Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disembunyikan?
"Terima kasih karena Mas Arsen tidak pernah menganggap Ibu sebagai beban, terima kasih karena sudah memikirkan kebahagiaan Ibu, bahkan sampai membujuk Ibu dengan begitu tulus," ucap Aira.
Aira menunduk, bahunya mulai terguncang kecil. Beban berat yang selama bertahun-tahun ini ia pikul sendirian di pundaknya rasanya baru saja diangkat paksa oleh pria di hadapannya.
Melihat istrinya menangis lagi, Arsen berdiri dari tepi ranjang. Langkah kakinya yang panjang membawanya tepat ke hadapan Aira dan tanpa berkata-kata, kedua lengan kekarnya bergerak melingkari tubuh ramping Aira lalu menarik wanita itu ke dalam dekapan hangatnya yang kokoh.
Aira tidak menolak, ia menyandarkan keningnya di dada bidang Arsen dan membiarkan air matanya membasahi kaus yang dikenakan suaminya.
"Sudah aku bilang, kan, Ra? Jangan menangis lagi," bisik Arsen, tangannya bergerak lembut mengusap punggung Aira secara teratur dan memberikan ketenangan yang magis.
"Ibu Astri itu sekarang ibuku juga, tanggung jawabku bukan cuma membahagiakan kamu. Tapi, juga memastikan wanita yang sudah melahirkan dan merawat istriku dengan baik ini hidup dengan layak di masa tuanya, jadi berhentilah berterima kasih seolah-olah aku ini orang asing," balas Arsen.
Arsen sedikit merenggangkan pelukannya lalu menggunakan ibu jarinya untuk mengusap sisa air mata di pipi Aira, ia menatap wajah istrinya dengan senyum tipis yang sangat menawan.
"Lagipula, kalau Ibu ikut ke Jakarta, rumah kita tidak akan sepi. Setidaknya ada yang mengawasi kalau kamu berniat macam-macam padaku," goda Arsen lagi, sengaja memecah ketegangan dengan humor khasnya.
Aira seketika tertawa kecil di sela tangisnya, memukul pelan dada Arsen dengan gemas. "Mas Arsen ih! Siapa juga yang mau macam-macam!" seru Aira.
"Oh, tidak ya? Padahal kemarin malam ada yang badannya kaku sekali seperti papan tripleks saat aku peluk," sahut Arsen dengan kilat jenaka di matanya.
Wajah Aira spontan merona merah, ia segera mengalihkan pandangannya. Di atas kasur tipis di kamar sederhana itu, untuk pertama kalinya Aira bisa tidur dengan nyenyak tanpa bayang-bayang kecemasan akan hari esok.
.
Pagi harinya, Aira perlahan membuka matanya dan hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah dada bidang terbungkus kaus katun abu-abu, tepat di depan wajahnya.
Aira tersadar bahwa ia masih berada di dalam dekapan erat Arsen, lengan kekar suaminya melingkar kokoh di pinggangnya, seolah mengunci dirinya agar tidak bisa kabur ke mana pun. Napas Arsen yang teratur berembus pelan di puncak kepalanya, terasa hangat dan menenangkan.
Aira menahan napas sejenak, takut gerakan sekecil apa pun akan mengusik tidur nyenyak sang suami, menatap wajah Arsen dari jarak sedekat ini saat sedang tertidur membuat guratan ketegangan yang biasanya mendominasi wajah tegas itu tampak melunak. Di bawah remang fajar, Arsen terlihat begitu tampan dan nyata, pria ini adalah suaminya.
Dengan sangat hati-hati, Aira menggeser lengan Arsen dari pinggangnya lalu beringsut turun dari kasur kapuk yang untungnya tidak berdecit pagi ini. Setelah merapikan sarung dan rambutnya yang sedikit berantakan, Aira melangkah keluar kamar dengan senyum kecil yang menghias bibirnya.
Di dapur, Ibu Astri rupanya sudah terjaga dan sedang menyalakan kompor gas kecil untuk merebus air.
"Eh, Nduk. Sudah bangun? Suamimu masih tidur?" tanya Ibu Astri dengan suara berbisik, takut suaranya terdengar sampai ke kamar.
"Masih, Bu. Kelihatannya Mas Arsen capek sekali," jawab Aira sambil berjalan mendekati rak piring.
"Ibu mau masak apa pagi ini? Biar Aira bantu," lanjutnya.
"Ibu rencananya mau buat sayur lodeh kesukaanmu, sekalian goreng tahu. Tapi pas Ibu cek wadah di dekat bumbu, garamnya habis, Nduk. Ndak cukup kalau buat bumbu lodeh," ucap Ibu Astri sambil menunjukkan stoples plastik kecil yang kosong.
Aira terkekeh pelan, "Ya sudah, biar Aira beli ke warung depan dulu, Bu. Sekalian cari tempe kalau ada," ucap Aira.
"Iya, Nduk. Ini uangnya," Ibu Astri menyodorkan selembar uang sepuluh ribu lusuh, namun Aira menolaknya dengan halus.
"Ndak usah, Bu. Pakai uangnya Aira aja," jawab Aira.
Aira bergegas menguncir rambutnya dan melangkah keluar rumah, udara pagi Lumajang yang menusuk tulang langsung menyambutnya. Langkah kakinya membawa Aira menuju warung kelontong milik Bu Darmi yang berjarak sekitar lima puluh meter dari rumahnya.
Namun, tepat saat Aira menginjakkan kaki di pelataran warung, susana di sana mendadak berubah. Tiga orang ibu-ibu, Bu Romlah, Bu Lastri dan si pemilik warung sendiri, Bu Darmi yang tadinya sedang asyik memilah sayuran sambil mengobrol seru, seketika bungkam dan enam pasang mata itu langsung tertuju lurus ke arah Aira dengan binar kepo yang menyala-nyala.
"Eh, pengantin baru jam segini sudah keluar rumah," celetuk Bu Romlah memecah keheningan, nadanya sengaja dibuat ramah namun sarat akan intrik.
"Mau beli apa, Ra?" tanyanya.
"Beli garam sama tempe, Bu," jawab Aira sesopan mungkin, mencoba mengabaikan tatapan intimidasi dari lingkaran penggosip desa tersebut.
Bu Darmi dengan sigap mengambilkan sebungkus garam, namun tangannya sengaja menahan tempe yang hendak diambil Aira.
"Ini garamnya, Ra. Ngomong-ngomong, kamu itu beneran nikah, toh? Kok ndak ada tenda, ndak ada sound system? Tiba-tiba ada mobil mewah datang, terus sorenya ada kabar kamu sudah sah sama mas-mas ganteng kota itu. Jan-jane (sebenarnya) ada apa, Ra? Kok kesannya dadakan banget kayak tahu bulat?" tanya Bu Darmi, yang begitu penasaran.
Bu Lastri ikut menimpali sambil menyenggol lengan Bu Romlah, "Iya, Ra. Ibu-ibu di RT sebelah itu pada heboh, katanya kamu dapat bos besar dari Jakarta. Tapi kok ya mau nikah siri sih? Apa ndak... anu, ndak ada sesuatu yang disembunyikan?" tanya Bu Lastri.
Aira menarik napas panjang, jelas-jelas perkataan Ibu Lastri adalah sindiran halus yang menuduh dirinya hamil duluan atau menggunakan guna-guna demi menggaet pria kaya.
"Alhamdulillah saya menikah tanpa ada sesuatu yang disembunyikan, Bu. Namanya jodoh ya, mau cepat atau lambat pasti di persatukan dan saya yang termasuk cepat, Bu," balas Aira, tanpa takut lagi.
"Kamu harusnya hati-hati, kamu tahu Mila, teman SMP kamu itu. Dia nikah siri sama cowok kota, eh taunya Mila itu orang ketiga dan cowoknya udah punya Istri, mana udah punya anak lagi," ucap Bu Romlah.
Mendengar kalimat ketus yang keluar dari mulut Bu Romlah, darah Aira mendadak berdesir hebat. Rasa hangat menjalar ke seluruh wajahnya, bukan karena malu atau salah tingkah seperti saat digoda Arsen, melainkan karena rasa geram yang sudah mencapai ubun-ubun.
Selama ini, Aira selalu memilih diam dan menundukkan kepala setiap kali gunjingan mampir ke telinganya. Namun sekarang, Aira tidak akan diam saja.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal