NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

“Selama Mas Deva tidak selingkuh dan melakukan KDRT, aku akan mencoba mempertahankan rumah tangga kami.”

Kartika mengucapkannya pelan sambil tersenyum tipis. Senyumnya kecil sekali, nyaris tidak terlihat. Namun, justru itu yang membuat hati Anggun semakin gemas.

Sahabatnya itu langsung memukul pelan lengan Kartika.

“Ish! Kamu ini memang susah disadarkan!” gerutunya kesal. “Masih aja kasih kesempatan buat Deva.”

Kartika hanya tertawa kecil sambil menyandarkan tubuh di sofa butik.

“Aku serius, loh!” Anggun kembali berkacak pinggang. “Ternyata menghilangkan kebodohan orang bucin itu lebih susah daripada ningkatin penjualan barang waktu lagi sepi pembeli!”

“Yang problematika kan keluarganya. Minusnya Mas Deva, selalu menuruti keinginan keluarganya. Itu saja.” Kartika terkekeh mendengar ocehan sahabatnya. Sudah lama sekali ia tidak tertawa seperti ini.

Meski Kartika merasa hatinya masih berat, setidaknya ada sedikit ruang lega setelah mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini dipendam sendiri.

“Aku bukan mau bodoh terus,” jawab Kartika akhirnya sambil memainkan sedotan minumannya. “Tapi aku mau kasih Mas Deva kesempatan dan berharap dia berubah lebih condong ke keluarga sendiri.”

Anggun mendelik. “Kamu yakin?”

Kartika mengangguk pelan. “Kali ini beda.”

Tatapan Kartika perlahan berubah. Tidak lagi serapuh tadi pagi. Ada sesuatu yang membuat Anggun mulai penasaran.

“Kamu punya rencana?” tanya Anggun sambil menyipitkan mata.

Kartika tersenyum tipis. Lalu, ia mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Anggun.

Beberapa detik kemudian, mata Anggun langsung membulat. Ia pun menahan tawa. “Wah ... gila! Ini baru Kartika yang aku kenal.”

Kartika ikut tersenyum kecil. “Selama ini aku terlalu diam karena tidak ingin ada konflik dalam rumah tanggaku. Namun, sekarang aku harus berani berbuat tega sama Mas Deva, jika ingin menyadarkannya.”

Anggun mengangguk setuju. “Deva memang harus dipukul dulu baru sadar.” Nada suaranya berubah serius. 

“Aku bakal dukung kamu.” Anggun menggenggam tangan Kartika erat. “Tapi dengar aku baik-baik.” Tatapan Anggun tajam dan  Kartika diam mendengarkan.

“Kalau setelah ini Deva masih lebih milih keluarganya dibanding kamu dan anak-anak ... kamu harus ninggalin dia.”

Kalimat itu membuat senyum Kartika perlahan memudar.

“Enggak peduli secinta apa pun kamu sama dia,” lanjut Anggun tegas.

Kartika menunduk sambil mengusap kepala Kaivan yang sedang bermain di dekat kakinya.

“Iya,” jawabnya lirih. “Aku juga tahu mana yang pantas diperjuangkan dan mana yang harus dilepas.”

Kalimat itu terdengar tenang. Namun, hanya Kartika sendiri yang tahu betapa sesaknya dada saat mengucapkannya. Karena sampai detik ini ia masih mencintai Deva.

Menjelang sore, Kartika meninggalkan butik bersama Kaivan. Langit mulai berubah jingga. Jalanan pusat kota mulai ramai oleh kendaraan.

Hati Kartika terasa sedikit lebih ringan dibanding tadi pagi. Mungkin karena akhirnya ada seseorang yang mendengarkan dirinya tanpa menyalahkan.

“Kai,” panggil Kartika sambil memasangkan helm dan jaket untuk putranya. “Kita jemput Kakak dulu, ya. Habis itu kita makan enak.”

Mata Kaivan langsung berbinar. “Horeee! Jemput Kakak!”

Anak kecil itu bertepuk tangan semangat sampai membuat Kartika tersenyum kecil.

Sesampainya di sekolah, Kalingga langsung berlari menghampiri motor sambil membawa tas besarnya.

“Mamaaa!”

