Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.
Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.
Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkara makanan Indonesia
"Aku mau resto yang ada makanan Indonesia-nya ya. Tadi waktu di club sih aku gak milih-milih soal makanan, tapi sekarang aku lagi kangen daddy and mommy, jadi aku pengen makan masakan Indonesia."
Mode cerewet Alea kembali setelah lima menit suasana dalam keheningan.
"Apa hubungannya orangtuamu dengan masakan Indonesia? Dan, kau pikir segampang itu mencari restoran Indonesia di kota ini?"
Alea menatap lelaki itu, matanya masih agak bengkak karena menangis tadi.
"Ya ada hubungannya dong! Kalo aku lagi kangen mereka, ya aku kangen semuanya. Rumah, kakakku, adikku, sahabat-sahabatku, tetanggaku, mantan gebetanku, musuh bebuyutanku, suasana makanan terutama!" balasnya cepat.
Damon menatap lurus ke depan, tangannya masih di setir. Dia ingin tertawa, tapi hanya lidahnya yang berputar di dalam mulutnya, agar dia tetap terlihat cool di depan gadis yang sepertinya memang agak gila ini.
"Kalau begitu, kau cari sendiri saja restorannya. Kau sudah bolak balik negara ini kan? Pasti sudah cukup hafal ke mana saja kau pergi, jadi silahkan cari sendiri." Damon tidak tahu kenapa, tapi dua hari terakhir ini dia bicara lebih banyak dan kalimatnya lebih panjang dari biasanya.
"Loh, kok gitu sih? Harus om dong yang cari. Pertama, om yang ngajakin aku makan. Kedua, om lebih tua dari aku. Jauhhh! Nah, yang lebih tua yang harus mimpin. Biar yang muda nggak gampang tersesat. Jadi, om yang cari.
Damon berusaha bersikap biasa saja.
"Aku sedang menyetir Alea, bagaimana aku bisa mencari kalau aku sedang menyetir?"
"Ya om cari ide dong, katanya dokter. Masa gak punya ide sih. Semua dokter kan pinter."
Kali ini Damon melirik gadis itu sekilas. Dia tidak bicara lagi. Mobilnya berbelok di blok bagian kiri jalan itu. Tak sampai dua menit mereka berhenti tepat di sebuah restoran mewah. Tapi bukan restoran Indonesia atau yang ada masakan Indonesia-nya seperti yang Alea mau.
"Western Food."
Alea membaca kuat tulisan di papan nama restoran di depan mereka lalu menatap Damon.
"Om, ini Western Food om. Gak ada makanan Indo-nya. Kok berhenti di sini sih?"
"Turun, atau aku akan membawamu pulang sekarang." balas Damon dengan nada setengah mengancam. Kalau dia sudah bicara begitu, aura dominannya jelas sekali. Alea sampai terdiam.
Damon sudah keluar lebih dulu. Alea masih di dalam mobil. Malas keluar karena sebal pada laki-laki itu. Ia melihat Damon berjalan mendekati pintu mobilnya dan membukakan pintu tersebut.
"Mau turun atau tidak?" tatapannya tajam. Alea membenamkan matanya dalam-dalam ke pria itu, tapi akhirnya turun juga. Dia sudah lapar sekali masalahnya.
"Nyebelin banget sih, udah di bilangin maunya masakan Indonesia. Eh, malah di bawah ke sini. Udah gitu merintah-merintah gue lagi. Dasar dokter menyebalkan."
"Aku mendengarmu Alea."
Alea langsung berhenti bergumam, tapi ia memeletkan lidahnya dari belakang Damon.
"Aku melihat apa yang kau lakukan." Damon berbalik, menatapnya tajam. Tentu dia dapat melihatnya, karena di depan mereka dindingnya terbuat dari kaca.
Alea menyengir lebar.
"Damai om, damai ... Itu saja marah. Nanti cepat tua loh, umur juga udah segitu. Belum nikah pula."
Damon berhenti lagi, ia menoleh ke arah Alea. Tatapannya turun sedikit, mengunci wajah gadis itu yang masih menyengir tanpa rasa bersalah.
"Umurku kenapa?" tanyanya datar. Terlalu datar malah.
Alea yang tadi santai, tiba-tiba merasa … sedikit terancam.
"Ya… itu… udah dewasa maksudnya," jawabnya cepat, mencoba memperbaiki. Damon menyipitkan mata.
"Kau baru saja bilang aku cepat tua." Alea langsung mengangkat kedua tangannya.
