Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Wajah Sejati di Balik Tirai Besi
##
Deru roda besi kereta lokomotif militer lapis baja hitam faksi Volkov bergemuruh kencang, membelah kegelapan labirin terowongan bawah tanah yang membentang dari perbatasan Belarusia menuju wilayah beku Murmansk, Rusia Utara. Getaran mesin diesel raksasa yang masif merambat naik melalui lantai besi gerbong kargo, menciptakan sinkopasi yang konstan dengan detak jantung orang-orang di dalamnya. Di dalam kabin yang steril namun pengap, hawa dingin yang menusuk tulang mulai berbaur dengan aroma mesiu sisa pertempuran hutan pinus dan bau karat yang pekat.
Arunika palsu duduk bertumpu pada sebuah peti logistik militer, kedua tangannya terlipat di balik mantel bulu serigala yang hangus sebagian. Dia menatap telapak tangan kirinya dengan pandangan porselen yang sepenuhnya hampa—sebuah ketenangan murni dari jiwa yang telah melepaskan sisa kemanusiaannya. Di balik kulitnya yang putih mulus, garis-garis urat saraf halus yang semula keunguan kini telah melebar, berubah warna menjadi biru pekat yang menyebar lambat menuju pergelangan tangan. Efek neurotoksin biometrik yang ditinggalkan Haryo Valentino di Swiss mulai bekerja, mematikan rasa di ujung jemarinya, mengirimkan sensasi dingin yang melumpuhkan saraf motorik.
Di seberang ruangan, Arsen Valentino berdiri kokoh dengan senapan serbu otomatis laras pendek yang tersampir di tangan kanannya. Jas mantel wol hitamnya yang robek dipenuhi abu ledakan rudal termal, namun wibawa seorang predator tertinggi dunia bawah tanah tidak berkurang satu milimeter pun. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah koper perak di dadanya yang masih memancarkan pendar cahaya amber dari tiga tabung cairan Eclipse Omega, lalu beralih ke arah layar monitor digital di dinding gerbong yang baru saja menyala.
Di lantai marmer gerbong yang kotor, Arunika yang asli terkapar lemas dengan luka bakar parah di sisi kanan wajahnya. Anak kandung Haryo yang sah itu terbatuk memuntahkan darah segar, namun sepasang matanya yang rusak tetap berkilat penuh kebencian murni saat menatap layar proyeksi di depan mereka.
Layar monitor itu menampilkan sesosok pria paruh baya yang mengenakan setelan jas wol mewah khas penguasa tertinggi Eropa. Wajahnya tidak menyerupai Haryo Valentino yang mereka bunuh di Bank Zurich, tidak pula mirip dengan wajah bungkuk pelayan di Saint Petersburg. Garis wajahnya asing, penuh dengan kerutan tegas hasil rekonstruksi bedah radikal, namun sepasang mata elang dan aura dominasi purba yang memancar dari balik lensa kamera adalah stempel mutlak yang tidak bisa dipalsukan oleh teknologi klonasi mana pun.
Pria di layar itu adalah Haryo Valentino yang sesungguhnya. Sang mentor agung yang asli.
> **“Dua belas tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membiarkan dunia hitam mengira aku telah membusuk di dalam kuburan Indonesia, Arsen,”** suara bariton Haryo yang asli bergaung tebal membelah kedap suara gerbong kargo, memancarkan kepuasan dari seorang sutradara yang melihat babak akhir skenarionya berjalan sempurna. **“Kau mengira kau telah memimpin faksi Valentino dengan kalkulasi bisnismu yang dingin? Kau hanya memelihara kerajaanku sementara aku mengubah wajah dan identitas menjadi oligarki tertinggi yang mengendalikan pasokan militer Rusia dari balik tirai besi ini.”**
>
### Labirin Genetik yang Menuju Utara
Letupan emosi pembaca dipastikan akan kembali naik turun ke titik yang paling menegangkan di bagian ini. Kebencian, kemarahan defensif, dan keputusasaan yang mendalam bercampur menjadi satu di dalam dada Arunika palsu. Jadi, seluruh perburuan dendam Arsen, seluruh penukaran bayi yang dirancang Boris Volkov, hingga penciptaan klonasi Valeria di Paris... semuanya hanyalah tirai asap global yang sengaja diciptakan oleh pria ini untuk mengalihkan perhatian aliansi faksi barat dari operasi rekonstruksi radikal dan penyempurnaan Proyek Eclipse yang sebenarnya.
