Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ramalan Sang Penyihir
Rupa yang tak bercela...
Seorang gadis dari bangsa manusia yang dipenuhi dengan berkat.
Pembawa damai... sekaligus pembawa perang.
Dua jiwa kelam. Dua jiwa yang terkutuk.
Pada akhirnya...
Akan bertekuk lutut.
Arthur kembali mengingat setiap kalimat yang pernah diucapkan oleh penyihir hitam tua bernama Marci. Tak satu pun kata-kata itu memudar dari ingatannya. Seolah-olah suara serak penyihir itu masih bergema di telinganya hingga malam ini.
Entah mengapa, saat seluruh klan Dark Moon berkumpul beberapa tahun lalu, Marci tiba-tiba mengucapkan ramalan aneh. Saat itu Markus Gilbert beserta seluruh keluarganya hadir. Begitu pula Ethan Gilbert.
Hari yang seharusnya menjadi penuh perayaan, karena Klan Dark Moon baru saja memenangkan peperangan besar melawan klan Shadow. Aula kastil dipenuhi gelak tawa, denting gelas, serta sorak kemenangan. Namun di tengah suasana meriah itu, Marci berdiri dari kursinya. Sorot matanya kosong menatap langit-langit aula, lalu bibir tuanya mengucapkan rangkaian kalimat yang membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
Tak seorang pun berani menyelanya.
Para vampir percaya bahwa ucapan seorang penyihir tua seperti Marci bukanlah omong kosong, melainkan sebuah ramalan. Meski begitu, setelah beberapa hari berlalu, sebagian besar vampir mulai melupakannya. Para tetua menganggapnya tidak lebih dari teka-teki yang belum tentu menjadi kenyataan. Arthur pun termasuk salah satunya.
Namun sekarang, dia mulai menyadari bahwa satu demi satu isi ramalan itu benar-benar terjadi.
Semuanya dimulai ketika rahasia besar tentang dirinya terbongkar. Di dalam tubuh Arthur ternyata bersemayam kekuatan hitam, kekuatan iblis. Sejak saat itu, gelar calon pangeran dicabut darinya dan diberikan kepada adiknya, Alex. Menurut para tetua, siapa pun yang memiliki kekuatan kegelapan berarti jiwanya telah dikutuk.
Belum selesai sampai di sana. Ratu Clara dibunuh secara mengenaskan. Kemudian muncul kabar yang jauh lebih menggemparkan. Markus Gilbert ternyata bersekutu dengan para iblis. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Lucifer memilih Ethan Gilbert sebagai penerus sekaligus perwakilannya.
Arthur memejamkan mata. Dadanya terasa semakin sesak. Tanpa ia sadari, dirinya sendiri telah menjadi bagian dari ramalan itu. Bukankah kini, dia telah benar-benar bertekuk lutut pada gadis yang diberkati, yaitu Sonja. Gadis manusia yang perlahan mengubah seluruh hidupnya.
Arthur mengembuskan napas panjang."Dua jiwa yang terkutuk..." Ia mengulang kalimat itu lirih. Tak sulit menebak siapa yang dimaksud.
Dirinya, dan tentu saja Ethan Gilbert.
Kalau ramalan itu memang benar, maka cepat atau lambat mereka pasti akan saling berhadapan. Arthur mengepalkan tangannya. Ethan bukan lawan yang bisa diremehkan. Bahkan mungkin lebih berbahaya daripada dirinya sendiri.
Sampai detik ini Arthur masih belum mampu mengendalikan kekuatan iblis yang berada di dalam tubuhnya. Sebaliknya, Ethan telah menerima seluruh kekuatan yang diberikan Lucifer. Hanya saja, pria itu tidak pernah menggunakannya. Ethan justru membenci Markus Gilbert karena telah menyeretnya ke dalam kutukan itu.
Arthur mendengus pelan. Para tetua benar-benar sekumpulan vampir munafik. Dulu mereka mengasingkan Arthur karena memiliki kekuatan hitam. Kini mereka justru mengangkat Markus, seorang pengkhianat yang terang-terangan bersekutu dengan iblis, menjadi pemimpin baru klan Dark Moon.
Sungguh menggelikan.
Meski begitu, Arthur sama sekali tidak peduli pada jabatan. Dia tidak pernah menginginkan takhta. Ada sesuatu yang jauh lebih mengusik pikirannya. Bagaimana jika suatu hari nanti Ethan bertemu dengan Sonja?
Jantung Arthur seolah berhenti berdetak sesaat. Bagaimana jika, Ethan juga bertekuk lutut pada gadis itu? Seperti yang dikatakan ramalan. Kalau itu benar terjadi, Arthur bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukannya.
