Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Kecemburuan Pertama
Pagi itu, Nara datang ke kantor dengan perasaan aneh.
Entah kenapa, perjalanan pulang semalam terus terbayang di kepalanya.
Padahal tidak ada hal istimewa yang terjadi.
Mereka hanya pulang bersama.
Tidak lebih.
Namun justru itulah masalahnya.
Semakin sering menghabiskan waktu dengan Damar, semakin sulit bagi Nara mempertahankan kesan buruk yang dulu ia miliki.
Dan itu membuatnya tidak nyaman.
Sangat tidak nyaman.
"Nara!"
Suara Siska langsung membuyarkan pikirannya.
Wanita itu datang sambil membawa dua gelas kopi.
"Wajahmu kenapa?"
"Kenapa memangnya?"
"Seperti orang yang habis memikirkan seseorang semalaman."
Nara hampir tersedak.
"Kamu terlalu banyak menonton drama."
Siska menyeringai.
"Kalau bukan Damar, berarti aku salah."
"Nggak ada hubungannya dengan Damar."
"Tuh kan, langsung defensif."
Nara langsung mengabaikannya.
Semakin diladeni, semakin panjang ocehan Siska.
---
Hari itu jadwal mereka sangat padat.
Presentasi besar akan dilaksanakan besok pagi.
Artinya semua laporan harus selesai hari ini.
Seluruh anggota tim sibuk.
Tidak terkecuali Damar.
Sejak pagi pria itu sudah keluar masuk ruang rapat.
Menerima telepon.
Memeriksa laporan.
Dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
Sementara Nara fokus menyempurnakan materi presentasi.
Namun sekitar pukul sebelas siang...
Seseorang datang.
Bianca.
Seperti biasa.
Penampilannya sempurna.
Gaun elegan.
Tas mahal.
Dan senyum yang membuat semua orang tahu bahwa ia terbiasa menjadi pusat perhatian.
Beberapa staf langsung menyapa.
Bianca membalas dengan ramah.
Lalu berjalan menuju ruang kerja Damar.
Namun langkahnya berhenti saat melihat Nara.
"Selamat siang."
ucap Bianca.
"Siang."
jawab Nara sopan.
"Aku dengar kamu ikut presentasi besar besok."
"Iya."
"Hebat."
Bianca tersenyum.
Namun entah kenapa Nara merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyum itu.
"Karyawan baru biasanya tidak mendapat kesempatan sebesar itu."
Nara menangkap maksud kalimat tersebut.
Namun ia tetap tersenyum.
"Mungkin saya beruntung."
Bianca tertawa kecil.
"Atau mungkin karena Damar terlalu memperhatikanmu."
Seketika suasana di sekitar mereka berubah.
Beberapa staf yang mendengar langsung pura-pura sibuk.
Sementara Nara mulai merasa kesal.
"Menurut saya itu karena pekerjaan."
jawabnya tenang.
"Tentu saja."
Bianca mengangguk.
"Tapi orang-orang biasanya tidak berpikir begitu."
Setelah mengatakan itu, wanita tersebut langsung pergi.
Meninggalkan Nara yang kini menahan emosi.
---
Saat makan siang.
Siska langsung duduk di sampingnya.
"Aku dengar."
"Dengar apa?"
"Bianca."
Nara menghela napas.
"Berita di kantor memang cepat sekali."
"Karena semua orang bosan."
jawab Siska santai.
Nara tertawa kecil.
Kemudian mengambil makanan.
Namun pikirannya tetap terganggu.
Ia tidak suka cara Bianca berbicara.
Bukan karena sindiran itu.
Melainkan karena wanita tersebut seolah menganggap dirinya pesaing.
Padahal hubungan Nara dan Damar hanyalah rekan kerja.
Atau setidaknya...
Begitulah seharusnya.
---
Siang hari.
Tim mulai melakukan simulasi presentasi.
Semua orang berkumpul di ruang rapat besar.
Nara mendapat tugas menjelaskan strategi pemasaran digital.
Awalnya ia sedikit gugup.
Namun begitu mulai berbicara, rasa gugup itu perlahan menghilang.
Ia menjelaskan data.
Target pasar.
Strategi promosi.
Dan berbagai hal lainnya dengan lancar.
Ketika selesai, ruangan menjadi hening beberapa detik.
Lalu terdengar tepuk tangan.
Nara terkejut.
Bahkan beberapa manajer senior ikut mengangguk puas.
"Bagus."
ucap salah satu mereka.
"Itu sangat jelas."
Nara tersenyum lega.
Namun sebelum sempat merasa bangga...
Suara Damar terdengar.
"Ada satu bagian yang perlu diperbaiki."
Semua langsung menoleh.
Nara juga.
Damar berjalan menuju layar.
Lalu menunjukkan beberapa poin yang masih kurang.
Awalnya Nara kesal.
Kenapa pria itu selalu menemukan kesalahan?
