NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Sang suami mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya angkat bicara.

"Sebenarnya Aris juga sudah cukup besar. Kenapa dia nggak cari pekerjaan sampingan saja? Setidaknya ada tambahan uang untuk meringankan beban kita." ujarnya pelan, meski nada suaranya terdengar penuh kelelahan.

Tanpa disadari oleh keduanya, sesosok remaja berdiri membeku di dekat pintu yang sedikit terbuka. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, sementara sorot matanya menyimpan gejolak yang sulit disembunyikan. Wajahnya tampak tegang, dengan rahang yang mengeras seakan menahan luapan perasaan yang bergemuruh di dalam dada.

Remaja itu adalah Aris. Anak yang sejak tadi menjadi bahan pembicaraan dan perdebatan kedua orang tuanya. Setiap kata yang terdengar dari ruang itu menusuk telinganya tanpa ampun, membuat dadanya terasa sesak. Ia tak pernah menyangka akan mendengar namanya disebut dalam percakapan yang begitu penuh tekanan dan kekecewaan.

Aris melangkah masuk dengan napas memburu. Suaranya bergetar oleh emosi yang selama ini ia pendam.

"Kenapa setiap ada masalah selalu aku yang disalahkan?" katanya keras, menatap kedua orang tuanya bergantian. "Kenapa bukan Alya saja yang diminta bantu? Selama ini dia juga yang bekerja dan menghasilkan uang, bukan?"

Bu Sopia menoleh tajam ke arah Aris. Wajahnya langsung berubah masam, sementara nada bicaranya terdengar penuh kekesalan.

"Memangnya sekarang kita harus mencarinya ke mana?" sahutnya dengan suara tinggi. "Anak itu pergi begitu saja tanpa kabar. Tidak ada yang tahu dia berada di mana!"

Ya, mereka adalah Pak Wira dan Bu Sopia, sepasang suami istri yang di mata tetangga tampak seperti keluarga sederhana pada umumnya. Dari luar, rumah mereka terlihat biasa saja, tanpa sesuatu yang mencolok. Namun, di balik dinding rumah itu tersimpan kenyataan yang tidak pernah diketahui orang lain.

Hanya mereka dan Alya yang memahami bagaimana kehidupan sebenarnya berjalan di sana. Senyum yang mereka tunjukkan di hadapan masyarakat sering kali menutupi suasana rumah yang penuh tekanan dan ketidakadilan.

Alya bukanlah anak kandung mereka. Sejak kecil, gadis itu diasuh sebagai anak angkat, tetapi perlakuan yang diterimanya jauh dari kasih sayang seorang keluarga. Hampir setiap hari ia memikul berbagai pekerjaan rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci pakaian, hingga membersihkan seluruh rumah. Selain itu, ia juga kerap diminta membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dengan bekerja keras di luar rumah.

Tak jarang, Alya menjadi sasaran kemarahan ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan mereka. Kesalahan kecil dapat berubah menjadi teguran keras, sementara beban yang dipikulnya terus bertambah seiring waktu. Di usia yang seharusnya diwarnai perhatian dan dukungan, ia justru tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya terbiasa menahan lelah, kecewa, dan kesedihan seorang diri.

Bagi Pak Wira dan Bu Sopia, keberadaan Alya selama ini sering dipandang lebih sebagai seseorang yang membantu meringankan beban keluarga daripada sebagai anggota keluarga yang benar-benar mereka sayangi. Ketika Alya tidak lagi berada di rumah, mereka merasa kehilangan sosok yang selama ini memikul banyak tanggung jawab sehari-hari.

Kini, perhatian mereka beralih kepada Aris. Mereka berharap putra mereka itu dapat mengambil alih sebagian beban yang sebelumnya ditanggung Alya, baik dalam urusan rumah maupun kebutuhan ekonomi keluarga. Harapan yang terus-menerus dibebankan itu membuat Aris merasa tertekan, seolah ia harus mengisi kekosongan yang ditinggalkan seseorang yang selama ini memegang peran penting dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Aris memutar kunci kontak motornya dengan gerakan cepat. Deru mesin langsung memecah kesunyian, seolah menjadi pelampiasan atas gejolak yang masih memenuhi dadanya. Wajahnya tampak tegang, dan pikirannya terus dipenuhi bayang-bayang pertengkaran yang baru saja terjadi di rumah.

