“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”
Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.
Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.
Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.
Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.
Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
"Mas, kenapa diam saja?" tanya Nawang, mengubah raut wajahnya menjadi sendu dan sedih yang dibuat-buat. "Kamu tidak mau menikah denganku? Apa Mas Hendra masih mencintai mantan istrimu itu?"
Di dalam benaknya, Nawang mendengus jengkel.
Sial sekali! pikirnya.
Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah hidup seorang Nawang didiamkan oleh seorang pria.
Apalagi pria ini hanyalah seorang sopir pribadi!
Hendra yang melihat perubahan wajah majikannya langsung gelapan.
"Bukan begitu, Non Nawang. Saya hanya sedang berkaca diri. Siapa saya ini, Non? Saya hanyalah seorang duda miskin, sedangkan Non Nawang anak orang kaya raya. Kalau saya—"
Belum sempat Hendra menyelesaikan kalimatnya, Nawang sudah bertindak nekat. Ia maju dan langsung nyosor begitu saja, mendaratkan sebuah ciuman hangat di pipi Hendra.
Cup!
Hendra seketika membeku di tempat. Matanya membelalak sempurna, napasnya tertahan dengan jantung yang berdegup kencang.
Nawang menarik tubuhnya kembali, lalu mengulas senyum manis yang penuh kelicikan.
"Itu sebagai tanda keseriusanku padamu, Mas. Sejak pertama kali kita bertemu kemarin, aku sudah jatuh hati pada postur tubuhmu... maksudku, pada kepribadianmu yang gagah. Jadi, terima ya lamaranku? Kamu tidak akan pernah menyesal menikah denganku. Aku punya harta yang melimpah, dan aku jamin uangku akan membuatmu bahagia, Mas."
Di dalam hatinya, Nawang sudah bersorak kegirangan. Ia sama sekali tidak sabar untuk segera menikah, hamil, dan memiliki anak dari pria bertubuh kekar ini.
Dengan begitu, syarat mutlak dari ayahnya akan terpenuhi, dan sepuluh persen saham serta seluruh aset utama perusahaan akan jatuh ke tangannya, mendahului Ningsih.
Sementara itu, Hendra yang masih terpaku merasa seolah baru saja mendapatkan durian runtuh. Sungguh, dalam hati ia bersyukur berkali-kali lipat karena telah diceraikan dan diusir oleh Ningsih! Siapa sangka, setelah ditendang dari PT Buana, ia justru dijemput oleh keberuntungan yang jauh lebih besar dan lebih muda.
Hendra mencoba menata ekspresi wajahnya agar tetap terlihat polos dan pasrah. "Ya sudah, Non. Kalau Non Nawang memang memaksa, kapan kita akan menikah? Tapi, Non jangan pernah berharap apa-apa dari pria miskin yang tidak punya modal apa-apa seperti saya ini, ya?"
Nawang tertawa renyah, lalu menepuk dada bidang Hendra dengan manja.
"Kamu tidak perlu modal apa-apa, Mas Hendra ganteng. Kamu cukup patuh saja padaku mulai sekarang. Apapun yang aku katakan, kamu harus menurut dan jangan pernah membantah. Paham?"
Hendra mengangguk patuh dengan wajah yang dibuat sejinak mungkin. "Baik, Non. Saya akan turuti semua kemauan Non Nawang."
Namun, di balik anggukan patuhnya, kilat licik memancar dari sepasang mata Hendra.
"Untuk sekarang, tidak masalah aku menjadi seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Anggap saja ini investasi. Tapi nanti saat aku sudah resmi menjadi suamimu dan berhasil meluluhkan hatimu, aku yang akan berbalik menguasai dirimu dan seluruh hartamu sepenuhnya, Nawang!" batin Hendra.
Mereka berdua memang sama-sama licik, sebuah pasangan yang benar-benar cocok dan setara.
*
*
Sore harinya, langit ibu kota mulai meredup. Di depan gerbang sebuah sekolah dasar swasta yang megah, Luna duduk sendirian di atas bangku taman kayu.
Teman-teman sekelasnya sudah pulang dijemput orang tua masing-masing, menyisakan dirinya yang mulai merasa cemas.