Namun setelah mendengarkan penjelasannya...
Ia menyadari sesuatu.
Damar benar.
Perubahan kecil itu justru membuat presentasinya jauh lebih kuat.
"Terima kasih."
ucap Nara akhirnya.
Damar mengangguk.
"Karena saya ingin presentasi ini berhasil."
Jawaban itu sederhana.
Tetapi membuat hati Nara sedikit hangat.
---
Sore menjelang.
Semua orang kembali ke meja masing-masing.
Nara sedang menyelesaikan revisi ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari ibunya.
Ia membacanya sambil tersenyum.
Kemudian membalas singkat.
Tanpa sadar, ekspresi lembut itu tertangkap oleh seseorang.
Damar.
"Pacar?"
tanya pria itu tiba-tiba.
Nara langsung menoleh.
"Hah?"
"Pesan tadi."
"Itu ibu saya."
Damar terlihat sedikit terdiam.
"Kenapa?"
tanya Nara.
"Tidak apa-apa."
Namun untuk pertama kalinya, Nara melihat sesuatu yang aneh di mata pria itu.
Seperti kelegaan.
Dan hal itu membuatnya semakin bingung.
---
Menjelang malam.
Seluruh tim kembali lembur.
Tidak ada pilihan.
Besok adalah hari penting.
Kesalahan sekecil apa pun bisa merusak semuanya.
Sekitar pukul delapan malam, Raka muncul membawa makanan ringan.
"Pahlawan datang."
umumnya sambil mengangkat kantong plastik.
Seluruh tim langsung bersorak.
"Mas Raka memang terbaik."
"Saya tahu."
jawab pria itu percaya diri.
Siska langsung memukul lengannya.
"Narsis."
"Fakta."
Mereka kembali bertengkar seperti biasa.
Membuat suasana kantor terasa lebih hidup.
Nara tersenyum melihat mereka.
Jujur saja.
Siska dan Raka memang cocok.
Sama-sama tidak bisa diam.
---
Sekitar satu jam kemudian.
Saat semua orang sibuk bekerja...
Bianca kembali muncul.
Kali ini ia datang langsung ke ruang proyek.
Membawa makan malam khusus.
Untuk Damar.
"Aku tahu kamu belum makan."
ucapnya sambil meletakkan kotak makanan di meja pria itu.
"Terima kasih."
jawab Damar singkat.
Bianca tersenyum.
Kemudian duduk di kursi dekatnya.
Terlalu dekat menurut Nara.
Anehnya...
Pemandangan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Ia segera kembali fokus ke layar laptop.
Namun matanya sesekali tetap melirik ke arah mereka.
Dan setiap kali melihat Bianca tersenyum pada Damar...
Perasaan aneh itu semakin kuat.
"Nara."
Suara Siska terdengar pelan.
"Hm?"
"Kamu cemburu ya?"
Nara langsung tersedak.
"Apa?"
"Pelan-pelan."
Siska menahan tawa.
"Aku cuma tanya."
"Aku tidak cemburu."
"Tentu."
Nada suara Siska jelas tidak percaya.
Dan itu membuat Nara semakin kesal.
---
Tak lama kemudian.
Bianca berdiri.
Sebelum pergi, wanita itu menatap Nara sekilas.
Lalu berkata,
"Damar, jangan pulang terlalu malam."
Kalimat itu terdengar biasa.
Namun cara Bianca mengucapkannya membuat banyak orang langsung memahami maksudnya.
Seolah mereka memiliki hubungan yang lebih dekat daripada orang lain.
Setelah Bianca pergi, suasana kembali normal.
Namun Nara tetap merasa terganggu.
Sampai akhirnya...
"Nara."
Suara Damar memanggilnya.
"Ada apa?"
"Bagian revisi sudah selesai?"
"Sudah."
"Bagus."
Pria itu berhenti sejenak.
Lalu menambahkan,
"Jangan terlalu memikirkan Bianca."
Nara membeku.
Apa?
Damar tahu?
"Wajahmu mudah dibaca."
lanjut pria itu.
Nara langsung menutup laptopnya lebih keras dari yang seharusnya.
Malu.
Sangat malu.
---
Malam semakin larut.
Hujan mulai turun lagi di luar.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertemu Damar...
Nara menyadari sesuatu yang berbahaya.
Ia mulai peduli.
Peduli pada apa yang dilakukan pria itu.
Peduli pada siapa yang berada di dekatnya.
Dan peduli pada pendapatnya.
Padahal semua itu tidak pernah masuk dalam rencananya.
Sementara di meja lain, Damar diam-diam memperhatikan Nara yang sedang bekerja.
Untuk sesaat.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Senyum yang tidak dilihat siapa pun.
Kecuali satu orang.
Raka Mahendra.
Dan pria itu langsung tersenyum lebar.
Karena akhirnya...
Es yang selama ini menyelimuti hati sahabatnya mulai menunjukkan retakan pertama.
Bersambung...