Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Sekolah
Ellea yang semula berniat memejamkan mata justru didera gelisah. Rasa lelah akibat perjalanan belasan jam seolah menguap begitu saja, digantikan oleh debar asing yang menuntut jawaban. Kamar ini terlalu sunyi, namun di saat yang sama, terlalu bising oleh jejak-jejak keberadaan seorang laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.
Alih-alih berbaring, Ellea memilih bangkit. Langkah kakinya yang tanpa alas terasa tenggelam di atas karpet bulu yang tebal. Ia berjalan mendekati meja belajar, tempat beberapa bingkai foto tertata rapi di samping komputer.
"Kak Al yang mana?" tanyanya lirih pada kesunyian.
Ada secuil rasa sesak yang menyelip di dada saat menyadari kenyataan itu. Satu-satunya foto Albiru yang pernah diberikan oleh almarhumah neneknya, satu-satunya modal bagi Ellea untuk mengenali sang suami telah hilang entah ke mana saat ia masih berada di pesantren. Setahun mengarungi pernikahan jarak jauh yang absurd ini, Ellea sama sekali buta akan rupa lelaki yang namanya tertulis di buku nikahnya.
Jari-jemari Ellea bergerak ragu, lalu berhenti pada sebuah bingkai perak. Di dalamnya, terekam potret seorang remaja laki-laki yang sedang tertawa dari samping, memegang bola basket dengan peluh yang membasahi kening. Sinar matahari sore menerpa garis rahangnya yang tegas, menciptakan siluet yang begitu memesona.
"Ini pasti Kak Al ..." Ellea berbisik, mengusap permukaan kaca bingkai tersebut dengan ibu jarinya. "Masya Allah, tampannya suamiku."
Senyum tipis terukir di bibir Ellea, namun senyum itu tak bertahan lama. Setahun menikah, tak ada satu pun pesan atau panggilan telepon yang dikirimkan suaminya. Bahkan, Ellea sendiri tidak yakin apakah Albiru tahu bagaimana rupa wajah di balik cadar yang selalu dipakainya. Pernikahan ini bagi Albiru mungkin tak lebih dari sebuah belenggu yang dipaksakan.
"Apa aku pantas mendampingi Kak Al?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, sarat akan keraguan. Rasa tidak percaya diri perlahan merayap. Ellea sadar betul siapa dirinya, seorang gadis pinggiran bentukan pesantren dengan penampilan serba tertutup dan kuno, sangat kontras dengan lingkungan megah tempat Albiru tumbuh.
Keraguan itu kian menebal saat tatapan Ellea terpaku pada sebuah foto berukuran sedang di sudut meja. Foto seorang gadis remaja berambut panjang bergelombang dengan senyum ceria yang bebas, bergelayut manja di lengan Albiru. Mereka tampak begitu serasi, begitu serasi hingga membuat dada Ellea berdenyut nyeri. Ia yakin, gadis di foto itu memiliki hubungan yang sangat spesial di hati suaminya.
“Apakah kehadiranku hanya akan menjadi perusak kebahagiaanmu, Kak?” batinnya pilu.
**
Tak terasa, sang waktu merangkak cepat membawa malam. Di ruang makan yang megah berlampu kristal, makan malam berlangsung dengan hangat, namun terasa pincang. Kursi di sebelah Ellea kosong melompong. Meja makan itu hanya diisi oleh kedua orang tua Albiru, Mahira dan sang ayah, Rendra, serta Alisa yang tak henti-hentinya mengoceh riang mencoba mencairkan suasana.
Ketidakhadiran Albiru malam ini menjadi penegas yang nyata bagi Ellea. Apa yang dikatakan Alisa sore tadi bukanlah isapan jempol belaka. Suaminya memang sengaja melarikan diri ke apartemen sahabatnya hanya untuk menghindari pertemuan mereka.
"Ellea," panggil suara berat namun berwibawa milik Rendra, ayah Albiru, memecah lamunan Ellea. "Besok papa akan mengurus kepindahan sekolahmu. Semua berkas dari pesantren sudah papa terima."
Ellea sedikit tersentak, lalu mengangguk takzim dengan kepala sedikit tertunduk. "Baik, Papa. Terima kasih banyak atas bantuan Papa dan Bunda."
"Ih, Papa! Kak El nanti satu sekolah kan sama Alisa?" tanya Alisa antusias, menghentikan gerakan sendoknya demi menatap sang ayah dengan mata berbinar.