"Arthur..."
Lamunannya buyar ketika terdengar suara lirih dari ranjang. Sonja menggeliat pelan sebelum membuka matanya yang masih dipenuhi kantuk.
Arthur segera menoleh."Kenapa kau bangun? Ini masih tengah malam. Tidurlah lagi."
Sonja mengusap kedua matanya."Haus." Suara gadis itu terdengar begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.
"Tetap di sana." Arthur bangkit dari kursi yang sejak tadi didudukinya. Di atas meja memang sudah tersedia kendi kecil berisi air dan sebuah gelas. Ia menuangkan air dengan tenang, lalu kembali menghampiri Sonja.
Sonja hendak mengambil gelas itu, tetapi tangannya justru berhenti di udara, dia menatap wajah Arthur beberapa saat. Tatapan itu membuat Arthur merasa tidak nyaman.
"Apa?" tanyanya datar.
"Kau sedang memikirkan sesuatu."
Arthur menghela napas pelan. Kemudian menggeleng.
"Bohong." Tebak Sonja."Alismu berkerut sejak tadi. Wajahmu juga lebih dingin dari biasanya."
Arthur sedikit terdiam.
Gadis ini, entah bagaimana selalu bisa membaca perubahan sekecil apa pun pada dirinya.
"Gadis kecil, yang sok tau." Sembari tetap menyodorkan gelas itu."Minum."
Sonja akhirnya menurut.
Air di dalam gelas itu langsung tandas dalam beberapa tegukan. Arthur sampai mengangkat sebelah alisnya."Sepertinya kau benar-benar kehausan."
Sonja tersenyum malu.
"Mau lagi?"
Sonja menggeleng."Cukup."
Arthur mengambil kembali gelas kosong itu, lalu meletakkannya di atas meja."Sekarang tidurlah lagi."
Dengan patuh Sonja kembali merebahkan tubuhnya. Namun matanya masih terbuka menatap Arthur yang tetap duduk di samping ranjang.
"Arthur..."
"Hm?"
"Benar tidak ada sesuatu yang buruk terjadi?"
"Tidak ada."
"Kau bohong."
Arthur menoleh perlahan."Sejak kapan kau bisa tahu kalau aku sedang berbohong?"
Sonja tersenyum tipis."Aku hanya merasa saja."
Arthur tidak menjawab, dia hanya mengusap pelan rambut Sonja yang sedikit berantakan."Jangan memikirkan hal yang tidak perlu."
"Lalu kenapa kau sendiri terus memikirkannya?"
Arthur terdiam. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Melihat itu, Sonja akhirnya menghela napas kecil."Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi."
"Gadis pintar."
Sonja memejamkan mata. Namun beberapa detik kemudian, matanya kembali terbuka."Arthur."
"Apa lagi?"
"Kenapa kau tidak pernah tidur?"
"Karena aku vampir."
"Lalu?"
"Makhluk sepertiku tidak membutuhkan tidur."
Sonja terlihat berpikir serius."Kalau begitu, hidupmu pasti sangat membosankan."
Arthur mengernyit."Membosankan?"
"Iya, kalian tidak tidur, berarti tidak pernah bermimpi."
Arthur terdiam sesaat. Dia belum pernah memikirkan hal itu."Mungkin."
"Kasihan."
Arthur mendecakkan lidah."Kasihan?"
"Iya. Mimpi itu menyenangkan."
Arthur menggeleng pelan."Manusia memang aneh."
"Lalu vampir?"
"Lebih aneh."
Sonja terkikik pelan mendengar jawaban itu. Suara tawanya membuat sudut bibir Arthur tanpa sadar ikut terangkat. Hanya sesaat. Namun Sonja sempat melihatnya."Kau tersenyum."
"Aku tidak tersenyum."
"Jelas-jelas tadi.."
"Pejamkan matamu, dan tidurlah Sonja," Arthur menyipitkan mata."Atau aku akan..."
"Selamat malam!" Sonja buru-buru menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh wajahnya.Hanya kedua matanya yang masih terlihat.
Arthur menggeleng kecil sambil mengembuskan napas. Dari balik selimut terdengar tawa kecil Sonja yang perlahan menghilang. Tak lama kemudian, napas gadis itu kembali teratur. Ia benar-benar tertidur.
Sementara Arthur tetap duduk di samping ranjang, menatap wajah damai gadis yang dicintainya. Di dalam hatinya, ia hanya memiliki satu harapan.
Semoga ramalan itu berhenti sampai di dirinya. Dan Semoga Ethan Gilbert, tidak pernah bertemu dengan Sonja.