NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DuaEmpat—Nyonya Besar Shen!

"Nyonya, kurasa dengan kaki Anda yang cedera, akan cukup merepotkan jika Anda harus bergerak ke sana kemari," Bibi Liu menjeda kalimatnya sejenak. Matanya turun, menatap penuh arti pada kaki Gu Mingyue yang terbalut perban di atas kursi panjang. "Lagipula, Anda saat ini sedang sakit dan lemah."

Gu Mingyue bergerak samar, membuat kain gaun sutra hijaunya berdesik pelan. Gadis itu kini mengubah posisinya, menegakkan punggungnya dengan sempurna. Ia menyunggingkan senyuman meremehkan yang teramat dingin, lalu perlahan bangkit berdiri. Segala rasa nyeri yang berdenyut hebat di pergelangan kakinya diabaikan begitu saja demi harga diri. Tanpa ada raut getir sedikit pun di wajah cantiknya, ia melangkah maju dengan pasti, mengikis jarak di antaranya dan Bibi Liu.

"Lihatlah, Bibi," bisik Mingyue tajam, tepat di hadapan wajah wanita tua itu. "Aku masih cukup kuat bahkan untuk berjalan mendekatimu, kecuali... kau memang sedang mendoakan keburukan menimpaku?"

"Hamba tidak berani, Nyonya," kilah Bibi Liu cepat. Ia mendongak, menatap manik mata Gu Mingyue dengan sorot yang cukup lekat dan menantang. "Hanya saja, beri hamba waktu hingga akhir musim semi agar tidak ada laporan keuangan yang tumpang tindih."

Gu Mingyue membalikkan badannya. Ia berjalan kembali menuju kursi kebesarannya tanpa riak kerapuhan, lalu duduk seraya menyibak kain hanfu sutra hijaunya dengan perlahan. "Aku ingin semua itu diserahkan segera."

"Nyonya Besar, keputusan mendadak itu hanya akan membuat kericuhan di paviliun barat dan gudang! Banyak utang toko yang belum dibayar lunas di luar sana," bantah Bibi Liu, mulai menggunakan alasan operasional untuk mendesak.

"Kau tinggal memberikan seluruh catatannya padaku," Gu Mingyue menatap lurus ke dalam manik mata Bibi Liu, suaranya merendah namun sarat ancaman. "Atau... kau sengaja ingin menyembunyikan sesuatu—"

Sebelum Mingyue menyelesaikan kalimatnya, Bibi Liu lebih dulu mendengus kasar, memotong ucapan sang Nyonya Besar karena emosinya yang mulai tersulut.

"Anda baru saja berada di kediaman ini selama semalam, namun sudah ingin segera menguasai buku besar dan kunci gudang utama," napas wanita tua itu terengah, dadanya naik turun menahan dongkol saat ia terang-terangan melayangkan sindiran tajam. "Kurasa, Nyonya Besar agak terlalu materialistis."

Gu Mingyue terkekeh pelan, sebuah suara tawa rendah yang justru terasa mengerikan di tengah keheningan aula. "Bibi Liu, kau cukup kurang ajar."

Ia menatap wanita tua itu dengan sorot mata yang teramat dingin dan menusuk. "Aku hanya sedang mengambil apa yang menjadi hak dan kewajibanku yang sah. Bukankah tindakan ini justru meringankan beban pekerjaanmu yang selama ini kau keluhkan begitu berat?"

Beberapa pelayan senior di belakang Bibi Liu saling pandang sesaat. Mereka perlahan menganggukkan kepala secara samar, seolah dalam hati membenarkan ucapan logis dari sang Nyonya Besar.

Brak!

Pintu aula tengah mendadak terbuka lebar akibat dorongan yang begitu keras dari luar. Hawa panas perdebatan di dalam ruangan seketika membeku. Beberapa pelayan refleks menengok ke arah pintu dan langsung menahan napas mendapati Tuan Besar mereka, Jenderal Shen Mufeng, sudah berdiri di sana.

Dengan jubah gelapnya yang berdesir tegas dan sorot mata elang yang menggelap berbahaya, pria itu melangkah masuk. Diiringi derap langkah kaki yang mantap dan sarat akan aura intimidasi militer, ia berjalan lurus mendekat ke arah istrinya.

Shen Mufeng mengambil duduk di kursi samping Mingyue. "Istriku, apakah ada masalah hingga kau terlihat lemas?" tanyanya dengan nada suara yang sengaja dilembutkan secara halus, sangat kontras dengan aura dingin yang dibawanya masuk.

Bibi Liu melotot kesal di tempatnya berdiri. Baginya, pasangan pengantin baru ini tampak sangat serasi dalam bersandiwara dan berbual. Kehilangan akal sehatnya akibat terdesak, wanita tua itu refleks menunjuk ke arah Mingyue. "Tuan Shen, dia—"

Kalimat Bibi Liu terputus di udara. Ia segera menurunkan kembali jarinya dengan tubuh gemetar begitu menyadari sepasang netra elang Shen Mufeng kini menghunus tepat ke arahnya. Tatapan mengintimidasi sang Jenderal begitu pekat dan mematikan, seolah siap memotong tangan siapa pun yang berani bertindak lancang di hadapannya.

"M-maksud hamba... Nyonya Besar terlalu terburu-buru," cicit Bibi Liu, buru-buru mengubah intonasi suaranya menjadi penuh kepatuhan yang dipaksakan.

"Dia tidak terburu-buru, Bibi Liu. Istriku hanya menjalankan tugasnya sebagai Nyonya Besar dengan lebih cepat," sahut Shen Mufeng dengan suara berat yang mutlak, menutup seluruh celah bagi pelayan tua itu untuk memprotes.

Bibi Liu menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menyembunyikan rahangnya yang mengetat. Ia menggigit bibir bawahnya dengan penuh rasa kesal dan kekalahan. Ruang geraknya telah mati total pagi ini.

"Baiklah..." cicit Bibi Liu lirih. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengeluarkan seikat kunci perak dari balik kantong jubahnya. Gerendelan kunci utama tersebut diserahkan dengan patuh kepada Gu Mingyue.

"Untuk buku besar dan catatan yang lainnya, akan dikirimkan oleh pelayan paviliun barat senja nanti," sambung wanita tua itu sebelum melangkah mundur dengan sisa harga diri yang terluka.

Gu Mingyue menerima seikat kunci tersebut, lalu menyunggingkan senyuman samar yang teramat anggun. "Terima kasih atas kerja samanya, Bibi Liu."

Begitu Bibi Liu dan jajaran pelayan senior keluar dari aula dengan langkah terburu-buru, Gu Mingyue mengembuskan napas panjang, merasa sangat lega. Senyum kemenangan terukir di wajah cantiknya. Ia menatap gerendelan kunci gudang kediaman Shen di genggamannya, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke arah suaminya.

"Suamiku," panggil Mingyue, nadanya mendadak berubah manja namun terselip binar jenaka di matanya, "aku mendadak ingin membeli manisan plum kering dan kue hangat di Pasar Xue."

...----------------...

1
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!