Ia sudah muak mendengar pembicaraan yang itu-itu saja tentang kesulitan keuangan dan tentang Alya yang terus menjadi bahan perdebatan. Semakin lama mendengarnya, semakin sesak perasaannya.

Tanpa banyak berpikir, Aris memacu motornya meninggalkan rumah. Beberapa temannya telah menunggu di tempat biasa mereka berkumpul. Ia hanya ingin menjauh sejenak dari semua masalah yang membebaninya. Bersama teman-temannya, ia berharap bisa mengalihkan pikiran, melupakan kemarahan yang mengendap, dan mencari sedikit ketenangan meski hanya untuk beberapa saat.

Namun di tengah perjalanan, perhatian Aris tiba-tiba teralihkan. Dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang membuat tangannya refleks mengendurkan putaran gas motor.

Di tepi jalan yang remang-remang, tak jauh dari sebuah tong sampah besar, terlihat seorang wanita sedang membungkuk memunguti barang-barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan. Gerakannya pelan dan hati-hati, seolah tak ingin melewatkan sesuatu yang bernilai.

Pakaiannya tampak kusam dan sudah usang dimakan waktu. Tubuhnya yang kurus terlihat rapuh di bawah cahaya lampu jalan yang redup. Meski hanya sekilas, ada sesuatu pada sosok itu yang membuat Aris terus menatap.

"Alya...?" bisiknya nyaris tak terdengar, penuh ketidakpercayaan.

Aris segera membelokkan motornya ke tepi jalan dan menghentikannya dengan tergesa-gesa. Tanpa memedulikan tatapan teman-temannya, ia turun lalu melangkah cepat menghampiri sosok itu.

Begitu jarak mereka semakin dekat, emosinya yang sejak tadi terpendam kembali meluap. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya tajam tertuju pada wanita di hadapannya.

"Jadi selama ini kamu ada di sini?" serunya dengan nada tinggi.

Alya tersentak mendengar suara itu. Tangannya yang sedang memilah barang-barang bekas langsung terhenti. Dengan gerakan kaku, ia menoleh ke belakang.

Begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya, wajahnya seketika memucat. Napasnya tercekat, sementara jantungnya berdegup semakin cepat.

"A-Aris...?" ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan.

Tanpa sempat berpikir panjang, Alya langsung berbalik dan berlari. Rasa panik yang tiba-tiba menyeruak membuatnya bergerak secepat mungkin, bahkan tanpa memedulikan barang-barang bekas yang baru saja ia kumpulkan.

Karung yang dibawanya terlepas begitu saja, tertinggal di pinggir jalan. Alya terus berlari dengan napas yang semakin memburu, dadanya naik turun menahan lelah. Langkahnya tergesa-gesa, seakan hanya ada satu hal di pikirannya menjauh sejauh mungkin dari tempat itu.

Aris langsung berlari menyusulnya. Melihat Alya kabur begitu saja, emosinya semakin memuncak.

"Alya! Tunggu!" teriaknya keras sambil berusaha mengejar. "Kenapa malah lari? Aku cuma mau bicara!"

Namun Alya tidak menoleh sedikit pun.

Aris menggeram kesal dan kembali berteriak,

"Dengar dulu, Alya! Jangan menghilang terus seperti ini!"

Napasnya mulai memburu akibat berlari, tetapi ia tetap melanjutkan,

"Keadaan di rumah lagi berantakan! Semua orang kebingungan sejak kamu pergi!"

Suaranya menggema di sepanjang jalan yang sepi.

"Kalau ada masalah, hadapi baik-baik! Jangan terus menghindar!" serunya lagi, meski Alya masih terus berlari menjauh tanpa memberikan jawaban.