Kartika membuka pintu sambil tersenyum hangat. “Capek, Kak?”

Kalingga menggeleng cepat. “Enggak! Hari ini semua pelajaran, Kakak dapat nilai sempurna!”

“Waaah, Kakak hebat!”

Kartika mencium kening putra sulungnya bangga. Hal sederhana seperti itu selalu cukup membuat hatinya hangat.

Setelah itu mereka pergi makan ke restoran keluarga favorit anak-anak. Kaivan sibuk menunjuk menu bergambar ayam goreng.

“Adek mau ini! Cama ec klim!”

Kalingga ikut berseru, “Aku mau ayam kecap”

Kartika terkekeh pelan melihat tingkah kedua anaknya. Untuk beberapa jam ia mencoba melupakan pertengkarannya dengan Deva. Mencoba menikmati waktunya sebagai ibu.

Matahari mulai turun saat mereka pulang. Begitu masuk rumah, Kartika langsung menyuruh Kalingga mandi, sementara dia memandikan Kaivan yang sibuk bermain busa.

Biasanya setelah itu Kartika akan buru-buru masuk dapur. Menyiapkan makan malam. Namun, malam ini tidak. Wanita itu memilih duduk menemani Kalingga belajar di kamar.

“Kalau akar dari sembilan berapa?” tanyanya lembut.

“Tigaaa ...!” jawab Kalingga semangat.

“Pintar.”

Kaivan yang duduk di pangkuannya ikut asal bicara, “Tiga ... empat ... lima!”

Mereka bertiga tertawa bersama. Kartika merasa tenang tanpa harus sibuk memikirkan semua pekerjaan rumah yang tidak pernah ada habisnya.

Sementara itu, Deva pulang kerja dengan tubuh dan pikiran yang sama-sama lelah. Hari itu benar-benar kacau. Ia salah mengirim laporan. Salah menghitung data. Bahkan atasannya sampai memarahinya di depan rekan kerja lain.

“Kalau pikiranmu enggak fokus, mending cuti aja!”

Kalimat itu terus terngiang di kepala Deva sepanjang perjalanan pulang. Ditambah lagi saat pulang kerja jalanan sore itu suka macet, membuat emosinya makin berantakan. 

Deva mengusap wajah kasar saat turun dari mobil, kepalanya pening. Sepanjang perjalanan pulang, kepala Deva terasa berat. Bukan cuma badan, tetapi juga pikirannya.

Biasanya, satu-satunya hal yang membuatnya ingin cepat sampai rumah adalah suasana hangat yang selalu menyambutnya di sana.

Walau rumahnya itu tidak besar, apalagi jauh dari kata mewah. Namun, selalu terasa hangat dan nyaman. Ada aroma masakan dari dapur, Ada suara dan tawa anak-anak, Kartika yang suka jahil kepadanya dan anak-anak agar memperebutkan dirinya.

Hal-hal kecil yang selama ini tidak pernah benar-benar ia sadari keberadaannya. Namun malam ini, entah kenapa perasaan Deva justru terasa aneh. Tidak tenang seperti biasanya. Mata dia langsung tertuju pada pintu rumah yang tertutup rapat.

Kening Deva berkerut pelan. Hal itu dirasa aneh. Biasanya menjelang jam pulangnya, pintu rumah sudah terbuka sedikit. Lalu, sebelum ia sempat turun dari mobil, Kaivan akan lebih dulu berlari kecil keluar sambil tertawa riang.

“Papa pulaaang!”

Kadang Kalingga ikut menyusul dari belakang. Sementara Kartika berdiri di ambang pintu dengan senyum manis yang selalu berhasil membuat hati Deva terasa ringan. Namun, malam ini semua itu tidak ada. 

Langkah kaki Deva gontai, menelusuri halaman rumah yang sunyi. Saat mendekati teras, matanya menangkap sandal kecil milik Kaivan, sepatu sekolah Kalingga, dan sandal rumah Kartika berjajar rapi di depan pintu. Berarti mereka ada di rumah. Lalu kenapa tidak ada yang menyambutnya? Entah kenapa dada Deva mendadak terasa tidak nyaman.

“Kok, sepi banget? Apa mereka semua ketiduran?” gumam Deva pelan.

