"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Rencana Pengalihan Isu
Bab 13: Rencana Pengalihan Isu
Suasana di dalam ruang kerja Adrian di lantai satu terasa begitu pengap, meski pendingin ruangan sudah disetel ke suhu paling rendah. Berkas laporan mingguan dari ketiga cabang berserakan di atas meja jati. Adrian menyandarkan punggungnya, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut kencang. Retakan di restorannya bukan lagi sekadar riak kecil; grafik omzet di Cabang Dua mulai menunjukkan penurunan nyata dalam lima hari terakhir. Pelanggan setia berbondong-bondong membatalkan pesanan katering korporat dengan alasan yang seragam: cita rasa bumbu inti yang mendadak berubah drastis dan meninggalkan rasa getir.
Klek.
Pintu ruangan terbuka perlahan tanpa ketukan. Ibu Broto masuk membawa secangkir teh herbal hangat, wajahnya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini tampak sedikit menyusut melihat raut frustrasi di wajah anak laki-lakinya.
"Adrian, Le... minum dulu ini," ucap Ibu Broto lembut, meletakkan cangkir itu di tepi meja. Ia melirik tumpukan berkas yang berantakan. "Kamu tidak bisa terus-terusan mengunci diri di sini sambil marah-marah seperti tadi di meja makan. Tidak enak dilihat Santi, dia sampai ketakutan di dapur."
Adrian mengembuskan napas kasar, memutar kursinya menghadap sang ibu. "Ibu tidak paham masalahnya. Komplain di restoran makin banyak. Beberapa kritikus kuliner lokal di media sosial bahkan mulai membahas penurunan kualitas 'Rasa Hana'. Kalau begini terus, nama besar kita bisa hancur dalam hitungan bulan!"
Ibu Broto mendecak, tidak mau disalahkan. "Halah, itu paling cuma akal-akalan saingan bisnis yang sirik sama kesuksesanmu! Menurut Ibu, kamu itu cuma sedang terlalu stres, Adrian. Rumah ini juga suasananya makin tidak sehat karena Hana terus-terusan mengunci diri di atas dan memasang wajah seperti mayat hidup setiap kali turun makan."
Ibu Broto maju selangkah, mencondongkan tubuhnya ke meja dengan mata yang berbinar penuh siasat. "Ibu punya ide. Kebetulan bulan depan ada libur panjang. Bagaimana kalau kita semua mudik dulu ke kampung halaman di Jawa Tengah? Sudah lama kita tidak menengok rumah peninggalan bapakmu, sekalian menyegarkan pikiranmu dari urusan restoran. Anggap saja ini liburan keluarga."
Adrian terdiam sejenak. Pikiran untuk melarikan diri dari tumpukan komplain di kota selama satu minggu mendadak terdengar sangat menggiurkan. Namun, ia teringat sesuatu. "Lalu... bagaimana dengan Hana? Kondisinya sedang hamil, Bu."
"Justru itu!" potong Ibu Broto cepat. "Kita bawa dia sekalian. Biar orang-orang kampung dan keluarganya, terutama Paman Harjo-nya itu, melihat kalau kamu ini suami sukses yang bertanggung jawab, bukan menyekap istrinya di kamar atas. Kita buka pintu kamarnya, kita kembalikan ponselnya selama di sana agar penampilannya di depan publik tetap terlihat harmonis. Nama baikmu sebagai pengusaha sukses harus tetap dijaga, Adrian."
Adrian mengetukkan jemarinya di atas meja, menimbang-nimbang usulan ibunya. Sisi egoisnya menyetujui taktik pencitraan ini. Ia tidak ingin lingkaran sosialnya mencium keretakan rumah tangga atau kegagalan bisnisnya. "Baik, Bu. Atur saja perjalanannya. Kita berangkat minggu depan lewat jalur darat."
Keesokan paginya, pintu kamar Hana di lantai dua tidak lagi dikunci dari luar. Adrian melangkah masuk dengan setelan kasual yang rapi, memalsukan senyuman hangat yang sudah lama tidak Hana lihat dari wajah suaminya. Di tangannya, ia membawa ponsel milik Hana dan meletakkannya kembali di atas nakas.
"Han," panggil Adrian, suaranya sengaja dilembutkan seolah-olah ketegangan beberapa hari lalu tidak pernah terjadi. "Ini ponselmu aku kembalikan. Maaf... kemarin aku terlalu kalap karena stres kerjaan. Aku tidak bermaksud mengurungmu."
Hana yang sedang duduk di tepi ranjang melirik ponselnya, lalu menatap wajah Adrian dengan pandangan yang teramat tenang—sejenis ketenangan yang tidak bisa lagi digapai oleh manipulasi apa pun. "Ya, Mas. Tidak apa-apa," jawab Hana lirih, memainkan perannya sebagai istri yang penurut dengan sangat sempurna.
