Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Almond menunjuk Ara dengan jari gemetar.
"Loh?! Itu kan—"
Keduanya saling menatap, lalu berseru hampir bersamaan.
"Wanita yang ngambil uang kas kami!"
Ruangan langsung hening, Ken belum berhenti.
"Yang ngejar kami pakai sapu lidi!"
Almond mengangguk cepat. "Iya! Yang nyuruh kami bersihin warung!"
Theo yang berbaring di ranjang langsung memejamkan mata, selesai sudah hidupnya. Ia bahkan tidak berani melihat ke arah Ara.
Sementara Alya membulatkan mata, Elang juga tampak terkejut. Keduanya bergantian menatap Theo, lalu Ara, lalu Ken dan Almond. Otak mereka mulai menyusun potongan-potongan kejadian yang selama ini tidak mereka ketahui.
Sedangkan Ara, masih berdiri di dekat pintu. Diam dan tidak berkedip sama sekali, tatapannya perlahan berpindah ke Theo.
Theo yang merasakan tatapan itu langsung menarik bantal dan menutup wajahnya.
"Aku nggak lihat apa-apa..." Gumamnya pelan.
Ken dan Almond masih belum menyadari situasi, mereka justru berdiri.
"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Almond. "Nggak ada urusan kan?"
Ken ikut mengangguk. "Iya,"
"Keluar sana!" Ucap Almond sembarangan.
"Teman kami nggak ada urusan lagi sama kamu!"
Alya langsung tersedak ludahnya sendiri, Elang melebarkan matanya. Theo yang mendengar itu langsung menarik bantal lebih rapat menutupi wajahnya.
Dalam hati ia hanya punya satu pikiran.
'Mati, dua orang ini benar-benar cari mati.'
Ken dan Almond mulai merasa ada yang aneh, Ken melirik Theo.
Theo masih menutupi wajahnya dengan bantal, Almond melirik Elang. Wajah Elang terlihat sangat sulit dijelaskan. Lalu mereka menoleh ke arah Alya. Gadis itu perlahan mundur satu langkah, seolah tidak ingin terlibat. Ara berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada.
Ara berjalan masuk ke dalam ruangan. Suara langkahnya membuat jantung Theo berdebar semakin cepat. Ara berhenti tepat di samping ranjang, lalu menatap Ken dan kemudian Almond yang berdiri di sampingnya.
Sampai akhirnya sudut bibir Ara terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang sama persis seperti saat ia akan membuat seseorang menyesali perbuatannya.
Melihat senyum itu, Theo langsung menarik bantal hingga menutupi seluruh kepalanya. Sementara Ken dan Almond saling berpandangan bingung.
Suasana ruangan masih terasa tegang. Ken dan Almond bahkan belum berani bergerak sejak Ara masuk. Sementara Theo masih bersembunyi di balik bantalnya. Ara akhirnya mengembuskan napas pelan. Tatapannya turun memperhatikan kondisi Theo dari atas sampai bawah.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Ara akhirnya.
"Hah?!" Ken dan Almond langsung menoleh bersamaan. Mereka mengira Ara akan langsung mengamuk. Ternyata wanita itu justru menanyakan kabar Theo. Bahkan, Elang dan Alya sedikit terkejut.
Theo perlahan menurunkan bantal dari wajahnya, lalu tersenyum kaku.
"Hehe..." Matanya melirik pahanya yang diperban. Kemudian tangannya yang penuh luka gores.
"Ini cuma sedikit kok." Katanya sambil tertawa kikuk.
"Tadi juga dokter bilang nggak apa-apa."
Ara menyipitkan mata. Namun, Theo belum sadar bahaya yang sedang mendekat.
"Bentar lagi juga sembuh." Lanjutnya.
"Habis ini aku masih bisa balapan lagi."
Sebuah jitakan keras mendarat tepat di kepalanya.
"Aduh!" Theo langsung memegangi kepala.
Ara menatapnya tajam. "Sedikit katamu?"
Theo langsung menciut, Ara menunjuk perban di pahanya.
"Itu apa?"
"Luka..."
"Dan itu?" Ara menunjuk luka di tangannya.
"Lecet..." Jawab Theo pelan.
"Lecet?" Ulang Ara. "Nggak sekalian bilang tinggal debu?"
Theo langsung diam, Ara semakin kesal.
"Kamu jatuh dari motor! Kamu masuk rumah sakit! Terus yang ada di otakmu malah habis ini bisa balapan lagi?!"
Theo langsung menunduk, ia benar-benar tidak berani membalas. Ara menghela napas kesal.
"Lalu nanti bagaimana menjelaskan semua ini pada ayahmu?"
Theo langsung menelan ludah. Ini bagian yang paling menakutkan. Mengingat ayahnya membuat wajah Theo langsung pucat.
Di tengah suasana itu, Almond yang sejak tadi memperhatikan tiba-tiba mengangkat tangan.
"Numpang tanya."
Semua orang menoleh. Theo langsung punya firasat buruk.
Almond menunjuk Ara. "Kalian sebenarnya ada hubungan apa?"
Ken mengangguk cepat. "Iya."
"Soalnya dia marahin Theo kayak pacar." Sambung Almond.
Theo langsung memejamkan mata.
'Jangan, tolong jangan teruskan,'
Almond belum selesai. "Kalian diam-diam pacaran ya?"
Theo perlahan menutup wajahnya, Elang memijat pelipisnya. Alya menahan tawa sekaligus rasa malu.
Ara langsung memutar badan.
"Aduh!" Almond menjerit sambil memegangi kepala. "Kenapa aku juga dipukul?!"
Ara melotot. "Pacar, pacar apa?!"
Almond meringis.
Ara menunjuk dirinya sendiri. "Aku ibunya!" Ucap Ara tegas.
"Hah?!" Ken langsung berdiri dari kursinya.
Almond sampai lupa rasa sakit di kepalanya.
"Kamu apa?!"
"Ibunya." Ulang Ara.
"Ibunya?!" Ken dan Almond berseru bersamaan.
Theo menutup wajah lebih rapat. Sementara Alya dan Elang hanya bisa menghela napas. Rahasianya akhirnya terbongkar juga. Ken menunjuk Theo dengan tangan gemetar.
"L-Lo punya ibu semuda ini?!"
"Dan cantik lagi?!" Almond ikut menunjuk Ara.
"Yang ngejar kami pakai sapu lidi itu ibu lo?!"
Theo tidak menjawab. Ia hanya berharap ranjang rumah sakit itu bisa menelannya hidup-hidup.
Sementara Ken dan Almond masih menatap Ara dengan ekspresi tidak percaya. Lalu perlahan, keduanya menoleh ke arah Theo.
"Gila..." Gumam Ken melihat Ara dengan tatapan dinginnya.
kalau udah launching panggil panggil kotaby thor
beneran ga ni...si Ken
atau ternyata yg lain😁🤣🤣