NovelToon NovelToon
Setelah Aku Memilih Bercerai

Setelah Aku Memilih Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Aku Akan Menunggu

Sore mulai turun perlahan di desa Morana. Langit berubah jingga. Angin berhembus pelan, membawa sisa hangat dari hari yang panjang.

Keramaian yang sejak siang memenuhi ladang mulai surut. Suara tawa dan obrolan pekerja menghilang satu per satu, berganti dengan langkah kaki yang menjauh. Darmi dan yang lain pun pulang lebih dulu, seakan sengaja memberi ruang bagi dua orang yang masih tertinggal di sana.

Mela berdiri di tepi lahannya yang baru. Barisan tanaman muda tumbuh rapi, hijau dan menjanjikan. Namun tatapannya kosong, pikirannya melayang jauh, tidak sepenuhnya berada di tempat itu.

"Mel!"

Suara itu memecah lamunannya.

Ia menoleh.

Dino berdiri beberapa langkah darinya. Kemejanya sedikit kusut, lengan tergulung hingga siku, dan keringat tipis menghiasi pelipisnya. Namun bukan itu yang menarik perhatian Mela, melainkan tatapan pria itu dalam. Terlalu dalam untuk sekadar percakapan biasa.

"Ada waktu sebentar?" tanyanya, hati-hati.

Mela mengangguk pelan.

Mereka berjalan menuju gubuk kecil di pinggir lahan, lalu duduk berdampingan. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Hanya desir angin yang masuk di sela-sela dinding kayu, dan detak jantung yang terasa lebih cepat dari biasanya.

Dino menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian yang tersisa.

"Mel..."

Mela menoleh. "Ya?"

"I-itu... yang aku bilang waktu itu..." Ia berhenti, menelan gugup sebelum melanjutkan dengan suara lebih rendah. "Tentang perasaanku."

Hening.

Jantung Mela berdegup keras. Tangannya tanpa sadar saling menggenggam, menahan sesuatu yang tak ia pahami sepenuhnya.

Dino tersenyum tipis, namun ada kegamangan di sana. "Jangan terlalu dipikirkan. Aku nggak mau itu jadi beban buat kamu."

Mela mengangkat wajahnya sedikit. Tatapan mereka bertemu, dan untuk sesaat, waktu terasa melambat.

"Aku juga nggak minta jawaban sekarang," lanjut Dino. "Aku cuma... ingin kamu tahu kalau aku serius."

Angin berhembus, menyibak helai rambut Mela yang jatuh ke pipinya.

"Aku bisa nunggu, Mel." Dino terkekeh pelan, tapi terdengar getir. "Lagian... selama ini juga aku nunggu kamu. Dari zaman sekolah sampai sekarang... rasanya nggak pernah berubah."

Kata-kata itu jatuh perlahan, namun meninggalkan gema yang panjang di hati Mela.

Ia menunduk. Kenangan yang dulu terasa biasa, kini datang kembali dengan arti yang berbeda, lebih tajam, lebih nyata, lebih sulit diabaikan.

"Aku nggak akan maksa," tambah Dino lirih. "Apapun jawabanmu nanti, aku terima."

Ia berhenti sejenak, menatap Mela lebih dalam. "Tapi... jangan sampai ini bikin kita jauh."

Mela mengangguk pelan.

Sederhana, namun cukup membuat Dino mengembuskan napas lega, seolah beban di dadanya sedikit terangkat.

"Aku cuma... nggak mau kehilangan kamu lagi, Mel."

Kata kehilangan menggantung di udara, menancap pelan di hati Mela.

Ia ingin menjawab. Ingin mengatakan sesuatu. Tapi semua yang Dino ucapkan terasa terlalu tepat dan justru karena itu, terlalu sulit untuk dibalas.

"Oh ya," Dino kembali membuka suara, mencoba menetralkan suasana, "beberapa hari ke depan aku mungkin nggak bisa ke sini."

Mela langsung menoleh. "Kenapa?"

"Ada sedikit urusan," jawabnya santai, terlalu santai. "Nanti temanku yang bakal ambil sayuran ke sini."

Mela terdiam lagi.

Ada sesuatu dalam cara Dino mengatakannya terlalu ringan, tapi terasa menyimpan hal yang tidak sederhana.

"Oh..." hanya itu yang mampu ia ucapkan.

Dino mengangguk, lalu berdiri. "Kalau gitu, aku pulang dulu, ya."

Ia melambaikan tangan, lalu melangkah pergi. Dan, Mela tetap duduk di tempatnya, sampai langkah itu benar-benar menjauh, menghilang bersama senja.

Tanpa sadar, tangannya mengepal. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, bukan marah, bukan pula sedih. Tapi gelisah. Rasa yang tidak bisa ia beri nama.

Ia menatap jalan kosong beberapa detik lebih lama, sebelum akhirnya menarik napas dalam.

"Kenapa aku jadi begini..." gumamnya pelan.

Ia menggeleng, seolah menepis pikirannya sendiri, lalu bangkit untuk pulang. Namun langkahnya tidak lagi setenang sebelumnya.

