NovelToon NovelToon
Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:698.1k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!

Demi menikahi Lavanya, Aditya tega memberikan obat anti-ovulasi kepada Kemuning, agar tidak pernah bisa punya anak. Aditya juga memanipulasi hasil tes kesuburan Kemuning.

Namun, takdir berkata lain ketika kecelakaan menimpa Kemuning. Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau ada zat berbahaya di dalam rahimnya.

Dengan bantuan Arkatama, Kemuning menyusun pembalasan kepada Aditya dan Lavanya. Membuat mereka merasakan pembalasan yang tak disangka-sangka.

Niat ingin menguasai harta milik Kemuning, yang Aditya dapatkan malah gigit jari.

Akankah rahim Kemuning bisa subur kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Rumah itu terasa berbeda, bukan karena ukurannya berubah, tetapi karena isinya yang semakin berkurang. Kehangatan yang dulu memenuhi rumah itu hilang begitu saja, berganti dengan kesunyian yang terasa asing dan menyakitkan.

Tidak ada lagi suara ayam dari belakang, tidak ada lagi orang-orang yang keluar masuk membawa senyum atau basa-basi. Yang tersisa hanya perabot lama, dinding kusam, dan suasana yang menekan.

Aditya duduk di kursi kayu dengan punggung membungkuk. Tatapannya kosong mengarah ke meja, tapi pikirannya berantakan ke mana-mana. Di depannya ada ponsel, diam, seolah sudah lelah ikut jatuh bersamanya.

“Ibu enggak tahu lagi harus masak apa hari ini.”

Suara Bu Ratih terdengar dari arah dapur. Pelan, tapi cukup untuk membuat Aditya mengangkat kepala. Wanita itu muncul sambil membawa dompet kecil yang sudah tampak tipis. Ia membukanya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang yang sudah lecek.

“Tinggal segini uang kita, Adit,” kata Bu Ratih lirih. “Kalau dipakai beli beras, maka enggak ada buat beli lauknya.”

Aditya menatap uang itu tanpa bergerak. Rahangnya mengeras. Ia berdiri, mendekat, lalu mengambil uang tersebut tanpa banyak bicara.

“Aku mau keluar cari kerja lagi, Bu,” ucap Aditya bersiap-siap.

“Adit ...!” panggil Bu Ratih cepat, langkahnya ikut mendekat. “Dari kemarin kamu sudah keliling cari pekerjaan, tapi pulang tetap dengan tangan kosong.”

Aditya diam. Ia tahu jawabannya.

“Enggak ada yang nerima, kan?” Suara Bu Ratih melemah, tapi nadanya seperti menekan.

Aditya menghela napas kasar. “Aku tetap harus cari.”

Bu Ratih tertawa kecil, tetapi terdengar pahit. Ia menutup wajahnya sebentar, lalu mengusap mata dengan ujung bajunya.

“Ibu capek, Adit,” Suara Bu Ratih mulai bergetar. “Dulu kita enggak pernah mikirin makan. Sekarang tiap hari Ibu harus putar otak.”

Aditya memalingkan wajah. Ucapan itu seperti mengorek sesuatu yang tidak ingin ia sentuh.

“Semua berubah sejak perempuan itu datang!” lanjut Bu Ratih tiba-tiba, nada suaranya naik. “Lavanya! Enggak tahu diri! Dulu nempel terus, sekarang hilang begitu saja!”

Aditya langsung menatap tajam. “Iya! Dia cuma cari enaknya aja!” Ia mengepalkan tangan. “Waktu aku punya segalanya, dia dekat. Sekarang aku jatuh, dia kabur!”

“Dari awal Ibu sudah enggak suka!” sahut Bu Ratih cepat. “Perempuan seperti itu enggak mungkin tulus!”

Nama Lavanya terus disebut, diulang-ulang, seolah itu cukup untuk menjelaskan semua yang terjadi. Seolah semua kegagalan ini memang salahnya. Padahal ada satu nama yang tidak mereka berani sentuh, Kemuning. Nama itu seperti berdiri diam di sudut ruangan, tidak disebut, tetapi terasa.

Aditya menelan ludah. Wajah Kemuning muncul begitu saja di pikirannya. Senyum tenangnya, cara ia menyambut tanpa banyak tanya. Dan yang lebih penting dia selalu ada untuknya.