"Eh, itu bercanda, becandaaa …"
Damon menatapnya beberapa detik lagi, lalu menghela napas panjang dan berbalik kembali berjalan masuk.
"Masuk."
Alea mendengus pelan, tapi tetap mengikuti dari belakang. Begitu pintu restoran terbuka, suasana langsung berubah. Hangat, tenang, dengan aroma makanan yang menggoda. Jauh berbeda dari hiruk-pikuk club malam tadi.
Seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah dan langsung mengantar ke meja.
Alea duduk dengan sedikit malas, tangannya menyilang di depan dada.
"Aku masih pengen makanan Indonesia," gumamnya pelan. Damon duduk di depannya, membuka menu tanpa terganggu.
"Pesan saja yang bisa kau makan."
Alea mengambil menu dengan wajah cemberut. Matanya menyapu daftar makanan.
"Steak, pasta, salad, ya ampun, ini mah bule banget semua… lidahku lidah Indo." keluhnya. Damon melirik sekilas.
"Kau tadi bilang lapar."
"Iya, tapi kan aku juga punya selera," balas Alea cepat.
Damon tidak menanggapi lagi. Ia mengangkat tangan memanggil pelayan.
"What would you like to order, sir?"
"One steak. Medium rare. Dan…" ia melirik Alea,
"Kamu apa?" Alea menatap menu lagi, lalu mendesah panjang.
"Ya udah deh … pasta aja," jawabnya pasrah.
Pelayan mencatat pesanan mereka lalu pergi. Beberapa detik hening. Alea masih terlihat kesal, tapi Damon tidak peduli. Dia tidak boleh kalah dari gadis aneh ini. Enak saja seorang Damon dikalahkan oleh seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
"Jadi, kenapa kau dan temanmu datang ke club malam?" Entah kenapa pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulutnya.
"Hufftt, panjang ceritanya. Om mau denger?" Alis Damon terangkat setengah.
"Ceritakan saja."
Alea langsung menegakkan punggungnya. Wajahnya yang tadi cemberut berubah jadi lebih hidup, seperti baru saja diberi panggung untuk tampil.
"Jadi gini ya om…" ia mulai, nada suaranya penuh semangat.
"Kita tuh awalnya niat cari makan. Beneran. Makan yang normal, yang manusiawi, yang beradab," jelasnya panjang lebar.
Damon melipat tangan di atas meja, menatapnya tanpa ekspresi.
"Terus?"
"Terus si Elora, teman aku yang tadi, dengan penuh percaya diri bilang dia tahu tempat makan enak. Ya udah dong aku ikut aja. Aku kan anak baru di sini. Masa aku sotoy," lanjut Alea sambil mengangkat bahu.
"Lalu?" tanya Damon singkat.
"LALU," Alea menekankan kata itu dramatis,
"Tau-taunya nyampe depan club malam! Yang lampunya kelap-kelip! Yang musiknya jedag-jedug! Yang orang-orangnya… aduh om, aku malu ngomongnya." Damon menatapnya geli.
"Jangan lebay."
"Aku gak lebay! Itu fakta!" bantah Alea cepat.
"Bajunya pada… ya gitu deh. Minim. Aku sama Elora aja kayak anak tersesat di dunia orang dewasa."
Damon hampir menghela napas, tapi ia tahan.
"Kenapa tidak langsung pergi?"
"Ya karena aku laper. Di dalam club kan mereka jual makanan juga."
Masuk akal. Setidaknya sekarang Damon tahu apa alasan gadis ini bisa sampai di tempat tadi. Dan temannya yang tadi, bukannya teman yang tidak baik. Dia tidak perlu khawatir.
"Jangan pernah ke sana lagi, itu bukan tempat yang bagus untuk gadis sepertimu."
"Cih. Larang aja terus, larang, cuma tetangga juga. Musuhan pula." gumamnya ke dirinya sendiri. Tentu saja Damon mendengarnya dan tersenyum tipis, sangat tipis. Hanya dirinya yang tahu kalau dia sedang tersenyum.
Begitu makanan mereka datang, wajah Alea berubah ceria.
Witing Tresno Jalaran Soko Kulino,,,,
semoga mereka berdua berjodoh 🤣
kocak bget alea el,buat pusing anthony..selama 3 ntar jd pcr pak anthony el🤣🤣
Alea jodohnya om damon, dan pak anthony dosen killer jodohnya elora😃
elora kena hukuman selama 3 bulan kasian, pastinya pak dosen anthony pusing, menghadapi alea dan elora...
thankyou mae dah update 2x
yang di gibahin muncul kaya jalangkung.....😂