Namun Alya tidak menggubris satu pun teriakan yang terdengar di belakangnya. Kakinya terus melangkah cepat, sementara air mata mulai mengaburkan pandangannya. Dadanya terasa sesak, dipenuhi ketakutan dan berbagai emosi yang bercampur menjadi satu.

Ia terus berlari tanpa tujuan yang jelas, hanya mengikuti insting untuk menjauh. Setelah beberapa saat, Alya membelok ke sebuah gang sempit yang diapit rumah-rumah rapat di kedua sisinya. Lorong itu tampak sunyi, hanya diterangi cahaya samar dari lampu-lampu rumah warga.

Ketika merasa sudah cukup jauh, Alya segera menyelinap ke sebuah sudut yang terlindung dari pandangan. Di tempat yang remang itu, ia merapatkan tubuh ke dinding dan berusaha mengecilkan keberadaannya.

Sementara itu, Aris akhirnya menghentikan langkahnya. Ia berdiri di tengah gang yang bercabang ke beberapa arah, dadanya naik turun karena kelelahan setelah berlari cukup jauh.

Tatapannya bergerak ke kanan dan kiri, berusaha mencari tanda-tanda keberadaan Alya. Namun gang yang sempit dan deretan rumah yang rapat membuatnya kehilangan jejak sama sekali.

"Alya!" teriaknya sekali lagi, tetapi tidak ada jawaban.

Kesunyian yang menyambut membuat kekesalannya semakin bertambah. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menendang kerikil kecil di dekat kakinya.

"Menyebalkan sekali..." gerutunya pelan.

Dengan perasaan yang masih berkecamuk, Aris kembali menuju tempat motornya terparkir. Langkahnya panjang dan terburu-buru, mencerminkan kekesalan yang belum juga mereda sejak kehilangan jejak Alya.

Sesampainya di sana, ia hanya memberi isyarat singkat kepada teman-temannya. Tak banyak kata yang keluar dari mulutnya, ia tidak lagi berminat untuk berkumpul atau bersenang-senang seperti rencana awal.

Tak lama kemudian, mesin motornya kembali meraung. Aris memacu kendaraannya menyusuri jalanan, membiarkan angin menerpa wajahnya yang masih tegang.

Sekitar satu setengah jam kemudian, ia akhirnya tiba di rumah. Halaman depan tampak sepi. Namun meski tubuhnya telah kembali ke rumah, pikirannya seolah masih tertinggal di tempat ia melihat Alya tadi.

Di sisi lain, Alya masih berada di sudut gelap gang itu. Tubuhnya meringkuk rapat, seolah berusaha melindungi diri dari dunia luar yang terasa begitu menekan.

Seluruh tubuhnya bergetar halus, masih tersisa sisa ketakutan setelah kejadian tadi. Napasnya belum sepenuhnya stabil, sesekali tersengal saat ia mencoba menenangkan diri.

Ia terisak pelan tanpa suara, membiarkan air mata jatuh begitu saja di tengah sunyi yang menyesakkan. Tidak ada satu pun tempat untuk bersandar, tidak juga ada tangan yang datang menenangkan.

Air mata Alya terus mengalir membasahi pipinya yang kusam dan pucat. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya masih bergetar hebat, bukan hanya karena kelelahan setelah berlari, tetapi juga karena rasa takut yang tiba-tiba kembali menyeruak saat mendengar suara Aris.

Sosok dari masa lalunya yang selama ini ia coba hindari, kini kembali muncul di hadapannya tanpa diduga. Kehadirannya seolah menarik paksa ingatan yang selama ini ingin ia kubur dalam-dalam, membuka kembali luka lama yang belum sempat sembuh.

Di sudut gang sempit yang lembap, di antara tumpukan sampah dan kardus bekas yang berserakan, Alya berjongkok dengan tubuh meringkuk. Kedua tangannya memeluk lututnya erat-erat, seolah itu satu-satunya cara untuk menahan dirinya agar tidak runtuh sepenuhnya.

