NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

happy reading guys

------------------------------

Bab 20: Skakmat di Ruang Sidang

Jarum jam dinding di ruang sidang utama Pengadilan Bursa Efek Jakarta tepat menunjukkan pukul sembilan pagi.

Atmosfer di dalam ruangan bernuansa kayu jati itu terasa begitu mencekam dan berat.

Kursi jajaran penonton dan awak media telah dipenuhi oleh bisik-bisik tegang, menanti keputusan besar yang akan mengguncang stabilitas pasar keuangan nasional hari ini.

Di meja penggugat, Samuel Amalia duduk tegak dengan setelan jas mewah miliknya.

Senyuman tipis yang sarat akan keangkuhan tiada tara terukir jelas di bibirnya.

Sesekali ia melirik ke arah arloji emas di pergelangan tangannya, lalu menoleh ke belakang, memberikan kode mata yang sangat samar kepada seorang pria paruh baya yang duduk menyamar di barisan belakang penonton dengan topi diturunkan rendah.

Pria itu adalah Kornelius Wijaya.

"Tuan Hakim yang mulia,"

Samuel bangkit berdiri dengan gerakan yang tertata rapi saat ketua majelis hakim mengetukkan palunya untuk membuka persidangan.

"Berdasarkan draf likuidasi paksa atas saham Mahendra Group yang kami ajukan dari Swiss fajar tadi, seluruh utang busuk korporasi secara sah telah dialihkan kepada pemilik dana perwalian (Trust Fund) tertutup. Kami menuntut penerbitan surat sita jaminan seketika atas seluruh properti pribadi milik perwakilan dana tersebut yang berdomisili di Jakarta demi memenuhi hak para kreditur Eropa."

"Pihak tergugat tidak menghadiri panggilan, Yang Mulia. Oleh karena itu, kami memohon agar putusan ini berupa sita jaminan langsung diketuk sekarang juga—"

Brak!

Pintu ganda ruang sidang utama didorong terbuka dengan sentakan yang teramat keras dari arah luar, memotong kalimat Samuel secara telak.

Suara dentuman pintu itu seketika memutus keheningan dan memaksa seluruh pasang mata di dalam ruangan menoleh secara serentak ke arah pintu masuk.

Anastasia Wijaya melangkah masuk ke dalam ruang sidang dengan keanggunan dan dominasi mutlak seorang penguasa tertinggi.

Ia mengenakan setelan blazer formal berwarna hitam pekat yang dipadukan dengan celana panjang senada, memancarkan aura dingin yang siap mencabik siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.

Di belakang Anastasia, Sekretaris Hendra berjalan cepat membawa sebuah koper hitam metalik, dikawal oleh beberapa pengawal berjas hitam dari unit taktis Wijaya Corps.

Samuel tercekat sempurna di tempatnya berdiri.

Senyuman angkuh di bibirnya lenyap seketika, digantikan oleh gurat keterkejutan yang amat sangat.

Di barisan belakang, wajah Kornelius Wijaya berubah pias tanpa darah dalam satu ketukan detik yang krusial.

"Mohon maaf atas keterlambatan kami, Yang Mulia Hakim,"

suara merdu Anastasia menggema dengan nada bariton yang begitu tegas, berwibawa, dan dingin di dalam ruang sidang.

Ia melangkah anggun menuju meja tergugat, meletakkan tas tangannya dengan ketukan yang mantap.

"Saya Anastasia Wijaya, pimpinan tertinggi Wijaya Corps, hadir sebagai wali sah dari pemilik dana perwalian Alta Wijaya dan Arka Wijaya."

Ketua majelis hakim membetulkan posisi kacamata membacanya.

"Nona Anastasia, pihak penggugat menuntut sita jaminan atas aset anak-anak Anda terkait utang busuk Mahendra Group. Apakah Anda memiliki pembelaan hukum yang sah?"

"Tenu saja, Yang Mulia," Anastasia menyunggingkan senyum tipis yang teramat dingin.

Ia memberi isyarat tangan kepada Hendra yang dengan sigap menyerahkan sebundel dokumen berstempel emas dari kementerian luar negeri dan otoritas bursa efek internasional kepada panitera sidang.

"Dokumen pertama yang saya serahkan adalah surat perpindahan yurisdiksi resmi yang telah sah secara hukum tata negara pada pukul tujuh pagi tadi," jelas Anastasia dengan nada suara yang penuh penekanan mutlak.

"Seluruh domisili hukum atas dana perwalian Alta dan Arka kini telah resmi dipindahkan di bawah perlindungan yurisdiksi yayasan diplomatik Tuan Besar Angga Wijaya. Berdasarkan hukum bursa saham internasional pasal empat ayat dua, seluruh aset yang berada di bawah perlindungan diplomatik tidak dapat diganggu gugat atau disita oleh tuntutan pailit korporasi swasta mana pun!"

Duar!

Penjelasan Anastasia laksana ledakan tak kasat mata yang menghantam telak jantung Samuel.

Pria itu terhuyung mundur satu langkah, jemarinya mencengkeram tepi meja persidangan hingga memutih.

"Tidak mungkin... Transaksi kliringku berjalan dari Swiss fajar tadi! Bagaimana bisa perpindahan domisili hukumnya lebih cepat?!" raung Samuel kehilangan kendali emosinya di depan hakim.

Ketua majelis hakim mengetukkan palunya satu kali setelah memeriksa dokumen emas tersebut.

"Gugatan sita jaminan dari pihak penggugat dinyatakan ditolak demi hukum karena objek tuntutan berada di bawah perlindungan diplomatik."

"Jangan terburu-buru, Tuan Samuel Amalia. Karena kejutan sesungguhnya baru saja dimulai," potong Anastasia dengan tegas, menghentikan kalimat panik Samuel yang terdengar memuakkan. Ia kembali menatap meja hakim.

"Yang Mulia, saya mengajukan gugatan balik seketika atas tuduhan konspirasi penipuan bursa, organisasi kejahatan korporasi, dan pencucian uang internasional (money laun dering) terhadap Samuel Amalia, serta dewan komisaris senior Wijaya Corps yang berkhianat, Kornelius Wijaya!"

Mendengar nama Kornelius Wijaya disebut dengan lantang di depan pengadilan umum, seluruh ruang sidang seketika riuh bergemuruh oleh suara jepretan kamera media massa yang meledak histeris.

Di detik yang sama, benak Anastasia mendadak berputar balik (flashback) menuju rentang waktu beberapa jam yang lalu, tepat pada pukul empat subuh di dalam ruang ICU yang sunyi...

------------------------------

[Kilas Balik - Pukul 04.00 WIB]

Di bawah temaram lampu indikator medis, Devan Mahendra—dengan sisa tenaga dari tubuhnya yang dipenuhi selang—menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan intrik kelam.

Tangannya yang masih kaku menahan jemari Anastasia yang hendak membekukan rekening cangkang Samuel di Swiss setelah tim siber mendeteksi nama Kornelius Wijaya sebagai investor rahasia.

"Jangan sentuh rekening mereka sekarang, Anya," suara bariton Devan terdengar parau namun sarat akan ketegasan seorang pimpinan tertinggi.

"Jika kita membekukan aliran dana itu sekarang, Kornelius akan menyadari bahwa kedoknya telah terbongkar. Dia adalah rubah tua yang licik. Dia pasti akan langsung menarik kembali seluruh likuiditas modalnya dan mencari celah hukum lain untuk menghancurkan posisimu di sidang dewan komisaris esok hari. Kita harus membiarkan dia mengunci takdirnya sendiri di dalam ruang sidang."

Atas dasar strategi berdarah dingin dari Devan itulah, sebuah operasi siber dan hukum senyap dimulai.

Tepat pukul lima subuh, saat sistem perbankan Swiss membuka kliring internasional, tim forensik siber Wijaya Corps diperintahkan untuk bertindak sebagai "pengamat tak terlihat".

Mereka tidak menghentikan uang ratusan miliar yang dikirimkan Kornelius Wijaya menuju akun Samuel.

Sebaliknya, mereka merekam setiap nomor seri obligasi, alamat IP komputer dari ruang kerja rahasia Kornelius, tanda tangan digital otentik, hingga kode otentikasi perbankan korporasi secara real-time.

Kornelius tidak menyadari bahwa setiap sen uang haram yang ia gunakan untuk membiayai kejahatan Samuel, justru meninggalkan jejak digital yang mengarah langsung ke lehernya sendiri.

Pukul delapan pagi, koper hitam metalik yang dibawa Hendra telah dipenuhi oleh dokumen cetak forensik aliran dana tersebut.

