NovelToon NovelToon
8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Contest / Fantasi Timur / Pemain Terhebat / Raja Tentara/Dewa Perang / Harem / Barat / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Pendekar Joko Tenang kini menjadi Raja Kerajaan Sanggana Kecil. Bersama dengan delapan istri saktinya ia membangun sebuah kerajaan dari awal dan nol.

Ia masih memiliki tugas utama, yaitu mewujudkan ilmu Delapan Dewi Bunga yang juga akan mengembalikan kesaktian utamanya yang tersegel sementara.

Apa jadinya jika salah satu istrinya adalah tokoh sakti aliran hitam yang legendaris? Selain itu, Joko harus menggagalkan rencana besar Malaikat Dewa Raja Iblis yang ingin menjadi raja dunia persilatan dengan cara jahat. Padahal Kerajaan Siluman yang menjadi musuhnya memiliki pasukan siluman yang sakti-sakti.

Mampukah Joko Tenang dan kedelapan istrinya menjayakan Kerajaan Sanggana Kecil dan memberantas rencana jahat Kerajaan Siluman? Yuk, baca sampai habis novel 8 Dewi Bunga Sanggana ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cihua 1: Mimpi Berujung Buruk

*Cinta di Hutan Angker (Cihua)* 

Ningsih Dirama begitu gembira memanjat pohon jambu air yang buahnya begitu melimpah dan warnanya merah-merah menggiurkan. Sedemikian banyaknya, dahan-dahannya sampai merunduk mendekati tanah.

Namun kemudian, gadis berbibir merah itu bingung harus menaruh di mana jambu-jambu yang sudah dipetiknya. Ia lupa membawa keranjang atau wadah.

Kebingungannya tidak berlangsung lama, karena ada sebuah keranjang bambu yang menggantung di sebuah dahan, agak jauh dari jangkauan tangannya.

Ningsih bergerak bergeser mencoba menjangkau keranjang tersebut. Namun, kakinya sudah berada di dahan yang kecil. Ada rasa takut jatuh yang muncul. Ningsih terus memaksakan mengulurkan tangannya.

“Dapat!” ucap Ningsih senang.

Krak! Bugk!

Tiba-tiba dahan yang Ningsih pijak patah. Tak ayal lagi, tubuh gadis cantik jelita itu langsung jatuh. Ketika tubuh Ningsih menghantam tanah, bumi serasa beguncang dan buah-buah jambu jatuh beramai-ramai.

Anehnya, buah-buah itu semuahnya jatuh menimpa dan kemudian menumpuk di tubuh Ningsih, bahkan nyaris mengubur tubuh gadis berpakaian hijau muda itu.

Cprak cprak cprak…!

Ningsih berusaha bangun, tetapi tiba-tiba buah-buah jambu itu pada membelah diri. Dan yang mengejutkan, dari dalam belahan-belahan jambu itu berkeluaran potongan tangan-tangan kecil yang kemudian berjalan dengan jari-jarinya. Begitu ramai.

“A… apa…? Aaa…!” kejut Ningsih ketakutan, lalu menjerit panjang.

Brak brak brak!

“Nduk! Ada apa, Nduk!” teriak satu suara wanita dewasa sambil menggebrak-gebrak pintu kamar. Hal itu terjadi setelah Ningsih berteriak berkepanjangan.

Brak! Brak!

“Ningsih! Buka pintunya!” teriak satu suara lelaki dengan keras. Ia mengetuk pintu kamar lebih keras dari istrinya.

“Hah hah hah!”

Ningsih terbangun dengan terengah-engah, seolah-olah usai berlari jauh. Suara ketukan pintu yang keras dan cepat, serta suara panggilan yang kencang, membuatnya terbangun.

“Ningsih, apa yang terjadi?!” teriak lelaki di balik pintu.

“Iya, Bopo!” sahut Ningsih kencang.