Napasnya terasa berat dan tersengal, dadanya nyeri seperti diremas kuat, membuat setiap tarikan udara menjadi perjuangan tersendiri. Kepalanya berdenyut, sementara pandangannya terasa kabur oleh air mata yang tak henti mengalir.

Di dalam pikirannya, bayangan masa lalu datang silih berganti tanpa ampun suara bentakan Pak Wira yang keras, makian Bu Sopia yang tajam, hingga tuntutan Aris yang terus-menerus seolah dirinya tidak lebih dari sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan mereka.

“Aku… nggak kuat,” bisiknya lirih, suaranya hampir tak terdengar di tengah sunyi gang itu.

Tubuh Alya semakin merosot, kepalanya tertunduk dalam, seolah seluruh tenaganya telah habis terkuras. Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ia hentikan.

“Kenapa hidupku harus seperti ini…” lanjutnya pelan, penuh kepedihan yang selama ini ia pendam sendiri.

Dia meremas wajahnya dengan kedua telapak tangan, seolah ingin menghalangi dunia luar masuk. Namun, bisikan-bisikan di kepalanya tetap tak berhenti menyudutkannya dengan kata-kata yang menyakitkan, membuat dadanya terasa sesak dan pikirannya semakin berat.

Tawa orang-orang yang terdengar dari kejauhan bercampur dengan deru kendaraan yang lewat, namun bagi Alya semuanya hanya terasa seperti kebisingan yang jauh dan tak menyentuhnya.

Dunia di sekelilingnya tetap bergerak, sementara dirinya seperti terhenti di tempat terasing, tak terlihat, seolah tidak benar-benar menjadi bagian dari apa pun. Di dalam dadanya, ada ruang kosong yang perlahan dipenuhi luka lama yang belum juga sembuh.

Setelah cukup lama bersembunyi dari dunia luar, Alya akhirnya melangkah kembali menuju gubuk kecilnya dengan langkah yang terasa goyah. Setiap pijakan kakinya seolah dipenuhi beban yang tak terlihat, membuat tubuhnya sulit untuk tegak.

Sesampainya di dalam, ia tidak langsung duduk atau beristirahat. Alya hanya berdiri mematung, menatap dinding kayu yang sudah rapuh dimakan usia, seakan mencari jawaban di antara retakan-retakannya.

Pelan-pelan, ia membuka tas lusuh yang setia menemaninya, lalu mengeluarkan beberapa helai pakaian. Tanpa berkata apa-apa, ia merengkuhnya erat ke dada, seolah benda sederhana itu bisa menjadi pelindung kecil dari kerasnya hidup yang terus menekannya.

“Aku capek,” katanya lirih, suaranya hampir tak terdengar, seperti habis terkuras oleh hari-hari yang panjang.

Ia menunduk, menatap kosong ke lantai. “Tapi aku juga nggak tahu harus pergi ke mana lagi…” lanjutnya, dengan napas yang tertahan, seolah bahkan harapan pun sudah terlalu jauh untuk dijangkau.

Malam itu, tangisnya kembali pecah namun kali ini tanpa suara yang nyaring, hanya isakan pelan yang tenggelam dalam kesunyian. Bahunya bergetar, sementara dadanya terasa kosong dan berat sekaligus, seperti ditarik ke dua arah yang berbeda.

Di dalam dirinya, rasa takut, kelelahan, dan luka lama bercampur menjadi satu, mengendap tanpa pernah benar-benar sembuh, hanya terus mengingatkan bahwa ia masih harus bertahan meski sudah hampir tak sanggup lagi.

*****

Aris tiba di rumah dengan langkah cepat dan berat, napasnya masih tersengal menahan lelah sekaligus emosi yang belum reda. Wajahnya tampak tegang, rahangnya mengeras seolah menahan sesuatu yang siap meledak.

Tanpa sempat melepas helm, ia langsung membuka pintu dengan kasar dan masuk begitu saja ke dalam rumah, membuat suasana yang semula tenang seketika terasa berubah tegang.

