Tiga tahun lalu, Lin Tian adalah jenius nomor satu di Kota Daun Merah sebelum takdir menghancurkan seluruh meridiannya. Menjadi sampah yang diinjak-injak semua orang tidak membuat pemuda ini menyerah pada nasib buruknya.
Keberuntungan berubah saat darahnya membangkitkan Mutiara Yin-Yang Primordial, pusaka kuno yang menyimpan jiwa Permaisuri Iblis seksi bernama Yue Chan. Di bawah bimbingan sang permaisuri, Lin Tian memulai jalan kultivasi ekstrem melalui pembantaian dan kultivasi ganda.
Dia bukan pahlawan suci, melainkan kultivator bermuka tebal yang sangat realistis. Jika musuh terlalu kuat, dia akan melarikan diri, menyebarkan racun, atau menikam dari belakang.
Namun, siapa pun yang berani menyentuh wanitanya akan menghadapi pembalasan paling kejam. Saksikan kisah Lin Tian menghancurkan surga dan menjadi penguasa tertinggi alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Pelarian ke Alam Liar
Hujan gerimis yang turun sejak malam perlahan berubah menjadi badai lebat menjelang fajar menyingsing. Tetesan air es menembus celah dedaunan pinus dan membasahi tanah berlumpur di depan mulut gua.
Lin Tian membuka kedua kelopak matanya secara perlahan dalam kegelapan yang pekat. Jari-jarinya yang kaku langsung meraba gagang pedang berat di samping pahanya dengan gerakan teratur.
'Anjing-anjing pelacak dari faksi kota itu memiliki penciuman aura yang sangat tajam.' Lin Tian menganalisis situasi di dalam benaknya dengan perhitungan yang sangat tenang.
Dia bangkit berdiri dan menepuk debu kotor dari jubah yang menutupi bahu Su-er. Gadis kecil itu menggeliat pelan lalu membuka sepasang matanya yang masih sembab karena menangis.
“Kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum fajar benar-benar memecah langit.” Lin Tian memasukkan kembali botol racun kosong ke dalam cincin penyimpanannya.
Tangannya bergerak mengumpulkan sisa ranting kering dan menimbunnya dengan tanah basah. Dia memastikan tidak ada satupun jejak hawa panas tubuh yang tertinggal di dalam gua tersebut.
Su-er mengangguk patuh dan merapikan letak tas kain kecil di punggungnya. Dia melangkah mengikuti jejak kaki Lin Tian dari belakang dengan sangat hati-hati.
Mereka berdua berjalan menembus lebatnya semak belukar yang dipenuhi duri tajam beracun. Setiap kali ranting berduri mengarah ke wajah Su-er, tangan Lin Tian selalu mematahkannya lebih dulu.
Langkah kaki pemuda itu sama sekali tidak mengeluarkan suara benturan daun kering. Dia menyelaraskan ritme napasnya dengan suara deru angin hutan yang sedang bertiup kencang.
Awan hitam pekat menutupi datangnya cahaya matahari pagi di ufuk timur. Kondisi hutan belantara ini masih segelap malam hari yang dipenuhi oleh kabut kelembaban.
AUUUU!
Suara lolongan panjang terdengar menyayat hati dari arah bukit batu di sebelah selatan. Suara itu bukan berasal dari serigala liar melainkan dari monster pelacak peliharaan kultivator.
“Mereka membawa Serigala Darah Mata Tiga untuk melacak aroma spiritual sisa pertarungan kita.” Lin Tian berbisik pelan sembari menghentikan langkah kakinya di balik pohon beringin raksasa.
Serigala jenis ini bisa mencium partikel darah dari jarak puluhan kilometer di udara terbuka. Bubuk belerang yang ditaburkannya semalam tidak akan berguna melawan monster tingkat ini.
Lin Tian segera menarik pergelangan tangan Su-er untuk mengubah arah rute pelarian mereka. Dia memutar langkah menuju ke arah lembah rawa yang dipenuhi gas beracun alami.
Hanya aroma gas rawa mematikan yang bisa mengacaukan indra penciuman Serigala Darah Mata Tiga. Namun risiko melewati lembah itu juga sama besarnya dengan menghadapi pasukan pengejar.