Pria itu meraih gagang pintu dan membukanya perlahan. Rupanya tidak dikunci. Rumah tampak terang, tetapi sunyi.

“Sayang?” panggil Deva sambil melangkah masuk.

Tidak ada jawaban dari Kartika.

Deva menoleh ke ruang makan, kosong. Tidak ada aroma masakan. Tidak ada Kartika yang biasanya berdiri di depan kompor sedang memasak sesuatu.

“Kakak? Adik? Papa pulang!” 

Tetap tidak ada jawaban dari para penghuni rumah. Kini jantung Deva mulai berdetak sedikit lebih cepat. Pikirannya mendadak dipenuhi hal-hal buruk.

1
Cia Sanu
luar biasa
Sweet Heart
Semoga Tidak Ada Orang Ketiga Yang Hadir Diantara Deva Dan Kartika
Yanrina Savitri
Suami yg mendzolimi istri sendiri dgn cara nengurangi hak istri utk orang lain walaupun saudaranya sendiri , adalah suami dzolim. Nnt dia akan dihisab dihari penghisaban
Ari Sawitri
udah kamu pindah aja ke kota Kartika tp jangan beritahu keluarga kamu Deva. klu mau bantu orang tua bayar cicilan rumah cukup di TF tiap bulan. klu smp Keluarga Deva tau Kartika orang kayak pasti mereka nempel lagi kayak lintah 😅😅😅. dasar jiwa benalu mereka semua 😔
Ari Sawitri
harusnya dr dulu kamu sharing dg temen yg bs kamu percaya yg bs kasih kamu masukkan. bukan setelah anak istri pergi br kamu minta saran 🤔😕🤨 ..
Ika Yanti Unyil
ceritanya keren thor.mengangkat kehidupan rumah tangga sehari hari yang melibatkan perasaan dengan sentuhan berbeda.dan alur yg diambil juga tidak sama dengan kebanyakan cerita.banyak nasihat yang terselip.setiap bab panjang dengan kata kata dan alur yang tidak membosankan.
terimakasih atas bacaannya yg bagus thor
terus semangat berkarya thor 🥰🥰❤️❤️
Nick: mampir kk hehe ke chat story aku dong 🙏🙏
total 2 replies
lili Permatasari
/Rose//Rose//Rose/
Tismar Khadijah
baru nemu cerita keren gini
🌸 Sunshine 🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Lisa sari katriani
Karya yang bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir ya dikarya pertamaku
Judul : janji yang kau ingkari

Terimakasih 🙏
Lisa sari katriani
Semangat thor 💪

Temen2 dukung dan baca juga karya pertamaku
Judul : janji yang kau ingkari

Terimakasih 🙏
Raisha
motor model baru ya kak Santi,kok ada pintunya?🤭😂😂...pakai jaket & helm tp kok bukain pintu pas anaknya kluar dari skolah?🤔🤔
Partini Minok Nur Maesa
sebenarnyA tika baik.aku yakin klo klg deva baik.tanpa diminta pun pst dibantu
Partini Minok Nur Maesa
jual aja rumahnya
Partini Minok Nur Maesa
katanya tika punya saham dipsrusahaan t4 kerja deva tp kok ksejanya dit4 rangga
🌸 Sunshine 🌸: Perusahaan Rangga itu perusahaan keluarga Kartika juga.
Kalau perusahaan tempat Deva kerja, Kartika hanya punya saham di sana.
Beda kota lagi, kedua perusahaan itu.
total 1 replies
Bakulgeblek
hlah, perkara begini saja gk bisa mikir, kok berani2nya nikah...???? oealah va...va...
ngocok ae mas, rasah mbojo sik...🤣🤣🤣
Bakulgeblek
mulia kali dirimu dek...dek...
Bakulgeblek
sudahlah, cerai saja drpd jadi dosa...
Bakulgeblek
aku wong lanang we milu mencak2...
model lanangan aswwww ngunu kui...
Bakulgeblek
kwapokmu kapan....
rasakno... jingux...
4,5???
woiii jatah hepi2 bojoku diluar urusan rumah tangga dan anak wae minim 2jt...
Bakulgeblek
tugase suami....!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!