Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Saat keduanya sudah benar-benar larut dalam gair4h yang menggebu-gebu di bawah temaramnya lampu kamar, atmosfer malam itu terasa begitu panas. Daniel perlahan dan dengan sisa kesabaran yang ia miliki mulai melepaskan satu per satu kancing piyama satin milik Shanum. Namun, tepat di saat pertahanan mereka runtuh sepenuhnya, sebuah ketukan keras dari luar seketika memecah keheningan malam.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan! Nyonya! Maaf mengganggu, ini... Non Ziva... Non Ziva demam lagi, Tuan!" seru Bik Sumi dari balik pintu dengan nada suara yang panik bercampur cemas, terdengar pula suara tangisan rewel Ziva yang melengking kecil.
Seketika itu juga, Daniel dan Shanum langsung melepaskan pagut4n mereka. Bagai tersengat aliran listrik, pandangan keduanya serempak beralih ke arah pintu kamar. Dengan napas yang masih terengah-engah, mereka buru-buru beranjak dari tempat tidur. Daniel dengan cepat merapikan kaosnya yang agak berantakan, sementara Shanum dengan cekatan mengancingkan kembali piyamanya dan merapikan rambut panjangnya yang sudah acak-acakan akibat sentuhan Daniel tadi.
"Ziva... demam lagi, Mas!" ucap Shanum panik, tanpa sadar ia memanggil Daniel dengan sebutan 'Mas' secara refleks dan alamiah karena rasa khawatirnya yang teramat sangat pada sang anak.
Mendengar panggilan itu, gerakan tangan Daniel yang sedang merapikan baju sempat terhenti sejenak. Sebuah senyuman manis dan sangat hangat terukir di bibir sang dokter. Ada rasa bahagia yang menyelinap di dadanya karena akhirnya Shanum memanggilnya 'Mas' secara spontan, bukan lagi panggilan 'Pak' yang terkesan formal dan berjarak.
Namun, menepis rasa salah tingkahnya, Daniel dan Shanum segera bergegas melangkah lebar menuju pintu kamar dan membukanya. Di sana, Bik Sumi sudah berdiri dengan wajah pucat sembari menggendong Baby Ziva yang tubuhnya terasa panas dan terus merengek. Shanum dengan sigap langsung meraih tubuh mungil Ziva ke dalam dekapannya.
Ajaibnya, Ziva yang tadinya terus rewel dan menangis akibat efek samping imunisasi tadi siang, mendadak mulai mereda begitu mencium aroma tubuh Shanum yang menenangkan. Shanum buru-buru membawa Ziva berjalan kembali ke arah ranjang tempat tidur, mendudukkan diri di tepi kasur, lalu bersiap memberikan ASI eksklusif agar putrinya itu bisa lebih tenang.
Melihat sang anak sudah berada di penanganan yang tepat, Daniel menoleh ke arah Bik Sumi yang masih berdiri di ambang pintu. "Ya sudah Bik Sumi, malam ini biar Ziva tidur bersama kami di sini saja. Bibi kembali ke kamar dan istirahat saja dulu, ya."
"Baik, Tuan. Terima kasih, permisi," jawab Bik Sumi sopan yang langsung merasa lega, lalu pamit undur diri.
Setelah Bik Sumi pergi, Daniel perlahan menutup kembali pintu kamar mereka rapat-rapat. Namun, begitu ia membalikkan tubuhnya untuk menghampiri anak dan istrinya, langkah kakinya mendadak terkunci di lantai marmer kamar.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah kontrak, Daniel melihat pemandangan Shanum sedang menyusui Baby Ziva secara langsung. Karena terburu-buru menenangkan bayi yang demam, Shanum tampak sedikit menurunkan bagian atas piyamanya tanpa sempat menutupinya dengan kain apron.
Sepasang mata elang Daniel tanpa sengaja menangkap siluet area dada istrinya. Di bawah siraman lampu kamar yang temaram, warna kulit Shanum yang putih bersih tampak begitu kontras, ditambah dengan bentuk buah dada yang tergolong penuh dan besar yang kini tengah diisap dengan tenang oleh Ziva.