“Bu! Pak!” teriaknya dari ruang tamu, suaranya menggema memenuhi rumah yang semula sunyi.

Pak Wira keluar dari kamar dengan langkah pelan namun tegas, wajahnya menunjukkan kebingungan atas teriakan yang memecah kesunyian rumah.

Tak lama kemudian, Bu Sopia menyusul dari arah dapur, masih dengan tangan yang diseka menggunakan kain yang sedikit kotor, tanda ia baru saja meninggalkan pekerjaannya. Ia menatap ke arah Aris dengan raut penuh tanya, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

“Ada apa, Aris? Kok seperti dikejar-kejar sesuatu saja!” seru Bu Sopia dengan alis mengernyit, suaranya terdengar heran dan sedikit khawatir.

“Aku lihat Alya!” ujar Aris dengan suara lantang, napasnya masih terengah. “Dia ada di kota, di sekitar area terminal… dekat pasar lama itu.”

“Apa? Alya?” Pak Wira mengerutkan keningnya dalam-dalam, sorot matanya berubah tajam penuh tanda tanya.

“Dia lagi mulung! Aku yakin itu dia!” lanjut Aris cepat, suaranya naik karena tegang. “Begitu dengar suaraku, dia langsung kabur. Larinya cepat banget, aku sampai nggak sempat ngejar.”

Bu Sopia melipat kedua tangannya di dada, napasnya terdengar berat menahan emosi. “Anak itu benar-benar tidak tahu diri. Sudah diberi tempat tinggal dan hidup enak, malah pergi begitu saja seperti orang yang tidak punya rasa terima kasih.”

“Enak, Bu? Sejak kapan dia hidup enak?” gumam Aris pelan, tapi nadanya cukup tajam hingga membuat suasana seketika hening.

Pak Wira melangkah lebih dekat, suaranya dibuat lebih tenang namun tegas. “Kamu tahu tidak, di mana dia sekarang tinggal?”

Aris menggeleng cepat. “Nggak. Dia kabur masuk ke gang sempit, lalu hilang begitu saja. Tempatnya asing buat aku banyak lorong kecil, gubuk-gubuk reyot di mana-mana. Tapi aku masih ingat arah dan suasananya.”

Bu Sopia mendengus pelan, matanya menyala penuh tekad. “Besok kamu harus antar kami ke sana. Kita cari sampai ketemu dia!”

“Kalau pun ketemu, kalian mau apa?” tanya Aris datar, menatap mereka satu per satu tanpa ekspresi, suaranya terdengar dingin dan penuh penekanan.

“Dia masih tanggungan kita, Aris! Kita butuh dia. Uang di rumah makin menipis, kamu juga tidak bisa banyak membantu,” jawab Pak Wira dengan suara tegas, menahan emosi. “Jangan sok membela dia.”

Aris terdiam tanpa membalas. Pandangannya beralih ke arah jendela. Rahangnya mengeras, sementara pikirannya dipenuhi pergulatan yang tak kunjung usai. Di satu sisi, ada rasa bersalah yang terus menghantuinya setiap kali mengingat Alya. Namun di sisi lain, keadaan membuatnya merasa terjebak dalam pilihan yang tidak pernah ia inginkan. Hatinya dipenuhi kebimbangan, seolah dua suara yang saling bertentangan sedang berebut tempat di dalam dirinya.

*****

Keesokan harinya, sejak pagi buta mereka sudah bersiap untuk berangkat. Berbekal petunjuk yang masih tersimpan dalam ingatan Aris, ketiganya menuju kota dengan berganti kendaraan, dari motor hingga angkot. Perjalanan membawa mereka ke kawasan sekitar terminal yang padat dan hiruk-pikuk. Deretan kios sederhana berdiri berdempetan di sepanjang jalan, sementara suara klakson dan teriakan pedagang bercampur menjadi satu. Di sudut-sudut kawasan yang tampak kusam itu, terlihat para pemulung mengais barang bekas, anak-anak jalanan berkeliaran, dan para pekerja yang sibuk mencari nafkah. Aris memimpin langkah mereka menyusuri area tersebut, berusaha mengingat kembali setiap gang, tikungan, dan pemandangan yang pernah dilihatnya saat bertemu Alya.