Tanah pijakan mereka perlahan berubah menjadi lumpur lunak yang berbau sangat menyengat. Gelembung-gelembung gas hijau bermunculan dari permukaan air rawa yang berwarna kehitaman.
Lin Tian mengeluarkan dua butir pil penangkal racun tingkat menengah dari dalam cincinnya. Dia memasukkan satu butir ke mulut Su-er dan menelan satu butir lainnya untuk dirinya sendiri.
“Jangan pernah melepaskan genggaman tanganmu dari telapak tanganku walau sedetik pun.” Lin Tian menggenggam erat jemari kecil gadis itu dan mulai melangkah menyeberangi genangan lumpur.
Urat-urat di betis Lin Tian menonjol saat dia memaksakan aliran energi spiritualnya. Dia menggunakan teknik meringankan tubuh agar mereka tidak tenggelam ke dalam lumpur hisap mematikan.
Kabut gas hijau perlahan menyelimuti pandangan mata mereka berdua dari segala arah. Jarak pandang maksimal di tempat ini bahkan tidak lebih dari hitungan tiga meter saja.
Tiba-tiba, telinga Lin Tian menangkap suara desingan angin yang sangat halus dari arah belakang. Suara itu melesat membelah partikel gas racun dengan kecepatan yang sangat tidak wajar.
SYUUUTT!
Lin Tian memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat dalam waktu kurang dari satu tarikan napas. Pedang Berat Hitam langsung ditarik dari punggungnya untuk membentuk perisai pertahanan lebar.
TRRAANGG!
Sebuah panah baja hitam berukuran besar menghantam sisi datar pedang dengan kekuatan masif. Benturan itu menghasilkan percikan api kuning yang menerangi kabut hijau di sekitar mereka.
Lengan kanan Lin Tian bergetar hebat menerima pantulan tenaga fisik dari anak panah tersebut. Tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah hingga air lumpur menciprat ke segala arah.
Tiga siluet berpakaian zirah abu-abu muncul dari balik kabut gas beracun. Mereka adalah pasukan elit pembunuh dari faksi Tuan Muda Kota yang dipimpin seorang kapten tua.
“Tikus kotor ini ternyata benar-benar sangat licin dan pintar mencari tempat persembunyian.” Kapten tua itu menyeringai ganas sambil mengisi ulang busur silang raksasa di tangannya.
Dua pembunuh lainnya langsung melesat maju dari sisi kiri dan kanan dengan pedang kembar terhunus. Hawa membunuh dari kultivator tingkat akhir Pengumpulan Qi langsung mengunci posisi Lin Tian.
'Aku tidak bisa menggunakan ledakan mutiara iblis di tempat yang dipenuhi gas rawa ini.' Batin Lin Tian bekerja secepat kilat mengevaluasi medan pertempuran yang sangat merugikan ini.
Satu percikan api energi dalam skala besar akan memicu ledakan berantai dari seluruh gas rawa. Ledakan itu akan menghancurkan mereka semua termasuk Su-er yang bersembunyi di punggungnya.
Lin Tian memiringkan postur tubuhnya ke depan dan merendahkan pusat gravitasinya. Dia menyambut serangan pembunuh pertama dengan ayunan pedang vertikal yang sangat sederhana namun brutal.
ZRRRAAAK!
Senjata pedang kembar milik musuh itu patah menjadi dua bagian laksana ranting kering. Momentum Pedang Berat Hitam terus melaju hingga menghancurkan tulang rusuk pembunuh tersebut berkeping-keping.
Pembunuh kedua memanfaatkan celah itu untuk menusukkan pedangnya ke arah lambung kiri Lin Tian. Gerakannya sangat licik karena dia mengincar titik buta pertahanan di tengah kabut pekat.
Lin Tian sama sekali tidak berusaha menarik pedang beratnya untuk menangkis serangan tersebut. Dia membiarkan tangan kirinya tergores bilah pedang musuh demi mengunci senjata mematikan itu.
CRASSHH!
Darah segar menetes dari lengan kiri Lin Tian yang dengan sengaja menjepit bilah pedang musuh. Tangan kanannya segera melepaskan gagang pedang berat lalu melayangkan pukulan tinju elemen batu.
BBUUGGHH!