Rendra tersenyum, lalu melirik istrinya sekilas sebelum kembali menatap menantunya. "Iya, tentu. Tapi bukan cuma satu sekolah. Papa sudah bicara dengan kepala sekolah agar Ellea dimasukkan ke kelas yang sama dengan Albiru. Kebetulan mereka satu angkatan, kan?"
“Apa? Satu kelas?!”
Jantung Ellea serasa mencelat mendengar keputusan sang mertua. Pegangannya pada sendok di tangan mendadak melemas. Menjadi murid baru di sekolah umum Jakarta saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup kencang karena membayangkan adaptasi lingkungan yang pasti tidak mudah. Sekarang, ia harus berada di satu ruangan yang sama, setiap hari, dengan suami yang bahkan enggan melihat bayangannya?
"Kenapa, Sayang? Kamu keberatan?" Mahira yang menyadari perubahan ekspresi di sepasang mata teduh menantunya langsung bertanya lembut, menyentuh punggung tangan Ellea dengan penuh kasih.
Ellea buru-buru mengerjapkan mata, mencoba menguasai kegugupan yang mendera. "Eh, m-bukan begitu, Bunda. Ellea hanya sedikit terkejut. Apakah tidak apa-apa jika Ellea satu kelas dengan Kak Al? Ellea takut kehadiran Ellea justru akan mengganggu fokus belajar Kak Al."
Rendra terkekeh pelan, menyeka bibirnya dengan serbet makan sebelum menjawab. "Justru itu tujuan papa, Ellea. Biar anak singa itu ada yang mengawasi. Albiru itu kalau di sekolah sering semaunya sendiri. Kalau ada kamu, papa yakin dia akan jauh lebih sungkan untuk macam-macam."
"Betul banget, Kak!" Alisa menimpali dengan semangat berapi-api. "Biar Kak Al gak bisa tebar pesona lagi ke cewek-cewek centil di sekolah. Pokoknya Kak Ellea tenang saja, Alisa bakal jadi mata-mata pribadi Kakak di sekolah nanti!"
Ellea hanya bisa memaksakan sebuah senyuman di balik cadarnya, walau hatinya kian bergemuruh hebat. Di satu sisi, ia merasa sangat bersyukur karena keluarga ini begitu menerimanya dengan tangan terbuka dan penuh kasih sayang. Namun di sisi lain, bayangan reaksi Albiru besok saat mengetahui bahwa istri rahasianya tiba-tiba muncul di kelas yang sama membuat bulu kuduk Ellea meremang.
“Ya Tuhan, semoga saja Kak Al tidak seperti yang aku pikirkan,” batin Ellea ngeri.
Malam kian larut ketika Ellea kembali ke kamar Albiru. Setelah membersihkan diri dan menunaikan salat Isya, ia duduk di tepi ranjang besar yang terasa terlalu luas untuknya sendiri. Wangi maskulin bercampur mint yang menguar dari seprai abu-abu itu kembali menyapa indra penciumannya, entah mengapa memberikan sedikit rasa tenang di tengah badai kecemasan yang berkecamuk.
Ia mengambil ponsel jadulnya dari dalam tas, menatap layarnya yang sepi. Tidak ada notifikasi apa pun dari suaminya.
“Kak Al, padahal aku sudah berharap bisa mengobrol dengan kamu, kita bisa jadi teman, dan memikirkan masa depan pernikahan kita kedepannya, tapi kenapa aku jadi takut ya? Apa Kak Al, kelak akan menceraikan aku karena Nenek dan Kakek sudah tiada, dan perjodohan itu pun batal? Astaghfirullah, Ellea, kenapa kau berpikir buruk seperti itu.”
Dengan helaan napas panjang, Ellea mematikan lampu kamar, menyisakan lampu tidur temaram di sudut ruangan. Ia merebahkan tubuhnya, menarik selimut tebal hingga sebatas dada. Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap, mencoba merangkai doa-doa terbaik demi mengetuk pintu hati sang suami yang masih terkunci rapat.
"Besok, semuanya akan dimulai, Bismillah ...," bisik Ellea pada kegelapan, perlahan membiarkan rasa kantuk menariknya ke dalam ketidaksadaran, bersiap menghadapi badai yang mungkin saja menantinya di esok hari.