Namun, meski sudah berjam-jam berkeliling, usaha mereka belum membuahkan hasil. Gang demi gang yang sempit dan berliku mereka telusuri, mencari-cari tempat yang mirip dengan lokasi yang Aris lihat sehari sebelumnya. Sayangnya, kawasan itu dipenuhi lorong-lorong yang hampir serupa, membuat mereka beberapa kali kehilangan arah.

Mereka juga mencoba bertanya kepada orang-orang yang ditemui di sepanjang jalan. Ada pedagang kaki lima, pemulung, tukang ojek, hingga warga setempat yang sedang duduk di depan rumah. Namun, tak seorang pun mengenal nama Alya. Ketika Aris menjelaskan ciri-cirinya, sebagian hanya menggeleng, sementara yang lain mengaku pernah melihat sosok yang mirip, tetapi tidak tahu pasti siapa dia atau di mana tinggalnya.

“Tempatnya memang mirip, tapi aku nggak yakin ini lokasi yang kemarin,” gumam Aris sambil menyapu pandangan ke sekeliling. “Semua gang di sini kelihatan hampir sama. Aku takut salah ingat.”

“Lalu sebenarnya dia tinggal di mana? Kita nggak mungkin terus mencari tanpa arah begini!” gerutu Bu Sopia dengan nada kesal. “Daerah seluas ini mana mungkin bisa kita telusuri satu per satu.”

Pak Wira menyapu pandangan ke sekeliling dengan wajah masam. “Kalau memang dia yang kamu lihat kemarin, bisa saja sekarang dia sudah berpindah tempat,” ujarnya dengan nada kesal.

“Kita nggak bisa terus mencari tanpa petunjuk yang jelas. Kita harus lebih cermat dan menunggu kesempatan yang tepat.”

Di sudut kawasan yang lain, di balik dinding gubuk sederhana yang rapuh, Alya berjongkok sambil memeluk kedua lututnya erat-erat. Tubuhnya menempel pada dinding, seolah berusaha menyatu dengan bayangan agar tak terlihat. Napasnya memburu dan tidak teratur, sementara dadanya terasa sesak oleh campuran ketakutan dan kegelisahan.

Dari celah sempit di antara papan-papan yang renggang, ia sempat melihat sosok-sosok yang begitu dikenalnya. Wajah-wajah yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, namun juga menyimpan banyak luka yang sulit dilupakan. Seketika, jantungnya berdegup lebih kencang. Ingatan tentang hari-hari penuh tekanan dan kepedihan kembali berputar di benaknya, membuat tubuhnya gemetar.

Alya memilih tetap diam di tempatnya. Ia menahan diri agar tidak membuat suara sekecil apa pun, bahkan berusaha mengatur napasnya agar tidak terdengar. Tubuhnya kaku, sementara kedua tangannya mencengkeram lutut dengan erat hingga buku-buku jarinya memucat.

*****

Beberapa hari sebelum Aris dan kedua orang tuanya datang mencarinya, Alya pernah duduk berdua dengan Mbok Lia dalam sebuah percakapan yang jauh lebih serius dari biasanya. Pagi itu, wajahnya tampak muram dan kehilangan warna. Lingkaran gelap menghiasi bawah matanya yang sembab, seolah ia telah menghabiskan banyak malam tanpa tidur yang nyenyak.

Meski dari luar ia terlihat baik-baik saja, ada beban berat yang masih dipikulnya. Luka-luka yang tersimpan di dalam hati belum benar-benar sembuh, meninggalkan jejak yang tidak bisa dilihat dengan mata. Setiap kali mengingat masa lalunya, sorot matanya berubah redup, menyimpan kesedihan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Mbok...” panggil Alya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh semilir angin yang berembus di depan rumah kecil itu.