Perasaan Dino membuat hatinya berantakan.

Ia merasa bersalah karena seseorang telah menunggunya begitu lama.

Ia merasa bahagia karena pengakuan itu menghidupkan kembali debar yang sempat mati.

Namun di saat yang sama, ia takut, takut jika luka lama kembali terulang.

Ia mencoba mengingat kata-kata Dino. Bahwa semua itu tidak harus menjadi beban.

Namun anehnya, saat mendengar mereka tidak akan bertemu untuk beberapa hari ke depan... justru ada ruang kosong yang perlahan terbuka di dalam hatinya.

Di tempat lain, kehidupan bergerak dengan ritme yang berbeda.

Di kantor pusat perusahaan Wijaya, malam tidak pernah benar-benar datang.

Lampu-lampu tetap menyala terang, menantang gelap yang mengintai di luar jendela. Kesibukan terus berjalan tanpa jeda, seolah waktu tidak memiliki kuasa di tempat itu.

Rahman duduk di ruangannya, dikelilingi tumpukan dokumen. Sebagian telah ditandatangani, sebagian lain menunggu keputusan.

"Dokumen ini perlu ditinjau ulang, Pak."

Rahman membuka berkas itu, matanya menelusuri setiap detail dengan tajam. "Yang ini sudah sesuai?" tanyanya singkat.

"Sudah, Pak."

Ia mengangguk, lalu memberi isyarat agar asistennya keluar.

Ruangan kembali sunyi.

Rahman melonggarkan dasinya, menyandarkan tubuh sejenak. Sejak pagi, rapat demi rapat ia hadiri tanpa jeda. Setiap keputusan diambil dengan pertimbangan matang, semuanya demi satu hal, mengembalikan kejayaan perusahaan.

Dan perlahan, hasilnya mulai terlihat.

Di sisi lain meja, Camila masih sibuk. Tangannya cekatan merapikan dokumen, matanya tajam membaca setiap angka dan risiko.

"Yang ini sebaiknya ditunda."

Ia berdiri, mendekat, lalu menunjuk salah satu bagian.

Rahman menegakkan tubuhnya. "Kenapa?"

"Risikonya terlalu besar untuk sekarang," jawab Camila tenang, namun pasti.

Rahman memperhatikan, mempertimbangkan, lalu akhirnya mengangguk. "Baik."

Satu keputusan berubah. Arah strategi bergeser—dan dampaknya langsung terasa.

"Kerja bagus," ucap Rahman singkat.

Camila tersenyum. Selama ini, ia selalu ada di sisi Rahman, selalu membantu, seolah tidak ada celah untuk melakukan kesalahan.

Dan justru karena itu, semuanya terasa terlalu sempurna.

Rahman bersandar, menatap berkas di tangannya. Karena usaha kerasnya, perusahaan mulai naik, pernikahannya pun berjalan lancar. Segalanya terkendali.

Namun, tanpa ia sadari, ia sedang berjalan menuju sesuatu yang lebih besar. Dan, saat seseorang merasa semuanya sudah terkendali, itulah momen paling berbahaya.

1
LENY
KASIHAN MELA DUH LINA JAMU SALAH DIDIK NNT BAKAL JD ANAK MANJA YG GAK BENER. DYAH PEREMPUAN LACUR PELAKOR MURAHAN SOMBONG BENER TUNGGULAH TUHAN TDK TIDUR NNT KAMU AKAN MENERIMA BALASAN ATAS PERBUATANMU😡😡😡🙈🙈
Marina Tarigan
wanita dinikahi bukan utk fisiksa tapi utk saling melengkapi saling mengasihi wanita juga bisa membunub laki2 bukan dvn kekerasan kom
Marina Tarigan
dasar ibu2 kampung biasa itu nanti hilang juha
Marina Tarigan
vitu dong jgn mau diselingkuhi
Muhyati Umi
siapa dia? apakah mantan pacarnya camila?
Muhyati Umi
beda istri beda rezeki. Rahman bakal bangkrut
mooociii
oh ternyata takut jafi gembel juga si dino 🤣🤣🤣
mooociii
umur brp si lina?
mooociii
umur berapa to lina, q pikir udah SMA karena nikah nya udah 20 thn
mooociii
dino pasti bos nya agra
Ria Gazali Dapson
kirain nikah sama gadis muda , eh nikah ny sm yg udh tua juga yaa, nyaris 50th , ga malu pa yaa
mooociii
umur mereka brpa, kalo mela bilang nikah udah 20 thn dikhianati brati umur mereka udah hampir 50 haruse, tp ini critanya mereka kliatan masih muda
mooociii
umur brp to mereka sbnere, bukanya udah hampir 50 kok kyak ABG aja🤣
Anonim
Lnjut
Anonim
Heemmm
YuWie
Luar biasa
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Thankiyu, kak 💜
total 1 replies
YuWie
ngaplo dong klo kata org jawa....alias zonk
YuWie
kejammm kau pak R
Yenny Mok
Jalan ceritanya bagus. Tetap semangat berkarya, thor. 💐💐
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Thankiyu, kak 💜
total 1 replies
Yune Z
dino
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!