"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
Di kelas jajaran murid murid pintar di SMA Taruna sekarang nampak hening, bahkan pelajaran sudah di mulai kembali dengan seorang guru yang nampak menjelaskan di depan kelas.
Para murid terlihat fokus dengan materi yang di berikan oleh guru yang sedang mengajar, termasuk dengan Jenny. Apalagi dirinya sudah bertekad untuk serius belajar sambil juga bekerja. Demi masa depannya nanti.
Bukanya para murid yang ada di dalam kelas pintar ini itu cuek mengenai fakta terbaru perihal pemilik saham sekolah ini maupun fakta, jika murid terbodoh seperti Zionathan Vector bisa masuk ke dalam kelas ini.
Untuk masuk ke dalam kelas ini, itu sangatlah sulit. Bahkan mereka juga akan bersaing dengan para murid yang ada di luar kelas ini.
Banyak murid murid yang berada di kelas biasa menginginkan untuk masuk ke dalam kelas jajaran murid murid pintar.
Jika semua orang yang di dalam kelas terlihat fokus menerima pelajaran yang di berikan, hal yang berbeda di tunjukkan Vector saat ini.
Ia tampak melongo, otaknya benar benar kosong. Karena sekarang ini ia tidak mengerti dengan ilmu pelajaran yang di berikan oleh guru yang ada di depan kelas.
Tangan Vector tiba tiba memegang pergelangan tangan Jenny.
"Jen," panggil Vector lirih.
Jenny lantas menoleh, lalu ia pun bertanya, "Ada apa Tuan? Apa yang terjadi? Kenapa wajah Tuan berkeringat?"
Jenny langsung melontarkan banyak pertanyaan memberondong, karena nyawa ibunya dalam bahaya jika sampai terjadi masalah pada Vector.
"Aku mau buang air kecil, tapi aku gak berani untuk ke kamar mandi sendirian. Selama ini aku itu ke sekolah sering pakai popok celaan di sekolah! Tapi tadi aku lupa memakai nya," kata Vector menjelaskan.
Ke dua alis Jenny nampak menyatu. Bahkan kerutnya itu terlihat berkening.
Deg
Jantung Jenny lagi lagi di buat berhenti berdetak.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengantarnya? Dan apakah aku harus ikut masuk ke dalam kamar mandi laki laki?"
Senyuman miring nampak tercetak jelas dari ke dua sudut bibir Vector. Ntah kenapa ia bisa berubah seperti itu. Lalu Vector pun terlihat mengubah mimik wajahnya lagi menjadi polos.
"Tu - tuan, terus saya harus gimana? Apakah saya harus ikut masuk ke dalam kamar mandi?" tanya Jenny polos.
Jenny yang baru seminggu di tinggal oleh ayahnya meninggal dunia, terus hidupnya berubah seperti sekarang ini. Bahkan ia juga sangat terkejut saat di suguhkan oleh beberapa fakta perihal ibunya yang masih hidup dengan posisi koma dan ternyata, selama ibunya itu hidup bersama dengan ayahnya. Ibunya selalu di siksa oleh ayahnya.
Perihal ke dua Kakek dan juga Neneknya yang juga meninggal di tangan ayahnya. Sungguh beberapa fakta yang sangat mengejutkan untuknya.
Dan Jenny akui, jika sekarang jiwanya benar benar terguncang, bahkan ia merasa sangat sulit untuk mengekspresikan perasaannya.
Makanya biasanya Jenny yang selalu ceria, cekatan dan berpikir dengan cepat sekarang berubah murung.
Bahkan Jenny akui jika sekarang ia berubah lebih lola dan lumayan sangat lama untuk berpikir.
"Ya kalau kamu tidak membantu ku untuk buang air kecil di kamar mandi, ya aku tidak bisa buang air kecil. Aku memilih untuk mengompol, karena sekarang ini aku sudah benar benar tidak tahan Jenny," sahut Vector dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di artikan.
"Hah?!" Jenny nampak melongo.
"Aku harus gimana sekarang ini, ya Tuhan kalau sampai anak ini mengompol! Aku akan mendapatkan hukuman dari Nyonya Vina, bisa bisa aku ke sekolah dengan memakai baju pelayan yang sangat minim itu!" gumam Jenny dalam hatinya seraya memasang wajah takut, bahkan berkali kali Jenny terlihat menggeleng gelengkan kepalanya.
Tiba tiba ingatan Jenny tertuju saat beberapa jajaran komite pengurus SMA Taruna, dan ke dua orang tua Vector ada di sana.
Sebelum Vina pergi meninggalkan kelasnya, ia kembali memberikan ancaman untuk Jenny.
****
"Kalau sampai anak ku itu membuat catatan buruk, kau yang akan aku hukum!" Kata Vina tadi saat memanggil dirinya.
"Di hukum? Catatan buruk?" tanya Jenny bingung.
"Iya, seperti dia yang takut untuk masuk ke kamar mandi dan menyebabkan mengompol di kelas atau catatan buruk yang harus menyebabkan anak ku itu masuk ke dalam ruang BK. Jika sampai itu terjadi, kau yang akan menerima hukumannya.