Deg!
Tenggorokan Daniel mendadak terasa kering kerontang. Efek gair4h yang sempat terputus tadi seolah terhantam kembali dengan visual yang begitu intim dan menggoda di depannya. Berusaha menjaga sikap dan menghormati istrinya, Daniel buru-buru mengalihkan pandangan matanya ke arah dinding kamar. Pria tegap itu mendadak salah tingkah, ia berdehem beberapa kali, mengusap tengkuknya yang tidak gatal, dan berpura-pura sibuk merapikan letak bantal di sisi ranjang yang lain.
Shanum sendiri sama sekali tidak menyadari bahwa kegiatannya memberikan ASI malam itu sempat menjadi pusat perhatian penuh dari suaminya. Fokusnya saat ini seratus persen tercurahkan pada dahi Ziva yang mulai berkeringat.
Ia tidak tahu saja, bahwa tepat di sampingnya, tubuh sang dokter es kini sedang dibuat panas dingin bergegas menahan gejolak gair4h dan rasa canggung yang kembali menguji imannya di dalam kamar tersebut.
*
*
Keesokan harinya, saat cahaya mentari pagi mulai menghangatkan kamar, Daniel perlahan membuka kedua matanya. Ia meraba sisi ranjang tempat tidur di sebelahnya, namun kosong. Rasa hangat yang semalam melingkupi dadanya mendadak berubah menjadi pencarian. Daniel mengedarkan pandangan, namun Shanum dan Baby Ziva sudah tidak ada di sana.
Rupanya, subuh tadi setelah Ziva kembali meminum ASI dan kondisinya membaik, Shanum berinisiatif memindahkan putri kecil mereka kembali ke kamarnya sendiri agar Daniel bisa beristirahat lebih nyenyak tanpa terganggu rewelnya bayi yang sedang pemulihan pasca imunisasi.
Daniel beranjak dari kasur, melangkah keluar kamar dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Langkah kakinya tertuju pada kamar Ziva. Saat pintu kayu itu dibuka sedikit, sebuah pemandangan menyejukkan hati langsung menyapa netranya. Di dalam remang fajar, Shanum sedang duduk di sisi ranjang bayi, menepuk-nepuk halus paha Ziva yang mulai terlelap tidur kembali. Guratan keibuan dan ketulusan memancar begitu nyata dari wajah bersahaja istrinya.
Daniel menyunggingkan senyum bahagia yang teramat tulus. Rasa syukur membuncah di dadanya. Tanpa ingin mengganggu momen tenang itu, ia kembali bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap-siap menuju rumah sakit untuk dinas pagi.
Sementara itu, setelah memastikan Ziva benar-benar telah tertidur pulas, Shanum beranjak berdiri. Mengingat kejadian manis dan pengakuan jujur semalam, hati Shanum serasa melambung ke awan. Rasa bahagia yang tak terbendung menyelimuti dirinya. Daniel mencintainya, dan kini ia tidak perlu lagi menyangkal bahwa ia pun memiliki perasaan yang sama besar pada suaminya itu. Dengan binar mata yang cerah, Shanum melangkah ke lantai bawah, berinisiatif untuk membuatkan sarapan spesial dengan tangannya sendiri.
Di dapur, suasana tampak sibuk. Shanum dengan lihai memotong bumbu, bersiap memasak menu nasi goreng spesial kesukaan suaminya. Aroma harum bawang putih dan mentega mulai menguar, memenuhi sudut-sudut ruangan.
Di saat yang sama, Daniel turun ke lantai bawah dengan penampilan yang sudah sangat rapi. Ia mengenakan kemeja formal yang pas di tubuh atletisnya, sementara jas putih dokternya tersampir santai di tangan kanan. Matanya mencari-cari keberadaan sang istri di ruang tengah, namun nihil. Kebetulan, Ningsih salah satu ART di rumah itu lewat di hadapannya sambil membawa sapu.
