Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Tiga..."
"Dua..."
"Satu..."
WUUUSSHHH!!
Pusaran cahaya di tengah gerbang membesar berkali-kali lipat. Angin yang keluar dari dalam portal begitu kuat hingga membuat pepohonan di sekitar halaman kampus bergoyang hebat.
"MASUK!"
Serentak ratusan mahasiswa berlari menuju portal.
Joni dan Gondrong ikut memacu langkah. Begitu tubuh mereka menyentuh pusaran cahaya, pandangan Joni mendadak berubah putih. Tubuhnya terasa seperti ditarik ke segala arah sebelum akhirnya...
Sreet...
Kedua kakinya kembali menginjak tanah.
"Ugh..."
Joni memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
Beberapa detik kemudian ia perlahan membuka mata.
"Hah..."
Pemandangan di hadapannya membuat napasnya tertahan.
Langit di dunia itu berwarna kebiruan dengan dua matahari yang bersinar berdampingan. Pepohonan menjulang puluhan meter, batangnya sebesar rumah. Rumput liar setinggi pinggang bergoyang diterpa angin, sementara suara auman monster terdengar bersahut-sahutan dari kejauhan.
"Buset..."
"Ini Dimensi Monster..."
Di sampingnya, Gondrong juga melongo.
"Hehehe... keren banget."
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, puluhan mahasiswa mulai berpencar sesuai kelompok masing-masing. Beberapa kelompok Swordman langsung masuk ke dalam hutan. Para Gunner memilih mencari dataran tinggi sebagai titik tembak, sedangkan mahasiswa Qigong duduk sejenak untuk merasakan aliran energi di sekitar mereka sebelum bergerak.
Master Johan berdiri di atas sebuah batu besar.
"Perhatian!"
Seluruh mahasiswa Level 7 langsung menoleh.
"Ini adalah Zona Hijau. Monster di sini relatif lemah, tapi jangan lengah. Kalau ada yang terluka parah, segera tekan tombol darurat di jam tangan kalian. Tim penyelamat akan datang."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Target kalian hari ini sederhana."
"Berburu."
"Naik level."
"Dan..."
"Jangan mati."
Setelah memberikan instruksi terakhir, Master Johan melambaikan tangan.
"Silakan bergerak!"
Joni menghela napas panjang.
"Nah..."
"Mulai dari mana nih?"
Belum sempat Gondrong menjawab...
GROOOAAARRR!!
Auman keras menggema dari balik semak-semak.
Tanah bergetar pelan.
Dahan-dahan pohon bergoyang hebat seolah ada sesuatu yang besar sedang mendekat.
Joni dan Gondrong spontan memasang kuda-kuda.
Beberapa detik kemudian...
BRUSSHH!!
Sesosok bandit dengan senjata rantai setinggi hampir dua meter menerobos keluar dari semak. rantainya berputar, sementara mata merahnya langsung mengunci ke arah Joni.
Di atas kepala monster itu, jam tangan Joni otomatis memunculkan informasi.
Reckles Bandit level 5 Tingkat Ancaman: Rendah
Joni tersenyum tipis sambil mengepalkan Iron Gauntlet.
"Nah..."
"Monster pertama gue."
Monster bandit itu menggeram pelan sambil menggesek-gesekkan kaki depannya ke tanah. Debu beterbangan ke segala arah. Senjata rantainya yang panjang memantulkan cahaya matahari, pertanda sekali sabet saja tulang manusia bisa patah.
"Hehehe... Jon," bisik Gondrong sambil menelan ludah. "Katanya ancamannya rendah."
"Iya."
"Kok bentuknya segede mobil begitu?"
"Yang rendah ancamannya buat monster, bukan buat dompet kita."
"Apaan sih?"
Belum sempat Gondrong mengomel, monster bandit itu langsung menyerang.
GROAAARRR!!
"AWAS!"
Joni melompat ke samping. Serangan monster itu menghantam batang pohon di belakangnya hingga retak. Melihat celah itu, Joni segera mengumpulkan tenaga di kepalan kanannya.
"Heavy Punch!"
SWIIINGG!!
DUAAARRR!!
Gelombang udara meluncur deras dan menghantam tubuh bandit tepat di bagian bahu.
BOOM!
Monster itu terpental beberapa meter, berguling di tanah sambil mengeluarkan raungan kesakitan.
"Mantap, Jon!" teriak Gondrong.
"Entar dulu"
Joni berlari mengejar. Kali ini ia tidak menggunakan Heavy Punch. Ia ingin menghemat tenaga. Dengan Iron Gauntlet di kedua tangannya, ia menghujani kepala monster itu dengan bogem bertubi-tubi.
BUGH! BUGH! BAKK!
Bandit itu mencoba melawan. rantainya menyapu ke arah perut Joni.
SREET!
Joni mundur setengah langkah. Meski berhasil menghindar, ujung rantai itu tetap menggores seragamnya.
"buset..."
Monster itu kembali menerjang.
Namun kali ini Joni sudah siap.
Ia memutar tubuhnya, lalu mengayunkan tinju kanan sekuat tenaga tepat ke arah rahang sang monster.
DUAAAGG!!
Suara retakan tulang terdengar jelas.
Tubuh bandit itu terangkat sesaat sebelum akhirnya roboh dengan keras.
BRUUUKK!!
Tanah bergetar pelan.
Beberapa detik kemudian, cahaya putih keluar dari tubuh monster yang sudah tak bergerak. Sebuah kristal kecil berwarna hijau perlahan muncul dari dadanya.
Jam tangan Joni langsung berbunyi.
Monster berhasil dikalahkan. EXP +85 Monster Core diperoleh ×1
Joni mengambil kristal itu sambil tersenyum puas.
"Jadi ini Monster Core..."
Gondrong mendekat dengan wajah kagum.
"Hehehe... keren juga lo sekarang."
Joni baru saja hendak menjawab ketika jam tangannya kembali bergetar.
Peringatan! Terdeteksi tiga monster mendekat. Jarak: 120 meter.
Joni dan Gondrong saling berpandangan.
"Heh..."
"Hehehe..."
"Kali ini jangan ketawa dulu."
Karena dari balik pepohonan, terdengar tiga auman yang jauh lebih keras daripada monster pertama.
GROOOAAARRR!!
Tiga bayangan besar muncul dari balik pepohonan. Bentuknya sama seperti monster bandit tadi, hanya saja ukuran tubuh mereka jauh lebih besar. Rantainya lebih panjang, sementara bulu hitam di punggungnya berdiri tajam seperti duri.
Jam tangan Joni kembali memunculkan informasi.
Giant reckless bandit
Level 8
Jumlah: 3
Tingkat Ancaman: Sedang
"Hehehe... Jon," bisik Gondrong sambil mundur selangkah. "Kayaknya kita apes."
"Apes pala lo."
"Itu tiga ekor!"
"Ya terus?"
"Yang satu aja tadi bikin deg-degan."
Joni mengembuskan napas pelan. Tangannya mengepal erat di dalam Iron Gauntlet. Sekarang ia mengerti kenapa Master Johan berkali-kali mengingatkan agar jangan meremehkan Dimensi Monster. Di sini, monster tidak datang satu per satu. Begitu mencium mangsa, mereka langsung berburu secara berkelompok.
Tiba-tiba ketiga Giant bandit itu menyerang bersamaan.
DUUMM!!
Tanah bergetar hebat.
"Pisah!" teriak Joni.
Ia melompat ke kanan, sementara Gondrong berguling ke arah kiri. Serudukan ketiga monster itu menghancurkan batu besar yang tadi berada di belakang mereka hingga pecah berkeping-keping.
"Gue tahan dua!" teriak Joni.
"Hehehe... yang satu buat gue!"
"Jangan ketawa mulu! Fokus!"
Dua monster langsung mengejar Joni. Salah satunya membuka mulut lebar, sementara yang lain mencoba menyeruduk dari samping. Joni memutar tubuhnya, menghindari serangan pertama, lalu menghantam pipi monster kedua dengan sebuah bogem keras.
BUAGH!!
Monster itu terpental beberapa langkah.
Namun monster pertama sudah kembali menyerang.
Joni tidak sempat menghindar sepenuhnya.
BRAKK!!
Bahu kirinya tersenggol rantai hingga tubuhnya terdorong ke belakang.
"Bajingan."
Untungnya, sebagian besar benturan berhasil ditahan oleh atribut Defense yang selama ini ia tingkatkan. Kalau kejadian itu terjadi sebulan lalu, mungkin bahunya sudah patah.
Di sisi lain, Gondrong juga sedang pontang-panting menghadapi lawannya.
"Hehehe... jangan lari!"
"GRROOAAARR!"
"Hehehe... jangan marah dong!"
Monster itu malah semakin beringas.
Joni yang melihat sahabatnya mulai kewalahan segera mengumpulkan energi di tangan kanannya.
"Heavy Punch!"
Aura keemasan kembali menyelimuti kepalannya.
SWIIINGG!!
DUAAARRR!!
Gelombang udara melesat melintasi hutan dan menghantam babi hutan yang sedang mengejar Gondrong.
BOOOMM!!
Monster itu langsung terpelanting hingga menghantam batang pohon besar.
"Hehehe... makasih, Jon!"
Belum sempat Joni menjawab, dua monster yang tadi dihadapinya kembali menyeruduk dari arah berbeda.
"Cepat juga baliknya..."
Joni menarik napas panjang.
Ia merasakan sensasi bertarung yang sesungguhnya. Tidak ada instruktur yang akan menghentikan pertandingan. Tidak ada wasit yang akan memisahkan lawan. Di tempat ini, jika lengah satu detik saja, nyawanya benar-benar bisa melayang.