Tinju keras itu menghantam tepat di tengah wajah pembunuh kedua hingga tulang hidungnya amblas. Pria itu terpental jauh ke dalam lumpur rawa tanpa sempat mengeluarkan jeritan kesakitan.
Namun kapten tua di belakang mereka tidak menyia-nyiakan pengorbanan dua bawahannya. Dia telah mengunci targetnya bukan kepada Lin Tian melainkan kepada Su-er yang bersembunyi.
“Anjing kecil sepertimu ternyata memiliki kelemahan fana yang sangat mudah ditebak.” Kapten tua itu menarik pelatuk busur silangnya dengan senyuman iblis yang sangat puas.
Tiga anak panah baja beracun melesat serentak menembus udara menuju ke dada Su-er. Kecepatan proyektil itu jauh melampaui batas reaksi kecepatan dari gadis pelayan fana tersebut.
Su-er hanya bisa membelalakkan matanya saat bayangan kematian itu datang menjemput nyawanya. Waktu seolah berjalan sangat lambat di dalam pandangan matanya yang dipenuhi keputusasaan.
Lin Tian memutar tumitnya dengan paksa hingga mematahkan beberapa serat otot betisnya. Dia melemparkan tubuhnya sendiri ke udara untuk menutupi posisi Su-er dari lintasan panah.
JLEBBB!
JLEBBB!
Dua anak panah baja itu menembus punggung kanan dan bahu belakang Lin Tian dengan sangat dalam. Kekuatan dorongan proyektil itu membuat tubuh Lin Tian terhempas jatuh menimpa tubuh Su-er.
Lin Tian memuntahkan seteguk darah segar yang langsung menodai pakaian putih pelayannya. Matanya memerah pekat menahan rasa sakit luar biasa dari racun pelebur tulang di anak panah itu.
“Tuan Muda!” Su-er menjerit histeris melihat punggung tuannya yang tertembus senjata mengerikan tersebut.
Kapten tua itu tertawa keras melihat pemandangan menyedihkan dari target buruannya. Dia berjalan mendekat dengan santai untuk memenggal kepala Lin Tian dan menyelesaikan tugasnya.
Namun pria tua itu tidak menyadari sebuah pisau belati kecil telah berada di tangan kanan Lin Tian. Lin Tian menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk melemparkan belati itu membelah kabut gas.
SYUUUTT!
Belati beracun itu meluncur deras dan langsung menancap tepat di tengah leher kapten tua tersebut. Tawa arogan pria itu seketika terhenti berganti dengan suara napas yang tersedak gumpalan darah.
Tubuh kapten pembunuh itu ambruk ke dalam lumpur rawa menyusul nasib kedua anak buahnya. Keheningan yang sangat mencekam kembali menyelimuti lembah rawa beracun tersebut.
Lin Tian menggertakkan giginya dan berusaha bangkit menggunakan sisa lengan kirinya yang utuh. Darah berwarna kehitaman terus mengalir deras dari dua luka tembus di punggung bidangnya.
“Tuan Muda, tolong jangan banyak bergerak lagi, punggung Anda terluka sangat parah.” Su-er menangis tersedu-sedu sambil menahan tubuh Lin Tian agar tidak kembali terjatuh ke lumpur.
“Kita belum aman, sisa pasukan mereka akan segera tiba mendengar suara pertarungan ini.” Suara Lin Tian terdengar sangat serak dan putus-putus akibat efek racun yang mulai menyebar.
Lin Tian memaksakan tangannya untuk meraih gagang pedang beratnya yang tertancap di tanah. Dia menggunakan pedang itu sebagai tongkat penyangga untuk menopang berat tubuhnya yang melemah.
Dia tidak mempedulikan batang anak panah yang masih menancap dalam di daging punggungnya. Setiap langkah kaki yang diambilnya meninggalkan jejak darah kental di atas lumpur beracun rawa.
Su-er merangkul pinggang pemuda itu dan mengalirkan seluruh sisa tenaga fisiknya untuk membantu berjalan. Air matanya terus mengalir deras bercampur dengan rintik hujan badai yang semakin lebat.
Mereka berdua menyeret langkah kaki menembus kabut gas rawa selama hampir dua jam penuh. Pasukan pengejar tampaknya telah kehilangan jejak mutlak di dalam labirin alam beracun ini.
