Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jelasin apa lagi, vin?
Tiga tahun berlalu tanpa bertemu. Sejak hari kelulusan sekolah itu, kotak surat Karin benar-benar kosong. Arvin seolah lenyap ditelan bumi Amerika yang luas. Namun, Karin tidak bisa lagi terus-menerus hidup dalam ketidakpastian. Dengan tabungan yang sudah dia kumpulkan mati-matian dari hasil kerja kerasnya, Karin mengambil tindakan paling nekat dalam hidupnya.
Hanya berbekal petunjuk dari foto-foto lama yang pernah dikirimkan Arvin, Karin meyakinkan dirinya bahwa cowok itu berada di Los Angeles. Dia nekat memesan tiket pesawat terbang ke sana sendirian.
Begitu menginjakkan kaki di bandara, jantung Karin berdebar luar biasa kencang. Ini adalah kali pertama dia pergi ke luar negeri, sendirian, menembus belahan dunia lain demi mengejar seorang pria yang usianya jauh di bawahnya.
Setelah berhasil check-in dan menaruh barang-barangnya di penginapan, perut Karin mulai terasa lapar. Dia memutuskan untuk keluar mencari makan malam di sekitar area tersebut. Langkah kakinya berhenti di depan sebuah restoran yang terlihat cukup mewah dan bernuansa hangat.
Begitu masuk, seorang host restoran berpakaian rapi langsung menyambutnya dengan ramah. "Selamat malam, ada yang bisa dibantu?"
Karin tersenyum tipis, mencoba menutupi kegugupannya dengan bahasa Inggris yang dia bisa. "Saya mau makan malam."
Host tersebut melihat ke arah papan daftar reservasi di mejanya, lalu menatap Karin dengan tatapan tidak enak. "Mohon maaf, Kak. Malam ini restoran kami sedang mengadakan private event. Area utama sudah di-booking penuh."
Karin mengangguk pelan, memaklumi kondisi tersebut. "Oh... baik, tidak apa-apa."
Namun, baru saja Karin hendak berbalik untuk meninggalkan restoran, matanya tanpa sengaja bergulir melewati pembatas kaca menuju area utama private event tersebut. Detik itu juga, seluruh pasokan udara di paru-paru Karin seolah tersedot habis. Tubuhnya membeku kaku di tempat.
Di tengah ruangan yang gemerlap itu, berdiri seorang pria jangkung dengan setelan kemeja yang membuatnya tampak begitu dewasa, matang, dan sangat tampan.
Arvin.
Karin tidak mungkin salah lihat. Itu adalah Arvin yang selama ini dia rindukan setengah mati. Namun, kebahagiaan yang baru saja menyeruak di dada Karin seketika hancur berkeping-keping saat melihat seorang gadis asing berambut pirang berjalan mendekati Arvin, lalu dengan santai mendaratkan sebuah ciuman mesra di pipi cowok itu. Arvin tampak tidak menolak, bahkan tersenyum tipis.
Rasa sesak dan panas menjalar hebat di dada Karin. Air mata yang selama tiga tahun ini dia tahan, mendadak mendesak ingin keluar. Dia merasa sangat bodoh karena sudah nekat datang sejauh ini hanya untuk melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya.
Host restoran yang menyadari perubahan ekspresi Karin dan melihat wanita itu terus menatap tajam ke dalam ruangan menjadi sedikit bingung. "Kak?" panggilnya pelan.
Karin tidak menjawab, matanya mulai berkaca-kaca namun dia sekuat tenaga menahannya.
Dia kembali bertanya dengan sopan, "Maaf, Kak. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Barulah Karin tersadar. Dia mengerjapkan mata, menelan ludah yang terasa begitu pahit. "Ah, tidak apa-apa. Terima kasih," jawab Karin parau. Dia langsung berbalik dan melangkah setengah berlari keluar dari restoran itu, mengabaikan dinginnya angin malam yang menusuk kulitnya.
Sementara itu di dalam ruangan, Arvin yang sedang merayakan ulang tahunnya di restoran tersebut. Melihat ke arah pintu masuk restoran.
Saat itulah, Arvin menangkap seorang wanita berambut hitam yang sangat dia kenali baru saja berbalik dengan tergesa-gesa. Walau hanya melihat dari belakang, jantung Arvin berdegup menggila. Dia tahu persis postur tubuh itu. Itu Karin.