Sebelum melangkah keluar dari rumah sakit, Anastasia menyerahkan data digital itu secara langsung kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan markas Kepolisian Bursa Efek Jakarta.

Tindakan Kornelius mengalirkan dana korporasi berskala masif tanpa persetujuan dewan komisaris utama demi membiayai gugatan asing ilegal adalah kejahatan keuangan berat.

Data itu memberikan wewenang penuh bagi kepolisian untuk melakukan penangkapan seketika di lokasi persidangan.

Kornelius Wijaya yang merasa posisinya sangat aman, melangkah masuk ke gedung pengadilan menggunakan kartu akses karyawan lama melalui pintu samping.

Pria paruh baya itu mengenakan kemeja formal, sengaja membawa sebuah topi hitam yang diturunkan rendah demi menyembunyikan identitasnya dari endusan awak media.

Egonya yang tinggi membuat Kornelius tidak bisa menahan diri untuk tidak menyaksikan secara langsung bagaimana keponakannya merangkak hancur saat surat sita jaminan diketukkan oleh hakim.

Ia sama sekali tidak menyadari, bahwa semenjak ia menapakkan kakinya di lantai marmer, sepasang intelijen dari kepolisian bursa efek sebenarnya sudah berdiri memantau pergerakannya dari sudut pilar atas perintah Anastasia.

------------------------------

Anastasia mengakhiri kilas balik batinnya, menegakkan tubuhnya kembali sembari menunjuk langsung ke arah kursi penonton paling belakang dengan tatapan mata yang memancarkan perintah pembunuhan yang amat pekat.

"Semua data forensik siber dan nomor seri transaksi perbankan subuh tadi membuktikan bahwa seluruh modal Samuel adalah uang haram hasil pencucian uang yang didanai secara ilegal oleh Kornelius Wijaya yang saat ini sedang duduk bersembunyi di barisan penonton belakang!"

Kornelius Wijaya yang namanya diseret ke permukaan seketika mematung dengan wajah pias tanpa darah.

Rasa puas yang sempat ia rasakan berubah menjadi ketakutan yang teramat masif. Pria paruh baya itu langsung bangkit berdiri, mencoba memutar balik badannya untuk melarikan diri menembus kerumunan wartawan menuju pintu belakang.

"Pengawal! Tahan mereka!" perintah Anastasia dengan suara bariton yang menggelegar tenang.

Empat pengawal unit taktis Wijaya Corps bersama dua petugas kepolisian bursa efek yang sudah bersiaga sejak awal di pintu masuk langsung merangsek maju dengan gerakan kilat.

Mereka menyergap dan memiting kedua tangan Kornelius Wijaya dengan kasar sebelum pria tua itu sempat melangkah keluar dari ruangan.

Di saat yang sama, dua petugas polisi lain bergerak maju mendekati meja Samuel, langsung memasangkan borgol besi di kedua pergelangan tangan sang pengacara internasional yang kini tampak lemas tanpa daya laksana mayat hidup.

"Kornelius Wijaya, Samuel Amalia... kalian berdua resmi ditangkap atas perintah hukum tata negara dan interpol internasional atas tuduhan kejahatan perbankan berat," ucap ketua hakim sembari mengetukkan palunya tiga kali dengan tegas.

Tok! Tok! Tok!

Awak media langsung meledak histeris, kilatan lampu sorot kamera memenuhi seisi ruangan menangkap momen kejatuhan dua konspirator besar tersebut.

Aliansi taktis malam hari di atas ranjang rumah sakit bersama Devan Mahendra telah berhasil mengeksekusi musuh-musuh mereka dalam satu kali ketukan Skakmat yang mematikan di fajar hari.

Namun, tepat di saat Anastasia melangkah keluar dari gedung pengadilan dengan pengawalan ketat di tengah kerumunan wartawan, Sekretaris Hendra yang sedang menerima panggilan telepon darurat dari rumah sakit mendadak menghentikan langkahnya dengan wajah yang kembali menegang penuh kecemasan.

Hendra menyentuh pundak Anastasia, berbisik dengan nada suara yang bergetar hebat.

"Nona Anastasia... Tuan Devan... Kondisi beliau di ruang ICU mendadak kembali kritis setelah memaksakan otaknya memimpin pertempuran siber fajar tadi. Dokter bilang... detak jantungnya kembali mengalami penurunan drastis dan beliau memanggil nama Anda sebelum kembali kehilangan kesadarannya."

___________

Bersambung

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!