Pria itu menggeleng pelan, seperti ingin menghapus bayangan itu. “Sudah, enggak usah bahas dia lagi,” kata Aditya cepat, lebih seperti menghindar.

Bu Ratih mendengus, tetapi tidak melanjutkan pembicaraan mereka. Ia kembali ke dapur dengan langkah berat.

Aditya keluar rumah tanpa menoleh lagi. Langkahnya cepat, seolah penuh tujuan. Ia mendatangi satu tempat ke tempat lain. 8 guidang, kantor kecil, bahkan proyek bangunan.

“Maaf, kami belum butuh orang.”

“Kami cari yang lebih berpengalaman.”

“Lowongan sudah penuh.”

Kalimat itu terus berulang. Wajah orang-orang berbeda, tetapi jawabannya sama. Senyum yang tadi ia pakai perlahan hilang. Bahunya turun. Cara jalannya berubah, tidak secepat tadi.

Ia berhenti di pinggir jalan. Tangannya masuk ke saku, tapi kosong. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdiri dan melihat orang-orang lewat.

Ponselnya bergetar.

Aditya langsung membuka, berharap ada kabar baik. Akan tetapi yang muncul justru pesan dari salah satu kerabatnya.

[Maaf ya, Dit. Lagi enggak bisa bantu.]

Aditya membaca sekali. Lalu lagi dan lagi. Dadanya terasa panas.

Dulu, rumah itu tidak pernah sepi. Hampir setiap minggu selalu ada saja yang datang. Saudara jauh, kerabat dekat, bahkan orang yang jarang terlihat pun tiba-tiba muncul dengan wajah ramah. Mereka duduk santai di ruang tamu, tertawa, bercerita panjang lebar seolah hubungan mereka sangat dekat.

Namun sekarang, semua itu seperti tidak pernah ada. Tidak ada lagi suara tawa. Tidak ada tamu yang datang membawa cerita. Pintu rumah lebih sering tertutup, dan ponsel pun jarang berdering. Jika pun ada kabar, isinya hanya penolakan halus atau alasan yang terdengar dibuat-buat.

Kehangatan yang dulu memenuhi rumah itu hilang begitu saja, berganti dengan kesunyian yang terasa asing dan menyakitkan.

Aditya menghela napas panjang. Dadanya terasa penuh, seolah ada sesuatu yang mengganjal dan tidak bisa keluar. Ia menatap jalanan di depannya tanpa benar-benar melihat.

“Semua berubah cepat banget gaji” gumam Aditya pelan, suaranya hampir tidak terdengar.

Langkah pria itu terasa berat saat akhirnya pulang. Tubuhnya lelah, bukan karena bekerja, tapi karena terus berharap lalu dikecewakan. Seharian ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mendengar jawaban yang sama, mengulang penjelasan yang sama, dan pulang dengan hasil yang sama.

Saat masuk ke dalam rumah, Aditya melihat Bu Ratih sudah duduk di ruang tengah. Posisi tubuhnya sedikit membungkuk, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Wajahnya tampak lebih pucat, garis-garis lelah semakin jelas terlihat. Ia mengangkat kepala saat Aditya masuk.

“Gimana?” tanya Bu Ratih singkat, tapi penuh harap.

Aditya tidak langsung menjawab. Ia hanya berjalan pelan, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi seperti orang yang kehabisan tenaga. “Enggak ada,” jawabnya akhirnya.

Hanya dua kata, tetapi cukup untuk menjelaskan semuanya. Tidak ada penjelasan lanjutan. Tidak ada usaha untuk terlihat kuat. Ia bahkan tidak menatap ibunya.

Bu Ratih menunduk pelan. Bahunya mulai bergerak, tanda ia kembali menangis. Kali ini tanpa suara keras, hanya isakan kecil yang tertahan, seolah ia sudah terlalu sering menangis sampai tidak punya tenaga lagi untuk meluapkannya.

“Apa hidup kita akan begini terus?” bisik wanita paruh baya itu lirih, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Aditya tidak langsung merespons. Tatapannya jatuh ke lantai. Ia diam cukup lama, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Rahangnya mengeras, napasnya terdengar lebih dalam. Sampai akhirnya, ia berdiri tiba-tiba.

