NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Kepanikan hebat melanda dada Arka. Tanpa berpikir panjang, ia segera menyisipkan kedua lengannya di bawah tubuh lemas Sari, lalu membopong tubuh wanita itu dengan sigap.

Tubuh Sari terasa begitu ringan, namun terasa sangat panas menyengat akibat demam tinggi yang mendadak menyerang.

Melihat kegaduhan di barisan tengah, kondektur bus yang baru saja hendak melangkah turun langsung urung dan berlari mendekat.

"Astaga, Mas! Kenapa dengan mbaknya?" tanya kondektur itu ikut panik.

"Pingsan, Pak! Badannya panas sekali," sahut Arka dengan suara bergetar menahan takut.

"Pak, tolong panggilkan taksi di depan pom bensin sekarang! Dan tolong bawakan koper Mbak Sari di bagasi bawah. Saya turun di sini saja, Pak, tidak lanjut ke Jogja."

"Oh, iya, iya, Mas! Sebentar!"

Kondektur itu bergerak cepat. Ia setengah berlari turun dari bus untuk mencegat taksi yang kebetulan sedang melintas di depan pom bensin, sementara beberapa penumpang lain dan sopir bus menatap Arka dengan pandangan penuh rasa khawatir.

"Hati-hati, Mas. Jaga istrinya baik-baik, langsung bawa ke IGD," ucap sopir bus yang ikut merasa iba melihat wajah panik Arka yang nyaris menangis.

"Iya, Pak. Terima kasih banyak. Maaf merepotkan," jawab Arka tulus sambil melangkah hati-hati menuruni tangga bus dengan tetap mendekap erat tubuh Sari yang tak sadarkan diri.

Tak berselang lama, sebuah taksi sedan berhenti tepat di area depan pom bensin dengan lampu hazard yang berkedip.

Kondektur bus yang cekatan langsung membukakan pintu penumpang bagian belakang, sementara sopir taksi membantu memasukkan koper Sari ke dalam bagasi.

Arka perlahan memasukkan tubuh Sari ke dalam kabin taksi, menyandarkan kepala wanita itu di pangkuannya, lalu ia sendiri ikut masuk dan menutup pintu dengan rapat.

"Pak, tolong cari rumah sakit atau rumah sakit umum daerah terdekat dari sini! Sekarang, Pak, tolong cepat!" perintah Arka kepada sopir taksi, suaranya terdengar sangat mendesak dan parau.

"Baik, Mas. Tenang, Mas, sekitar sepuluh menit dari sini ada rumah sakit dengan IGD dua puluh empat jam. Kita langsung ke sana," jawab sopir taksi yang langsung menginjak pedal gas, membawa armada roda empat itu melesat membelah jalanan malam yang sepi dan dingin.

Di dalam taksi yang melaju kencang, Arka mendekap kepala Sari, sebelah tangannya yang gemetar mengusap kening wanita itu yang dibanjiri keringat dingin. Air mata penyesalan Arka akhirnya luruh, menetes di atas pipi pucat Sari.

"Mbak, tolong bertahan, Mbak, tolong jangan kenapa-kenapa," bisik Arka lirih, merutuki setiap detik kebodohannya yang telah membiarkan wanita setulus Sari menanggung derita sedalam ini sendirian.

Taksi berhenti mendadak dengan suara derit ban yang memekik di depan lobi IGD sebuah rumah sakit daerah.

Arka langsung membuka pintu mobil dan berteriak panik, memecah kesunyian malam rumah sakit.

"Suster! Dokter! Tolong, Suster! Ada pasien pingsan!" teriak Arka parau.

Dua orang perawat dengan cekatan berlari keluar membawa brankar.

Tubuh Sari yang lunglai langsung dipindahkan ke atas ranjang dorong tersebut dan dilarikan dengan cepat ke dalam ruang penanganan darurat.

Arka mencoba ikut masuk, namun salah satu perawat menahannya di ambang pintu.

"Maaf, Pak, Bapak tunggu di luar saja. Tim medis akan melakukan tindakan penyelamatan."

Pintu kaca IGD tertutup rapat, dan lampu merah bertuliskan 'Tindakan' di atasnya seketika menyala. Arka terpaksa mundur dengan langkah goyah.

Ia berdiri di koridor yang dingin, mondar-mandir tak keruan dengan pakaian hoodie-nya yang kini basah oleh keringat dingin, bercampur bercak noda hijau daun suji dari lapak pasar yang belum sempat ia bersihkan.

Setiap detiknya terasa seperti siksaan yang memperpanjang rasa bersalahnya.

Tak berselang lama, seorang petugas administrasi berkacamata menengok dari balik kaca loket.