Buru-buru Ningsi merapikan pakaian tidurnya. Tampak wajah putihnya terlihat pucat dan berkeringat halus. Dengan jantung yang berdebar-debar, ia segera berlari kecil menuju pintu. Ia cabut pasak kayu yang mengunci pintu berdaun dua itu.

Maka tampaklah wajah kedua orangtuanya oleh temaram penerangan dian kamar. Wajah Rumih Riya tampak cemas. Wanita berusia lima puluh tahun itu begitu mengkhawatirkan putri nomor duanya tersebut, terlebih pada hari-hari menjelang kedatangan Prabu Raga Sata.

“Apa yang terjadi, Nduk?” tanya Rumih Riya cepat.

“Kau bermimpi buruk, Nduk?” terka lelaki bertubuh gagah yang usianya lebih tua dari Rumih Riya. Lelaki berkumis itu adalah ayah Ningsih Dirama, yaitu Adipati Yono Sumoto.

“Iya, Bopo,” jawab Ningsih.

“Kau sampai berkeringat seperti ini,” ucap Rumih Riya sambil menyeka wajah Ningsih dengan ujung kainnya. “Mudah-mudahan bukan pertanda buruk, Nduk.”

“Mbok jangan menakuti aku,” ucap gadis berbibir merah alami tersebut.

“Marti! Buatkan wedang hangat untuk Ningsih!” perintah Rumih Riya kepada seorang abdinya yang berdiri agak jauh di belakang.

“Baik, Ndoro,” sahut wanita gemuk yang hanya berpinjung setengah dada itu. Ia segera berbalik pergi ke dapur.

“Ada apa, Bopo?” tanya seorang perempuan muda dan cantik yang muncul dari sisi lain. Ia berambut panjang sepunggung tapi ikal. Ia mengenakan pakaian warna putih. Cahaya dian cukup untuk menunjukkan kecantikannya. Wajahnya mirip dengan Ningsih Dirama, tetapi ia tidak berbibir merah. Ia bernama Surina Asih, kakak Ningsih dengan usia lebih tua tiga tahun.

“Adikmu mimpi buruk,” jawab Adipati Yono Sumoto.

“Oh. Hati-hati, Ningsih. Kalau mimpi buruknya sangat serius, biasanya pertanda tidak bagus,” kata Surina kepada adiknya. Setelah berkata, ia lalu berbalik pergi untuk kembali ke kamarnya yang memang bersebelahan dengan kamar adiknya.

“Sudah, biar Mbok temani tidur,” kata Rumih Riya sambil mengajak putrinya kembali masuk ke dalam kamar. Lalu katanya kepada suaminya, “Kang Mas, alangkah baiknya jika besok pagi memanggil Ki Uyeng Dewo buat jaga diri.”

“Iya,” jawab Adipati Yono Sumoto. Ia lalu menutup pintu kamar putrinya dan kembali ke kamarnya.

Ningsih Dirama kemudian melanjutkan malamnya dengan tidur ditemani oleh sang ibu.

Namun, tanpa Ningsih ketahui terjadi sesuatu pada kulit tubuh dan wajahnya.

Hingga pagi menjelang.

“Nduk! Nduk! Bangun!”

Rumih Riya yang bangun lebih dulu dari putrinya, tiba-tiba berteriak panik sambil mengguncang-guncang tubuh putrinya.

“Kang Maaas! Kang Mas Adipati!” teriaknya pula memanggil suaminya.

Kebisingan yang ditimbulkan oleh ibunya membuat Ningsih Dirama terbangun dengan mengerenyitkan wajah.

“Ada apa, Mbok? Kenapa panik sekali?” tanya Ningsih heran lalu melihat ke sekitar yang tampak baik-baik saja.

“Wajahmu, Nduk!” jawab Rumih dengan menjerit histeris.

Ningsih mengerutkan kening. Dengan ragu-ragu dan takut-takut karena melihat reaksi ibunya, ia menyentuhkan tangan kanannya ke wajahnya.