"Ningsih, di mana Nyonya?" tanya Daniel.
"Oh, Nyonya lagi di dapur, Tuan. Katanya hari ini mau buat sarapan spesial untuk Tuan Daniel," jawab Ningsih sembari tersenyum ramah.
Mendengar hal itu, senyuman manis langsung terukir di wajah tampan Daniel. Rasa lelah akibat jadwal padat dokter seolah menguap begitu saja. Ia buru-buru melangkah ke ruang makan, meletakkan jas dokter dan tas kerjanya di atas salah satu kursi, lalu dengan langkah seringan angin, ia bergegas menghampiri istrinya ke dapur.
Dari arah belakang, Daniel memandangi punggung ramping Shanum yang tengah asyik mengaduk nasi di atas wajan. Dengan langkah perlahan tanpa menimbulkan suara, Daniel mengikis jarak. Dan... hap! Kedua lengan kekar Daniel melingkar sempurna, memeluk tubuh Shanum dengan erat dari arah belakang.
"P... pak Dokter?!" Seru Shanum terkejut setengah mati. Jantungnya berdegup maraton akibat mendapatkan pelukan dadakan yang sangat tidak biasa dari suaminya yang terkenal kaku itu. Tubuhnya seketika menegang dengan spatula yang masih tertahan di udara.
Daniel tidak melepaskan pelukannya, ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Shanum yang tertutup jilbab rumahan, menghirup aroma menenangkan yang menjadi candunya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Pak lagi... tapi Mas," bisik Daniel pelan, suaranya yang berat dan bergetar tepat di dekat telinganya Shanum.
Seketika itu juga, rona merah pekat langsung menjalar di kedua pipinya tanpa bisa ia sembunyikan. Shanum menggigit bibir bawahnya, tersenyum malu atas sikap manis suaminya yang luar biasa manja pagi ini. Demi menetralkan degup jantungnya yang kian liar dan tubuhnya yang mendadak gemetar akibat posisi mereka yang teramat intim, Shanum buru-buru memutar tombol kompor untuk mematikan apinya.
"Terima kasih... karena kamu sudah melakukan semua ini untukku, Num," ucap Daniel tulus, lalu dengan lembut mengecup pipi Shanum yang terasa hangat.
Tepat di saat Daniel masih enggan melepaskan dekapannya, dari arah pintu samping dapur, Ningsih mendadak muncul bersama Mang Asep si tukang kebun rumah. Mang Asep yang baru selesai menyapu halaman berniat meminta dibuatkan segelas kopi hangat oleh Ningsih.
Namun, langkah kaki kedua pekerja rumah tangga itu langsung terhenti seketika. Mata mereka membulat, melongo tak percaya menyaksikan adegan mesra bin intim antara Tuan dan Nyonya mereka yang biasanya selalu terlihat kaku dan dingin bak orang asing.
"Eh... a... anu, Tuan, Nyonya... maaf!" celetuk Ningsih salah tingkah, buru-buru menutup matanya dengan kemoceng yang ia pegang, sementara Mang Asep reflex memutar tubuhnya membelakangi dapur sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Menyadari ada orang lain yang memperhatikan mereka, kesadaran Shanum langsung tersentak. Wajahnya yang sudah merah kini terasa semakin membara karena menahan malu.
"M...mas, lepas... ada orang!" bisik Shanum panik. Dengan sedikit tenaga, ia buru-buru melepaskan lilitan tangan Daniel dari pinggangnya dan mengambil jarak sembari merapikan bajunya yang sama sekali tidak berantakan, mencoba berlagak sibuk memindahkan nasi goreng ke atas piring saji.
Daniel sendiri hanya bisa mendesah pasrah, melirik jengkel sekaligus geli ke arah dua pekerjanya yang telah sukses merusak momen romantis paginya bersama sang istri tercinta.
Bersambung...
tida ada perbedaan kasta
Sekali tepuk 2 ekor lalat mati🤭