Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
happy reading guys
------------------------------
BAB 24: Detik-Detik Sebelum Badai
Elena Vance mencengkeram pinggiran meja kerja dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, sesak oleh hantaman trauma masa lalu yang mendadak menyerang otaknya secara brutal. Matanya terpaku pada robekan gaun sutra putih gading yang hancur berkeping-keping di atas lantai, serta coretan cairan merah kental di dinding yang menyebut nama aslinya: Adeline Wijaya.
Duar!
Suara musik pembuka pameran dari pengeras suara di luar ruangan terdengar menggelegar, bergetar menembus dinding laboratorium desainnya. Waktu berjalan mundur. Kurang dari sepuluh menit lagi, Nicholas Syailendra akan memanggil namanya untuk naik ke atas panggung utama di hadapan ratusan wartawan internasional.
"Nyonya Muda, Anda sudah ditunggu di—"
Kalimat Yan mendadak terputus di ambang pintu. Asisten pribadi Nicholas itu membelalakkan matanya samar karena terkejut melihat kekacauan di dalam ruangan. Senter saku ultraviolet yang ia pegang hampir terjatuh.
"Yan, hubungi Nicholas sekarang," suara Elena terdengar sangat rendah, bergetar menahan amarah yang membakar dada. Ia menegakkan kepalanya, memaksa kilat ketegasan baja kembali mengunci sepasang mata indahnya. "Katakan padanya, ular-ular di rumah ini baru saja menggeliat memotong jalanku."
Namun, belum sempat Yan merogoh gawai pintarnya, sebuah deru langkah kaki yang tegap dan tergesa-gesa sudah lebih dulu bergaung keras dari arah koridor luar.
Brak!
Pintu laboratorium didorong terbuka dengan kekuatan penuh. Nicholas Syailendra melangkah masuk dengan rahang yang mengeras bagai batu karang. Setelan tuksedo hitam potongan desainer Italia miliknya memancarkan aura kegelapan tirani yang sangat pekat. Nicholas yang merasa ada kejanggalan karena Elena tak kunjung keluar, sengaja meninggalkan barisan kursi VIP dewan direksi demi menyusul istrinya.
Detik berikutnya, sepasang mata elang Nicholas langsung terkunci pada tulisan merah di dinding dan gaun berlian hitam yang telah robek menjadi serpihan sampah. Gelojak amarah yang luar biasa besar seketika meledak di dalam dada sang penguasa kota. Aura membunuhnya menguar hebat, sanggup membekukan atmosfer seluruh ruangan dalam sekejap.
"Siapa yang berani melakukan ini?" desis Nicholas rendah, suaranya sedingin es kutub utara namun sarat akan ancaman mutlak laksana malaikat pencabut nyawa yang siap mengeksekusi mangsanya.
Nicholas melangkah cepat, langsung merangkul pinggang ramping Elena dengan lengan kekarnya, menarik tubuh wanita itu begitu posesif ke dalam dekapan dadanya yang hangat dan kokoh. Tangan besarnya menangkup dagu Elena, memeriksa setiap inci dari wajah istrinya dengan kegilaan khawatir yang sangat masif. "Kamu terluka, Elena? Katakan padaku, bajingan mana yang menyentuh ruangan ini?!"
"Aku tidak apa-apa, Nicholas. Fisikku aman," Elena mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata elang milik suaminya. Sebuah senyuman miring yang begitu kejam terukir di bibirnya. "Sarah Syailendra dan Clarissa Utama... mereka sengaja menghancurkan mahakarya 'Black Diamond Dynasty' ini agar aku tidak bisa naik ke panggung. Mereka ingin mempermalukan kita di depan seluruh dewan komisaris."
Nicholas menyipitkan matanya dingin, kilat gairah kepemilikan mutlak di matanya semakin menggelap. Pria itu menoleh ke arah Yan yang berdiri takzim di belakang mereka.
"Yan, hubungi butik Vance Haute Couture pusat Jakarta. Perintahkan manajer utama mereka untuk mengosongkan seluruh toko dalam waktu lima menit," suara berat Nicholas berdesis kejam tanpa bantahan. "Bawa gaun malam The Midnight Empress bersiluet emas hitam ke gedung ini sekarang juga menggunakan helikopter pribadi Syailendra Group. Aku beri waktu tujuh menit. Jika terlambat satu detik, aku pastikan butik itu ditutup secara paksa besok pagi."
"Baik, Tuan Besar!" Yan membungkuk hormat dengan peluh yang bercucuran deras di dahinya, lalu langsung berlari cepat menembus koridor menuju landasan helipad atap gedung.
Nicholas kembali menatap Elena, mengelus lembut sela-sela helai rambut panjang istrinya yang wangi bunga mawar. "Mereka pikir dengan merobek kain ini, mereka bisa menghentikan langkahmu, Elena? Aku akan membuat mereka menyaksikanmu bersinar lebih terang menggunakan mahakarya yang jauh lebih mahal dari apa yang bisa dibeli oleh sisa saham Utama Group."
Elena tersenyum miring—sebuah senyuman dingin yang terlihat sangat serasi dengan ekspresi wajah Nicholas. "Terima kasih, suamiku. Tapi kamu harus tahu satu hal lagi... gaun ini bukan satu-satunya jebakan mereka. Setengah jam lalu, perawat medis mengambil sampel darahku untuk draf asuransi kesehatan tahunan. Sarah menyuap orang laboratorium untuk menukar draf data analisisku."
Nicholas tertegun sejenak, rahangnya semakin mengeras. "Sampel darah? Apa yang ingin mereka cari dari darahmu?"