"Keluarga dari Ibu Sari Maheswara?" panggilnya.

Arka tersentak, lalu maju dengan tangan yang masih gemetar hebat.

"Iya, Suster. Saya, keluarganya."

"Bisa dibantu untuk kartu identitas pasien? KTP atau kartu jaminan asuransinya untuk keperluan registrasi rawat inap dan tindakan darurat," pinta petugas itu dengan nada datar.

Arka terpaku. Pertanyaan sederhana itu menghantamnya seperti godam.

Ia meraba kantongnya, lalu menggeleng kaku. Ia sama sekali tidak membawa dompet Sari, bahkan ia tidak tahu di mana Sari menyimpan tanda pengenalnya.

"Saya, tidak membawanya, Sus," ucap Arka lirih, merasa menjadi pria paling tidak berguna malam itu.

Petugas itu menghela napas, mengetik sesuatu di komputer.

"Kalau begitu, sesuai prosedur rumah sakit, untuk pasien umum tanpa identitas dan asuransi yang membutuhkan tindakan darurat serta persiapan kamar rawat inap, harus membayar uang jaminan awal sebesar lima juta rupiah di kasir sekarang."

Arka tertegun. Jari-jarinya yang kasar merosot ke dalam kantong jaket, menyentuh amplop tebal titipan Sari yang diantarkan oleh Nanda sore tadi. Dengan hati yang terasa remuk, Arka mengeluarkan amplop tersebut di depan meja kasir.

Saat ia membuka amplop dan menghitung lembaran uang ratusan ribu itu satu per satu di bawah temaram lampu loket, dada Arka terasa sangat sesak hingga sulit bernapas.

Uang yang kini ia gunakan untuk menyelamatkan nyawa Sari, uang yang membayar biaya rumah sakit ini, justru adalah uang dari wanita itu sendiri.

Uang yang dikirimkan Sari sebagai bentuk pertanggungjawaban terakhirnya, bahkan setelah Arka mengusirnya dengan keji.

Ada rasa terhina, malu, dan bersalah yang amat besar bergejolak di dalam dada Arka sebagai seorang pria.

Ia yang selama ini merasa paling bekerja keras, kini justru harus bertekuk lutut di atas kebaikan wanita yang telah ia hancurkan hatinya.

Arka meremas sisa amplop di tangannya, menatap pintu IGD yang masih tertutup rapat dengan mata yang berkaca-kaca, merutuki harga dirinya yang kini runtuh tak bersisa.

Pintu kaca ruang IGD yang semula tertutup rapat tiba-tiba bergeser terbuka.

Seorang dokter pria paruh baya melangkah keluar dengan raut wajah yang tampak sangat serius.

Ia melepas masker medisnya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling koridor yang sepi sebelum akhirnya menatap Arka yang berdiri gemetar di dekat loket administrasi.

"Keluarga dari pasien Sari Maheswara?" tanya dokter itu dengan suara berat.

Arka langsung bergegas maju, nyaris tersandung kakinya sendiri.

"Saya, Dok! Saya penanggung jawabnya. Bagaimana kondisi Mbak Sari, Dok?" Suara Arka terdengar sangat parau, dipenuhi rasa cemas yang tak terbendung.

Dokter itu menghela napas pendek, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

"Pasien mengalami demam tinggi atau hipertermia akut. Suhu tubuhnya saat tiba di sini hampir mencapai 40' yang memicu penurunan kesadaran atau delirium."

Arka mematung, wajahnya seketika pucat pasi mendengar angka yang begitu tinggi.

"Dari hasil pemeriksaan fisik dan tes darah cepat, pasien positif terkena gejala Tipes atau Demam Tifoid stadium lanjut," lanjut dokter itu, menatap Arka dengan pandangan sedikit menegur.

"Kondisinya diperparah oleh dehidrasi berat dan kelelahan yang sangat ekstrem. Tubuhnya benar-benar diforsir melebihi batas kemampuan fisiknya. Kenapa bisa sampai terlambat dibawa ke rumah sakit seperti ini?"

Pertanyaan dokter itu bagai belati yang langsung menghujam tepat ke ulu hati Arka.

Rasa bersalahnya kini kian menggunung hingga membuatnya nyaris tak sanggup menatap mata sang dokter.

Arka teringat bagaimana Sari menahan ringisannya semalaman suntuk di dapur kontrakan demi membuat adonan kue.

Ia teringat kulit tangan Sari yang melepuh tertetes air daun suji, dan bagaimana wanita itu berdiri berjam-jam di pasar subuh yang dingin tanpa mengeluh sedikit pun, sementara bakteri pembawa penyakit sudah menggerogoti tubuhnya dari dalam.

