Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJUATAN DI TENGAH PESTA
"Lalu... apa Kaisar membahas soal rumor kematian Lady Aura?" tanya Elisabeth hati-hati.
"Tentu saja dibahas!" jawab Luis cepat, menyandarkan punggungnya di sofa.
"Kaisar sempat menanyakan kenapa aku pergi keluar bersama si bodoh Aura kemarin sore, tapi aku berhasil menutupinya dengan bilang kalau Aura bunuh diri karena stres," lanjut Luis membanggakan diri.
Mendengar hal itu, Elisabeth menghela napas lega, senyuman tipis kembali terukir di bibirnya.
"Syukurlah kalau begitu, Pangeran memang sangat pintar menghadapi Kaisar," puji Elisabeth manja, kembali menyandarkan kepalanya di dada Luis.
"Tentu saja," ucap Luis tersenyum miring, merangkul pinggang Elisabeth erat.
"Kaisar mana mungkin curiga padaku, lagian jasad Aura pasti sudah hancur dimakan ikan di dasar danau sekarang," lanjut Luis meremehkan.
"Jadi, kita tidak perlu cemas lagi kan?" tanya Elisabeth memastikan, menatap wajah Luis dengan binar penuh harap.
"Tentu saja tidak, Sayang," jawab Luis meyakinkan.
"Dua hari lagi di pesta ulang tahun Kaisar, kita akan datang bersama, dan semua orang akan melihat posisimu yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun," lanjut Luis mencium kening Elisabeth lembut.
Mereka berdua merasa rencana busuk mereka sudah berjalan sempurna, baik Luis maupun Elisabeth sama sekali tidak menyadari bahwa bayangan ancaman besar sedang bersiap menerkam mereka dari arah yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga.
Sejak sore hari, aula utama istana kerajaan Caliber sudah disulap menjadi sangat megah.
Lampu-lampu kristal gantung raksasa memancarkan cahaya keemasan, memantul di atas lantai marmer yang mengilap, alunan musik klasik terdengar lembut, mengiringi riuh rendah percakapan para bangsawan yang tampil dengan gaun dan jas terbaik mereka.
Di salah satu sudut aula, Pangeran Luis berdiri dengan dada terbusung angkuh, di sampingnya, Elisabeth tampak menggandeng lengan Luis dengan senyum lebar yang dipamerkan ke semua orang.
Elisabeth mengenakan gaun merah menyala, tampak begitu percaya diri karena malam ini perhatian banyak orang tertuju padanya.
"Lihat mereka datang bersama dan tampak mesra," bisik salah satu nona bangsawan.
"Kasihan sekali Lady Aura, padahal dia baru saja meninggal, kini tunangan nya sudah memamerkan kemesraan nya dengan wanita lain," bisik nya lagi.
"Cocok, yang satu pengkhianat yang satunya lagi murahan," bisik nona bangsawan yang lain.
"Syutt, lihat mereka melihat ke arah kita," bisik Nona bangsawan yang satunya lagi.
"Pangeran, lihat deh, semua orang memperhatikan kita," bisik Elisabeth manja sembari menyandarkan kepalanya di bahu Luis.
Elisabeth benar-benar wanita yang tidak tahu malu, padahal ada sebagian orang yang melihat nya sinis, karena di anggap sebagai perempuan perebut tunangan orang.
"Tentu saja, siapa lagi pasangan paling serasi di pesta ini kalau bukan kita?" ucap Luis terkekeh pelan, menyesap anggur merah dari gelasnya.
"Tapi Pangeran, dari tadi aku melihat beberapa bangsawan bisik-bisik soal Lady Aura, dan menatap ku sinis," ucap Elisabeth dengan raut wajah pura-pura prihatin.
"Halah, biarkan saja mulut-mulut gosip itu," sahut Luis remeh, mengibaskan tangannya santai.
"Lagipula rumor kematian si bodoh itu sudah dikonfirmasi semua orang, malam ini adalah panggung kita, Sayang, jangan merusak suasana dengan menyebut nama mayat menjijikan itu," lanjut Luis, tertawa miring.
Elisabeth tersenyum puas, mencium pipi Luis pelan.
"Kamu benar, Pangeran," ucap Elisabeth, manja.
Tiba-tiba, suara prajurit terdengar nyaring di depan pintu aula.
"YANG MULIA KAISAR ZANE CALIBER MEMASUKI AULA!"
Teriak pengawal istana dengan suara menggelegar.