Formasi bebatuan karst raksasa perlahan mulai terlihat dari balik kabut tipis di ujung rawa. Sebuah celah sempit di bawah formasi batu itu membentuk ceruk perlindungan yang sangat kering.
[A/N: Karst adalah bentang alam berupa lubang runtuhan, aliran sungai yang menghilang ke dalam tanah, gua, mata air, dan fitur-fitur khas lainnya.]
Lin Tian menuntun langkah mereka masuk ke dalam ceruk batu tersebut dengan sisa kesadaran jiwanya. Tepat saat tubuhnya menyentuh lantai batu yang keras, pandangannya langsung berubah menjadi gelap gulita.
BRRUKK!
Pedang Berat Hitam terlepas dari genggamannya dan menimbulkan suara dentingan keras. Tubuh besar Lin Tian ambruk ke lantai batu dengan napas yang sangat tersengal-sengal melemah.
Su-er segera menjatuhkan dirinya ke lantai dan memangku kepala Lin Tian ke pangkuannya. Tangannya yang gemetar membuka tas kain untuk mencari seluruh persediaan medis yang tersisa.
'Kamu harus segera mengeluarkan anak panah itu dan membersihkan racunnya dengan herbal api.' Suara Yue Chan tiba-tiba bergema masuk ke dalam pusat kesadaran Su-er dengan nada mendesak.
Su-er terkejut mendengar suara wanita misterius itu namun dia tidak memiliki waktu untuk bertanya. Instingnya langsung mempercayai instruksi tersebut demi menyelamatkan nyawa pemuda yang dicintainya.
Gadis pelayan itu mengambil belati tajam dan merobek sisa pakaian punggung Lin Tian yang basah. Kain jubah yang menempel dengan darah kering itu terkelupas secara paksa hingga memperlihatkan kulit.
Air mata Su-er kembali tumpah melihat betapa mengerikannya kondisi punggung pemuda tersebut. Puluhan bekas luka cambuk masa lalu kini bertumpuk dengan luka tembus panah yang membusuk hitam.
“Aku harus mencabutnya sekarang Tuan Muda, tolong tahan sedikit rasa sakit ini.” Su-er berbisik dengan suara bergetar di dekat telinga Lin Tian yang mulai mendingin pucat.
Dia memegang kuat batang anak panah pertama dan menariknya keluar dengan satu gerakan cepat. Lin Tian mengerang tertahan dari balik tenggorokannya dan otot punggungnya menegang sangat ekstrem.
CRAATT!
Darah hitam menyembur keluar membasahi kedua tangan mungil Su-er yang sedang bekerja. Dia tidak mempedulikan kotoran itu dan segera menaburkan bubuk herbal api ke atas luka terbuka.
Proses yang sama diulanginya untuk mencabut anak panah kedua yang bersarang di dekat bahu. Su-er bekerja dengan tingkat fokus yang sangat tinggi meski air mata terus mengaburkan pandangannya.
Setelah kedua senjata mematikan itu berhasil dikeluarkan, dia mulai membalut luka dengan kain bersih. Namun suhu tubuh Lin Tian tiba-tiba menurun sangat drastis akibat efek kehilangan banyak darah esensi.
Kulit pemuda itu berubah menjadi sepucat kertas dan napasnya hampir tidak bisa dirasakan lagi. Tubuhnya mulai menggigil hebat menahan rasa dingin yang membekukan aliran sumsum tulang belakangnya.
“Tidak, jangan tinggalkan aku sendirian di dunia yang kejam ini Tuan Muda.” Su-er melepaskan jubah basahnya sendiri tanpa sedikit pun keraguan di dalam hatinya yang hancur.
Dia memeluk tubuh bagian atas Lin Tian yang setengah telanjang dengan sangat erat dan putus asa. Kulit dada dan perut mereka bersentuhan langsung untuk menyalurkan sisa kehangatan suhu tubuh fana.
Su-er menempelkan pipinya ke dada bidang Lin Tian untuk mendengarkan detak jantungnya yang melemah. Tetesan air mata panas dari wajah gadis itu jatuh mengenai kulit dada Lin Tian tanpa henti.
Momen keintiman yang sangat emosional ini terjadi di tengah suasana hutan liar yang mematikan. Dua manusia rapuh ini saling berpelukan mencari kehangatan di antara dinginnya ancaman kematian absolut.
