Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Peta Kekuasaan di Atas Tanah Garrick
Matahari pagi baru saja terbit, membiaskan cahaya keemasan yang menembus celah-celah jendela kayu di kamar Alana. Alana terbangun bukan karena alarm ponselnya yang bising seperti di kehidupan lampau, melainkan karena kicauan burung dan aroma sup kentang sederhana yang menguar dari arah dapur kecil.
Setelah merapikan tempat tidur seadanya, Alana melangkah keluar kamar dan mengamati sekeliling tempat tinggal barunya. Bangunan ini tidak bisa disebut megah jika dibandingkan dengan standar sebuah keluarga mafia penguasa dunia bawah. Ini hanyalah sebuah paviliun kecil yang terletak di bagian paling belakang kompleks kediaman Garrick, terpisah sangat jauh dari bangunan utama.
Desainnya sederhana, berdinding putih dengan perabotan kayu yang mulai usang di beberapa sudut. Namun, bagi Alana yang di kehidupan sebelumnya terbiasa tinggal di kos-kosan sempit di tengah bisingnya kota, bangunan kecil ini justru terasa sangat nyaman, tenang, dan hangat untuk ditinggali berdua bersama Elena.
Di dapur, Elena sedang mengaduk sup dengan senyum lembut yang dipaksakan, berusaha menyembunyikan sembap di matanya akibat tangisan semalam.
"Pagi, Alana. Makanlah selagi hangat. Ibu hanya bisa membuat sup kentang dan roti panggang hari ini," kata Elena dengan nada bersalah. Sebagai selir terendah, jatah logistik yang dikirimkan oleh pelayan mansion utama untuk mereka berdua memang sangat terbatas dan jauh dari kata mewah.
"Ini sudah lebih dari cukup, Ibu," jawab Alana tulus. Dia duduk dan menyendok sup tersebut dengan tenang. Bagi seorang pekerja keras yang sering melewatkan sarapan demi mengejar kereta pagi, makanan rumahan yang hangat seperti ini adalah sebuah kemewahan emosional.
Ketukan kasar di pintu depan memotong percakapan mereka. Elena dengan gugup bergegas membuka pintu. Dua orang pelayan paruh baya dari mansion utama berdiri di sana dengan wajah masam, menyerahkan sebuah keranjang berisi beberapa potong pakaian pelapis dan bahan makanan tambahan. Mereka tidak menunjukkan rasa hormat sedikit pun pada Elena.
Sambil meletakkan keranjang, kedua pelayan itu mulai berbisik-bisik dengan suara yang sengaja dikeraskan, tahu bahwa Alana berada di ruang tengah.
"Hei, kamu sudah dengar? Tuan Muda Xavier kabarnya akan datang tiga hari lagi dan menginap di mansion ibunya, Nyonya Bianca," bisik pelayan berambut sanggul.
"Benarkah? Si Kupu-Kupu Sosial itu akhirnya pulang setelah berbulan-bulan berpesta di kasino Eropa? Wah, mansion tengah pasti akan sangat berisik hari ini. Nyonya Bianca pasti sudah sibuk menyiapkan penyambutan besar-besaran," sahut pelayan satunya sambil terkikik. "Tapi yah, setidaknya kedatangan Tuan Muda Xavier membuat suasana mansion agak hidup, tidak suram seperti di paviliun belakang ini yang sebentar lagi akan ditinggal penghuninya ke Eropa Selatan."
Kedua pelayan itu melirik ke arah Alana dengan tatapan mengejek sebelum akhirnya berbalik pergi tanpa pamit.
Alana meletakkan sendoknya. Alih-alih marah karena diejek, matanya justru berkilat tajam. Xavier Garrick akan datang hari ini. Informasi yang dibawa oleh gosip para pelayan itu bagaikan angin segar bagi rencana taktisnya. Target pertamanya akan segera berada di dalam jangkauan.
"Alana, jangan dengarkan ucapan mereka..." Elena mendekat dengan wajah cemas, memegang tangan Alana yang terasa dingin.
"Aku tidak apa-apa, Ibu. Aku justru ingin keluar sebentar untuk menghirup udara segar," ujar Alana tenang. Dia meyakinkan Elena dengan senyuman tipis, lalu melangkah keluar dari paviliun kecilnya.
Alana berjalan menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah taman luas kediaman Garrick. Sambil melangkah dengan tangan terlipat di saku gaun sederhananya, Alana memanfaatkan momen ini untuk memetakan wilayah dan menyinkronkan memori asing yang ada di kepalanya.
Kompleks kediaman keluarga Garrick ini sangat luas, dikelilingi oleh tembok beton tinggi berlapis kawat berduri dan dijaga ketat oleh pria-pria berjas hitam dengan senjata tersembunyi. Tata letak bangunan di tanah ini bukan sekadar arsitektur acak, melainkan sebuah manifestasi fisik dari hierarki faksi dan kasta para istri dari sang penguasa tertinggi, Victor Garrick.
Meskipun saat ini suasana mansion dipenuhi intrik perebutan takhta antar-anak, sang singa tua—Victor Garrick—sebenarnya belum mati. Pria kejam dan berwibawa tinggi itu saat ini sedang berada di luar negeri, berkeliling dunia bersama pasukan elitnya untuk menggilas sindikat lawan dan memperbesar wilayah kekuasaan mafia Garrick ke berbagai negara.