"Kau mengorbankan klonasi mudamu di Zurich hanya untuk memvalidasi kematian palsumu sekali lagi, Ayah?" desis Arsen Valentino, suaranya merendah hingga ke frekuensi paling mematikan. Pria itu melangkah setapak ke depan, menatap lurus ke arah layar monitor dengan hasrat membantai yang murni. "Kau membiarkan darah dagingmu sendiri saling bantai di perbatasan hanya untuk menguji ketahanan sel tubuh dari salinan yang kau buang?"
Haryo Valentino yang asli terkekeh rendah—sebuah suara tawa yang begitu hambar dan manipulatif. Pria itu mengangkat sebuah dokumen legal kuno dinasti Valentino yang memiliki stempel resmi berlapis emas di depan kamera.
"Klonasi di Swiss itu hanyalah daging pengganti yang telah usang, Arsen. Dia memiliki wajah lamaku, wajah yang harus kuhapus dari sejarah agar aku bisa lahir kembali sebagai penguasa tanpa nama," ucap Haryo, tatapan matanya yang kejam kini bergeser tepat ke arah wajah kuyu Arunika palsu yang mulai merasakan kelumpuhan saraf menjalar ke siku lengan kirinya.
> "Dan kau, wadah replikaku yang malang... racun biometrik di pembuluh darahmu adalah satu-satunya cara untuk memutus ikatan jiwamu yang keras kepala. Sel Eclipse Omega di dalam koper perak itu hanya akan menyatu sempurna jika tubuhmu berada dalam kondisi mati suri biologis. Kereta militer yang kalian tumpangi saat ini tidak dikendalikan dari kokpit; kodenya telah kukunci menuju ke Altar Pemurnian di pangkalan bawah tanah Murmansk."
>
Blippp. Layar monitor digital itu mendadak mati, menyisakan keremangan lampu darurat merah gerbong kargo yang berkedip-kedip kaku, seirama dengan grafik penurunan fungsi motorik tubuh Arunika palsu.
Kericuhan emosional baru yang memikat kembali meletup di dalam ruangan steril tersebut. Arunika palsu mencoba menggerakkan kaki kirinya, namun persendian lututnya terasa seberat batu semen yang membeku. Wajah cantiknya seputih kain kafan, namun sepasang mata porselennya tidak lagi memancarkan air mata. Ketakutan sipil yang dulu dia bawa dari desa Jawa Tengah telah sepenuhnya terbakar habis, berganti dengan sejenis mati rasa yang luar biasa dingin dan penuh dengan tekad kegelapan yang baru.
"Dia benar, Arsen..." ucap Arunika asli dari atas lantai marmer, suara paraunya berbaur dengan deru roda besi kereta. Wanita dengan wajah rusak itu menyeringai kejam di tengah rasa sakitnya. "Salinan jalanan itu akan menjadi mayat dalam waktu lima belas menit... Dan kau... kau akan menyerahkan koper itu kepada ayah kita jika kau tidak ingin melihat aset berhargamu berubah menjadi tumpukan daging busuk..."
Arsen Valentino bergerak dengan refleks predator tertinggi. Alih-alih meratapi ancaman ayahnya, pria itu melangkah mendekati Arunika palsu, mencengkeram bahu kanan gadis itu dengan cengkeraman besinya yang kokoh, lalu memaksanya menatap langsung ke dalam manik mata elangnya yang berkilat penuh intrik politik dunia bawah tanah.