Energi Yin murni dari tubuh perawan Su-er perlahan mengalir secara alami melalui pori-pori kulitnya. Energi itu masuk menembus jalur meridian Lin Tian untuk menstabilkan fluktuasi racun di jantungnya.
Kehangatan yang sangat lembut mulai menjalar menembus kedinginan jiwa di dalam tubuh Lin Tian. Pemuda itu perlahan membuka kembali sepasang matanya yang sebelumnya tertutup sangat rapat.
Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah cantik Su-er yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Gadis itu sedang tertidur memeluknya dengan sisa air mata yang masih menggenang di sudut kelopak.
Lin Tian mencoba menggerakkan tangan kanannya yang masih terasa sangat kaku dan mati rasa. Jari-jarinya yang kasar menyentuh pipi lembut gadis itu dan menghapus sisa tetesan air matanya.
Sentuhan hangat itu membuat Su-er langsung terbangun dan mendongakkan kepalanya dengan cepat. Sepasang matanya membelalak lebar melihat senyuman tipis yang sangat jarang muncul dari bibir tuannya.
“Jangan menangis untuk pria yang tangannya sudah berlumuran banyak darah kotor sepertiku.” Lin Tian berbisik dengan suara parau yang memancarkan sebuah rasa kelelahan mental yang mendalam.
Su-er menggelengkan kepalanya dengan kuat lalu memeluk leher pemuda itu semakin erat. Dia sama sekali tidak peduli dengan status kasta atau pandangan dunia luar terhadap sosok di depannya.
“Bagi seluruh dunia Tuan Muda mungkin adalah iblis, tapi bagiku Tuan Muda adalah dewaku satu-satunya.” Jawaban gadis pelayan itu terdengar sangat tulus dan menggetarkan dinding batin terdalam Lin Tian.
Lin Tian terdiam mendengar pengakuan emosional yang sangat polos namun memiliki arti yang berat. Tangan kanannya perlahan membalas pelukan gadis itu dan membelai rambut hitam panjangnya dengan lembut.
Sebuah benih perasaan yang sangat kompleks mulai berakar kuat di dasar hati pemuda pendendam tersebut. Batas kedekatan emosional di antara mereka berdua telah melewati sekat hubungan antara tuan dan pelayan.
Suhu tubuh Lin Tian berangsur normal berkat pertolongan medis dan transfer panas tubuh dari Su-er. Hawa racun di dalam meridiannya telah berhasil diredam sepenuhnya ke sudut dantian terbawah.
“Kita bisa beristirahat di sini dengan tenang untuk sisa malam ini.” Lin Tian menyandarkan kepalanya ke dinding batu sembari terus mempertahankan posisi pelukan hangat mereka berdua.
Su-er hanya mengangguk pelan dengan wajah yang memerah padam menyadari posisi intim mereka berdua. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Lin Tian dan membiarkan lelah mengambil alih kesadarannya.
Namun kedamaian sementara ini hanyalah sebuah jeda singkat sebelum badai yang jauh lebih besar tiba. Di luar ceruk bebatuan itu, suara derap langkah kaki besar dan lolongan monster kembali terdengar.
Indra spiritual Lin Tian yang mulai pulih bisa merasakan fluktuasi qi dari arah hutan utara. Faksi pengejar kota telah berhasil menemukan jalur memutar untuk menghindari jebakan mematikan lembah rawa.
'Kita masih belum bisa sepenuhnya lepas dari cengkeraman tangan dewa kematian malam ini.' Batin Lin Tian kembali menjadi sedingin bongkahan es abadi di tengah suasana yang mulai menghangat.
Sepasang mata Lin Tian menatap tajam ke arah kegelapan di luar ceruk batu perlindungan mereka. Dia tahu bahwa ujung tebing Jurang Kematian hanya berjarak beberapa mil saja dari posisi mereka sekarang.
tapi ini kok aku rasa keterlaluan bersikap dingin kepada semuanya walaupun orang itu baik dan benar-benar setia kepada dia
bahkan terhadap orang yang berbuat baik kepadanya
tak perlu membuang-buang energi hanya untuk menyelamatkan orang yang pernah mencampakkanmu dan memandang rendah pada dirimu👍👍👍