Absennya Victor dari mansion inilah yang dimanfaatkan oleh para istrinya untuk saling sikut. Selagi sang suami sibuk memperluas kekaisaran di luar, para istri berlomba-lomba menancapkan kuku kekuasaan anak-anak mereka di dalam rumah. Bagi Victor, pernikahan murni merupakan aliansi bisnis ilegal, dan dia membiarkan anak-anaknya saling bertarung demi melihat siapa yang paling kuat untuk mewarisi takhtanya kelak.
Sambil berjalan, Alana menatap bangunan demi bangunan yang dilewatinya, merangkum peta kekuatan faksi di dalam benaknya:
Pertama, di bagian paling depan dan paling megah, berdiri Mansion Utama. Bangunan bergaya gotik yang sangat besar, kaku, dan memancarkan aura jika siapa pun yang masuk bisa kehilangan nyawa. Ini adalah wilayah kekuasaan Istri Sah, Eleanor Garrick.
Berasal dari keluarga bangsawan tua yang memegang pengaruh politik besar, Eleanor memanfaatkan absennya Victor untuk mengatur urusan domestik dengan tangan besi. Di mansion utama inilah dua anak emasnya tinggal: Dominic Garrick, si sulung yang dingin dan digadang-gadang sebagai calon Bos Besar berikutnya, serta Cedric Garrick, si nomor tiga yang merupakan eksekutor lapangan berdarah dingin dengan kekuatan fisik yang mengerikan. Faksi ini adalah faksi terkuat sekaligus paling sombong karena memegang otoritas hukum keluarga dan kekuatan militer utama.
Berjalan sedikit lebih ke dalam, Alana melewati sebuah Mansion yang lebih kecil namun bergaya modern minimalis yang terletak di sisi barat. Ini adalah kediaman Istri Kedua, Valerie. Wanita keturunan taipan bisnis bawah tanah Asia ini selalu tersenyum tenang namun berhati ular. Faksinya bergerak di balik layar menggunakan otak dan manipulasi informasi. Dua anaknya mencerminkan sifat itu dengan sempurna: Julian Garrick (anak kedua), sang ahli strategi dan konselor licik organisasi, serta Adrian Garrick (anak kelima), si hacker jenius yang mengurusi jaringan intelijen dari lab bawah tanahnya. Faksi ini adalah yang paling berbahaya karena mereka tidak menyerang secara terang-terangan seperti Eleanor, melainkan menunggu momen yang tepat untuk menjatuhkan musuh lewat skenario yang rapi.
Langkah kaki Alana kemudian membawanya ke area tengah kompleks, di mana sebuah Mansion bergaya nyentrik, glamor, dan penuh dengan dekorasi mewah berdiri mencolok. Tempat ini memancarkan aura pesta yang konstan, dengan air mancur marmer berukir indah di halamannya. Ini adalah wilayah Istri Ketiga, Bianca Rossi, putri dari kartel kasino terbesar di Eropa. Bianca adalah wanita dramatis yang egois dan hanya peduli pada kemewahan serta penampilannya sendiri. Dia memiliki anak tunggal: Xavier Garrick (anak keempat). Xavier adalah pria flamboyan yang menguasai seluruh sektor keuangan publik dan bisnis hiburan malam keluarga Garrick. Dia berdiri di tengah-tengah faksi, menjadi penengah yang netral karena uangnya dibutuhkan oleh semua orang untuk mendanai pergerakan mereka.
Dan terakhir, Alana menoleh ke arah belakang, tempat di mana dia baru saja berjalan. Sebuah Paviliun kecil yang terisolasi di dekat hutan pembatas kompleks. Itu adalah tempat tinggal Istri Keempat, Elena, ibu kandungnya. Tanpa nama besar, tanpa latar belakang mafia, Elena hanyalah warga sipil biasa yang tidak sengaja terjerat dalam kehidupan Victor Garrick. Faksi ini tidak memiliki kuasa, tidak memiliki pelindung, dan menjadi kesayangan semua orang untuk ditindas.
'Dan di sinilah aku berada,' pikir Alana, menghentikan langkahnya di perbatasan taman tengah, menatap ke arah gerbang masuk mansion milik faksi ketiga. 'Berada di kasta terendah dalam rantai makanan keluarga mafia.'
Jika dia tetap diam, dalam dua minggu dia akan diseret ke Eropa Selatan dan menjadi mainan politik Eleanor, sementara ayahnya, Victor, tidak akan peduli selama aliansi politik itu menguntungkan bisnisnya. Kabur adalah hal yang mustahil. Menghadapi Eleanor secara langsung sekarang sama saja dengan bunuh diri karena Alana tidak punya kekuatan.
Satu-satunya celah di papan catur ini adalah memanfaatkan keserakahan dan ego para putra mahkota selagi sang ayah berada jauh di luar negeri. Dan hari ini, bidak catur pertamanya, Xavier Garrick, dijadwalkan akan menginjakkan kaki di mansion tengah ini. Pria yang memegang kunci brankas keuangan keluarga, pria yang dikelilingi oleh wanita yang selalu memujanya.
Alana menyunggingkan senyum tipis, hawa dingin merayap di sepasang matanya yang jernih. Jiwa pekerja kerasnya tahu betul bagaimana menghadapi tipe klien yang narsistik dan sombong seperti Xavier. Dia tidak perlu memohon cinta atau perlindungan; dia hanya perlu membuat pria itu penasaran dengan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uangnya—sebuah penolakan dan ketidakpedulian yang mutlak.
Dengan langkah kaki yang tenang dan penuh kepastian, Alana berbalik arah untuk kembali ke paviliunnya, bersiap untuk merancang strategi pertemuan pertamanya yang akan mengubah jalannya sejarah di dalam keluarga Garrick.