"Golongan darah langka Adeline Wijaya lima tahun lalu di Prancis adalah Rh-Negative," bisik Elena kejam, tatapan matanya mengunci manik mata Nicholas dengan penuh intrik berbahaya. "Sarah ingin mencocokkan hasil tes laboratorium asuransi itu di atas layar proyektor pameran nanti untuk membongkar identitas asliku secara telanjang di depan media internasional."
Krek.
Nicholas mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih, mengeluarkan bunyi retakan halus yang mengerikan. "Ular-ular tua itu... mereka benar-benar bosan hidup dengan mencoba menguliti areaku."
Nicholas merogoh gawai pintar khusus miliknya, menekan nomor enkripsi internal pusat IT komputer pameran. "Bobi, ini Nicholas. Detik ini juga, lakukan enkripsi tingkat tinggi (firewall bypass) pada seluruh draf hasil analisis laboratorium medis dewan direksi yang masuk ke sistem proyektor utama pameran. Jangan ubah data golongan darah Elena. Biarkan hasil Rh-Negative itu tetap muncul di layar."
Elena mengernyitkan dahinya, terkejut mendengar instruksi Nicholas. "Nicholas? Apa maksudmu? Jika data itu muncul, identitas Adeline akan langsung terbukti di depan publik!"
Nicholas menyunggingkan sebuah senyuman miring penuh pesona kemenangan yang terlihat sangat seksi namun penuh dengan tirani kejam yang mutlak. Pria itu merapatkan tubuh tegapnya, mempererat dekapannya di pinggang Elena hingga dada mereka menyatu tanpa celah di bawah temaram lampu ruangan.
"Biarkan ular itu berpikir mereka telah berhasil memegang kartu matamu, Elena," bisik Nicholas lirih tepat di depan bibir Elena, tatapan matanya memancarkan kegilaan kepemilikan yang teramat sangat. "Mereka tidak tahu... bahwa satu minggu yang lalu, aku sudah diam-diam memasukkan draf rekam medis baru ke dalam database kementerian kesehatan Prancis. Di dalam dokumen hukum internasional yang baru itu, Elena Vance yang asli juga dinyatakan memiliki golongan darah langka Rh-Negative akibat garis keturunan ibunya. Begitu data itu meledak di panggung, senjata mereka justru akan berbalik memotong leher mereka sendiri atas tuduhan fitnah pencemaran nama baik Nyonya Muda Syailendra."
Elena Vance tertegun mematung di dalam pelukan suaminya. Kecerdasan taktik kontra-intelijen Nicholas yang begitu rapi dan tanpa celah seketika mengirimkan getaran debaran asmara asli yang berdesir hebat di dalam dadanya. Pria ini selalu selangkah lebih maju dalam membangun benteng pertahanan untuk melindunginya.
Wusss...
Suara deru baling-baling helikopter pribadi Syailendra Group terdengar mendarat tajam di atas landasan atap gedung, memecah kesunyian malam di lantai lima puluh. Hanya dalam hitungan menit, dua staf butik berlari masuk membawa sebuah kotak beludru hitam raksasa berisi gaun The Midnight Empress yang berkilau emas mewah.
Tepat pada pukul sepuluh malam, musik intro utama pameran berhenti. Aula besar sudah dipenuhi oleh ratusan tamu undangan konglomerat, dewan direksi, dan puluhan wartawan media internasional yang menanti dengan tidak sabar.
Lampu sorot utama panggung (spotlight) mendadak meredup, lalu beralih menyala terang benderang mengarah tepat ke arah pintu masuk utama panggung pameran.
Nicholas Syailendra melangkah keluar terlebih dahulu dengan ketukan sepatu pantofelnya yang bergaung penuh wibawa tirani penguasa. Di sampingnya, Elena Vance melangkah anggun dalam balutan gaun malam emas hitam yang memancarkan kilau kemewahan yang tak tertandingi, membuat seluruh ruangan seketika menahan napas karena takjub.
Di barisan kursi depan, Sarah Syailendra dan Clarissa Utama tersenyum miring penuh kepuasan licik sembari menatap ke arah layar proyektor raksasa di belakang panggung yang saat ini mulai memunculkan draf loading data analisis medis digital.
Klik.
Nicholas menekan tombol remote proyektor utama di atas podium. Layar proyektor raksasa itu berkedip seketika, menampilkan draf laporan kesehatan resmi milik Elena Vance. Garis baris demi baris data bergeser cepat hingga akhirnya berhenti tepat pada baris kolom paling bawah yang berukuran besar.
‘Hasil Analisis Medis Komisaris: Elena Vance – Golongan Darah: Rh-Negative (Langka).’
Detik itu juga, Sarah Syailendra langsung melompat berdiri dari kursi VIP-nya, menunjuk wajah Elena di atas panggung dengan lengkingan suara yang memutus kesunyian aula. "Lihat itu semua orang! Lihat layar itu! Hasil tes darah membuktikan kalau wanita di atas panggung itu adalah penipu! Dia adalah Adeline Wijaya, jalang murahan yang memalsukan identitas Prancis—"
Namun, sebelum Sarah sempat menyelesaikan kalimat makian histerisnya, baris kalimat pemberitahuan sistem di bawah draf layar proyektor mendadak berubah warna menjadi merah berkedip, memunculkan sebuah draf dokumen pembanding internasional resmi berstempel hukum Prancis yang baru saja terenkripsi masuk ke dalam sistem. Babak baru dari kepunahan total sisa-sisa harga diri keluarga besar Syailendra kini telah resmi meledak di atas panggung, mengunci seluruh tatapan mata tamu undangan dalam sebuah kejutan maut yang mengerikan.
------------------------------