Adrian berdeham, merasa sedikit lega karena Hana tidak melayangkan protes. "Minggu depan kita akan mudik ke kampung, Han. Ibu bilang sudah rindu dengan suasana desa, dan aku rasa ini waktu yang tepat untuk mengajakmu jalan-jalan biar kandunganmu tidak stres di dalam kamar terus. Kamu bisa bertemu Paman Harjo juga, kan?"
"Mudik?" Hana mengulang kata itu dalam hati. Sebuah kilatan pemikiran melintas cepat di kepalanya. Keluar dari rumah kota ini, meskipun hanya sementara, akan memberinya ruang gerak yang lebih luas tanpa pengawasan ketat Ibu Broto. Ini adalah kesempatan bagus.
"Baik, Mas. Aku akan ikut," ucap Hana lembut, menyunggingkan senyum tipis yang tampak tulus di mata Adrian.
"Baguslah kalau begitu. Tolong siapkan baju-bajumu ya. Biar Santi yang membantu mengepak koper ke dalam mobil nanti," kata Adrian sembari menepuk pundak Hana sekilas, lalu berbalik keluar dari kamar dengan langkah yang jauh lebih ringan.
Begitu pintu tertutup, Hana langsung menyambar ponselnya. Ia memeriksa beberapa pesan masuk, termasuk laporan harian dari Pak Joko yang sengaja tidak ia balas agar tidak memicu kecurigaan sistem pelacakan jika Adrian mendadak memeriksa kembali. Hana menatap layar ponselnya dengan senyuman yang dingin. “Mudik... ilusi keharmonisan apa lagi yang sedang ingin kamu pamerkan pada dunia, Adrian?” batin Hana tajam. “Silakan pasang topengmu seerat mungkin, karena di kampung nanti, aku akan memastikan retakan topeng itu semakin menganga.”
Hari keberangkatan pun tiba. Sebuah mobil MPV mewah berwarna hitam mengilap sudah terparkir di halaman depan rumah dengan bagasi yang terisi penuh oleh koper-koper mahal milik Ibu Broto dan Adrian.
Santi berdiri di dekat pintu mobil, mengenakan pakaian yang jauh lebih sopan dari biasanya—sebuah tunik longgar bermotif bunga sederhana—atas perintah Ibu Broto demi menjaga pandangan orang kampung nantinya. Namun, matanya tidak bisa menyembunyikan binar kegembiraan yang meluap-luap. Ini adalah pertama kalinya ia akan naik mobil semewah ini untuk pulang kampung, bukan lagi naik bus ekonomi yang berdebu.
Hana turun dari lantai dua dibantu oleh seorang pekerja rumah tangga lainnya, melangkah perlahan menuju mobil. Begitu sampai di depan pintu tengah, Ibu Broto langsung berdeham keras.
"Hana, kamu duduk di baris tengah saja sendirian ya, biar bisa meluruskan kakimu kalau pegal," ujar Ibu Broto dengan nada suara yang dibuat-buat ramah di depan para tetangga yang kebetulan lewat di depan pagar. "Biar Santi yang duduk di depan menemani Adrian, membantu mengambilkan minum atau menyuapi camilan kalau Adrian mengantuk saat menyetir."
Hana menatap Adrian yang sudah duduk di kursi kemudi. Suaminya tidak memprotes, ia justru sibuk mengatur navigasi di layar dasbor, seolah-olah pengaturan tempat duduk itu adalah hal yang sangat wajar.
Santi melirik Hana dari balik bahunya dengan senyuman kemenangan yang samar, lalu dengan gesit membuka pintu depan dan duduk di samping kursi kemudi, merapikan duduknya dengan gaya yang sangat anggun.
"Baik, Ibu. Saya tidak keberatan," jawab Hana tenang. Ia melangkah masuk ke baris tengah, menutup pintu, dan langsung memasang sumbat telinga (earplug) serta penutup mata. Ia tidak sudi membuang energinya untuk menyaksikan interaksi murahan yang akan terjadi di baris depan selama perjalanan belasan jam ke depan.
Mobil pun perlahan bergerak membelah jalanan kota yang padat, meninggalkan istana emas yang penuh kepalsuan itu menuju tanah kelahiran. Di dalam keheningan yang ia ciptakan sendiri di balik penutup mata, Hana merasakan detak jantung bayinya yang tenang. Perang dingin psikologis ini baru saja berpindah tempat, dan Hana telah bersiap sepenuhnya untuk menghadapi babak baru yang menantinya di ujung jalan joglo kampung halaman.