"Arvin, kamu kenapa?" tanya gadis pirang di sebelahnya, hendak menyentuh lengan Arvin lagi.
Tetapi Arvin langsung mendorong pelan namun tegas tangan gadis itu menjauh darinya. Wajah datarnya berubah panik luar biasa.
"Arvin! Kamu mau kemana?!" teriak beberapa orang di meja tersebut saat melihat Arvin tiba-tiba berbalik dan berlari kencang menuju pintu keluar.
Arvin mengabaikan semua panggilan orang-orang malam itu. Pikirannya kosong. Dia terus berlari keluar menembus pintu restoran, matanya liar menyisir trotoar jalanan yang ramai, mencari sosok wanita yang sudah dia cintai hatinya selama ini.
Arvin berlari sekuat tenaga, membelah trotoar yang dingin. Dia tidak boleh kehilangan wanita itu.
Begitu matanya menangkap siluet wanita berambut hitam yang berjalan cepat dengan bahu yang bergetar di depannya, Arvin langsung berteriak.
"Tante! Tante Karin!"
Panggilan yang sudah tiga tahun tidak didengarnya itu seketika membuat Karin menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya kaku, berdiri membeku di tengah trotoar malam tanpa berani menoleh ke belakang.
Arvin mempercepat langkahnya, napasnya memburu tidak beraturan saat berhasil memotong jarak di antara mereka. "Tante, tunggu... Arvin bisa jelasin semuanya."
Mendengar ucapannya, pertahanan Karin runtuh total. Tangis yang sejak tadi dia tahan mati-matian di tenggorokan akhirnya pecah. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, Karin membalikkan tubuhnya kasar menghadap Arvin.
"Jelasin apa, Vin?! Apa lagi yang mau kamu jelasin?!" seru Karin parau, suaranya bergetar hebat menahan luka, rindu, dan rasa kecewa yang campur aduk menjadi satu. "Tiga tahun kamu hilang! Gak kasih tahu alamat, gak kasih nomor kamu, kamu bikin Tante kayak orang bodoh yang nungguin sesuatu yang gak pasti! Dan pas Tante nekat datang ke sini... ini yang Tante lihat?!"
Melihat air mata Karin dan mendengar seluruh luapan rasa sakit wanita itu, hati Arvin rasanya seperti disayat. Tanpa membuang waktu untuk membela diri dengan kata-kata, Arvin langsung maju dan merengkuh tubuh Karin ke dalam pelukannya. Dia mendekap Karin dengan teramat erat, seolah takut jika dia melepasnya sedetik saja, wanita itu akan menguap bersama angin malam.
"Lepas, Vin! Lepasin!" tangis Karin pecah sejadi-jadinya di dalam dekapan Arvin.
Tangan Karin mengepal, dia memukul-mukul dada bidang Arvin berkali-kali. Dia meluapkan seluruh kekesalannya, rasa frustrasinya selama ini, rasa lelahnya mengumpulkan uang, dan rasa cemburunya yang membakar dada saat melihat gadis lain mencium pipi Arvin tadi.
Arvin sama sekali tidak menghindar atau mengeluh sakit. Dia membiarkan dada dan tubuhnya menjadi sasaran amukan Karin, sementara kedua tangannya justru semakin erat mendekap pinggang dan kepala Karin, menyembunyikan wajah wanita itu di ceruk lehernya.
"Maaf, Tan... Maaf. Maaf bikin Tante nunggu lama," bisik Arvin berkali-kali, suaranya ikut serak menahan haru yang luar biasa.
Perlahan-lahan, pukulan Karin di dada Arvin melemah. Kepalan tangannya berubah mencengkeram erat di kemejanya itu. Karin akhirnya menyerah pada perasaannya sendiri, dia membalas pelukan Arvin dengan tingkat keputusasaan yang sama, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria yang kini sudah tumbuh dewasa seutuhnya.
Di bawah pendar lampu jalanan, mereka berpelukan sangat lama sampai isak tangis Karin perlahan mereda, menyisakan napasnya yang masih sesenggukan di dalam dekapan hangat Arvin yang begitu nyaman.