NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

​Bita menyambar helm half-face di depan dadanya dengan sentakan kasar, lalu melemparkannya ke atas sofa kain berwarna krem hingga memantul sekali. Wajahnya sudah sehangat tungku api, matanya mendelik tajam menatap suaminya yang masih berdiri tegak dengan keanggunan yang menyebalkan.

​"Gak jadi! Gue gak jadi pergi! Puas lo?!" sembur Bita dengan nada frustrasi yang membubung tinggi.

​Gus Ibra tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lekat-lekat wajah istrinya yang cemberut maksimal, lalu dengan gerakan super santai, ia membuka kembali jaket kulit hitamnya. "Alhamdulillah. Keputusan yang bijak, Tsabita."

​"Bijak pala lo peyang! Lo sengaja kan bikin gue mati kutu?!" Bita menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai parket kayu, lalu berbalik badan dan berlari kecil menaiki anak tangga menuju lantai dua. Suara debuman pintu kamar utama yang ditutup dengan tenaga penuh menggema ke seluruh penjuru rumah baru mereka.

​Di dalam kamar, Bita langsung melemparkan tas kecilnya ke sembarang tempat. Ia berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu dengan napas memburu. Tangannya dengan gusar menyambar ponsel di atas nakas, membuka grup obrolan dengan jemari yang bergetar karena kesal.

​Tsabita Azzahra: Guys, sorry banget. Gue gak bisa join malam ini. Tiba-tiba bokap mantau gue. Sialan banget emang.

​Pesan itu langsung dibalas dalam hitungan detik oleh teman-temannya.

​Jessica: Yahhh Bita! Parah banget lo, padahal meja udah dipesen atas nama lo! Kok tumben Om Hasan seketat itu sekarang? Biasanya lo kabur juga gak papa.

Kevin: Yah, ratu kita absen. Gak asyik lo, Ta. Bilang bokap lo lah, bentar doang.

Tsabita Azzahra: Gak bisa, keketatan tingkat dewa malam ini. Next time gue ganti minum kalian. Cabut dulu.

​Bita melempar ponselnya ke atas kasur king size. Ia mengembuskan napas panjang, lalu berjalan menuju cermin kamar mandi untuk menghapus seluruh makeup yang baru saja ia poles dengan susah payah. Gaun hitam ketatnya ia ganti dengan kaus oversized warna abu-abu polos dan celana pendek rumahan yang longgar.

​Sambil mengikat rambutnya asal-asalan menjadi cepol tinggi, Bita menatap pantulan dirinya di cermin. "Gus sialan. Kaku-kaku gitu ternyata otaknya licik banget. Bisa-bisanya dia kepikiran mau ikut ke lounge. Mau ditaruh di mana muka gue kalau dia beneran duduk di sebelah gue pakai jaket kulit sambil megang tasbih?!"

​Setelah tiga puluh menit mengurung diri dan merasa perutnya mulai berdemo karena belum makan malam, Bita akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah. Ia melangkah dengan sangat pelan, mencoba mengintip situasi dari balik reiling tangga lantai dua.

​Suasana lantai bawah tampak lengang. Namun, wangi aromatik yang menenangkan mendadak tercium oleh indra penciuman Bita. Bukan wangi parfum Ibra, melainkan wangi seduhan teh herbal yang bercampur dengan aroma manis madu.

​Bita melangkah menuju dapur bersih bergaya minimalis modern. Di sana, di balik meja bar semen poles yang estetik, Gus Ibra sedang berdiri membelakanginya. Pria itu sudah mengganti kemejanya dengan kaus polo putih santai dan sarung instan gelap. Ia tampak telaten menuangkan air panas dari teko listrik ke dalam dua cangkir keramik.

​"Kalau lapar, di dalam microwave ada nasi goreng ayam yang tadi saya beli sebelum pulang," ucap Ibra tiba-tiba tanpa berbalik badan, seolah-olah ia memiliki mata di belakang kepalanya.

​Bita tersentak kecil, lalu mendengus kencang untuk menutupi rasa terkejutnya. Ia berjalan mendekat dan sengaja duduk di salah satu kursi bar dengan gaya angkuh. "Gue gak laper. Gue cuma haus."

​Ibra membalikkan tubuhnya perlahan. Ia meletakkan salah satu cangkir keramik yang mengepulkan uap hangat di hadapan Bita. "Teh chamomile dengan madu murni. Bagus untuk menurunkan hormon kortisol kamu yang sedang tinggi."

​Bita menaikkan sebelah alisnya, menatap cangkir itu dengan curiga. "Hormon kortisol apaan?"

​"Hormon stres," jawab Ibra pendek, lalu duduk di kursi bar tepat di sebelah Bita, membawa cangkirnya sendiri. Pria itu menyesap tehnya dengan sangat tenang, gerakan tangannya selalu terlihat tertata dan sarat akan adab.

​Bita mencibir, namun tangannya tetap bergerak meraih cangkir hangat tersebut. Begitu cairan manis dan harum itu melewati kerongkongannya, Bita tidak bisa berbohong bahwa tubuhnya mendadak menjadi sedikit lebih rileks.

​"Gus," panggil Bita setelah meletakkan kembali cangkirnya.

​"Ya?" Ibra menoleh, menatap langsung ke mata Bita tanpa jarak, membuat Bita lagi-lagi harus menahan diri agar tidak salah tingkah karena ketampanan suaminya dari jarak dekat.

​"Sekarang kita udah pindah ke rumah ini. Cuma ada lo sama gue. Gak ada Abi, gak ada Umi, gak ada Papa dan Mama," kata Bita, nadanya beralih serius dengan tatapan mengintimidasi. "Gue mau kita bikin batasan yang jelas. Terutama soal... kamar tidur."