"Mama mana ya, kok belum jemput? Luna takut sendirian di sini," gumam bocah kecil itu sembari memeluk tas ranselnya erat-earat. Air matanya sudah menggantung di pelupuk mata.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan tempat Luna duduk. Pintu kemudi terbuka, dan sesosok pria yang sangat ia kenal keluar dari sana. Pria itu melangkah cepat menghampirinya.
"Papa?" seru Luna, matanya langsung berbinar melihat kehadiran Hendra.
Hendra berlutut di depan putri kandungnya itu, memasang wajah seolah-olah ia adalah ayah yang sangat perhatian. "Hai, anak Papa yang cantik. Kok sendirian di sini? Mana Mama kamu? Belum jemput juga jam segini?" tanya Hendra, sengaja memancing informasi.
Luna menggelengkan kepalanya dengan lemas. "Belum, Pa. Handphone mama tadi kata Ibu Guru tidak bisa dihubungi. Mungkin mama masih sibuk di kantor."
Hendra tersenyum penuh arti di dalam hatinya. Ini adalah kesempatan bagus baginya untuk memanfaatkan Luna demi mencari tahu pergerakan Ningsih, sekaligus membalas rasa sakit hatinya secara halus.
"Kalau begitu, daripada Luna sendirian dan ketakutan di sini, ayo ikut Papa saja," ajak Hendra lembut sembari mengulurkan tangannya.
Luna mendongak, menatap wajah ayahnya dengan ragu. "Ikut Papa ke mana?"
"Kita pergi beli es krim yang paling besar dan paling enak di dekat sini. Luna mau, kan?" rayu Hendra dengan senyuman hangat, tahu betul kelemahan putrinya.
Mendengar kata es krim, pertahanan Luna langsung runtuh. Sejak dulu, es krim rasa cokelat memang menjadi makanan kesukaannya yang paling nomor satu. Luna pun mengangguk riang, menyambut uluran tangan Hendra.
"Mau, Pa! Ayo kita beli es krim!"
Hendra pun menuntun Luna masuk ke dalam mobil mewah milik Nawang yang sedang ia bawa, bersiap memulai babak baru dari rencana terselubungnya.
"Oh, ya, mama sibuk apa sekarang? Apa mama sudah mulai dekat dengan pria lain?" tanya Hendra berpura-pura santai sembari menyuapkan sesendok es krim ke mulut putrinya.
Luna menghentikan kunyahannya, lalu menatap Hendra dengan dahi berkerut. "Papa ngomong apa, sih? Pria apa?"
"Maksud Papa, calon papa baru buat Luna. Ada tidak om-om yang sering datang ke rumah atau menemui mama?" selidik Hendra lagi, tampak sangat penasaran.
"Oh..." Luna mangut-mangut. Otak cerdas bocah itu langsung bekerja. Ia tahu persis kebiasaan buruk papanya yang suka mencari masalah, jadi ia sengaja memasang wajah polos tanpa dosa. "Mama masih selalu sama Luna kok, Pa. Nggak ada om-om baru. Mama itu sibuk kerja cari uang yang banyak, jadi nggak sempat memikirkan hal-hal tidak penting seperti itu."
Mendengar jawaban polos dari mulut anaknya, senyum sombong langsung terkembang lebar di bibir Hendra. Dada bidangnya membusung penuh percaya diri.
"Tuh, kan! Aku bilang juga apa. Ningsih itu sebenarnya belum bisa melupakan aku. Mana ada pria lain yang bisa menandingi pesonaku. Sudah tampan, gagah dan hot di ranjang pula!" batin Hendra sangat percaya diri, tanpa sadar bahwa ia baru saja dikelabui secara halus oleh kecerdasan putri kecilnya sendiri.
"Papa sendiri gimana? Apa papa jadi menikah dengan tante genit?" tanya Luna balik.
"Tante genit?" Hendra menoleh sekilas ek arah Luna.
"Iya Papa, tante genit yang selalu menempel sama Papa mirip ulat bulu itu lho. Tante Arumi."
Uhuk!
Hendra langsung tersedak air liurnya sendiri mendengar ucapan Luna.
ingat ya Luna sangat cerdas ,,
ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut