Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Sisa Waktu yang Sempit
"Nadia! Mau ke mana kamu?"Langkah kaki Nadia yang baru saja mencapai ambang pintu depan langsung terpaku. Gadis itu menoleh pelan, meremas tali tas kanvasnya yang sudah mulai menipis di bagian pundak. Di hadapannya, berdiri Nyonya Sarah, yang selalu mengklaim dirinya sebagai 'penolong' hidup Nadia, meski perlakuan sehari-harinya justru membuktikan sebaliknya.
"Saya mau berangkat kuliah, Nyonya. Pagi ini ada ujian kelas Profesor burhan jam delapan," jawab Nadia selembut mungkin, berusaha menyembunyikan kepanikannya saat melirik jam tangan murah di pergelangan tangannya.
Pukul tujuh lewat sepuluh menit. Untuk sampai ke kampus dengan angkutan umum, ia setidaknya butuh waktu empat puluh lima menit. Waktunya sudah sangat mepet.
Nyonya Sarah berkacak pinggang, menatap Nadia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Kuliah? Enak sekali kamu ya. Memangnya semua pekerjaan rumah sudah selesai? Kamu pikir kami membiayai sebagian uang kuliahmu agar kamu bisa bersenang-senang dan bermalas-malasan?"
"Saya sudah mencuci piring, menyapu halaman, dan menyiapkan sarapan sejak jam lima pagi, Nyonya," bisik Nadia, menahan rasa sesak yang mulai merayap di dadanya.
"Jangan membantah!" bentak Nyonya Sarah. "Itu meja makan belum dilap bersih! Lalu, jas dan kemeja Axel yang mau dia pakai ke kantor hari ini belum kamu setrika, kan? Axel ada rapat penting siang ini dengan papanya. Setrika sekarang! Jangan sampai ada satu kerutan pun, atau kamu saya usir dari rumah ini!" ancam Sarah.
Mendengar nama Axel disebut, jantung Nadia berdegup sedikit lebih kencang. Axel, putra tunggal di rumah ini, adalah sosok yang selalu dingin dan acuh tak acuh padanya. Tapi ancaman diusir dari Nyonya Sarah bukanlah main-main. Tanpa tempat bernaung ini, Nadia tidak akan bisa melanjutkan impian kuliahnya.
"Baik, Nyonya. Saya kerjakan sekarang," lirihnya pasrah.
Nadia meletakkan tasnya kembali di kursi dapur. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena dikejar waktu, ia menyalakan setrika. Helai demi helai kemeja milik Axel ia haluskan dengan sangat hati-hati. Wangi parfum maskulin khas Axel menguar dari serat kain kemeja mahal itu, memenuhi indra penciuman Nadia, menyisakan perasaan asing yang tak pernah ia mengerti.
Setengah jam berlalu seperti kedipan mata."Nadia! Kenapa lama sekali?" teriak Nyonya Sarah dari ruang tengah.
"Sudah selesai, Nyonya!" Nadia bergegas merapikan jas tersebut ke dalam gantungan baju, lalu meletakkannya di dekat kamar Axel yang pintunya masih tertutup rapat. Pemilik kamar itu tampaknya belum bangun, atau mungkin sedang tidak ada di rumah sejak semalam.
Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit, Nadia hampir menangis melihat angka digital di ponselnya."Nyonya, saya pamit sekarang," pamit Nadia tergesa-gesa tanpa menunggu jawaban panjang dari Sarah, yang hanya membalas dengan kibasan tangan tak peduli.
Nadia berlari sekencang yang ia bisa. Kakinya yang hanya beralaskan flat shoes tipis menghantam aspal jalanan kompleks perumahan elite yang sangat luas itu.
Karena ini kawasan elite, tidak ada angkutan umum yang diperbolehkan masuk ke dalam kompleks. Nadia harus berlari hampir satu kilometer untuk mencapai gerbang luar, tempat angkot biasanya melintas. Napasnya memburu, peluh dingin mulai membasahi dahi dan punggungnya. Sambil berlari, Nadia terus berdoa di dalam hati agar Profesor Burhan belum menutup pintu kelasnya. Jika ia gagal dalam ujian pagi ini, beasiswa prestasinya terancam dicabut.
"Tolong... sekali ini saja, jangan terlambat," gumamnya dengan air mata yang nyaris menetes akibat panik bercampur lelah.
Begitu matanya menangkap jalan raya di luar gerbang kompleks, sebuah mobil sedan mewah hitam melesat masuk melewati pos satpam. Kaca mobil itu sedikit terbuka, memperlihatkan siluet seorang pria berahang tegas dengan kacamata hitam yang tampak acuh tak acuh menyetir dengan satu tangan. Itu Axel. Dia baru pulang pagi ini, entah dari mana. Namun, Nadia tidak punya waktu untuk peduli. Begitu melihat sebuah angkot hijau melintas di seberang jalan, ia langsung berteriak sambil melambaikan tangannya dengan panik.
"Kiri, Bang! Kiri! Tolong berhenti!”
Suara Nadia hampir habis, tertelan deru bising kendaraan di jalan raya. Beruntung, sang sopir angkot melihat lambaian tangan paniknya. Mobil hijau itu mengerem mendadak dengan bunyi berdecit nyaring, berhenti tepat beberapa meter di depan Nadia.
Tanpa membuang waktu, Nadia melompat masuk ke dalam angkot yang untungnya tidak terlalu penuh. Ia duduk di pojok dekat pintu, berusaha meredakan napasnya yang memburu. Dadanya naik-turun kencang, dan peluh membasahi pelipisnya hingga beberapa helai rambut menempel di wajahnya yang pucat.
Nadia melirik jam di layar ponselnya yang retak. ‘Pukul 07.52.’
‘Delapan menit lagi,’ batinnya menjerit panik.
"Bang, bisa agak cepat sedikit? Saya ada ujian jam delapan pas," pinta Nadia dengan nada memohon, suaranya sedikit bergetar.
"Sabar ya, Neng. Ini juga Abang lagi usahakan, tapi di depan agak padat," sahut sopir angkot dari kaca spion tengah.
Nadia meremas tali tas kanvasnya dengan sangat erat, menatap nanar ke arah jalanan. Setiap detik terasa seperti siksaan. Ketika angkot akhirnya berhenti di depan gerbang kampus, jam digitalnya tepat menunjukkan ‘pukul 08.01’.
Begitu menyerahkan selembar uang ribuan, Nadia langsung meloncat turun dan kembali berlari. Lorong-lorong kampus yang biasanya ramai kini tampak sepi karena jam perkuliahan pertama sudah dimulai. Langkah kaki Nadia menggema di koridor lantai dua, menuju ruang aula tempat ujian Profesor Burhan dilaksanakan.
Profesor Burhan terkenal sebagai dosen killer paling disiplin se-fakultas. Terlambat satu menit saja setelah pintu ditutup, tidak akan ada toleransi.
Braak!
Nadia mendorong pintu aula yang untungnya belum dikunci rapat. Napasnya tersengal-sengal, seluruh pasang mata di dalam ruangan luas itu langsung tertuju padanya. Di depan kelas, berdiri Profesor Burhan dengan kacamata yang bertengger di hidungnya, memegang selembar kertas ujian. Suasana seketika hening mencekam.
"Nadia Salsabila," suara berat Profesor Burhan menggelegar. "Jam berapa sekarang?"
"Ma-maaf, Prof... Saya..." Nadia terbata-bata, tenggorokannya terasa sangat kering. "Angkotnya tadi sempat tertahan macet..."
Profesor Burhan menatap jam dinding aula, lalu beralih menatap penampilan Nadia yang berantakan. Wajah kelelahan, keringat bercucuran, dan sepatu yang tampak kotor setelah berlari jauh. Semua mahasiswa tahu betapa pintarnya Nadia dan bagaimana dia selalu berjuang mempertahankan beasiswanya.
"Masuk," ucap Profesor Burhan dingin, namun ada sedikit kilat maklum di matanya. "Ambil lembar soalmu. Ini kelonggaran pertama dan terakhir untukmu, Nadia. Satu menit lagi kamu datang terlambat, kamu silakan keluar."
"Terima kasih banyak, Prof. Terima kasih," bisik Nadia berulang kali sambil membungkuk hormat.
Nadia berjalan menuju kursinya di barisan tengah dengan tangan gemetar. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih menggila, mengambil pena dari tasnya, dan mulai fokus pada lembar ujian di depannya. Bagaimanapun caranya, dia harus lulus ujian ini demi masa depannya. Demi bisa lepas dari cengkeraman rumah keluarga Pramoedya.
**
Ujian yang melelahkan itu akhirnya berlalu, namun penderitaan Nadia belum usai. Sepulang dari kampus sore tadi, Nyonya Sarah sudah menyambutnya dengan tumpukan cucian dan tugas rumah tangga lainnya yang seolah tidak ada habisnya.
Malam telah larut. Jam dinding besar di ruang tengah sudah menunjukkan pukul 23.30.
Seluruh penghuni rumah, termasuk Nyonya Sarah dan suaminya, tampaknya sudah terlelap di kamar mereka masing-masing yang nyaman di lantai atas. Sementara Nadia, dengan tubuh yang teramat letih dan sisa-sisa tenaga yang dipaksakan, melangkah menuju kamar mandi lantai bawah yang terletak di dekat area dapur.
Ia membawa sebuah ember, sikat, dan cairan pembersih.
Kenapa larut malam begini Nadia baru sempat membersihkan kamar mandi? Jawabannya sederhana, pekerjaannya hari ini terlalu menumpuk. Dari pagi ia harus kuliah, siang harinya ia harus membantu bibi di dapur menyiapkan makan malam besar karena ada kolega Tuan rumah yang datang, dan baru malam inilah dia punya waktu luang untuk menyelesaikan tugas terakhirnya.
Nadia berlutut di lantai kamar mandi yang dingin, mulai menyikat dinding keramik dengan gerakan berirama. Suara gesekan sikat dan gemercik air menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan malam itu. Kepalanya terasa sedikit pening karena kelelahan, namun ia tetap memaksakan diri agar besok pagi tidak ada omelan lagi dari Nyonya Sarah.
Tiba-tiba, dari arah luar, terdengar suara dentuman keras pintu utama yang dibuka secara kasar.
Brak!
Nadia tersentak, gerakannya menyikat lantai langsung terhenti. Ia menajamkan pendengarannya. Terdengar langkah kaki yang berat, tidak beraturan, dan sesekali terdengar suara barang yang tersenggol di ruang tengah. Langkah kaki itu terdengar semakin mendekat ke arah area dapur dan kamar mandi.
Perasaan Nadia mendadak tidak enak. Dengan jantung yang kembali berdegup kencang karena takut, ia berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
Begitu ia melongokkan kepalanya ke luar, sosok jangkung itu berdiri di sana.
Axel.
Pria itu bersandar pada meja konter dapur dengan napas yang tidak teratur. Dasinya sudah melonggar, jas mahal yang tadi pagi disetrika Nadia dengan susah payah kini entah ke mana, dan kemeja putihnya sudah terbuka dua kancing teratas. Dari jarak beberapa meter saja, Nadia bisa mencium bau alkohol yang sangat menyengat menguar dari tubuh pria itu.
Axel pulang dalam keadaan mabuk berat. Rambutnya berantakan, dan tatapan matanya yang biasanya tajam serta dingin, kini tampak sayu, liar, dan dipenuhi oleh kabut kemarahan yang tak terbendung.
Mata Axel yang memerah perlahan bergeser, menangkap siluet Nadia yang berdiri di ambang pintu kamar mandi yang remang-remang.
***