Saat jari-jari lentik itu menyentuh kulit wajahnya, mendelik terkejutlah Ningsih. Ia merasakan ada benjolan-benjolan kecil pada wajahnya. Tangan kirinya juga cepat menyentuh wajahnya, maka semakin ramai benjolan kecil yang dirasakannya.

“Hah! Apa yang terjadi, Mbok?!” tanya Ningsih agak histeris.

Ia cepat melihat kepada kedua punggung tangannya. Dilihatnya juga ada benjolan-benjolan kecil pada kulit kedua tangannya, seperti terkena penyakit cacar. Namun, benjolan-benjolan berisi cairan itu warnanya agak kehijau-hijauan.

Ningsih bahkan cepat membuka baju luarnya untuk melihat keadaan kulit tubuhnya. Ternyata, semua anggota tubuh ditumbuhi benjolan-benjolan kecil.

“Ada apa lagi?” tanya Adipati Yono Sumoto yang muncul membuka pintu kamar itu.

Di belakang Adipati ada Surina Asih. Keduanya terkejut melihat kondisi Ningsih yang menjadi buruk rupa karena wajahnya nyaris dipenuhi benjolan-benjolan kecil.

“Apa yang terjadi, Bopooo! Hiks hiks hiks!” ratap Ningsih Dirama sambil menangis.

“Ini pasti guna-guna orang jahat, Kang Mas!” kata Rumih Riya, ia juga menangis meratapi kondisi putri kesayangannya.

“Surina, cepat suruh Kalang So memanggil Ki Uyeng Dewo!” perintah Adipati Yono Sumoto.

“Baik, Bopo,” jawab Surina Asih. Ia segera pergi meninggalkan kamar yang kini dipenuhi oleh suara tangis.

Para abdi keluarga Adipati segera berdatangan karena mendengar suara ramai tersebut.

“Tutup pintunya, Bopo! Tutup pintunya!” teriak Ningsih Dirama ketika melihat kemunculan para pembantu di luar pintu kamar. Ia sangat malu terlihat dalam kondisi seperti itu.

Adipati Yono Sumoto segera menutup pintu kamar.

“Ak!” jerit Ningsih Dirama tertahan, saat tanpa sengaja kukunya memecahkan satu benjolan di lehernya. Ia meringis sambil menyentuh benjolan yang pecah dengan ujung jarinya.

Ada cairan yang dirasakan dan melekat pada jarinya. Ada pula bau busuk dari cairan itu, tercium meski tidak didekatkan ke hidung.

Hal itu membuat Adipati Yono Sumoto dan istrinya semakin khawatir. Sebab, agenda yang tinggal dua hari lagi akan berantakan jika kondisi Ningsih Dirama seperti ini.

Menurut kabar yang mereka terima dari utusan Kerajaan Siluman beberapa hari lalu, Prabu Raga Sata akan datang langsung menjemput Ningsih yang akan dijadikan sebagai selir.

“Bagaimana ini, Kang Mas?” tanya Rumih Riya.

“Aku juga belum bisa memikirkan apa-apa. Tapi, jika ini adalah guna-guna, cara satu-satunya adalah menemukan siapa orang yang ingin menghancurkan keluarga kita,” kata Adipati Yono Sumoto.

“Apakah seharusnya kita minta bantuan Putri Bibir Merah?” usul Rumih Riya.

“Tidak akan pernah!” tandas Adipati Yono Sumoto. “Putri Bibir Merah sangat membenciku. Apalagi jika dia tahu bahwa aku menjodohkan Ningsih dengan Prabu Raga Sata untuk kedudukan selir.”

“Berarti kita hanya bisa berharap kepada Ki Uyeng Dewo,” kata Rumih Riya sedih.

Sementara Ningsih Dirama terus menangis mendapati kenyataan itu.

Ketika pagi mulai naik, barulah orang yang bernama Ki Uyeng Dewo datang. Ia adalah seorang lelaki tua agak pendek dengan jubah hitam terlihat kebesaran, ujung jubahnya sampai menyentuh lantai. Setiap kegiatan pengobatannya, Ki Uyeng selalu membawa sebuah keranjang bambu yang digendong di punggung. Keranjang itu tempat ia menyimpan berbagai macam bahan obat dan perlengkapan medisnya. Tidak hanya pakar di bidang medis, dia juga pakar di bidang supranatural.