"Kau tidak akan mati di dalam kereta ini, Valeria," ucap Arsen, suaranya terdengar kaku, berat, dan tetap konsisten menggunakan nama palsu tersebut sebagai batas pertahanan dari dosa inses terencana yang dirancang paman mereka. Pria itu merobek tas taktis di pinggangnya, mengeluarkan sebuah jarum suntik otomatis berisi cairan adrenalin taktis dan menancapkannya langsung ke arah lengan kanan Arunika palsu yang belum lumpuh untuk menekan laju neurotoksin sementara.
"Marco!" panggil Arsen melalui alat komunikasi satelit internal gerbong.
"Saya di sini, Tuan Arsen," sahut suara Marco yang terdengar terputus-putus akibat gumpalan badai salju dan ketebalan dinding terowongan Rusia Utara. "Kami berhasil merebut ruang kendali rel sektor tengah Belarusia, namun sistem perpindahan jalur menuju Murmansk telah dikunci secara mekanik dari pangkalan pusat Haryo. Kereta Anda melaju dengan kecepatan seratus empat puluh kilometer per jam tanpa rem!"
"Siapkan helikopter siluman di pintu keluar terowongan sektor luar Murmansk," perintah Arsen mutlak, sepasang matanya tidak lepas dari grafik urat keunguan di tangan Arunika palsu yang kian pekat. "Aku akan meledakkan atap gerbong kargo ini sebelum kereta masuk ke dalam kompleks altar pemurnian."
### Altar di Balik Badai Murmansk
Sepuluh menit penerbangan maut di bawah tanah berlalu dalam ketegangan yang menguras emosi pembaca. Efek cairan adrenalin taktis hanya mampu bertahan beberapa menit sebelum rasa sedingin es kembali merayapi dada Arunika palsu. Detak jantungnya mulai melambat, napasnya pendek dan berat, memicu sensasi enjoy yang aneh di dalam benaknya. Jika dia diciptakan sebagai replika untuk dihancurkan, maka dia akan memastikan dirinya menjadi racun terakhir yang akan membusukkan seluruh garis keturunan Valentino yang sah dari dalam.
"Arsen..." bisik Arunika palsu, suaranya terdengar begitu datar, luwes, dan sarat akan kematian murni. Dia mencengkeram kerah kemeja putih Arsen dengan tangan kanannya yang gemetar. "Jangan biarkan... jangan biarkan Haryo mendapatkan sel itu... Jika aku harus menjadi wadahnya... maka hancurkan aku bersama dengan wajah aslinya di Rusia..."
Arsen Valentino menyunggingkan sebuah seringai kejam penuh dominasi yang mutlak. Pria itu meletakkan peledak taktis mini kedua tepat di atas panel langit-langit besi gerbong kargo. "Aku tidak pernah menghancurkan properti yang telah menjadi milikku, Valeria. Jika Haryo Valentino menginginkan sebuah pemurnian, maka kita akan memberikan sebuah pembantaian murni untuk menyambut wajah barunya."
Biiip. Biiip.
DUAR!!!
Ledakan kedua merobek atap besi gerbong kargo dengan daya hancur yang luar biasa dahsyat. Hantaman angin badai salju ekstrem dari wilayah luar Murmansk seketika menyembur masuk menembus lubang atap, menurunkan suhu di dalam kabin hingga di bawah nol derajat dalam hitungan detik. Serpihan es dan salju putih berhamburan dengan liar, menyelimuti jasad Valeria Baskoro dan membekukan sisa darah Arunika asli di lantai marmer.
Arsen Valentino dengan ketangkasan seorang penguasa tertinggi menyambar tubuh ramping Arunika palsu ke dalam pelukan tegapnya, mengikatkan tali kait taktis tali evakuasi yang diturunkan oleh helikopter siluman Marco yang telah terbang stabil tepat di atas atap gerbong kereta yang melaju kencang keluar menembus batas terowongan permukaan Rusia Utara.
Wusss!
Mekanisme hidrolik tali evakuasi menarik tubuh mereka berdua naik ke atas menembus badai salju yang mengamuk dengan liar, meninggalkan kereta militer lapis baja hitam yang terus melaju tanpa kendali menembus gerbang besi raksasa pangkalan bawah tanah Murmansk yang menganga lebar di ujung lembah es.
Mereka berhasil dievakuasi masuk ke dalam kabin helikopter siluman aliansi barat yang steril. Marco segera memberikan tabung oksigen darurat dan selimut termal berlapis untuk membungkus tubuh Arunika palsu yang kini telah kehilangan seluruh fungsi motorik di lengan dan kaki kirinya.
"Tuan Arsen... pangkalan utara Haryo Valentino berada tepat di bawah bukit es sektor empat," ucap Marco sambil mengarahkan helikopter menembus kabut salju yang membatasi jarak pandang. "Sinyal biometrik racun di tubuh Nona Arunika menunjukkan sisa waktu kurang dari lima menit sebelum kelumpuhan saraf mencapai organ jantungnya."
Arsen menatap wajah kuyu Arunika palsu, sepasang mata elangnya berkilat penuh intrik politik dunia hitam yang kian menggila. Pria itu membuka koper perak di dadanya, mengambil salah satu tabung silinder berisi cairan amber Eclipse Omega, lalu bersiap menyuntikkannya secara paksa ke dalam pembuluh darah leher Arunika palsu untuk memicu reaksi regenerasi sel darurat, mengabaikan risiko mutasi biologis seperti yang terjadi pada Valeria di Zurich.
Namun, tepat di saat jarum suntik otomatis itu menyentuh kulit leher Arunika palsu, seluruh sistem kelistrikan dan navigasi helikopter siluman aliansi barat mendadak mati total secara serentak akibat hantaman gelombang EMP skala masif yang ditembakkan dari arah menara transmisi radar pangkalan bawah tanah di bawah mereka.
Bzzzt! Klik.
Helikopter siluman itu kehilangan daya angkat mekaniknya, baling-baling raksasanya berputar lambat dan kaku sebelum akhirnya pesawat itu meluncur jatuh bebas dengan kecepatan tinggi membelah badai salju menuju ke arah kompleks bangunan beton altar pemurnian yang berdiri tegak di tengah hamparan es Murmansk yang membeku.
Di tengah kepanikan massal dan guncangan masif helikopter yang siap menghantam tanah es, pintu kabin penumpang helikopter mendadak jeblok terbuka dari arah luar akibat tekanan mekanik eksternal. And sesosok wanita muda dengan pakaian taktis hitam serba mewah yang wajahnya **sama persis** dengan wajah Arunika palsu—Arunika asli yang entah bagaimana telah berhasil dievakuasi lebih awal oleh sistem helikopter Haryo dari dalam kereta—mendadak muncul di ambang pintu dengan sebuah senyuman kejam yang paling mengerikan.
Wanita itu tidak memegang senjata, melainkan sebuah tabung penawar penawar biometrik berwarna ungu neon yang berkilau tajam di bawah pendar cahaya badai salju, lalu membisikkan sebuah kalimat pendek melalui pengeras suara eksternal helm taktisnya tepat sebelum helikopter menghantam tanah es dengan benturan yang mengerikan.
**Bersambung ke Bab 31...**
* Apakah Arsen Valentino bersama Arunika palsu akan selamat dari kecelakaan maut helikopter siluman yang menghantam pangkalan bawah tanah Murmansk tersebut?
* Rahasia berdarah macam apa yang akan terungkap saat Arunika palsu dipaksa memilih antara menerima penawar ungu dari kembaran aslinya atau membiarkan cairan Eclipse Omega menghancurkan silsilah darah mereka dari dalam?
* Dan siapakah sosok penguasa tertinggi dinasti Valentino yang sebenarnya akan keluar sebagai pemenang mutlak saat wajah sejati Haryo membuka pintu altar pemurnian terakhir?
Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin memanas dan penuh letupan konflik luar biasa di bab berikutnya!