin Lu.
''Oh, ini teh herbal dan kue osmanthus'' jawab Qin Lu tersenyum.
''Untuk Pangeran?'' tanya Qin Yu yang di angguki oleh Qin Lu.
''Qin Yu!, kamu sedang bicara dengan siapa di luar?!'' seru Pangeran Duan dari dalam.
Qin Yu dan Qin Lu sama sama terkejut mendengar suara Pangeran Duan dari dalam yang sedikit keras, lalu Qin Yu mendorong daun pintu di depannya.
''Maaf Pangeran, hamba sedang bicara dengan adik hamba'' ucap Qin Yu.
Pangeran Duan yang sedang duduk seketika langsung berdiri. ''Dimana adikmu?, kenapa tidak kamu ajak masuk'' tukasnya.
''Saya di sini Pangeran!'' seru Qin Lu yang muncul dari balik punggung Qin Yu, dan berjalan santai ke arah Pangeran Duan sembari membawa nampan di tangannya.
Pangeran Duan seketika menyunggingkan senyumnya. '' Lu Lu, apa yang kamu bawa?'' tanya Pangeran Duan.
Obrolannya dengan Qin Lu semalam, membuat hubungan Pangeran Duan dan Qin Lu mulai akrab, bahkan Pangeran Duan juga mulai merasa nyaman memanggil Qin Lu tanpa ada embel embel Nonanya.
''Ini teh herbal, dan ini kue osmanthus, saya sendiri yang buat'' ucap Lu Lu sembari meletakkan nampan yang di bawanya di atas meja belajar Pangeran Duan.
Kedua Pengawal Pangeran Duan seketika terkejut mendengar yang di ucapkan Qin Lu, terlebih Qin Yu dia takut adiknya akan terkena amukan Pangeran Duan, karna sudah lancang membuat minuman dan camilan untuk Pangeran Duan tanpa izin terlebih dahulu, karna seluruh istana tahu Pangeran Duan sangat benci makanan dan minuman yang di buat selain dari koki pilihannya.
Namun ketakutan Qin Yu seketika lenyap, saat melihat Pangeran Duan mengambil cangkir dan menyesap teh yang di buat oleh adiknya.
''Pangeran bagaimana?, apakah enak?'' tanya Qin Lu penuh harap.
''Enak, bahkan aku bisa merasakan kalau tubuhku jauh lebih nyaman dari sebelumnya'' jawab Pangeran Duan, lalu dia juga mencoba kue osmanthus yang di buat Qin Lu.
''Kuenya juga sangat enak, kamu pintar sekali membuat kue osmanthus ini, bahkan rasanya lebih enak dari yang biasanya di buat oleh juru masak istana'' puji Pangeran Duan.
Qin Lu seketika tersenyum malu malu. ''Terimakasih pujiannya Pangeran''
Pengawal Zu yang sejak tadi berdiri di sisi Pangeran langsung memberi isyarat mata pada Qin Yu, seakan akan mengatakan kalau adikmu berhasil mengambil hati Pangeran.
''Oh Ya Pangeran, bolehkah saya menemui selir kedua?'' tanya Qin Lu dengan sangat hati hati.
Pangeran Duan yang hendak mengambil kembali kue osmanthus di urungkannya.
''Boleh, tapi aku akan menemanimu ke sana'' tukas Pangeran Duan.
Qin Lu menghela nafas dan menganggukkan kepalanya.
''Baik Pangeran''
Saat ini Pangeran dan Qin Yu berjalan beriringan menuju istana dingin, dan di belakang mereka ada Qin Yu dan Pengawal Zu yang mengikuti mereka berdua.
''Qin Yu, selama aku mengikuti Pangeran, seumur umur baru kali ini aku melihat Pangeran bersikap lembut pada wanita, dan itu adikmu'' bisik Pengawal Zu. ''Sepertinya Pangeran tertarik dengan adikmu'' imbuhnya.
Qin Yu diam saja tidak menyahut, karna yang di katakan oleh Pengawal Zu benar adanya, tapi yang Qin Yu takutkan saat ini, bagaimana jika suatu saat Pangeran tahu kalau Qin Lu bukan adik kandungnya, apakah Pangeran akan membunuhnya dan Qin Lu karna sudah berbohong.
baru mampir kak...
semoga sampai tamat ye 😍😍😍
aku lanjut baca lagi
mending tsubat
perbaiki diri sja
suka mengejek lelaki giliran disindir telak langsung erosii