“Ini bukan penyakit biasa, Gusti. Ini penyakit dari setan atas perintah seseorang,” kata Ki Uyeng Dewo setelah memeriksa kondisi fisik Ningsih Dirama dan kegaiban yang ada di sekitarnya.

Terkejutlah Ningsih Dirama dan kedua orangtuanya mendengar hal itu.

“Kurang ajar! Beraninya orang itu berurusan dengan Adipati Yono Sumoto!” geram Adipati Yono Sumoto marah.

“Apakah bisa disembuhkan, Ki?” tanya Rumih Riya.

“Aku belum bisa memastikan. Akan tetapi, akan aku coba lebih dulu, sebab ini adalah teluh yang kuat,” kata tabib berambut putih itu.

Sementara di luar, apa yang menimpa Ningsi kini menjadi pembicaraan bisik-bisik para abdi, yang kemudian ada saja yang bocor ke luar kediaman Adipati. (RH)

******************

Novel "8 Dewi Bunga Sanggana" adalah kelanjutan dari novel "Pendekar Sanggana".

Bantu dengan like dan komenmu!

1
♛ ⃟$𝑅࿐jomblo happy🗿
lalu apa yang terjadi?/CoolGuy/ pada Joko itu menangis terus
♛ ⃟$𝑅࿐jomblo happy🗿
semangat buat om untuk update novel lainnya
Anugrah Sanjaya
Luar biasa
Om Rudi: semoga suka Bang Anugrah,
total 1 replies
Anugrah Sanjaya
novel ini cocok tuk di jadikan film anime macam donghua China...
M. Syafri
Luar biasa
Om Rudi: semoga suka Bang
total 1 replies
then_must_nanang
sangat... sangat... luar biasa cerita....
TOP....
Om Rudi: sehat selalu Mas
total 1 replies
then_must_nanang
atur aja bang Rudy...
yg penting ceritanya lanjut...
Om Rudi: hehehehe suap
total 1 replies
then_must_nanang
uhui..... mantap pisan...
lanjut thor....
Om Rudi: lanjut Mas
total 1 replies
then_must_nanang
istirahat dulu bang Rudy....
Om Rudi: terima kasih atas kerjasamanya Mas Nanang. semoga sehat selalu
total 1 replies
then_must_nanang
bang Rudy, semoga sehat selalu
Om Rudi: aamiin
total 1 replies
then_must_nanang
maju.... sikat.... hancurkan.....
Om Rudi: hahaha
total 1 replies
then_must_nanang
jos tenan... Gurudi
Om Rudi: lanjut Mas Nanang. semoga betah
total 1 replies
then_must_nanang
kakak yg cemen.... busuk.. .
Sigit cahaya perkasa
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Ilham Tanjung
Kecewa
Mitra Sepakat
awalnya menarik
tiba2 menjadi 23 tahun kemudian. cerita jadu terpotong dan nggk nyambung lgi
Bimo
Gusti prabu Joko seng ada lawan.. 😂
💜⃞⃟𝓛 𝓐𝓡 -𝓡𝓾𝓶𝓲 🏡s⃝ᴿ
belakang punggung nya bolong gak om, kalo bolong takutnya yg suka bikin bokir lari terkencing kencing kalo ketemu 😂😂🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
💜⃞⃟𝓛 𝓐𝓡 -𝓡𝓾𝓶𝓲 🏡s⃝ᴿ
kalo menutup semua dada sampe atas bukan Pinjung namanya om tapi Daster, 100 ribu dapet tiga 🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 𝓐𝓡 -𝓡𝓾𝓶𝓲 🏡s⃝ᴿ
waah.. si mbok nya Joko Tenang, waktu masih gadis suka manjat manjat juga toh 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!