Seketika, seluruh tamu undangan membungkuk hormat dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
Keheningan mencengkeram aula pesta saat langkah kaki yang berat dan tegas terdengar mendekat.
"SALAM YANG MULIA KAISAR ZANE CALIBER!"
Kaisar Zane hanya mengangguk singkat dan melangkah anggun menuju singgasananya.
Pria itu mengenakan jubah kebesaran berwarna hitam pekat dengan bordiran benang emas berbentuk naga, wajahnya yang tampan terlihat sangat dingin, dan aura dominannya yang begitu pekat membuat siapa saja merinding tanpa berani menatap matanya secara langsung.
Di belakangnya, Nico berjalan setia mengawal sang penguasa.
Kaisar Zane duduk di kursi kebesarannya, lalu melambaikan tangan pelan.
"Kalian boleh berdiri," perintah Kaisar Zane, dengan suara berat nya.
"Terima kasih, Yang Mulia!" jawab seluruh tamu serempak lalu kembali menegakkan tubuh mereka.
Luis langsung menarik tangan Elisabeth untuk mendekat ke arah tangga singgasana, berniat menjadi orang pertama yang memberikan selamat demi mencuri perhatian ayahnya.
"Selamat ulang tahun, Yang Mulia Kaisar," ucap Luis dengan suara keras dan dibuat-buat penuh hormat, membungkuk di hadapan ayahnya.
"Semoga Kejayaan selalu menyertai Anda dan Kekaisaran Caliber," lanjut Luis bangga.
Kaisar Zane menatap putranya dari atas singgasana dengan pandangan datar dan dingin.
"Terima kasih, Luis," sahut Kaisar Zane singkat, tanpa ada sedikit pun rasa hangat dalam suaranya.
Mata Kaisar Zane lalu melirik ke arah Elisabeth yang berdiri menunduk manis di samping Luis.
"Dan siapa wanita di sampingmu itu? Bukan kah tunangan mu baru saja meninggal, kau sudah mendapatkan pengganti nya, Heh?" tanya Kaisar Zane pura-pura tidak tahu, menaikkan satu alisnya.
Jantung Luis sempat berdesir, tapi dia cepat-cepat menguasai dirinya dan memasang raut wajah sedih yang amat dramatis.
"Maafkan saya, Yang Mulia, dia Elisabeth Velis, kekasih Saya," ucap Luis, benar-benar tidak tahu malu.
"Benar Yang Mulia, Saya kekasih Pangeran Luis, wanita satu-satunya yang di cintai Pangeran," lanjut Elisabeth, tersenyum lembut.
Nico yang berdiri di samping singgasana melirik sinis pada pasangan tidak tahu malu itu.
Kaisar Zane menyunggingkan senyum miring yang amat dingin di balik cangkir anggurnya.
"Oh... jadi Lady Aura sudah mati bunuh diri? Makanya kamu sudah memiliki ganti nya?"tanya Kaisar Zane pelan, suaranya terdengar sangat mengintimidasi.
"Benar, Yang Mulia! Jasadnya bahkan belum ditemukan sampai sekarang," jawab Luis mantap dan penuh percaya diri.
Namun, belum sempat Kaisar Zane menjawab, tiba-tiba pintu utama aula istana terdorong terbuka dengan keras.
Brakkk
Suara hempasan pintu kayu raksasa itu menggelegar di seluruh ruangan, membuat ratusan tamu undangan terkejut dan langsung memutar tubuh mereka ke arah pintu masuk.
"Siapa yang berani mengacaukan pesta Kaisar?!" teriak salah satu bangsawan emosi.
Di balik pintu yang terbuka lebar itu, berdiri sosok perempuan yang berparas sangat cantik dan anggun dengan gaun malam berwarna biru gelap bertabur permata, tampak berkilau indah seperti langit malam bertabur bintang.
Di sampingnya, Duke Daren dan Duchess Clara berjalan gagah mengawal wanita itu.
Rambut hitamnya terurai indah, kulitnya putih bersih, dan tatapan matanya tajam, sama sekali tidak ada sisa-sisa gadis lemah atau raut wajah orang yang baru tenggelam dari danau.
Seluruh aula mendadak hening dan membeku, begitupun dengan uka Luis dan Elisabeth langsung pucat pasi, seperti baru saja melihat hantu.
Gelas anggur di tangan Luis bahkan terlepas dan jatuh berkeping-keping di atas lantai marmer.
Pyarr
"T-tidak mungkin..." bisik Luis, berkeringat dingin.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