“Iya, Nduk? Ada apa?” jawab Mbok Lia dengan suara hangat. Tangannya bergerak lembut mengusap punggung Alya, seakan ingin menenangkan kegelisahan yang terlihat jelas di wajah gadis itu.

Alya menggenggam ujung bajunya erat-erat sebelum akhirnya berkata dengan suara bergetar,

“Mbok, kalau suatu hari ada orang yang datang mencariku, tolong jangan bilang kalau Mbok kenal aku.”

Ia menelan ludah dan menundukkan kepala lebih dalam. “Aku minta tolong... jangan kasih tahu mereka apa pun tentang aku. Anggap saja Mbok nggak pernah bertemu denganku.” Suaranya semakin lirih. “Tolong, Mbok. Aku benar-benar memohon.”

Mbok Lia terdiam beberapa saat. Tatapannya menelusuri wajah Alya yang pucat dan dipenuhi kecemasan. Dari sorot mata gadis itu, ia bisa melihat ketakutan yang begitu dalam, seolah ada sesuatu yang terus membayanginya dari masa lalu.

“Tenang saja, Nduk,” kata Mbok Lia dengan suara lembut sambil menepuk punggung Alya perlahan. “Kalau ada yang datang mencarimu, Mbok tidak akan mengatakan apa-apa. Mereka tidak akan mendapat kabar dariku.”

Ia tersenyum menenangkan sebelum melanjutkan, “Mbok juga bisa memberi tahu warga sekitar untuk tidak sembarangan bercerita kepada orang asing. Mereka kenal baik dengan Mbok, jadi biasanya mereka akan menghormati permintaan itu.”

“Jangan terlalu khawatir,” tambahnya pelan. “Selama kamu di sini, Mbok akan berusaha menjaga dan membantumu sebisa yang Mbok mampu.”

Alya mengangguk pelan. Matanya yang semula berkaca-kaca kini sedikit meredup, meski rasa cemas masih jelas terlihat di wajahnya.

“Terima kasih, Mbok,” ucapnya lirih sambil menundukkan kepala. “Aku benar-benar takut kalau mereka menemukan aku. Aku nggak siap menghadapi mereka lagi.”

Sejak percakapan itu, Mbok Lia memegang janjinya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak pernah membicarakan keberadaan Alya kepada orang yang tidak dikenalnya, bahkan selalu berhati-hati setiap kali ada yang bertanya tentang penghuni di rumah kecilnya.

Secara perlahan dan tanpa menimbulkan kecurigaan, Mbok Lia juga menyampaikan pesannya kepada beberapa warga sekitar yang kerap melihat Alya beraktivitas di kawasan itu. Dengan cara yang halus, ia meminta mereka untuk tidak sembarangan memberikan informasi kepada orang asing yang datang bertanya-tanya.

“Pak, kalau suatu saat ada orang yang datang mencari gadis muda bernama Alya, saya minta jangan langsung memberi tahu apa pun tentang dia,” kata Mbok Lia dengan nada pelan namun serius kepada salah seorang tetua kampung.

Ia lalu melanjutkan, “Alya bukan anak yang bermasalah. Dia baik dan tidak pernah membuat keributan di sini. Hanya saja, ada alasan yang membuatnya ingin menjauh dari orang-orang tertentu.”

Mbok Lia menatap pria tua itu dengan sungguh-sungguh. “Saya tidak tahu seluruh ceritanya, tapi saya bisa melihat sendiri betapa takutnya dia. Jadi kalau ada yang bertanya-tanya tentang dirinya, tolong jangan mudah memberi informasi. Biarkan dia merasa aman dulu.”

Warga di lingkungan itu menaruh hormat yang besar kepada Mbok Lia. Selama bertahun-tahun, wanita tua itu dikenal sebagai sosok yang bijaksana, suka menolong, dan tidak pernah mencampuri urusan orang lain tanpa alasan. Karena itulah, ketika Mbok Lia menyampaikan permintaannya, mereka tidak banyak bertanya.

1
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!