​Ibra menurunkan cangkirnya, memberikan perhatian penuh pada kalimat istrinya. "Maksud kamu?"

​"Gue gak mau tidur sekamar sama lo!" tembak Bita blak-blakan. "Gue tahu kita udah sah secara agama dan hukum. Tapi buat gue, lo itu masih orang asing yang tiba-tiba masuk ke hidup gue karena paksaan. Gue gak nyaman kalau harus berbagi kasur sama cowok yang baru gue kenal beberapa hari."

​Bita sudah bersiap-siap jika Ibra akan menolak permintaannya. Bagaimanapun, dalam hukum pernikahan yang Ibra pelajari seumur hidup, menolak ajakan suami adalah hal yang tabu. Bita sudah menyusun argumen pembelaan di dalam kepalanya jika pria itu mulai menceramahinya tentang kewajiban seorang istri.

​Namun, tanggapan Ibra kembali mematahkan ekspektasi Bita.

​"Baik," jawab Ibra dengan satu kata yang sangat tenang dan tanpa keraguan sedikit pun.

​Bita mengerjap, mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya. "Hah? Lo... beneran bilang 'baik'? Gak mau nolak atau ceramah panjang lebar gitu?"

​Ibra tersenyum tipis, jenis senyuman tenang yang selalu berhasil membuat Bita merasa bodoh karena terlalu banyak berasumsi. "Untuk apa saya menceramahi kamu, Tsabita? Pernikahan dalam Islam itu dibangun di atas rasa rela dan ketenteraman jiwa. Sakinah. Kalau berada di dekat saya saja belum bisa membuat jiwa kamu tenteram, saya tidak akan pernah memaksa."

​Pria itu memutar sedikit posisi duduknya agar bisa menghadap Bita sepenuhnya. "Rumah ini memiliki tiga kamar tidur. Kamar utama di atas yang berukuran paling besar adalah kamar kamu. Saya sudah memindahkan barang-barang saya ke kamar sebelah."

​Bita melongo seketika. Dadanya mendadak dipenuhi oleh rasa aneh yang campur aduk. Di satu sisi, ia merasa lega karena privasinya dihargai sepenuhnya. Namun di sisi lain, egonya sebagai seorang wanita mendadak merasa sedikit... terusik.

​"Lo... beneran gak keberatan tidur di kamar sebelah?" tanya Bita memastikan, suaranya mengecil. "Maksud gue, lo gak bakal ngadu ke Papa kan kalau gue egois?"

​"Tsabita," panggil Ibra dengan suara baritonnya yang rendah dan sarat akan ketulusan. "Saya ulangi sekali lagi. Apa pun yang terjadi di antara kita di dalam rumah ini, adalah rahasia kita berdua. Saya bukan anak kecil yang hobi mengadu pada orang tua jika keinginannya tidak dituruti."

​Bita terdiam, menatap permukaan teh di dalam cangkirnya dengan perasaan yang sulit diartikan.

​"Tapi, saya juga punya satu permintaan," lanjut Ibra, membuat Bita kembali menegakkan tubuhnya dengan waspada.

​"Permintaan apa?" cecar Bita.

​"Meskipun kita tidur di kamar terpisah, jika ada orang tua kamu atau orang tua saya yang berkunjung dan menginap, kita harus berada di kamar yang sama," tutur Ibra dengan tegas. "Saya tidak mau membuat mereka khawatir atau berpikiran yang tidak-tidak tentang hubungan kita. Bagaimana?"

​Bita berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju. "Oke. Kalau itu gue sepakat. Masuk akal."

​Ibra mengangguk puas, lalu kembali menyesap tehnya hingga tandas. Ia berdiri dari kursinya, membawa cangkir kosongnya ke wastafel dapur untuk dicuci sendiri. Setelah selesai, ia mengeringkan tangannya dengan kain lap, lalu berbalik menatap Bita yang masih duduk termenung.

​"Ini sudah hampir jam sepuluh malam. Sebaiknya kamu segera naik ke atas dan tidur," ucap Ibra lembut.

​Bita mendongak. "Lo sendiri mau ngapain?"

​"Saya masih harus memeriksa beberapa dokumen ekspor untuk besok pagi di ruang kerja," jawab Ibra. Sebelum melangkah pergi, pria itu berjalan mendekati kursi Bita. Ia mengulurkan tangannya, lalu dengan gerakan yang sangat natural dan lembut, jemari panjang Ibra mengusap puncak kepala Bita yang dicepol asal-asalan.

​Sentuhan itu singkat, hanya berlangsung selama dua detik, namun sanggup melempar sengatan listrik tak kasat mata yang membuat jantung Bita berdegup liar seketika.

​"Selamat malam, Istriku. Semoga mimpi indah," bisik Ibra dengan suara yang teramat adem, lalu melangkah pergi meninggalkan dapur dengan langkah kaki yang tenang.

​Bita terpaku di kursinya, memegang puncak kepalanya yang baru saja disentuh oleh Ibra. Wajahnya kembali memerah padam hingga ke leher. Ia meremas bajunya dengan kesal, berbisik pada keheningan dapur. "Gila. Cowok itu bener-bener bahaya banget buat kesehatan jantung gue!"

1
Anita Rahayu
kapan ni buat dedek bayi yg gemoy
Elma Grace: eh tenang aja. ada kok nanti. tunggu yaa, bikin sedikit konflik biar makin deket dulu merekanyaa
total 1 replies
merry
kyky reno ngk bergerak sndrian dehh,, x Safira itu terlibat krn iri sm bita x y
Clarisa Putri: aku juga mikir gini
total 1 replies
Sri Jumiati
apa safira suka sm gus ibra ya
Elma Grace
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!