Hukumannya, aku akan memberitahukan pada seluruh sekolah jika sekarang kau adalah pelayan anakku. Bukan hanya itu saja, aku akan membuat mu ke sekolah memakai baju pelayan, baju pelayan yang biasanya kau gunakan saat bekerja di rumahku, saat kau itu menjadi pelayan anakku. Tentu saja tidak ada yang berani menegurku, karena sekarang posisi ku adalah sebagai kepala sekolah di sini untuk menggantikan Sarah. Dan yang ke dua, pemegang saham utama di sekolah ini juga aku. Tidak ada yang bisa menolak perintah ku termasuk kau pelayanku!" jelas Vina, ia mengucapkan dengan mimik wajah yang terlihat begitu serius.
****
**
"Jenny kok malah diam sih! Kenapa kamu menggeleng gelengkan kepala mu? Itu sangatlah lucu," tegur Vector sembari tertawa kecil.
Sontak saja, teguran Vector barusan benar benar membuyarkan lamunan Jenny.
"Gak papa Tuan, saya akan mengantarkan anda untuk pergi ke kamar mandi," kata Jenny dengan nada terbata bata. Karena sekarang ini pikirannya sendiri sedang di buat bingung.
"Makasih Jenny," sahut Vector dengan raut wajah yang sulit untuk di deskripsikan.
Jenny terlihat mengangkat satu tangannya.
"Ada apa jenny?" tanya guru yang sedang menjelaskan.
"Saya mau ijin ke kamar mandi Bu!"
"Iya silahkan," sahut guru itu seraya mengeluarkan seulas senyum.
Jenny sendiri nampak mengigit bibir bawahnya.
"Jenny, kok malah diam! Katanya mau pergi ke kamar mandi, ayo ibu persilahkan!"
"Begini Bu, saya mau ke kamar mandi bersama dengan Zionathan, apakah boleh? Karena saya akan mengantar dia ke kamar mandi," kata Jenny suara yang terdengar pelan, walaupun pelan suara Jenny benar benar menggema di dalam kelas.
Karena semua murid saat ini nampak terdiam. Kala mendengar apa yang Jenny katakan.
"Apa? Kamu mau ke kamar mandi bersama dengan Nathan? Apa Ibu tidak salah mendengar nya?" tanya guru itu memastikan.
Sontak pandangan seluruh orang yang ada di kelas pun melihat ke arah Jenny dan juga Tuannya.
"Iya Bu, saya mau ke kamar mandi! Dan sebenarnya Zionathan juga mau pergi ke kamar mandi. Jadi kita berdua mau keluar dan pergi ke kamar mandi bersama," sahut Jenny dengan nada suara terbata bata. Bahkan ia juga terlihat menundukkan wajahnya sekarang ini.
"Boss tolong sabar!" Richard terlihat menenangkan Galen, karena wajah Galen sekarang ini terlihat merah padam.
Galen terlihat menatap tajam ke arah Zionathan Vector yang duduk di bangku yang ada di belakangnya.
Namun yang aneh, jika biasanya Zionathan Vector tidak berani membalas tatapan Galen. Namun yang terjadi sekarang ini sungguh sangat berbeda.
Vector terlihat juga membalas tatapan Galen dengan menatapnya, dengan tatapan kebencian dan permusuhan yang di tunjukkan oleh Galen, bahkan Vector juga terlihat menatap Galen dengan tatapan mengejek, ia juga memperlihatkan sebuah senyuman miring.
"Zionathan, apakah kamu ingin ke kamar mandi bersama dengan Jenny?" tanya guru itu dengan suara yang terdengar lebih lembut di bandingkan dengan tadi saat berbicara dengan Jenny.
"Iya Bu," sahut Zionathan sembari menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalian berdua boleh keluar!" Guru itu tidak ada pilihan lain, akhirnya guru itu memperbolehkan Jenny dan juga Vector untuk pergi ke kamar mandi. Karena berita perihal Zionathan Vector yang sekarang akan menjadi anak emas di SMA Taruna sungguh sudah terdengar di telinganya.
Jenny pun terlihat menggandeng tangan Tuannya, guna mengajak Tuannya itu untuk pergi ke kamar mandi.
"Semoga saja kamar mandi laki laki nanti sepi, jadinya tidak ada yang tahu kalau aku ikut masuk ke dalam kamar mandi laki laki!" gumam Jenny penuh harap dalam hatinya.
Terdengar para murid yang sedang berbisik bisik satu sama lain, sembari menatap tajam ke arah Jenny maupun Zionathan Vector.
Tiba tiba Galen juga terlihat mengangkat tangannya.
"Iya Galen," tegur guru yang berdiri di depan kelas.
"Saya juga mau ijin ke kamar kamar mandi!"
"Apa? Untuk apa Galen juga ikut pergi ke kamar mandi?" tanya Jenny dalam hatinya sembari memasang wajah takut.
kalo berkenan mampir juga ya😉