"Untuk saat ini, kami sudah memasang infus dosis tinggi dan memberikan obat penurun panas serta antibiotik melalui cairan intravena," jelas dokter lagi, berusaha menenangkan Arka.

"Namun, karena kondisinya yang cukup kritis, pasien harus segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif untuk observasi ketat. Kita harus memastikan demamnya turun agar tidak memicu komplikasi yang lebih berbahaya pada organ dalamnya."

Arka hanya bisa mengangguk kaku, tenggorokannya terlalu tercekat bahkan hanya untuk mengucapkan kata terima kasih.

Setelah dokter kembali masuk ke dalam ruangan, Arka menyandarkan tubuhnya yang lemas ke dinding koridor rumah sakit, merosot perlahan hingga terduduk di lantai yang dingin.

Penyesalan itu kini benar-benar telah mengunci seluruh raganya.

Pintu ruang perawatan intensif akhirnya terbuka untuk Arka setelah kondisi Sari dinyatakan agak stabil.

Langkah kaki Arka terasa sangat berat saat melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya didominasi oleh bunyi ritmis dari alat penantau detak jantung.

Di atas ranjang, Sari terbaring lemah. Selang infus terpasang di punggung tangannya yang pucat, dan sebuah kanula oksigen menghiasi hidungnya, membantu wanita itu bernapas.

Arka menarik sebuah kursi kayu, lalu duduk tepat di samping ranjang.

Ia memandangi wajah Sari yang tampak begitu tirus dan tanpa daya.

Kata-kata dokter beberapa saat lalu di koridor kembali terngiang-ngiang di kepalanya, menghantam kesadaran Arka dengan sangat telak.

"Pasien tampaknya tidak mengonsumsi makanan apa pun selama lebih dari 24 jam. Lambungnya kosong melompong, yang membuat daya tahan tubuhnya ambruk seketika saat diserang bakteri."

Mengingat hal itu, memori Arka langsung berputar kembali pada kejadian kemarin malam di dapur kontrakan.

Ia teringat dengan sangat jelas bagaimana mereka berdebat hebat.

Saat itu, ia membawakan sebungkus ayam bakar dan meminta Sari untuk makan, namun Sari menolaknya karena suasana hati yang keruh akibat kehadiran Niken. Dan dengan ego seorang pria yang kekanak-kanakan, Arka justru menggertak dengan nada tinggi: "Kalau Mbak Sari tidak mau makan, aku juga tidak akan makan!"

Arka mencengkeram rambutnya sendiri dengan tangan kiri.

Dadanya bergemuruh oleh rasa sesal yang luar biasa.

Pria itu baru menyadari satu kenyataan yang teramat pahit: Sari benar-benar menepati kata-katanya.

Wanita kota yang manja itu rela menahan lapar lebih dari seharian penuh, mengabaikan perutnya yang mual, hanya demi fokus menyelesaikan bungkusan kue subuh milik Arka agar tidak sia-sia.

Sementara itu, ia justru membalas pengorbanan suci itu dengan sebuah bentakan kasar dan usiran keji di depan umum pagi tadi.

Dengan sangat hati-hati, seolah takut akan memecahkan pualam yang rapuh, Arka mengulurkan tangannya.

Ia menggenggam ujung jemari Sari yang bebas dari jarum infus—jemari yang kulitnya masih tampak kasar dan melepuh akibat terkena air panas daun suji semalam.

Air mata Arka yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh.

Ia menangis tanpa suara di dalam keheningan kamar rumah sakit itu.

Bahunya terguncang hebat, menumpahkan seluruh beban penyesalan yang teramat sangat ke atas seprai putih yang dingin.

"Maafkan aku, Mbak. Maafkan kebodohanku..." bisik Arka parau di sela tangisnya.

Arka mempererat genggaman tangannya. Di bawah temaram lampu ruang rawat, pria itu menanamkan sebuah janji suci di dalam hatinya.

Ia tidak akan pergi sejengkal pun dari sisi ranjang ini. Ia akan terus berjaga di sini sampai kedua mata indah Sari kembali terbuka dan menatapnya, entah tatapan itu berupa amarah atau kebencian.

Arka juga tahu, apa yang dilakukannya malam ini pasti akan memicu konsekuensi yang luar biasa besar.

Menghilangnya Sari dari bus malam menuju Yogyakarta pasti akan segera terendus oleh pihak keluarga besar Maheswara. Namun, Arka sudah membulatkan tekadnya.

Ia bersiap menghadapi badai apa pun yang akan datang—termasuk jika harus menerima kemarahan atau tuntutan hukum dari keluarga konglomerat itu, asalkan ia diberikan kesempatan untuk menebus seluruh kesalahannya pada Sari.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!