“Aku akan pergi,” kata Aditya bernada tegas.

1
antha mom
Aditya,, kalau ada perempuan yang mau Kamu ajak selingkuh,,itu namanya perempuan yang nggak benar, perempuan yang mau enaknya aja,ada uang abang sayang nggak ada uang abang di tinggal kabur 🤣🤣, nikmatilah hasil perselingkuhan mu Aditya 😄😄
niktut ugis
bukan berbahagia karena anaknya Lavanya meninggal tapi itu lebih baik buat kelanjutan hidup baby.. semoga takdir baik mulai menyelimuti Lavanya
niktut ugis
mewek baca cerita Steve tapi celetukan Arya bikin mata melotot.. tolong kemuning atau arka bantu q ketok kepalanya Arya 😡😂
niktut ugis
Arka coba buka otak Arya isi nya apa 😂😂😂
niktut ugis
Aryaaaaa ya ampun 😡😂😂😂
ayu cantik
bagus
Yani Suryani
makannya punya mulut dijaga sering ngerendahin orang sekarang mulutnya perot kan
Yani Suryani
syukurlah tak kirain baru ketemu dimatiin, ternyata ada solusi lain
Steven semangat ya buat sembuh
aku baca udah tamat gak tau akhirnya gimana soalnya walau komen pun sudah selesai ceritanya
ini hanya sekedar meninggalkan jejak, walau ceritanya sudah selesai tapi masih ada pembaca yg baru nemuin cerita ini
semangat juga buat kak Santi dengan karya" yg 👍
🌸 Sunshine 🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Yani Suryani
lah masak mati Stevennya kan orang kaya berobat diluar negri siapa tau ada yg donor, setelah itu berteman dengan Arya biar gak kesepian 🤭
Yani Suryani
disaat air mataku ikut menetes karena Steven ehhh ada iklan Arya yg bikin ngikik
Yani Suryani
apapun yg terjadi sama orang tua anak yg jadi korban, walau hidup bergelimang harta dan dibesarkan ibu kandungnya sendiri tapi justru hidup Arya lebih bahagia karena berlimpah kasih sayang, sedang Steven di hidup dalam kesunyian dan menyedihkan
Yani Suryani
kalau sekolah bisa antar jemput itu Arya bisa saja diculik, tapi bisa jadi kemuning jadi sasaran
kok jadi tegang tapi suka ceritanya bukan lagi bucin"an lagi jadi makin seru dan ada gregetnya,biasa cerita awal konflik habis itu bucin" hingga selesai tapi ini beda jadi lebih menarik ceritanya 👍
Yani Suryani
ingat dia yg membuangmu,dia datang cuma mau memanfaatkan mu Arya,yg keluarga sesungguhnya ya kakakmu itu
Yani Suryani
ya ampun ikut tegang, kalau jaman dulu mungkin orang bisa hilang dengan mudah tapi sekarang beda jaman, semua bisa viral dan cepat terbongkar
Yani Suryani
lah kayak Adit gini bangkit dan menyesali perbuatannya, berusaha untuk menjadi lebih baik setelah apa yg terjadi, Adit jika sukses lagi jangan sombong jangan sok, tapi jadi rendah diri itu buat kamu tambah sukses
niktut ugis
jalang Lavanya beneran cari mati
Ila Lee
bagus aditya mula kn baru bertaubat jgn lagi berbuat dosa pasti tuhan akan memurahkan rezeki MU jadi yg lebih baik 💪💪💪💪
Ila Lee
akhirnya ketemu mantan Aditya sama kn kemuning dengan diri MU yg tidak kuat iman mudah tergoda
Ila Lee
pergi kemna cari kemuning sesal dulu pendapatan sesal kemudian tidak berguna nasi sudah menjadi bubur 😭😭😭😭
Ila Lee
jalani ajer dulu kemuning tak semestinya pacaran akan bahagia aku juga dijodoh n.kn cuma kenal 2 bukan langsung nikah Alhamdulillah sekarang sudah 30 tahun menikah Thor jadi yg lepas biar menjadi masa lalu aku yakin arkatama lelaki yg baik terima kemuning ❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!