Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.
Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.
Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alea, ada apa?
Alea membanting pintu apartemennya saking kesalnya pada kejadian yang terjadi hari ini. Di dalam apartemen dia terus-terusan mengomel seperti kebiasaannya.
"Yang tarik-tarik gue keluar dari club siapa? Yang bawa gue makan ke restoran itu siapa? Kok jadi dia yang ngancem-ngancem gue jangan main-main dengan pria normal?"
"Jangan main-main dengan pria normal kalau kau tidak siap menerima akibat. Ingat itu. Cihh, emang akibatnya apa? Seorang Alea gak takut sama sekali." ia mengikuti cara bicara Damon lagi dan membuat gerakan tangan yang berlebihan, menirukan gaya bicara pria itu yang terasa kaku sekali dan sok berwibawa.
Alea melempar tasnya ke atas sofa dengan kasar, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sandaran dengan napas memburu. Wajahnya masih panas. Entah karena sisa emosi saat berkelahi tadi, atau karena ingatan saat wajah Damon mendekat begitu dekat di koridor tadi. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang lagi hanya karena mengingatnya.
"Kenapa gue jadi deg-degan ya?" gumamnya merasa aneh sendiri.
"Apa gue tiba-tiba ada penyakit jantung?!" ia langsung menyimpulkan.
"Ya ampun, jangan-jangan gue mau mati muda ya?!" Alea malah panik sendiri, tangannya langsung memegangi dada kirinya yang berdegup kencang tak karuan.
"Padahal umur gue baru 22 tahun, jalan hidup gue masih panjang ... Belum kelar S2, belum nikah, belum punya anak, belum sempet..."
Ucapannya terhenti. Otaknya tiba-tiba memutar ulang adegan di dalam mobil tadi.
Saat dia duduk di atas paha Damon. Saat dia memukul-mukul dadanya yang bidang dan keras itu. Saat wajah mereka begitu dekat sampai dia bisa mencium wangi parfum mahal bercampur aroma maskulin pria itu. Dan ... Tiba-tiba ia mengingat dan menyadari sesuatu. Tadi ia merasakan ada sesuatu yang keras, hangat, dan kokoh yang menekan bagian bawah tubuhnya tepat di area selangkangannya.
Wajah Alea seketika berubah merah padam bak kepiting rebus. Dia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu berguling-guling di atas sofa besar itu.
"Ya ampun, ya ampun! Itu tadi om Damon ...Jangan dipikirin! Jangan dipikirin! Alea lo cewek baik-baik! Jangan mikir kotor!" ia mencoba menenangkan diri tapi justru makin panik.
"Tapi... itu keras banget lho... Gak mungkin itu dompet kan?! Atau kunci mobil?! Ya elah, posisinya juga bukan di saku... Itu jelas... itu jelas ..."
Alea mengerang frustrasi, menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal sofa.
Sementara itu di unit sebelah..
Damon melepaskan dasinya dengan kasar lalu melemparkannya ke meja kopi. Ia bersandar berat di sofa kulit hitamnya, kepala menengadah ke atas menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
Tangannya secara refleks memegang bagian depan celana bahan mahalnya yang masih terlihat mengembung dan menegang dengan jelas. Bahkan sudah berlalu beberapa menit sejak mereka sampai, juniornya sama sekali tidak mau bekerja sama untuk turun. Justru semakin dia mencoba melupakan, bayangan Alea yang duduk di atasnya semakin jelas terbayang.
Sensasi hangat tubuh gadis itu yang menempel sempurna, berat tubuhnya yang pas di pangkuan, aroma wanginya yang menusuk hidung, dan ... wajah polos namun menggodanya saat itu.
"Sialan... Sialan," gumamnya pelan, rahangnya mengeras.
"Kenapa harus dia? Kenapa harus bereaksi pada gadis itu?"
Dia pria dewasa, normal, dengan kebutuhan biologis yang tentu saja ada. Tapi selama ini dia bisa mengontrol dirinya dengan sangat baik. Dia tidak pernah semudah ini tergoda oleh wanita manapun. Namun Alea... gadis berusia 22 tahun itu seolah punya magnet aneh yang membuat pertahanannya hancur berantakan dalam sekejap.
"Dia cuma anak kecil... Dia cuma pengacau yang selalu menguji batas kesabaranku."
Damon mencoba meyakinkan dirinya sendiri, tapi tubuhnya menjawab lain. Rasa tegang itu makin menjadi-jadi saat teringat bagaimana bibir merah Alea bergerak-gerak marah tadi, bagaimana matanya menatap tajam, dan bagaimana tubuhnya yang lentik itu bergerak di atasnya.
"Brengsek..." Damon mengumpat pelan. Ia berdiri cepat, berjalan mondar-mandir di ruang tamunya yang luas dengan tangan memijat pelipis yang terasa berdenyut.
Damon terus berjalan mondar mandir, ia baru berhenti ketika pintu apartemennya di ketuk dari luar. Damon pikir yang mengetuk adalah Alea. Ia berjalan ke depan tanpa melihat siapa yang datang. Ia langsung membuka pintu. Ternyata bukan Alea, tapi dua orang dokter laki-laki dan perempuan. Yang satunya dokter bedah jantung, yang satunya lagi dokter residen. Kening Damon berkerut, kenapa mereka datang ke sini? Dia tidak pernah suka ada orang lain datang ke tempat tinggal pribadinya.
"Malam, dokter." si dokter residen, yang perempuan menyapa sambil tersenyum manis di depannya.
Damon hanya mengangguk singkat tapi belum menyuruh mereka masuk.
"Ada apa, kenapa ke sini?" tanyanya penuh wibawa.
"Ini dok, kami cuma mau minta tanda tangan dokter Damon untuk berkas laporan operasional dan jadwal on-call bulan depan, dok. Karena harus segera dikirim ke pusat besok pagi," jelas dokter perempuan itu dengan sopan, sambil menyodorkan map tebal berisi dokumen.
Damon mengangguk dingin. Ia menerima map itu, lalu mengambil pulpen dari saku kemejanya yang masih tergantung. Tangannya bergerak cepat menandatangani baris demi baris tanpa banyak tanya, gaya bicaranya singkat dan tegas, khas seorang pemimpin yang sibuk.
"Masih ada lagi?"
"Tidak ada lagi dokter, terimaka..."
"ARGHHHKKK!"
Suara teriakan tiba-tiba dari unit apartemen di depannya membuat mereka semua terdiam. Jelas itu suara Alea. Dengan raut khawatir Damon langsung maju dan mengetuk kuat pintu apartemen Alea.
"Alea, ada apa? Alea!"
dasar alea membuat pak anthony jadi darting dan stress, menghadapi kerandoman dan sifat bar-bar alea🤭
Elora hanya diam aja takut ancaman pak anthony, alea kocak banget mengatakan pak anthony jodohnya elora🤣🤭
Elora hanya diam aja takut dikasih hukuman lagi😃dasar alea banyak akalnya berani melawan dosen terkenal killer🤭
hanya om damon pawangnya alea nantinya, lama-lama tubuh benih-benih cinta dihati alea dan om damon🤣🤭