Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Tapi mereka tidak hanya mengincar Anda, Jenderal!" potong Arya, matanya melirik tajam ke arah Clarissa. "Mereka tahu Anda telah menikah. Mereka akan menggunakan wanita di sebelah Anda ini sebagai titik lemah untuk memancing Anda keluar!"
Deg.
Mendengar kalimat itu, tangan Devan yang memegang rokok mendadak berhenti di udara.
Ting!
[Peringatan Krisis Terdeteksi: Keamanan target utama (Clarissa) terancam oleh entitas luar negeri.]
[Misi Utama Arc 1 Diperbarui: Lindungi Clarissa dari ancaman Black Cobra dan buka segel kekuatan hingga 35%.]
[Hadiah Tambahan: Pembukaan Segel Teknik Pernapasan Naga Kuno Tahap Dua (Otot dan Jaringan Saraf).]
Suhu di dalam ruangan VIP itu mendadak anjlok drastis. Tekanan udara menjadi begitu berat hingga Arya, seorang kapten intelijen yang terlatih, harus menahan napasnya karena merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Aura membunuh yang memancar dari tubuh Devan kali ini seratus kali lebih pekat daripada saat ia menghadapi kelompok Gagak Hitam di jalan tol.
Devan berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekati Arya, membuat perwira muda itu secara refleks mundur selangkah karena tekanan mental yang luar biasa.
"Arya," bisik Devan dengan suara yang sangat rendah, namun terdengar seperti guntur di telinga Arya. "Kembalilah ke ibukota. Katakan pada atasanmu, jangan campuri urusanku. Dan jika Black Cobra berani menginjakkan kaki di kota ini..."
Devan melirik Clarissa yang berdiri mematung ketakutan, lalu kembali menatap Arya dengan mata hitamnya yang berkilat kejam.
"...aku tidak hanya akan membunuh para utusan itu, tapi aku sendiri yang akan berangkat ke markas pusat mereka di Eropa dan meratakan seluruh organisasi mereka dari peta bumi. Paham?"
Arya menelan ludahnya dengan susah payah. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Ia tahu betul, pria di depannya ini tidak pernah memberikan gertakan kosong. Jika Dewa Perang telah mengancam, maka pertumpahan darah skala internasional bukanlah hal yang mustahil.
"M-dimengerti, Tuan Devan," ucap Arya terbata-bata. Ia membungkuk hormat sekali lagi, lalu bergegas mundur dan keluar dari ruangan dengan langkah cepat, seolah takut Devan akan berubah pikiran dan mematahkan lehernya saat itu juga.
Setelah pintu tertutup rapat, ruangan kembali sunyi. Devan membalikkan tubuhnya, menatap Clarissa yang masih berdiri diam dengan tubuh yang sedikit gemetar. Pria itu menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar, dan mematikan rokoknya di asbak. Auranya yang mengerikan lenyap dalam sekejap, kembali menjadi Devan yang biasa.
"Maaf, Bos. Sepertinya aku menyembunyikan terlalu banyak hal darimu," ucap Devan lirih, siap menerima jika Clarissa akan marah atau mengusirnya setelah mengetahui masa lalunya yang penuh darah.
Namun, di luar dugaan Devan, Clarissa justru melangkah maju dengan cepat. Tanpa memedulikan statusnya sebagai CEO atau gengsinya yang setinggi langit, ia langsung menubruk dada tegap Devan dan memeluk pinggang pria itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
"Aku tidak peduli siapa kamu di masa lalu, Devan," bisik Clarissa dengan suara terisak, mempererat pelukannya seolah takut kehilangan pria itu. "Jenderal, petugas kebersihan, atau dewa kematian sekalipun... aku tidak peduli. Yang aku tahu, saat ini kamu adalah suamiku. Jangan pernah tinggalkan aku."
Devan tertegun sesaat, sebelum akhirnya sebuah senyuman hangat dan tulus terukir di wajah tampannya. Ia membalas pelukan Clarissa, mendekap tubuh mungil istrinya itu dengan penuh rasa protektif.
Di dalam hatinya, sang Dewa Perang telah membuat sumpah mati: siapa pun yang berani menyentuh wanita di dalam pelukannya ini, akan menghadapi murka terdalam dari neraka.